Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 126


"Kami sedang bermain tenis bersama, tapi tiba-tiba Ax ambruk, aku sudah melihat wajahnya memang sedikit berbeda, aku sempat bertanya apakah dia sakit? dia bilang baik-baik saja."


"Jantung? bukan jantung kan?" tanya Rea panik mendengar penjelasan dari Nic.


"Aku tidak tahu juga Re."


Rea memegangi keningnya, bahkan gadis itu hampir menangis karena terlalu khawatir dengan keadaan Ax yang masih ditangani oleh dokter di UGD.


"Pasien sudah sadar, dari pemeriksaan kami menemukan peradangan dari apendiks atau usus buntu, sebaiknya harus segera dilakukan tindakan operasi."


Rea memandangi wajah Axel yang benar-benar pucat, mengingat kembali penjelasan dari dokter yang memeriksa Ax tadi, tangan laki-laki itu menggenggam erat tangannya, dingin yang dirasakan oleh Rea.


"Jangan takut, tidak apa-apa Ax!"


"Apa aku bisa mati?"


Rea tertawa mendengar pertanyaan konyol dari kekasihnya itu. "Tidak Ax, kata dokter setelah operasi semuanya pasti akan baik-baik saja. Apa aku harus menghubungi mama atau papa?"


Rea bertanya sambil memegangi kening Axel menggunakan sebelah tangannya, karena tangan yang satunya masih digenggam erat oleh kakak tirinya itu, perlahan gadis itu mengusap dahi kekasihnya lembut turun ke pipi.


"Jangan! ambilkan saja ponselku, aku akan bilang ke mereka bahwa beberapa minggu ini aku akan pergi keluar kota," pinta laki-laki yang sedang dalam kondisi tak berdaya itu.


"Lalu setelah operasi apa kamu tidak ingin pulang?"


Ax menggeleng," Aku ingin tinggal di apartemen untuk beberapa minggu."


Terdiam, Rea sedang berpikir apakah Ax ingin mereka berdua tinggal bersama untuk beberapa hari ke depan? tak mungkin menolak, ia tahu Ax tidak memiliki kekasih karena jelas laki-laki itu sedang menjalin hubungan dengannya.


"Baiklah, aku bisa merawatmu," bisik Rea.


"Terima kasih, Re." Lirih Axel.


Siang harinya Ax langsung menjalani operasi usus buntu, paska operasi dokter menjelaskan kondisi pasiennya itu dalam keadaan stabil, tapi Rea terlihat khawatir karena sudah lebih dari tiga jam dan waktu juga hampir menunjukkan pukul lima sore artinya ia harus bergegas kembali ke hotel karena Arkan pasti sudah akan menjemputnya pulang.


Namun, Axel terlihat masih belum tersadar dari efek obat bius setelah menjalani operasinya, beruntung Rea meminta nomor Nic tadi pagi, gadis itu segera menghubungi teman baik kekasihnya itu agar bisa menjaga Axel karena dia harus pulang, Rea berjanji akan kembali sesegera mungkin di pagi hari untuk menjaga Ax.


***


"Sayang, Kenapa wajahmu kusut seperti itu?" melihat muka sang istri yang terlihat seperti itu Arkan sedikit khawatir.


Rea hanya menggeleng, menyandarkan punggungnya senyaman mungkin disandaran kursi mobil, pikirannya masih dilingkupi perasaan cemas akan keadaan Axel, apalagi dia baru saja seperti bermain di film laga, berkejaran dengan waktu agar bisa tepat sampai ke hotel sebelum sang suami tiba di depan lobby.


"Minggu ini aku ada undangan peluncuran salah satu aplikasi digital pendidikan, kamu bisa menemaniku kan?"


"Tentu saja, aku pasti akan menemanimu." Rea menatap ke arah Arkan dengan senyuman mencoba menyembunyikan rasa cemasnya.


"Oh ya tiga hari kedepan aku sudah izin untuk tidak berangkat kerja karena Be dan Bu akan mulai mendapat makanan pendamping air susu ibu pertama mereka (MPASI ), aku ingin menemani mereka dulu," dusta Rea.


"Apa aku perlu ikut untuk tidak masuk kerja juga?"


"Tidak, tidak usah kan masih ada Dewi dan Sari," jawabnya cepat.


"Tapi kirim foto-foto mereka besok, aku juga ingin melihat bagaimana mereka makan untuk pertama kali," pinta Arkan.


Sementara Rea sibuk dengan kebohongannya ke sang suami, Axel yang sudah tersadar hanya bisa terdiam mendengarkan penjelasan Nic yang berkata gadis itu meninggalkannya untuk pulang ke rumah dan berjanji akan kembali lagi besok pagi, laki-laki itu hanya mengangguk lemah, meminta sahabatnya untuk pulang.


"Ax, aku tahu kamu memiliki hubungan spesial dengan Rea." Nic yang masih berdiri di samping ranjang pasien sahabatnya itu terlihat berusaha berhati-hati dengan apa yang akan dia ucapkan selanjutnya.


"Apa kamu tau ini salah? dia istri orang Ax."


"Aku tau Nic, tapi entah kenapa aku tidak bisa lepas dari gadis itu," jawab Ax lirih. "Mungkin ini terdengar gila untukmu, tapi aku mencintainya."


"Carilah gadis lain Ax, aku bisa membantumu menemukan wanita yang cocok."


Axel menggelengkan kepalanya,"Aku akan mencari wanita sendiri Nic, kalaupun itu bukan Rea aku akan menemukannya sendiri."


***


Setelah bergumul di pergantian fajar, Arkan memeluk tubuh polos istrinya dibawah selimut, matanya terpejam tapi tentu tak sepenuhnya ia tertidur karena beberapa jam lagi dirinya sudah harus bersiap pergi bekerja. Dibawah selimut laki-laki mengaitkan jemarinya ke jemari tangan sang istri yang sedang menempel di perut. Seolah tak ingin waktu cepat berlalu Arkan semakin mendekap erat tubuh Rea.


"Sayang, kamu benar tidak jadi memasang alat pencegah kehamilan kan? aku ingin kita punya anak lagi," bisik Arkan.


Diam, Rea hanya mendengarkan setiap kalimat yang terucap dari bibir sang suami, tapi akhirnya sebuah kalimat terlontar dari mulutnya ketika Arkan berkata jika bisa memilih dia ingin memiliki seorang anak berjenis kelamin laki-laki.


"Kita sudah pernah memiliki satu, tapi kamu membiarkannya pergi," ketus Rea.


Arkan sadar bahwa istrinya memang tipe pendendam, gadis itu akan terus mengungkit hal yang membekas atau menyisakan sakit di hatinya. Sabar, laki-laki itu tersenyum tipis dibelakang sang istri sambil menciumi helaian rambut di pucuk kepala Rea yang berada tepat di bawah dagunya.


"Dengarkan ini, setelahnya terserah apa kamu masih ingin mendendam kepadaku atau tidak," bisik Arkan lembut.


Rea sedikit menggeser badannya yang masih membelakangi Arkan lalu menganggukkan kepalanya pelan, memberi tanda bahwa Ia siap mendengarkan penjelasan suaminya baik-biak.


"Pertama jika aku meneruskan pemberian maksimal support ke Noah tidak hanya raganya saja yang lelah, jiwa anak itu pasti juga tersiksa, dokter sudah bilang bahwa sudah tidak ada kemungkinan Noah untuk sadar, kedua tidakkah kamu berpikir aku melakukan ini juga untuk dirimu? selama menjaga Noah kamu melupakan dirimu sendiri, kamu telat makan bahkan badanmu terlihat lebih kurus, aku tidak tega melihatmu seperti itu, jika diteruskan mungkin aku tidak hanya akan kehilangan Noah, tetapi juga dirimu, dan aku juga memikirkan Bening dan Embun, meskipun akhirnya aku sangat menyesal karena stress yang kamu alami mereka tidak bisa mendapat ASI lagi."


Tercekik, begitu yang dirasakan Rea. Ada ngilu di dadanya, entah itu rasa bersalah ke Arkan yang baru saja tertancap dalam di hatinya atau akar kekecewaan ke Arkan yang berlahan mulai tercabut dari sana.


Berkabut bimbang, Rea bingung dengan perasaannya sendiri, jelas semalaman dirinya tidak bisa tenang. Ia sangat gelisah memikirkan kondisi Axel yang masih terbaring lemah di rumah sakit, lalu sekarang? apakah hatinya sudah berpaling dari sang suami? bodoh, sepertinya lagi-lagi dia mencintai dua orang laki-laki disaat yang bersamaan.


"Aku masih sedikit ragu kepadamu," lirih Rea. " Aku ragu apa dihatimu benar-benar hanya ada aku." Rea memejamkan mata dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat, merasa pertanyaan itu seharusnya ditanyakan kepada dirinya sendiri.


"Apa kamu ingin kita pergi ke dokter bedah?" tanya Arkan.


"Untuk apa?" terkejut, Rea membuka matanya dan berbalik untuk menatap wajah sang suami.


"Memintanya untuk membelah dadaku untuk ditunjukkan kepadamu bahwa hanya ada namamu disana."


Mereka saling pandang, menatap manik mata satu sama lain. Senyuman terbit dari bibir Rea, gadis itu lama kelamaan tertawa, "Bukankah itu kalimatku saat kamu bertanya tentang perasaanku ke Elang dulu? Bagaimana bisa kamu mengucapkannya dengan sama persis, ternyata kamu juga pendendam."


Arkan mendekap tubuh putih mulus itu, menciumi kening si pemilik bertubi-tubi, " Bukan pendendam, kata-katamu itu terukir dalam di lobus frontalis otakku."


Rea melepaskan pelukan Arkan,menyambar baju laki-laki itu yang berada di dekatnya. Sudah, Mandi sana!"


Arkan menggeleng sambil menunjukkan ekspresi muka manjanya, "Aku mau dirumah saja bersamamu hari ini, menemani Embun dan Bening mendapat MPASI pertama mereka."


"Mati aku!" batin Rea.