Penguasa Culun

Penguasa Culun
Membantu Keluarga Flick


"apa kalian tidak mengikuti tuan kalian?!" tanya Bagas kepada beberapa orang yang masih berdiri di belakang Edward.


Edward yang mendengar itu pun sontak tertawa dengan keras.


"apa kau bodoh? Mereka sudah menunjuk aku sebagai pemimpin mereka!" ujar Edward dengan sombong.


"Apa kau sudah mengetahui konsekuensi dari pengkhianatan?!" tanya Bagas kepada Edward.


"apa aku terlihat seperti orang yang ketakutan dengan perbuatan ku sendiri?!" tanya Edward dengan meremehkan Bagas.


"aku bahkan sudah mempersiapkan semuanya sebelum kau mengatakan hal itu!" tambah Edward yang tertawa mengejek Bagas.


Bryan yang melihat bahwa tuannya di hina menjadi sedikit emosi kepada Edward.


"apa aku sudah bisa membunuhnya?!" tanya Bryan yang menunjuk Edward.


"wah aku sangat takut sekali!" ujar Edward yang membuat semua bawahannya tertawa.


"setiap keputusan memilik konsekuensinya tersendiri dan itu sesuatu yang harus kau tanggung!" ujar Bagas dengan tenang.


"apa kau sanggup menanggung nya?!" ujar Bagas kepada Edward.


Meskipun Edward memiliki rencana yang matang untuk menjatuhkan saudaranya Hanser.


Banyak pejuang terbaik keluarga Flick yang berdiri di belakangnya.


Namun entah kenapa tiba tiba ada perasaan takut di hatinya saat melihat ketenangan dari musuh di hadapannya.


"apa kau bodoh? Aku sudah berkata padamu bahwa aku sudah siap menanggung konsekuensinya!" ujar Edward yang tertawa menghina.


"masih belum terlambat untukmu meminta maaf kepada ku dan saudaramu!" ujar Bagas yang masih tersenyum.


"apa kau bilang? Minta maaf?!" tanya Edward kepada Bagas.


"itu tidak ada dan tidak berlaku di kamus seorang Edward Flick!" tambahnya dengan sombong.


"baiklah itu sudah menjadi keputusan mu!" ucap Bagas yang mengerutkan keningnya.


"Apa kau ketakutan sekarang?!" tanya Edward kepada Bagas.


"setelah kau tahu, bahwa aku bukanlah orang yang mudah di atur seperti si bodoh Hanser!" ujar Edward yang melihat ekspresi Bagas.


"belum terlambat untukmu menjadi bawahan ku yang setia!" ujar Edward dengan sombong.


Melihat Bagas yang diam saja membuat Edward tertawa senang.


Ternyata Bagas adalah orang yang mudah menyerah dengan keadaan.


Apalagi saat ini ada lebih dari dua puluh orang yang mengepung mereka yang hanya berjumlah dua orang.


"bagaimana penawaran ku?!" tanya Edward kepada Bagas dengan senyum menghina.


"Suuttt diam!" ujar Bagas kepada Edward.


"apa kau tidak mendengar suara yang sangat indah?!" tanya Bagas kepada Edward.


Edward yang melihat Bagas memperlakukan nya dengan buruk menjadi sangat marah.


"HABISI MEREKA BERDUA!!!" teriak Edward yang sudah emosi dengan Bagas.


Namun saat hendak ingin menyerang tiba tiba terdengar suara jeritan dan teriakan yang sangat nyaring di telinga semua orang.


Teriakan yang sangat menakutkan seolah olah malaikat pencabut nyawa datang di hadapan mereka.


"SIAPA ORANG BODOH YANG BERANI MELAKUKAN INI?!!" teriak Edward dengan marah.


"Bryan sisakan si bodoh itu untuk Hanser!" ujar Bagas menunjuk Edward.


Tinju Bryan langsung menuju kearah tulang rusuk Edward.


Namun tiba tiba tiga orang pengawal pribadi Edward menahan serangan Bryan dan membalas dengan serangan gabungan mereka.


"apa kau pikir aku tidak mempunyai pejuang yang tangguh di sisiku?!" tanya Edward kepada Bagas.


"HABISI DIA!!" teriak Edward dengan menunjuk Bryan.


Ketiga pria itu segera bergerak dengan cepat kearah Bryan yang berdiri dengan tegap.


Dua pria melakukan gerakan tendangan memutar dari dua sisi yang berbeda kearah Bryan.


Bryan yang menyadari hal itu segera melompat untuk menghindari itu.


Namun Bryan melupakan satu pria lainnya yang bergerak terlambat dan berhasil memberikan tendangan kearah wajah Bryan.


Meskipun Bryan sempat menahan tendangan itu tapi tetap saja Bryan kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


"sial ternyata dia bukan pengawal sembarangan kak!" ujar pria itu kepada dua pria lainnya.


"tenanglah kita juga baru pemanasan!" ujar salah seorang pria lainnya.


Edward yang melihat itu pun langsung menoleh kearah Bagas.


Untuk memberitahu bahwa bawahannya lebih kuat dibanding pengawalnya.


Namun melihat ekspresi Bagas yang tersenyum membuat Edward sedikit merasakan aneh.


"apa orang ini tidak takut kepada apapun?!" gumam Edward yang melihat Bagas.


Sedangkan kelima Harimau milik Bagas masih menyerang tanpa ampun kepada bawahan dan pengkhianat yang mendukung Edward.


Saat kelima Harimau itu melihat Bryan terjatuh mereka pun tertawa.


"apa kau kesulitan pria besar?!" ujar Harimau no 1 kepada Bryan.


"atau kau ingin kami membantumu?!" ledek Harimau no 3 yang membuat teman temannya tertawa.


Bryan yang mendengar hal itu pun menjadi lebih bersemangat.


"kalian jangan arogan hanya karena melawan kumpulan sampah seperti mereka!" ujar Bryan kepada kelima Harimau dengan tertawa.


"apa yang mereka sedang bicarakan?!" gumam Edward yang merasa aneh dengan prilaku anak buah Bagas.


"BUNUH MEREKA SEMUA!!!" teriak Edward yang sudah menjadi gila.


Bryan pun sudah kembali bersiap menghadapi tiga pria bawahan Edward.


"sekarang aku yang menyerang!" ujar Bryan yang melesat dengan cepat kearah tiga orang pria itu.


"kakak awas dia kearah mu!" teriak salah seorang pria.


"sial dia cepat sekali!" ucap pria itu yang menahan serangan dari Bryan.


Namun pukulan Bryan menekan pria itu hingga menyebabkan pria itu terpental cukup jauh dan menabrak sebuah meja.


"KAKAK!!" teriak pria lainnya yang melihat kakaknya jatuh.


Bryan tidak menyianyiakan kesempatan ini dan kembali menyerang.


"jangan lengah saat kau sedang di arena pertarungan atau kau akan mati!!" ucap Bryan yang menendang paha dari pria yang paling muda.


"KRAAKKK!!!" suara patahan yang sangat nyaring dari tulang pria yang terkena tendangan Bryan.