Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 44


Sesaat setelah turun dari atas panggung , Elang melihat seorang dengan baju pelayan terlihat berjalan mendekat ke arah adiknya, ia bergegas turun dengan sedikit berlari menuju ke arah Rea, bahkan Arkan dan Axel tidak meneruh rasa curiga sama sekali saat melihat laki-laki itu panik mendekat ke arah adiknya, manik mata Elang terlihat membesar saat mendapati pelayan itu mengayunkan sebuah pisau yang ia sembunyikan disamping badannya.


Disaat melihat gadis yang dicintainya sedang dalam bahaya, saat itupun logikanya tidak bisa dia pakai untuk berpikir jernih, alih-alih menendang atau memukul pelayan itu, ia malah memilih menjadi tameng hidup dan memeluk adiknya.


"Re, bukankah kamu pernah bilang langit dan bumi itu tidak akan pernah bisa bersatu, tapi apa terpikirkan olehmu bahwa sejatinya langit itu diciptakan untuk selalu mengawasi bumi, saat melihat bumi kekeringan ia akan menurunkan hujan, pun saat bumi berbisik langit pasti akan selalu mendengar, mungkin untuk alasan itu kita ditakdirkan seperti ini, aku hidup untuk melindungimu."


Bisik Elang dalam hati sebelum tubuhnya jatuh ke tanah, matanya masih sempat bersitatap dengan mata Rea yang terlihat terkejut.


Arkan dan Axel mengejar pelayan itu sampai keluar halaman rumah, beberapa orang pria juga ikut membantu mengejar sampai pelaku penusukan itu terpojok.


"Sial!" pekik Axel melihat pisau berlumuran darah yang masih dipegang orang itu.


"Apa yang kalian lakukan sampai kecolongan seperti ini," teriaknya ke arah security yang juga tak kalah bingung dengan apa yang terjadi barusan.


Penusuk itu menyerang ke arah Arkan, refleks ia menahan mata misau yang diarahkan kepadanya dengan tangan, Axel dan security melihat pelaku itu lengah kemudian memukul dan menyergapnya dari arah belakang.


"Akan aku habisi dirimu, apa kamu sedang mencoba melukai orang yang aku sukai, ha?," Axel menghadiahi muka pelaku itu dengan bogem mentah berkali-kali.


"Bahkan dia belum sehari menjadi adikku sialan! " pukulan tangannya kembali melayang, membuat muka pelaku penusukan itu berdarah-darah.


Arkan yang meringis merasakan sakit ditangannya berusaha menghentikan Axel yang terlihat sangat emosi, meminta security untuk menangani pelaku penusukan itu dan segera memanggil polisi.


Axel melihat tangan kanan Arkan yang berlumuran darah, kemudian mengambil sapu tangan dari saku jasnya, memberikannya ke laki-laki itu, mereka menoleh bersamaan saat melihat sebuah ambulance datang dan dua orang perawat menurunkan brankar.


"Rea!" ucap mereka bersamaan kemudian berlari mencari gadis yang sama-sama sedang mereka pikirkan.


Langkah kaki mereka berhenti saat melihat Rea yang mengikuti Elang yang sudah dipindahkan keatas brankar naik keatas ambulance, Arkan merasa ada yang mengganjal dihatinya saat melihat gadis yang dicintainya menangis terisak sambil menghalau tangan Lidia yang seperti sedang mencegahnya untuk ikut, mata mereka sempat bersitatap tapi gadis itu langsung berpaling naik ke atas ambulance.


"Ayo kita ke rumah sakit, tanganmu juga perlu diobati," ucap Axel.


Didalam ambulance perawat memasang selang oksigen kemudian memeriksa tanda vital Elang, perawat itu terlihat seperti malakukan komunikasi via alat yang Rea sendiri tidak tau apa , karena baru kali ini dia naik ke mobil ambulance dalam keadaan sadar.


"Kalau kamu sampai pergi aku juga tidak ingin hidup lagi, jadi please bertahan Lang," ucap Rea disamping kakaknya yang terbaring didalam mobil ambulance yang membawanya ke rumah sakit.


Kinanti sedang berjalan untuk pulang setelah menyelasaikan tugasnya hari ini, ia berjalan ke UGD karena Ranu sedang bertugas disana, dokter bedah itu berjanji akan mengantar dirinya pulang.


Namun langkah gadis itu terhenti saat melihat Ranu terlihat panik dan ikut mendorong sebuah brankar dengan tubuh laki-laki yang berlumuran darah diatasnya, mata Ken terbelalak saat melihat gadis yang dia kenal dengan gaun biru muda terhenti didepan pintu UGD karena dicegah masuk oleh seorang perawat, gadis itu menangis dengan suara keras, Ken berlari kemudian berdiri didekat gadis itu.


"Rea?"


Gadis itu menoleh ke arah orang yang memanggil namanya, ia langsung memeluk Kinanti orang yang sudah lama tidak dia temui.


"Siapa yang terluka tadi?" tanyanya sedikit bergetar melihat gaun biru gadis itu bernoda merah.


"Arkan?" tanyanya.


Gadis itu menggeleng dipelukannya.


"Elang?" tanyanya sedikit ragu.


Tangis Rea pecah kembali membuat Ken membelalakkan matanya sambil menoleh ke arah pintu UGD.


Mereka berpelukan agak lama, ia belum berani menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan memilih mengajak Rea untuk ke ruangannya karena ia tau gadis itu akan semakin khawatir jika masih tetap menunggu disana. Pada awalnya Rea menolak tapi Ken mencoba menenangkan dengan alasan dia juga seorang dokter, jika keadaan sangat buruk pasti perawat sudah lari keluar masuk UGD dan menyiapkan ruang operasi, Ken lalu menunjuk gaun Rea yang berlumuran darah membuat gadis itu akhirnya mengikuti Ken ke ruangannya.


Rea duduk dikursi terdiam, kemudian Ken menyerahkan sebuah baju miliknya.


"Aku selalu membawa baju lebih semoga muat, gantilah dikamar mandi, baru kita kembali ke UGD," ucap Ken sambil menyerahkan sebuah paper bag berisi dress berwarna coklat ke Rea.


Arkan dan Axel sampai di UGD tapi tidak mendapati Rea disana, mereka sempat bingung tapi Axel meminta suster untuk memeriksa luka ditangan Arkan terlebih dulu, laki-laki itu mengikuti suster masuk kedalam karena tangannya banyak mengeluarkan darah.


"Darimana?" tanyanya khawatir.


"Aku....." belum sempat gadis itu menjawab pertanyaan kakak tiri barunya, dokter terlihat keluar dari ruang UGD.


"Tidak perlu khawatir, lukanya tidak sampai mengenai organ vital pasien, kami sudah menghentikan pendarahan dan menjahit lukanya, tapi untuk sementara pasien masih membutuhkan transfusi darah," ucap dokter Ranu.


"Tidak sampai menyebabkan syok hipovolemik kan?" tanya Ken yang membuat Ranu sedikit terkejut dan menerka-nerka apa hubungan gadis itu dengan pria yang baru selesai dia tangani, sampai membuatnya terlihat ikut cemas.


"Tidak, jadi tidak perlu khawatir, tapi karena kondisi pasien masih belum sadarkan diri untuk sementara kami butuh observasi mendalam diruang ICU, setelah kondisinya stabil baru nanti kami pindahkan ke kamar inap." terang Dokter Ranu.


Ada kelegaan dihati semua orang yang ada disana, tak lama sebuah brankar keluar dari UGD dan beberapa perawat memindahkannya ke ruang ICU, diatasnya terlihat badan Elang yang seperti tengah tidur dengan beberapa selang yang melekat ditubuhnya.


"Apa saya boleh melihatnya Dok?," tanya Rea.


"Lebih baik menunggu sampai pasien dipindahkan ke kamar inap, paling sebentar 8 jam atau jika kami curiga adanya komplikasi lain biasanya harus observasi selama 1x24 jam, mohon bersabar," ucap Ranu yang diyakinkan dengan anggukan kepala dari Kinanti.


Rea terdiam sambil memegangi kepalanya, Axel mendekat kemudain memegang pundak gadis itu untuk memberi sedikit dukungan, terlihat Arkan keluar dari UGD berjalan sambil memandangi telapak tangannya yang dililit perban.


"Dia juga terluka," bisik Axel ketelinga Rea yang membuat wajah gadis itu kembali khawatir.


Gadis itu mendekat kemudian menatap kekasihnya, Air matanya menetes lagi, Arkan masih bisa tersenyum sambil menggunakan tangan kirinya untuk mengusap air mata dipipi gadis itu.


Rea mengusap tangan Arkan yang diperban.


"Pasti sakit" ucapnya sambil terisak.


"Hem, ga begitu kok, masih bisa ditahan sakitnya," ucap Arkan sambil menyibakkan helaian rambut kekasihnya yang menutupi pipinya.


"Lebih sakit melihatmu menangisi laki-laki lain," bisiknya dalam hati.


Tak selang berapa lama Laras dan Andi datang kerumah sakit, sementara Lidia dan Jordan masih menyelesaikan beberapa urusan karena kekacauan yang terjadi dipestanya.


"Tante sudah menghubungi Maya, dan om juga sudah menghubungi ayahmu, mereka berkata akan segera kemari," ucap Laras ke Rea.


"Sebaiknya kamu pulang untuk istirahat, biar om dan tante yang menjaga Elang disini."


Gadis itu terdiam memandang ke arah Kinanti yang dia tau adalah seorang dokter, Ken menganggukkan kepalanya. Akhirnya gadis itu pulang meskipun dengan sedikit terpaksa.


-


-


-


-


-


-


-


-


Jangan Lupa LIKE ya reader 💕💕💕💕