
Rea menyambar ponsel Elang yang memang sedang berdiri paling dekat dengannya, mata dan jemarinya menyapu deretan foto yang menunjukkan dirinya tengah bersama sang suami dan juga Axel. Tangannya bergetar membaca tulisan yang dikirimkan sebuah nomor ke chat semua orang yang ada di sana bersamaan dengan foto-foto itu.
"Anak perempuan Farhan Pradipta melakukan poliandri, menikahi seorang general manager di perusahaan ayahnya dan pengusaha muda pemilik Sky hotel Axel Sky Jordan, bahkan tengah hamil dan kalian pasti akan terkejut jika mengetahaui siapa ayah dari anak di dalam kandungannya, sangat disayangkan pengusaha muda berprestasi ternyata tidak bermoral, melanggar norma yang jelas-jelas di larang di negara kita."
Belum cukup dengan foto, dua buah video juga dikirimkan sang nomor tak dikenal itu ke semua orang.
"Memalukan, bahkan sebelum menikah Andrea Bumi Pradipta sudah memiliki anak dengan seorang warga negara asing." bunyi pesan itu lagi.
Arkan yang juga membaca pesan itu terlihat meremas ponselnya sambil memejamkan mata, mendekat ke arah istrinya untuk merebut ponsel Elang, agar gadis itu tidak membuka video yang baru saja dikirim nomor itu lagi.
Rea mengelak "Biarkan aku melihatnya!" ucapnya ke sang suami.
"Sayang!" Arkan masih berusaha mencegah sang istri.
"Aku tahu hal seperti ini cepat atau lambat pasti akan terjadi," lirih Rea.
Gadis itu mulai menekan tanda play di video pertama, video dimana Axel menunggui dirinya, berbincang sampai mengantarnya ke rumah sakit beberapa saat yang lalu. Rea mematikan video pertama yang ternyata isinya kurang lebih sama dengan gambar foto-foto sebelumnya.
Rea beralih ke video kedua dimana disana terlihat dirinya tengah pergi bersama Noah, wajahnya benar-benar terlihat marah, jiwa ke ibuannya membuat dia murka, bagaimana mungkin anak kecil dibawa-bawa ke masalah orang dewasa, entah apa maksud orang yang mengirim pesan itu, yang pasti Rea langsung memilih pergi masuk ke dalam rumahnya sambil menggandeng tangan Noah yang sedari tadi berdiri di dekatnya.
Semua keluarga masih berkumpul di rumah Farhan setelah semua tamu undangan pergi, mereka semua hanya terdiam, bahkan Andi terlihat memijat keningnya sendiri, tentu saja tak berselang lama ponsel mereka penuh dengan pesan dari jajaran direksi yang meminta penjelasan, bahkan Jordan dan Farhan sudah bisa menebak saham mereka pasti akan anjlok dengan kejadian ini.
Rea memilih menemani Noah di kamarnya di lantai atas sampai anak itu terlelap tidur, mengusap pipi anak itu kemudian menghela napasnya berat, gerakan dari bayi di dalam perutnya membuat Rea tersenyum meskipun sedikit ia paksakan.
"Mama baik-baik saja," ucapnya lirih sambil mengusap perutnya lembut.
Sementara di lantai bawah orang-orang seolah sedang mencari jalan keluar tentang kejadian yang baru saja terjadi.
"Semoga ini tidak memyebar sampai masuk ke media masa," ucap Farhan.
"Sayang sekali, sudah ada beritanya di internet," Elang memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan satu artikel berita.
Farhan hanya bisa memijat keningnya seperti yang dilakukan Andi.
"Aku akan memberi klarifikasi bahwa semua itu hanya salah paham." Axel membuka suaranya.
"Lantas Apa kamu mau jujur bahwa kamu merudapaksa adik tirimu sampai dia hamil?" balas Farhan.
Semua mata secara bergantian langsung menatap ke arah Farhan dan Axel, khawatir laki-laki itu akan mengamuk, meskipun beberapa dari mereka yang kenal baik dengan Farhan seperti Andi dan Lidia paham betul pria dingin itu tidak akan sampai menunjukkan amarahnya di depan banyak orang.
"Aku diam saja selama ini bukan karena aku bisa menerima kelakuanmu ke anak perempuanku, aku diam karena anak itu berkata tidak apa-apa dan masih terlihat bahagia meskipun hamil bayi laki-laki lain yang bukan milik suaminya," ungkap Farhan.
"Lalu apa aku harus diam saja? melihat semua mata memandang rendah ke arah Rea? jika tidak ada penjelasan sesegera mungkin aku takut orang pasti akan berpikir yang lebih macam-macam ke kami bertiga," bantah Axel.
"Ax, jika kamu jujur apa kamu pikir dirimu saja yang akan hancur dan mendapat malu? pertama Rea sudah bisa di pastikan sebagai obyek utama pasti akan terluka, kedua Arkan suaminya, ketiga semua keluarga juga akan terkena dampaknya," ucap Jordan ke anak laki-lakinya.
Axel terlihat berpikir setelah mendengar kalimat dari papanya, bagaimanapun ucapan Jordan tidak salah, banyak hal yang ikut tersangkut dan dipertaruhkan dalam masalah ini.
"Sial! siapa orang jahil yang sedang berusaha merusak ketenangan keluarga kita." Elang terlihat mengepalkan tangannya, Kinanti yang berada di sampingnya hanya bisa mengusap punggung sang kekasih untuk meredakan sedikit emosinya.
"Kita bisa mengklarifikasi bahwa dirimu hanya dekat dengan Rea layaknya kakak dan adik, dan apa yang ditunjukkan oleh orang brengsek yang mengirim foto-foto dan berita itu adalah fitnah." Andi mencoba memberikan solusi.
"Mari kita pikirkan dulu Ax, yang pasti aku hanya berharap kejadian ini tidak mempengaruhi kesehatan Rea dan bayinya," Arkan yang sedari tadi diam hanya bisa mencemaskan kondisi sang istri dan anaknya.
Tiba-tiba ponsel mereka berbunyi kembali, Elang mengumpat karena sebuah pesan audio dikirimkan nomor itu kembali ke mereka. Elang mulai memutar rekaman pesan itu, Kinanti langsung melebarkan bola matanya karena dia kenal betul pemilik suara itu adalah dirinya.
Semua mata memandang ke arah Kinanti penuh tanya.
"Demi Tuhan itu memang suaraku, tapi aku tidak tau siapa yang merekamnya," ucap gadis itu gemetar.
"Bahkan kemungkinan orang itu sudah mengikuti kalian bertiga sejak awal." Farhan menyandarkan kepalanya ke sofa, mencoba mencerna lagi apa yang sedang terjadi.
Jelas sekali terdengar suara Kinanti yang menyebut satu anak yang dikandung Rea adalah milik Arkan dan satu lagi milik Axel.
"Brengsek seseorang juga menyadap ruang kerja Ken di rumah sakit." Elang terdengar begitu marah.
Semua orang kembali terdiam dan ruangan itu menjadi sunyi.
"Aku tidak ingin ikut bicara, tapi ada solusi yang terlintas di dalam pikiranku, bagaimana jika kita memberi penjelasan bahwa apa yang terjadi kepada Rea adalah sebuah kesalahan medis, apa kalian pernah mendengar donor sper.ma?" tanya Ken memecah keheningan.
"Apa maksudmu?" tanya sang kekasih.
"Kita bisa saja menjelaskan seolah Axel ingin mendapat anak dari seorang wanita, tapi karena sebuah kesalahan, benih milik Axel yang harusnya dimasukkan ke rahim wanita lain malah masuk ke rahim Rea." jelas Ken.
"Lalu siapa yang akan menjelaskan?" tanya Farhan ke calon menantunya.
"Aku," lirih Kinanti.
Semua orang terkejut dengan penuturan gadis itu.
"Tidak Ken!"
Suara Rea terdengar memecah suasana yang tidak nyaman untuk semua orang, gadis itu ternyata sudah berdiri di bagian paling bawah anak tangga, dan dengan jelas telinganya baru saja mendengar ucapan Kinanti.
"Aku tidak mau kamu jadi kambing hitam dan mengorbankan diri hanya untuk menyelesaikan masalahku," ucap Rea.