
Sunyi, hanya suara jangkrik yang terdengar di villa Jordan yang berada di tengah-tengah kebun teh itu. Setelah memastikan kedua anaknya terlelap tidur, perlahan Rea menutup pintu kamar, berjalan keruang tengah villa.
Axel yang tengah duduk disofa terlihat tersenyum, merentangkan kedua tangannya ke arah Rea, bak gayung bersambut gadis itu duduk di sampingnya lalu memeluk pinggangnya. Mereka cukup lama terdiam, sampai Axel memecah keheningan dengan bertanya ke Rea.
"Apa ini mimpi?"
"Apa maksudmu?"
"Bisa berdua denganmu dan memelukmu seperti ini." Axel mengecup sekilas kening gadis yang masih melingkarkan tangannya ke pinggangnya itu.
"Aku tau ini akan berakhir saat kemarahanmu ke Arkan sudah reda, karena aku yakin kamu masih sangat mencintainya."
"Jika kamu tau aku masih mencintainya lalu kenapa kamu menerima tawaranku untuk menjalin hubungan seperti ini?" Rea melepaskan pelukannya, menatap heran ke arah laki-laki berwajah tegas di sampingnya."
"Karena aku mencintaimu dan berharap kamu juga bisa membalas perasaanku."
"Aku belum tau apakah ini cinta, tapi aku bahagia berada di sisimu seperti ini, aku berharap semoga malam ini tak segera berganti menjadi pagi." bisik Rea.
Axel mendekatkan wajahnya, mencium bibir gadis yang bisa membuatnya dengan rela melakukan hal gila.
"Apa kamu tidak ingin tidur?" bisik Rea saat jarak wajah mereka hanya hitungan centi.
"Sama sepertimu aku tidak ingin malam ini cepat berlalu."
Mereka akhirnya memilih untuk berbaring beralaskan karpet ruang tengah dan saling memeluk di bawah selimut, menghangatkan diri di depan perapian yang letaknya tak begitu jauh dari mereka.
"Ax, ceritakan tentang dirimu, apa yang kamu suka dan tidak kamu suka, apa yang membuatmu sedih dan apa yang bisa membuatmu bahagia."
Rea membalikkan badannya, menatap Axel yang tengah memeluknya dari belakang sedari tadi. Laki-laki itu mencium bibirnya sekilas untuk yang kedua kali membuat gadis itu tertawa dan membalikkan badannya membelakangi Axel kembali.
"Sebenarnya saat bertemu denganmu pertama kali di taman sepuluh tahun yag lalu, sorenya aku harus ke makam mamaku untuk mengenang satu tahun kepergiannnya," lirih Axel.
"Meskipun aku punya dua kakak perempuan, tapi mama lebih dekat denganku, aku benar-benar kehilangan."
"Apa aku boleh tahu kenapa beliau meninggal?"
"Mama punya penyakit jantung."
Rea membalikkan badannya lagi, membuat Axel sedikit bergeser, bibirnya tersenyum mendapati gadis itu meringsek dan membenamkan kepala di dadanya.
"Sama seperti kakekku, dan dihari dimana kamu melihatku di taman adalah seminggu setelah aku kembali ke sana karena kepergiannya."
"Pasti kamu begitu sedih." Ax, semakin mendekap erat tubuh Rea.
"Sangat, aku sampai berpikir ingin menyusul kakek saja."
Axel terkejut, melonggarkan pelukannya untuk memandang wajah gadis yang berada dalam pelukannya.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"
"Kamu tau? dulu ayahku tidak menganggap aku anaknya, aku pindah ke kota itu karena kakekku meminta aku mencari kakak laki-laki dari pernikahan ayahku sebelumnya, aku melakukannya hanya agar ayahku bisa menyayangiku, dan kakak yang harus aku cari itu adalah Elang."
"Dan kamu malah mencintai kakakmu?"
Rea mengangguk pelan membuat Axel terlihat melipat keningnya seolah curiga bercampur heran.
"Jawab pertanyaanku!"
"Apa?"
"Siapa yang berhasil mengambil ciuman pertamamu? apakah Elang atau Arkan?"
"Arkan yang mencium bibirku untuk pertama kali, tapi aku menganggap Elang yang mengambil ciuman pertamaku, karena Arkan menciumku tanpa aku sadari sementara dengan Elang aku menikmatinya."
"Jadi apa saat itu hatimu terbagi?"
"Hem... aku merasa mencintai Elang, tapi di saat yang bersamaan aku juga tidak ingin kehilangan Arkan."
"Lalu bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kamu mencintai Arkan, tapi juga menyukai aku? atau bagaimana?" Axel mencecar, penasaran.
Axel merengkuh gadis itu kedalam pelukannya, "Apapun itu, aku akan tetap seperti ini kepadamu." bisiknya.
"Lantas apa yang bisa membuatmu bahagia? katakan!"
"Bisa bersamamu seperti ini," lirih Axel "apalagi jika kamu bisa memberikan hatimu hanya untukku."
"Tapi aku takut itu tidak akan pernah terjadi."
"Apa yang membuatmu begitu mencintaiku Ax? banyak gadis yang lebih segalanya dariku, bahkan kamu pernah hampir menikah dengan Selena."
Menyebut nama Selena membuat Rea mengangkat kepalanya dari dada Axel, wajahnya terlihat menggoda Axel untuk mengulik lebih dalam masa lalu selingkuhannya itu.
"Apa kamu sedikitpun tidak menaruh hati padanya? bahkan kamu terlihat begitu marah saat dia kabur." Rea tertawa membuat Axel mengerucutkan bibirnya.
"Ax, apa kamu sedang mencoba untuk terlihat imut di depanku sekarang?" goda Rea melihat ekspresi wajah laki-laki yang sedang berbaring sambil memakai lengannya untuk menyangga tangannya itu.
Begitu dalam Ax menatap wajah Rea, "Apa kamu cemburu?" tanyanya menggoda.
"Hah...," Rea bangun sambil mencebikkan bibirnya, meninggalkan Axel yang tertawa dan berdiri mengekornya.
Laki-laki itu berlari memeluk pinggang Rea, bergelayut manja di pundak gadis itu sambil mengikuti langkah kakinya.
"Mau kemana?"
Rea hanya terdiam, ia terus melangkah tanpa menjawab pertanyaan si papi Embun.
"Re coba panggil aku sayang lagi seperti tadi siang."
"Gak!"
"Ih... masa marah!"
Axel memegang kedua lengan tangan Rea, membalikkan badan gadis itu untuk menghadap ke arahnya, tanpa permisi Ax berusaha mencium bibirnya. Namun, tiba-tiba tangisan terdengar dari dalam kamar Bening dan Embun, Rea memundurkan badannya, menepuk dada laki-laki di depannya kesal, kemudian bergegas menghampiri Bening yang ternyata terjaga.
"Sepertinya dia tau bahwa aku akan mencium mamanya, mungkin dia tidak terima." Axel berbaring di samping Embun yang masih tertidur nyenyak.
Rea menimang Bening, Ia baru teringat dengan ponselnya yang berada di dalam tas dan sengaja dia buat dalam mode diam, Ia bisa menebak pasti Arkan sudah menghubunginya berkali-kali, apalagi dari pagi Ia sama sekali tidak melihat benda pipih miliknya itu.
***
Rea menatap layar ponselnya, ada hampir seratus chat dan lima puluh panggilan tak terjawab dari Arkan. Gadis itu sudah hampir meletakkan ponselnya saat tiba-tiba layar ponselnya berkedip berkali-kali, sudah hampir jam dua belas malam, Rea sadar pasti Arkan tidak bisa tidur karena memikirkannya yang tak membalas pesan atau menerima telponnya seharian.
"Halo," Rea akhirnya mengangkat panggilan itu, menyandarkan punggungnya senyaman mungkin ke sofa yang ia duduki.
"Sayang, kamu dimana? kenapa tidak membalas pesan dan mengangkat teleponku seharian? Apa ada masalah?" dari nada suaranya Arkan jelas begitu khawatir dengan kondisi Rea.
"Maaf, hari ini aku sengaja meminta pengasuh Be dan Bu untuk libur, jadi aku sibuk menjaga mereka berdua sendirian, aku lelah jadi saat mereka tidur aku ikut tidur," dustanya.
"Kalau begitu aku akan pulang saja besok."
"Tidak, tidak usah! selesaikan saja urusanmu dulu, aku tidak apa-apa, ada Ax yang akan membantuku menjaga Be dan Bu besok."
Rea memandang Axel yang keluar dar kamar dan berjalan mendekat ke arahnya, alih-alih duduk di samping Rea laki-laki itu memilih duduk dibawah dan meletakkan kepalanya ke pangkuan kekasihnya, perlahan gadis itu memakai sebelah tangannya untuk membelai lembut rambut Axel sambil masih terus berbicara pada suaminya di telepon.
"Jangan cemas, aku baik-baik saja," ucap Rea sebelum diam dan mengiyakan beberapa pesan dari Arkan lalu mengakhiri panggilannya.
Rea meletakkan ponselnya, memegangi kening kepalanya lalu menangkup pipinya sendiri dengan salah satu tangannya, merasakan sebuah perasaan aneh menggelayuti hatinya, pandangannya berlari menatap Axel yang sedang memejamkan mata dengan posisi kepala masih berada di atas pangkuaannya.
"Ax, ayo tidur ke kamar," bisiknya.
Tak ada jawaban, Rea mengusap punggung sang kakak tiri, perlahan membuat tepukan lembut di sana.
"Ax__" panggilnya lagi.
Dengan mata yang masih terpejam Axel menggelengkan kepalanya pelan "lima menit lagi, biarkan aku seperti ini lima menit lagi," pintanya.
Membisu, hanya suara jangkrik yang kembali terdengar, Axel meraih sebelah tangan Rea dan dengan sengaja meletakkannya di atas kepalanya lagi. Manja, seolah tidak ingin kehilangan kasih sayang wanita yang masih berstatus istri orang itu.