Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 88


Rea menatap Arkan yang terlelap disampingnya. Perutnya terasa lapar, ia lalu turun kelantai bawah berniat pergi kedapur. Gadis itu setengah heran mendapati Axel yang ia duga masih sibuk bekerja karena laptop dihadapan laki-laki itu menyala, secangkir kopi terlihat ada diatas meja.


"Belum tidur?" suara Rea mengagetkan Axel. Gadis itu masuk kedalam dapur mengambil minum dan membuka kulkas. Namun, ia kembali dengan hanya membawa segelas air, wajahnya terlihat cemberut.


"Ini sudah hampir jam dua pagi, kenapa belum tidur?" tanya Axel.


"Yang belum tidur dirimu, aku sudah tidur tapi terbangun karena lapar." Rea meletakkan kepalanya dimeja makan "Di kulkas tidak ada makanan." sesalnya.


Axel menutup laptopnya "Kamu ingin makan apa?"


"Entahlah, Aku mau membuat susu saja," ucap Rea, Ia hampir berdiri dari kursinya. Namun, Axel mencegahnya.


"Biar aku saja yang membuatkannya untukmu," ucapnya sambil berlalu masuk kedalam dapur.


Axel yang kembali dengan segelas susu ditangannya melihat Rea yang masih menyandarkan kepalanya di atas meja, tapi gadis itu memejamkan mata seolah tengah tertidur. Axel mendekat meletakkan segelas susu itu dimeja, tangannya menggeser perlahan kursi disebelah Rea agar tidak mengganggu gadis yang masih sangat dia harapkan untuk menjadi miliknya itu.


Axel melakukan hal yang sama, ia menekuk kedua lengan tangannya menggunakannya sebagai bantal kemudian meletakkan kepalanya. ia memandangi sambil mengagumi kecantikan istri orang yang seharusnya tidak dia lakukan.


Rea kaget saat membuka mata karena wajah Axel tepat berada disampingnya, tak ayal untuk beberapa detik mereka saling menatap wajah satu sama lain. Gadis itu menegakkan badannya begitu juga dengan Axel. Laki-laki itu menyodorkan susu yang dibuatnya tadi.


"Minumlah! mumpung masih hangat."


Rea menenggak susu itu. Namun, tak sampai habis dia menyerahkan gelas itu kembali ke Axel.


"Minum, habiskan!" pinta Rea.


Axel terlihat heran, matanya melebar mendengar permintaan gadis disampingnya.


"Enggak mau, kalau tidak habis sudah buang saja," sarannya.


"Ini bukan mau ku, tapi anakmu yang minta." Rea masih memegang gelas susu yang tidak habis itu. "Bubu ingin papinya minum susu, dan berhenti minum alkohol."


Ucapan Rea membuat Axel terdiam sejenak sebelum meraih gelas susu dan tersenyum kemudian benar-benar meminumnya. Pundaknya bergedik saat tegukan terakhir susu masuk kedalam kerongkongannya. Gadis disampingnya hanya tertawa.


"Kamu mengerjaiku iya kan? minum susu sih minum susu, tapi bukan susu hamil juga Re." Axel menyeka ujung bibirnya sambil menuduh Rea. Kemudian mereka tertawa.


"Apa kamu sudah benar-benar memaafkanku?" tanya Axel kemudian.


"Aku sudah memaafkanmu, Karena Mas Arkan juga bisa menerimanya, dia memintaku untuk menerima semua ini sebagai ujian kami," lirih Rea.


"Maaf atas kebodohanku," sesal Axel.


"Kita tidak pernah bisa kembali ke masa lalu Ax, sekarang aku hanya ingin fokus ke anak kita." Rea menyandarkan punggungnya dikursi.


"Anak kita?" gumam Axel.


"Iya anak kita, anakmu, anakku dan Mas Arkan," jawab Rea tegas.


Axel terdiam merutuki sebuah perasaan aneh dihatinya. "Apa aku boleh memegang perutmu lagi?" tanya Axel.


"Lakukanlah, Ken bilang kamu juga harus sering melakukannya, aku sama sekali tidak ingin memutus bounding antara kamu dan bubu." Rea meraih tangan Axel lalu meletakkan diatas perutnya.


Axel menyentuh perut Rea, ia tersenyum bahagia apalagi saat merasakan gerakan dari janin didalam sana.


"Papi janji sayang," lirih Axel.


Rea kembali ke kamarnya, berbaring disamping Arkan kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya dan dirinya. Ia memeluk Arkan yang tidur dengan posisi menghadapnya. Menelusupkan kepala didada Arkan, mencium aroma tubuh suaminya yang ia suka, yang selalu bisa memberinya kenyamanan.


"Dari mana?" Suara parau Arkan berbisik ditelinganya.


"Aku lapar, jadi aku kedapur, tapi disana tidak ada makanan, jadi aku cuma minum susu itupun tak habis karena sebenarnya aku tak begitu ingin." ucapnya.


Arkan mengerjabkan matanya, "Jam berapa ini? apa kamu ingin aku belikan sesuatu?" tanyanya sambil mengangkat kepalanya.


Rea bahagia mendapatkan perhatian yang begitu besar dari suaminya, ia tertawa melihat muka bantal Arkan. Muka yang belum sepenuhnya sadar itu menurut Rea sangatlah lucu.


"Kamu benar-benar suami siaga, bahkan belum sadar seratus persen dari tidurmu pun sudah menawarkan diri untuk membelikanku sesuatu," canda Rea sambil mendorong kepala Arkan agar menempel kembali ke bantal, Ia lalu menciumi bibir suaminya bertubi-tubi. Seringai senyum muncul dibibir Arkan.


"Sepertinya kita belum pernah melakukannya disini."


Rea tertawa mendengar ucapan Arkan, bahkan jam tiga pagi dalam kondisi masih mengantuk dan mata terpejam suaminya itu masih bisa memikirkan hal berbau mesum dengannya. Rea sudah terlihat bersemangat sebelum ucapan dari Arkan membuatnya mencebik kesal.


"Janganlah, kita tidak boleh melakukannya terlalu sering sekarang, aku tidak ingin menyakiti anak kita."


Gadis itu menggeser tubuhnya menjauh lalu membelakangi Arkan, senyum mengembang dibibir laki-laki itu mengetahui istrinya sedang kesal. Arkan meringsek memeluk tubuh Rea, mengusap perut istrinya lembut.


"Bebe sayang mamamu marah nih," bisik Arkan seolah berbicara pada anaknya.


Rea hanya terdiam, membuat suaminya bangun dan melihat kearahnya.


"Ayo kita lakukan, tapi kamu diatas ya?"


Rea tertawa lalu berbalik menatap Arkan yang wajahnya sudah begitu dekat dengannya, suaminya itu sudah membuka matanya lebar-lebar sambil tersenyum menggoda.


"Ternyata kamu tidak benar-benar tidur iya kan?" tuduh Rea.


"Aku tidur sayang, tapi memikirkan itu membuatku tiba-tiba tidak mengantuk lagi," jawab Arkan.


Rea mencebikkan bibirnya, sebuah ciuman dari Arkan mendarat manis dibibirnya, setelahnya pasangan suami istri itu bangun, mereka duduk diatas ranjang untuk mulai melakukan apa yang telah mereka sepakati bersama tadi.


❤❤❤❤❤


Paginya sebelum pulang Rea dan Arkan menyempatkan untuk sarapan bersama. Rea bercerita akan mengikuti kelas hamil dan prenatal gentle yoga, ia berencana ingin melahirkan secara normal kedua bayinya.


"Apa bisa?" tanya Axel penasaran.


"Kenapa tidak bisa? makanya mulai dari sekarang aku akan berusaha untuk mempersiapkan tubuhku," jawab Rea sambil mengunyah sarapannya.


Axel memandang Arkan, laki-laki itu seolah tidak sependapat dengan Rea yang ingin melahirkan secara normal. Merasa Axel menunggu jawabannya, Arkan kemudian berbicara.


"Normal atau sesar yang penting semua sehat, kita dengarkan saja besok saran dokter saat sudah mendekati waktu persalinan."


"Kalau dokter dengan segala pertimbangannya menyarankan operasi, ingat kamu tidak boleh keras kepala." Arkan menatap ke arah Rea.


Gadis itu menggigit sendoknya, tertawa mendengar ucapan suaminya. Sementara Axel menganggukkan kepala menyetujui pernyataan Arkan barusan.