
Hari itu pun berlalu tanpa terasa, bagi sebagian mahasiswa ini adalah minggu penentuan.
Sebelum mereka menghadapi ujian di Universitas Nozel.
Saat ini Dian dan Putri sedang berada di taman yang ada di sebelah gedung fakultas psikologi.
"apa kau sadar akan perubahan Dina?!" tanya Dian kepada Putri.
"benar, dia seperti mulai menjauh dari kita!" jawab Putri kepada Dian dengan bingung.
"itu yang adalah yang kedua!" ujar Dian dengan santai kepada Putri.
"hah?!! Apa maksudmu?!" tanya Putri yang bingung dengan pernyataan Dian.
"apa kau tidak sadar semenjak Dina mengejar si culun itu terakhir kali, tatapan Dina kepada si culun itu terkesan berbeda!" ujar Dian menjelaskan.
"aku tidak memperhatikan sedetail itu kau tahu!" ujar Putri yang membela diri.
"apa pun itu kita tidak perlu berurusan dengan itu, lebih baik kita kerjakan rencana kita!" ujar Putri dengan kesal kepada Dian.
"kau benar, setidaknya kita balas perlakuan si culun itu kepada kita tempo hari!" ujar Dian yang masih kesal dengan peristiwa saat itu.
"baiklah, saat ini kita menunggu si culun itu keluar dan kita ikuti dia!" ujar Putri yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Dian.
Sementara itu Rizki saat ini sedang berjalan menuju halte bus yang ada di depan Universitas Nozel.
Halte itu memang di peruntukan oleh para Mahasiswa yang memang tidak memiliki kendaraan pribadi.
"Hey lihat itu si culun!" ujar Dian yang melihat Rizki menaiki bus.
Dian dan Putri pun segera menyalakan mobil dan membuntuti bus yang di tumpangi oleh Rizki.
"Kita harus jaga jarak agar bisa melihat si culun itu akan turun dimana!" ujar Putri kepada Dian.
"baiklah, kau terus perhatikan bus itu!" ujar Dian yang mengendarai mobil itu.
Dian dan Putri pun terus mengikuti mobil bus yang di tumpangi oleh Rizki.
Dian dan Putri ingin meluapkan emosi mereka atas perlakuan dari Rizki.
Sementara itu di dalam bus, Rizki masih memikirkan tentang Bagas! yang mengatakan bahwa tuan Renan adalah salah satu orang yang dapat memberikan informasi atas kematian keluarganya.
"dimana aku bisa menemukan tuan Renan berada?!" tanya Rizki dalam hatinya.
"entah lah semoga saja aku cepat bertemu dengan tuan Renan!" ujar Rizki dalam hatinya.
Tidak lama kemudian Rizki pun turun dari bus.
Setelah bus itu sampai di halte yang dekat dengan rumah sewanya Rizki.
"hey lihat Dian, si culun itu sudah turun!! Segera kau hubungi nomor yang di berikan Jerry kepada kita!" ucap Putri kepada Dian.
Dian pun segera menghubungi nomor tersebut dan mengatakan bahwa target mereka berada di wilayah selatan kota Nozel.
Rizki tetap berjalan kearah rumah sewa nya tanpa sedikit pun menyadari bahwa bahaya sedang mengincarnya.
Dalam benak Rizki hanya ada satu pertanyaan dan itu pertanyaan yang selalu berulang di kepalanya.
Hanya itu isi pikiran Rizki saat ini sehingga dirinya tidak menyadari akan bahaya yang mengintainya.
Sementara Dian saat ini kembali mendapat telepon dari Gordon yang menanyakan dimana Rizki berada.
"dimana targetnya?!" tanya Gordon dari telepon.
"aku masih mengikutinya, kau masuk saja kearah jalan Villa 2 setelah itu kau berjalan lima puluh meter maka kita akan bertemu!" ujar Dian menjelaskan.
Setelah ucapan itu telepon pun di matikan oleh Gordon.
Sementara Dian dan Putri masih menunggu di depan rumah sewa Rizki.
Tidak lama kemudian Gordon pun datang bersama dua puluh orang di belakangnya.
Dian dan Putri yang melihat itu seketika merasakan ketakutan di hati mereka.
"kenapa kau bawa banyak sekali orang?!" tanya Putri yang takut.
"itu bukan urusan mu!" jawab Gordon dengan singkat.
"kau ingat, hanya memberi pelajaran bukan membunuhnya!" ujar Dian yang ketakutan.
"dimana dia?!" tanya Gordon kepada Putri dan Dian.
"kau dengar tidak?!" tanya Putri yang emosi.
Gordon yang mendengar itu hanya memberikan tatapan tajam kearah Putri.
Sontak saja Putri terdiam dengan tatapan itu.
Lalu tiba tiba Putri menjatuhkan dirinya ke tanah.
Dian yang melihat itu pun segera membantu Putri untuk kembali berdiri.
Namun sekujur tubuh Putri gemetaran dan mengeluarkan keringat dingin di punggungnya.
"kau kenapa Putri?!" tanya Dian yang khawatir.
"dimana dia?!" tanya Gordon kepada Dian.
"dia ada di rumah itu!" ujar Dian menunjuk rumah sewa Rizki.
Gordon bersama anak buahnya tidak berlama lama dan segera menuju rumah sewa Rizki.
Sementara itu Putri masih merasa ketakutan dengan peristiwa tadi, tatapan itu terasa mengerikan bagi Putri.
Tatapan Gordon tadi bukan lah tatapan biasa, itu tatapan yang penuh dengan aura membunuh.
Seakan akan Putri adalah mangsa dihadapan seekor singa.
Dian yang melihat prilaku Putri menjadi semakin khawatir dengan kondisi Putri.
"Apa yang dilakukan Gordon kepada Putri tadi?!" guman Dian di dalam hatinya.