
Tidak lama setelah Edgar pergi dari perpustakaan Universitas Nozel.
Rizki kembali mencari buku yang dia cari di lorong Psikologi.
Tidak lama setelah itu tiba tiba tangan Rizki di tarik oleh seorang wanita.
"Alice apa yang kau lakukan?!" tanya Rizki yang bingung.
"kau ikuti saja aku dulu!" ujar Alice yang masih menarik tangan Rizki dengan erat.
Alice menarik Rizki keluar dari ruangan perpustakaan Universitas Nozel.
Dan menuju kearah atap gedung Universitas Nozel.
Setelah mereka sampai di atap, Alice pun segera melepaskan tangan Rizki.
"Alice ada apa?!" tanya Rizki dengan bingung.
"Rizki ada apa sebenarnya antara kau dan Edgar?!" tanya Alice dengan cemas.
"aku tidak ada hubungan apapun dengan Edgar!" jawab Rizki dengan pelan.
"lalu kenapa tadi Edgar sampai berlutut dihadapan mu?!" tanya Alice yang kesal dengan jawaban Rizki.
"aku juga tidak tahu kenapa Edgar melakukan hal itu!" jawab Rizki dengan pelan.
"aku bahkan terkejut Edgar melakukan itu di depan orang banyak!" tambah Rizki kepada Alice.
"jangan berbohong kepadaku!" ujar Alice kepada Rizki.
"aku mengatakan yang sesungguhnya!" ujar Rizki dengan pelan kepada Alice.
Alice yang melihat bahwa Rizki mengatakan hal yang sebenarnya menjadi sedikit merasa bersalah.
"maafkan aku atas sikap ku tadi dan beberapa hari lalu!" ujar Alice dengan lembut.
"Tidak apa, aku juga ingin meminta maaf karena telah mengusir kalian saat itu!" ujar Rizki dengan pelan.
"apa kau sungguh telah memaafkan aku?!" tanya Alice yang masih belum percaya.
"benar aku sudah memaafkanmu!" ujar Rizki dengan tersenyum.
"namun jangan lagi melakukan hal seperti kemarin!" ucap Rizki kepada Alice.
"kau tahu, tidak ada seorang pun di dunia ini yang mengerti hati orang lain dengan baik!" ujar Rizki dengan tenang.
"saat ini aku hanya ingin fokus memperbaiki sesuatu yang aku anggap salah!" ujar Rizki dengan pelan.
"apa maksudmu?!" tanya Alice yang penasaran.
"kau juga akan mengerti nantinya!" ujar Rizki yang mulai tiduran di bangku yang ada di atap Universitas Nozel.
"apa kau tahu, kau adalah laki laki yang paling menyebalkan di dunia!" ujar Alice dengan cemberut.
Rizki yang mendengar itu membuka kacamatanya dan berjalan kearah Alice.
"apa benar begitu?!" tanya Rizki yang menghadapkan wajahnya tepat di hadapan wajah Alice dengan tersenyum.
Alice yang melihat itu menjadi merah wajahnya.
"apa yang kau lakukan?!" tanya Alice yang tersipu malu.
"apa kau demam?!" tanya Rizki yang meletakan punggung tangannya dikening Alice.
Alice yang mendapatkan perlakuan seperti itu sontak menjadi berteriak.
"Aahhh apa yang kau pikirkan?!" tanya Alice yang menjauh dari Rizki.
"apa maksudmu? Aku hanya menanyakan keadaan mu karena wajahmu seperti apel!" ujar Rizki dengan bingung.
"kau sengaja melakukan ini kepada ku kan!" ujar Alice yang memukul punggung Rizki.
"aduh kenapa kau memukulku?!" tanya Rizki yang merasakan sakit.
"kenapa kau mengatakan wajahku seperti apel?!" tanya Alice yang mencubit pinggang Rizki.
"Aduuhhh!!! Apa yang kau lakukan?!" tanya Rizki yang memegangi pinggangnya yang sakit karena di cubit oleh Alice.
"itu karena kau mengatakan jika wajahku seperti apel!" ujar Alice yang sudah merasa tenang.
"pantas saja jika kau belum memiliki pacar!" ujar Rizki dengan pelan.
"apa yang barusan kau katakan?!" tanya Alice yang mendengar ucapan Rizki.
"ehh aku tidak mengatakan apa apa!" jawab Rizki yang mulai panik.
"apa kau ingin aku cubit lagi?!" tanya Alice dengan wajah mengancam.
"tidak, aku minta maaf!" ujar Rizki yang langsung menunduk kearah Alice.
Akhirnya Alice dan Rizki pun kembali duduk bersama diatap Universitas Nozel.
Alice yang awalnya berusaha mencari tahu identitas Rizki perlahan mencoba melupakan semua keinginan nya itu.
Entah kenapa saat bercanda tadi Alice merasakan bahwa sebenarnya Rizki sangat kesepian.
Entah apa yang sudah Rizki lewati selama ini.
Alice hanya ingin selalu berada di sisi Rizki entah untuk membantunya atau hanya untuk menjadi alasan Rizki untuk selalu bersemangat melewati hari harinya.
"aku awalnya ingin sekali meminta maaf kepada mu dan Dina!" ujar Rizki kepada Alice.
"kenapa? Memang apa kesalahan mu?!" tanya Alice dengan pelan.
"aku telah memperlakukan kalian dengan buruk kemarin!" jawab Rizki dengan sedikit menyesal.
"tidak seharusnya kau meminta maaf kepada kami!" ucap Alice yang menatap kedepan.
"justru kami lah yang sudah melakukan kesalahan kepada mu!" tambah Alice dengan pelan.
"tidak seharusnya kami mengatakan hal buruk kepadamu kemarin!" ujar Alice dengan ekspresi sedih.
"kau tahu, saat ini aku tidak perduli siapa kamu dan mau apa kamu datang ke kota ini!" ujar Alice yang mulai berterus terang.
Rizki yang mendengar ucapan Alice menjadi sedikit merasakan senang di hatinya.
"tapi kau harus berjanji satu hal!" ujar Alice kepada Rizki.
"apa itu?!" tanya Rizki kepada Alice.