Penguasa Culun

Penguasa Culun
Ulang Tahun Tuan Renan


"Apa benar kau tidak ingin melawannya?!" Tanya Bagas kepada Rizki.


"Dia adalah salah satu master beladiri yang aku kagumi!" Ujar Rizki dengan tersenyum.


"Jika dia sepuluh tahun lebih muda, maka aku akan bersedia meladeni nya!" Lanjut Rizki dengan tenang.


"Yah kita berharap saja jika dia bisa hidup lebih lama lagi!" Ujar Bagas yang sedikit tertawa.


Rizki tidak merespon dan hanya tersenyum kearah belakang.


Rizki menyadari jika ini mungkin akan menjadi tahun terakhir tuan Renan dan Master Rey.


Tapi sebelum mati Master Rey ingin bertarung melawan Rizki.


Yang merupakan seorang pemuda culun !


Namun Rizki tidak mengabulkan permintaan itu.


Setelah beberapa hari, kota Nozel kembali damai seperti sedia kala.


Tuan Renan tetap memerintah lingkaran ilegal.


Sementara Bagas dan keluarga Saputra hanya diam tanpa adanya pergerakan.


Beberapa boss menganggap jika keluarga Saputra takut kepada tuan Renan.


Tapi beberapa boss menganggap jika keluarga Saputra tidak ingin menonjolkan diri mereka.


Bagaimana pun mereka telah menjadi kekuatan yang menakutkan di wilayah Lakertown.


"Paman, kita harus berangkat ke restoran Everest!" Ujar Rizki dengan tenang.


"Baiklah, tunggu sebentar!" Ujar Bagas yang masuk kedalam kamarnya.


Tidak lama kemudian Bagas pun keluar dan membawa sebuah kemeja.


"Pakailah ini!" Ujar Bagas yang menyerahkan kemeja itu kepada Rizki.


"Tidak perlu paman, aku begini saja!" Ujar Rizki menolak dengan pelan.


"Ini adalah kemeja ayah mu, segera kenakan dan kita berangkat!" Ujar Bagas yang langsung menaruh kemeja itu di pundak Rizki.


Bagas segera berjalan menjauh meninggalkan Rizki.


Tanpa banyak bicara, Rizki segera mengenakan kemeja mendiang ayahnya itu.


Itu terlihat sangat pas !


Rizki pun segera berjalan keluar !


Bagas yang melihat hal itu pun terkejut dengan penampilan Rizki.


Dia terlihat sangat mirip dengan mendiang ayahnya.


"Ayo segera kita berangkat!" Ujar Rizki dengan tersenyum.


Namun sesaat sebelum mereka berangkat, tiba tiba Dina datang.


"Rizki, pantas aja aku tidak menemukan mu di rumah sewa mu!" Ujar Dina dengan tersenyum kearah Rizki.


Dina pun menyalami Bagas yang merupakan pamannya !


"Kau mau kemana?!" Tanya Dina kepada Rizki.


"Aku ingin menghadiri acara ulang tahun teman paman ku!" Ujar Rizki kepasa Dina.


"Rizki kau ajak saja dia!" Ujar Bagas yang menggoda keponakannya.


"Tidak usah paman, aku langsung pamit saja!" Ujar Dina dengan hormat.


"Tidak perlu sungkan, mari ikut kami!" Ujar Bagas yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Rizki sepertinya aku tidak bisa ikut!" Ujar Dina kepada Rizki.


Mereka bertiga pun berangkat menuju restoran Everest.


Akan ada banyak kesempatan untuk mengadakan makan malam perayaan ketika pekerjaan selesai.


Tapi ini mungkin akan menjadi perayaan ulang tahun terakhir untuk tuan Renan.


"Tempat apa ini?!" Tanya Dina kepada Rizki.


Restoran Everest memang terlihat berbeda dari kebanyakan restoran pada umumnya.


"Seorang laki laki tua sedang merayakan ulang tahunnya!" Ujar Rizki dengan tenang.


"Orang tua ini sangat menyedihkan dan kesepian!" Ujar Rizki dengan tenang.


"Usianya sudah lima puluh tahun, dia sangat jarang merayakannya!" Lanjut Rizki kepada Dina.


"Jadi jika bukan saat ini di rayakan, maka belum tentu tahun berikutnya dia dapat merayakannya!" Ujar Rizki pelan.


Dina yang awalnya tidak ingin ikut, mendengar cerita itu menjadi sedikit merasa kasihan kepada tuan Renan.


"Ya ampun! Betapa sedihnya! Mari kita rayakan ulang tahunnya bersama sama!" Ujar Dina yang merasa kasihan.


Seorang pria tua yang kesepian? Betapa menyedihkannya itu.


Dina merasa kasihan dengan pria tua itu, jadi setelah turun dari mobil.


Tanpa sadar dia meraih lengan Rizki dan berjalan masuk kedalam Restoran Everest.


Dina belum pernah datang ke tempat berkelas seperti ini.


Tempat yang terlihat sangat menarik di dalam, terlihat banyak arsitektur yang sangat berkelas.


Tidak lama kemudian mereka sampai di depan pintu ruangan khusus.


"Tuan Saputra dan tuan muda, anda datang juga rupanya!" Ujar pelayan Fidz dengan wajah penuh senyuman.


Ketika Fidz melihat jika Rizki membawa seorang wanita, dia sedikit terkejut.


Karena Rizki membawa seseorang dari luar untuk menemaninya, mungkin itu pacarnya.


Bukan kah berbahaya membawanya ketempat seperti ini, jika bukan karena kepercayaan diri akan kemampuannya.


Maka keluarga Saputra tidak akan datang kesini !


"Selamat datang, nona Saputra!" Ujar pelayan Fidz kepada Dina.


"Halo!" Jawab Dina yang bingung.


Sementara Rizki dan Bagas tersenyum mendengar nya.


"Silahkan lewat sebelah sini!" Ajak tuan Fidz kepada mereka.


Keluarga Saputra adalah orang yang akan diantar langsung oleh Fidz.


Lagi pula orang lain tidak akan ada yang berani datang seterlambat ini.


Ginan, Chris dan boss lainnya telah datang dan menunggu lama.


Mereka semua ketakutan tetapi tidak ada yang berani menunjukan ekspresi itu di wajah mereka.


Setelah menerima undangan dari tuan Renan, banyak dari mereka yang ragu ragu karena tidak yakin.


Mereka menganggap jika perjamuan ini adalah jebakan !


Jika mereka menghadiri acara ini, mereka mungkin tidak akan pernah kembali lagi.


Namun semua orang tetap datang dan tidak ada yang berani untuk tidak datang.


Ada sepuluh boss di masing masing tempat duduk yang telah di sediakan.