Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 14


"Ar, Sabtu ini bisa nemenin aku ketemu Event organizer buat acara lamaran kita ga?" tanya Rea pada Arkan yang sedang membawa mobilnya menuju hotel tempat kerja Rea.


"Bisa, aku ga ada acara kemana-mana kok, mau pergi kesana jam berapa?"


"Nanti aku kabari lagi ya buat jam nya, orangnya belum balas"


"Siap nona cantik"


"Apa'an sih?" jawab Rea malu mendapat pujian seperti itu dari Arkan.


"Oh ya Aku sampai lupa ingin bilang ke kamu"


"Soal apa?"


"Beberapa hari yang lalu Elang mengirim pesan ke aku"


"Benarkah? Apa yang dia katakan," tanya Arkan


"Dia menanyakan kabar, kemudian bertanya apa benar aku akan menikah, dan apakah calon suamiku dirimu?"


"Bukankah menanyakan kabar berarti dia sedang merindukanmu?"


"Aku tidak menanyakan ke dia merindukan aku atau tidak," jawab Rea polos


"Kalau kau berani menanyakan nya pada Elang, aku akan benar-benar marah" batin Arkan


"Aku meminta dia datang memberikan restu pada kita kalau dia bisa, kemudian aku tidak membalas pesan nya lagi"


Arkan menganggukkan kepalanya.


"Kamu mau melihat pesannya?"


Arkan menoleh ke Arah Rea, menghentikan mobilnya didepan lobby hotel tempat kekasihnya bekerja.


"Tidak perlu aku percaya padamu" Arkan menempelkan bibirnya ke bibir Rea.


Ada perasaan mendesir bahagia didada Rea, selain sangat mencintainya Arkan juga sangat percaya kepadanya.


Rea melepaskan sitbelt nya kemudian turun dari mobil, tidak langsung beranjak pergi, Arkan menurunkan kaca jendela mobilnya.


"Kenapa?"


"Aku lupa bilang, nanti malam aku mau keluar sama mba Agni, jadi tidak usah menjemputku"


"Baiklah, jangan pulang malam-malam oke"


"Oke"


Gadis itu berjalan masuk kedalam hotel, sementara Arkan menunggu sampai punggung kekasihnya benar-benar tidak nampak lagi.


Sepulang kerja Rea benar pergi bersama atasannya itu, Rea mengajak Agni untuk menikmati secangkir kopi disebuah coffee shop. Mereka bercerita sambil sesekali diselingi tawa layaknya adik dan kakak, membicarakan kerjaan sampai hal pribadi, Kemudian Rea mengatakan kalau kurang dari 8 bulan lagi dia akan menikah. Agni terkejut dengan cerita Rea, lebih takut lagi kalau tiba-tiba Rea resign dari kerjaannya.


"Setelah menikah apa kamu akan berhenti bekerja?"


 "Ga lah mba, Arkan tidak mengekang aku sama sekali untuk masalah pekerjaan "


"Baguslah, setidaknya kalau ada apa-apa dalam pernikahan sebagai wanita kita tidak langsung jatuh terpuruk"


Rea berfikir apakah Agni sedang menasehatinya berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri.


"Aku akan menggugat cerai suamiku," ucap Agni sambil menikmati kopinya.


Rea terkejut dengan apa yang di katakan atasannya itu.


"Apa tidak ada cara agar mba dan suami rujuk kembali?" tanya Rea


"Perselingkuhan buatku seperti sel kanker, orang mungkin bisa sembuh dari kanker, tapi tidak bisa dipastikan juga apakah sudah tidak ada sel kanker yang berada di dalam tubuhnya"


Rea mengernyitkan dahinya, tanda tidak mengerti sama sekali.


Rea hanya terdiam meresapi kalimat Agni kemudian bertanya.


"Apakah selingkuh itu kalau kita berhubungan dengan orang lain disaat kita sudah mememiliki pasangan?, maksudku jika hanya menyukai orang lain saat memiliki pasangan apa itu namanya juga selingkuh?"


"Tentu saja, karena perasaanmu sudah berpaling tidak utuh hanya untuk pasanganmu"


Rea terdiam kembali, menyandarkan tubuhnya dikursi, memandang wajah Agni yang terlihat tegar tapi dia yakin menyimpan sejuta kesedihan dibaliknya.


"Apa malam ini anak mba Agni ada yang menjaga?"


"Ada, Misya sekarang aku titipkan dulu ke ibuku"


"Mba Agni mau pergi dugem ga?"


"Apa?"


Agni meletakkan cangkir kopinya terkejut dengan ajakan tak terduga anak buahnya, tapi kemudian dia mengambil tasnya dan menyambar kunci mobilnya.


"Sepertinya menyenangkan"


Rea segera menyeruput habis kopinya, dia tidak menduga Agni seantusias itu.


Memang dari segi usia mereka tidak terpaut jauh, Rea berumur 25 tahun sementara Agni 30 tahun. Dia menikah saat berumur 25 tahun sekarang anaknya berumur 3 tahun.


***


Mereka sudah sampai di club yang pernah Rea datangi bersama Arkan, tentu saja dengan pakaian kerja yang masih mereka kenakan, Agni melepaskan blazer nya begitu juga dengan Rea. Mereka duduk berhadapan dimeja, saat musik sudah dimainkan DJ, Rea tidak seantusias seperti saat pertama datang ketempat itu, malah Agni yang sudah ngacir duluan ke lantai dansa.


Rea tersenyum melihat Agni menikmati apa yang sedang dia lakukan sekarang, setidaknya perempuan itu bisa melupakan sejenak permasalahan rumah tangganya.


Sepasang mata berkeliling mencari sesuatu, teman yang mengajaknya ngobrol pun sama sekali tidak dipedulikan, memutar kepalanya masih melihat orang-orang yang duduk didalam club, kemudian matanya menangkap obyek yang sedang dia cari, sepasang mata itu menatap ke arah Rea yang sedang duduk sendirian menikmati soft drink dan camilan.


"Ketemu" ucap lelaki itu, kemudian berjalan mendekati meja Rea meninggalkan temannya disana yang masih saja berbicara padahal dia sudah beranjak dari kursinya.


Laki-laki itu berdiri disamping meja Rea, melihat bayangan seseorang mendekat sontak Rea berpaling dan melihat


"Kamu.....? "


Sontak laki-laki itu kaget karena Rea mengenalinya


"Apa aku boleh duduk disini?"


Rea belum menjawab, tapi laki-laki itu sudah duduk didepannya


"Kamu kenal aku?" tanya laki-laki itu penasaran


Rea tertawa, wajahnya tampak sedikit kesal


"Bagaimana mungkin tidak kenal, kamu orang yang memecahkan dua vas milik vendor hotel kami karena kesal, padahal aku sudah memohon jangan, apa kamu tau kami mengganti hampir 70 juta untuk dua vas yang sudah kamu pecahkan," Rea terlihat emosi, berbicara dengan sedikit berteriak karena jika tidak suaranya pasti kalah keras dari suara musik disana.


Laki-laki itu terperanjat dengan apa yang dikatakan Rea.


Jangan-jangan gadis yang memegang tanganku, yang menahan untuk tidak memecahkan vas dihari itu


Rea seperti sudah bisa menebak apa


yang dipikirkan laki-laki didepannya.


"Ya benar aku bekerja di hotel dimana kamu mau menikah dengan Selena, nama kamu Axel kan? dan kamu kemarin juga melerai perkelahianku dengan seorang wanita dimall "


Laki-laki itu semakin terkejut.


"Kamu benar-benar tipe laki-laki menyebabkan," ucap Rea santai


Axel terdiam mendengar kata demi kata yang keluar secara spontan dari mulut gadis didepannya. Bukannya marah Axel malah tersenyum dan merasa gadis didepannya sangat menarik.