Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 111


Bisa dikatakan membawa satu bayi untuk pindah hunian saja merupakan satu hal yang sudah sangat cukup merepotkan, apalagi dua bayi sekaligus, hal ini bukan karena sang bayi itu sendiri, mahkluk kecil nan menggemaskan itu tak menjadi persoalan, hanya saja barang-barang yang merupakan perlengkapan sang bayi menjadi PR besar bagi orang tua mereka.


Pada akhirnya Rea dan Arkan tidak bisa langsung membawa Bening dan Embun pulang kerumah, ternyata harus ada penyesuaian sana sini di dalam hunian mereka seperti memindahkan beberapa barang-barang milik kedua bayinya dari rumah Jordan ke rumah mereka sendiri.


Merasa beberapa hari belakangan sedikit mengabaikan Noah, Rea memutuskan untuk tinggal di rumah sang mertua selama beberapa hari sambil menunggu rumahnya sendiri tertata rapi.


Malam itu Bening dan Embun sudah tidur di kamar bersama sang Papa, ranjang kamar Arkan terlihat menjadi sempit karena ada dua orang bayi yang harus tidur satu ranjang bersamanya disana, belum lagi ditambah Rea, namun tak menjadi soal karena dia sadar kondisi ini tidak selamanya.


Laras masuk ke dalam kamar Arkan, melihat sang anak laki-laki sedang berbaring menjaga kedua bayi kembarnya, Wanita itu duduk sambil membenarkan letak selimut yang menutupi kaki cucunya.


"Ar, apa kamu tidak ingin memberi tahu Rea, soal hasil test DNA Noah?"


Arkan yang mendengar ucapan sang mama yang menanyakan hal sensitif itu langsung bangun dari posisinya, wajahnya terlihat berubah menjadi serius. Ia mengingat kembali beberapa waktu yang lalu saat dirinya harus mengambil satu berkas di ruang kerja sang Papa. Ia melihat sebuah amplop berlogo rumah sakit menyembul dari tumpukan berkas lalu membukanya.


Sudah tentu bukan kali pertama itu Arkan melihat sebuah hasil test dimana tujuannya adalah untuk menentukan hubungan genetik antar dua manusia.


Arkan langsung meminta penjelasan dari sang Papa, karena Ia yakin sang istri pasti akan marah besar jika sampai tahu bahwa Andi melakukan test DNA kepada Noah.


"Ini penting Ar, papa jelas ingin tahu apakah Noah itu cucu kandung papa atau tidak," Jawab Andi saat Arkan menanyakan kenapa sang papa diam-diam melakukan test DNA dirinya dan Noah.


"Ar... " Panggilan sang mama membuat Arkan tersadar dari lamunannya.


"Apa kamu sudah memberi tahu Rea kalau kamu mencari keberadaan ibu kandung Noah?"


Arkan menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan sang mama.


"Ar kamu harus segera memberi tahu istrimu, jangan sampai Rea tahu dari orang lain dan menimbulkan salah paham diantara kalian."


Arkan masih terdiam, ada ragu yang membelenggu hatinya, Ia masih takut memberitahu Rea.


Sementara itu di kamar Noah, Rea tengah sibuk membacakan sebuah buku namun anak itu belum juga terlelap, Noah malah meringsek memeluk pinggang Rea yang setengah berbaring di ranjang. Gadis itu lantas meletakkan buku cerita yang sudah selesai Ia baca di atas nakas, memilih berbaring menarik selimut untuk menutupi tubuh anaknya.


"Mama, thank you," bisik Noah, tangan bocah laki-laki berumur empat tahun itu terlihat mengusap pipi Rea.


"Terima kasih untuk apa?" Tanya Rea sambil mengusap rambut dan pipi anaknya.


"For loving me."


Rasa hangat menggelenyar di hati Rea mendengar ucapan anak berumur empat tahun itu, ia lantas mencium kening Noah, menghirup aroma rambut anak itu dalam-dalam.


"Mama juga sayang dan cinta sama Noah, sekarang Noah bobok ya, besok pagi mama yang akan nganter Noah ke sekolah, oke!"


Bukannya memejamkan mata anak itu malah bangun dan melompat-lompat di atas kasur kegirangan mendengar akan diantar sekolah sang mama, Rea hanya bisa tertawa sambil meminta Noah berhati-hati agar tidak jatuh, Ia sadar beberapa minggu ini memang kurang perhatian dengan puteranya, apalagi semenjak kelahiran Bening dan Embun.


Pagi harinya dua orang pengasuh untuk kedua bayinya sudah datang, Rea merasa lebih tenang bisa meninggalkan Bening dan Embun sebentar untuk mengantar Noah ke sekolah.


"Apa Elang sudah mendapat pengganti dirimu?"


Rea mendekat lalu meraih dasi Arkan yang berada di atas ranjang untuk dipakaikannya ke leher sang suami. Arkan hanya menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan dari sang istri tadi.


"Apa aku harus melamar menjadi general manager disana?" goda Rea sambil menaikkan simpul dasi suaminya yang sudah ia buat.


"Suamiku sekarang CEO tapi sepertinya malah lebih sibuk dari sebelumnya." Rea mencebikkan bibirnya sambil menggelengkan kepalanya seolah dirinya tak habis pikir.


Arkan yang gemas dengan tingkah sang istri langsung mendorong tubuh Rea sampai terbaring diatas ranjang, Ia lalu menyangga kedua tangannya diantara pundak sang istri.


"Aku harus mengantar Noah sekolah," Jawab Rea.


"Kamu bisa meminta tolong mama melakukannya."


"Nanti kalau Be dan Bu bangun dan menangis."


"Mereka sudah aman bersama pengasuhnya," Arkan masih mencoba melepaskan kancing bajunya.


"Aku sudah berjanji mengantar Noah ke sekolah sayang." Rea menarik leher sang suami agar bisa mencium bibir laki-laki itu, lalu mendorong tubuh Arkan agar Ia bisa bangun dan pergi dari sana.


"Aku sibuk, beri tahu adikmu sekarang jatahnya dipotong menjadi malam hari saja," canda Rea sambil berlalu pergi, namun saat sudah berada di depan pintu Ia kembali lagi dengan setengah berlari menuju sang suami.


Gadis itu melingkarkan lengannya ke leher sang suami, sedikit berjinjit mencium bibir Arkan dengan gaya French kiss.


"Terima kasih," lirihnya setelah melepaskan pagutan bibirnya dari bibir Arkan.


"Untuk apa?"


"Semuanya," Rea mencium pipi sang suami, kemudian setengah berlari menuju pintu lagi.


"Noah pasti terlambat." ocehnya sambil berlalu membuat Arkan tertawa gemas.


***


"Mama, aku mau cupcake cokelat seperti yang pernah mama belikan," ucap Noah sambil menggandeng tangan Rea sampai ke lobby sekolahnya.


Rea berjongkok untuk mensejajari tinggi badan anak itu, mengusap lembut pucuk kepala Noah.


"Oke nanti mama belikan, sekarang Noah masuk belajar yang pintar ya!"


Anak itu mengangguk sambil tersenyum lalu memeluk leher Rea dengan kedua tangan mungilnya.


"Thank you mama," bisiknya.


Dengan digandeng sang guru masuk ke dalam Noah melambaikan tangan ke arah Rea yang juga membalas lambaian tangan anak itu.


Setelah mengantar Noah ke sekolah dan memastikan anak itu masuk ke dalam kelasnya, Rea bergegas pergi kesebuah tempat untuk bertemu dengan orang yang dia minta untuk menyelidiki Arkan.


"Seperti yang saya tulis di pesan yang saya kirimkan ke anda tadi pagi, suami anda ternyata mencari wanita bernama Samantha itu untuk memberikan sejumlah uang agar wanita itu tidak akan pernah muncul di kehidupan suami dan keluarga anda lagi."


Rea terlihat bernapas lega, kecurigaannya tentang sang suami perlahan mulai memudar. Ia lalu mengucapkan terima kasih dan menunjukkan bukti transfer uang yang dia kirimkan untuk membayar jasa orang suruhannya itu.


Dengan seulas senyum dibibirnya ia pergi ke toko kue untuk membeli cupcake pesanan Noah tadi pagi, ponselnya berbunyi dan hanya ia biarkan, namun belum sampai Rea membayar pesanannya ponsel didalam tasnya berbunyi kembali, gadis itu lagi-lagi membiarkannya karena berpikir panggilan dari rumah, mungkin saja Bening atau Embun sedang rewel jadi dia ingin segera pulang saja.


Sampai didalam mobil ponselnya masih terus berbunyi, akhirnya Rea memilih untuk mengambil ponselnya, ia sedikit terkejut melihat nomor yang menelponnya berkali-kali bukan dari rumah melainkan dari sekolah sang anak.


"Halo mom, this is miss Angela."


"Yes Miss, what's going on?" Rea penasaran untuk apa guru Noah menelponnya disaat masih jam sekolah.


"Saya minta maaf sebelumnya, saya ingin mengabarkan bahwa Noah pingsan dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit"


"Apa?"