
"Bagaimana Re, apa kamu setuju?"
Mia menatap Rea yang masih terpaku memandangi bangunan di seberang gedung tempatnya berada sekarang.
"Re, apa kita jadi menyewa gedung ini?"
Tersadar, Rea menatap ke arah Mia."Berapa harga jual yang pemiliknya tawarkan? Aku akan membelinya saja."
Ucapan Rea membuat Mia saling pandang dengan pengelola gedung yang awalnya akan mereka sewa untuk menjadi kantor pusat RM Jewelry. Mendapati gedung yang Mia tawarkan ternyata bersebelahan dengan kantor milik sang suami Rea tentu tak ingin melewatkan kesempatan untuk dekat dengan Arkan.
Setelah berbincang dengan pengelola dan mendengar harga yang ditawarkan, Mia menemani orang itu turun ke bawah, sementara Rea terlihat keluar dari ruangan yang akan menjadi tempat kerjanya menuju balkon, menatap lurus ke arah balkon yang ada di gedung RBB market milik suaminya, gadis itu berharap bisa melihat Arkan keluar dari sana, sekedar untuk melepas rindunya yang sudah mulai tinggi, setinggi lantai gedung dimana dirinya berada sekarang.
Bodoh, jika rindu kenapa tidak langsung berlari saja menemui laki-laki itu? bukankah hanya butuh waktu kurang dari tujuh menit? ia hanya tinggal turun ke lantai bawah, berjalan beberapa langkah di trotoar lalu menyebrang satu zebra cross, semudah itu cara Rea untuk bisa menemui sang pujaan hati. Namun, gadis itu sadar sedang ada tembok yang dibangun Arkan diantara mereka. Perih, Ia sangat merindukan belai lembut dan kasih sayang suaminya, bahkan senyuman hangat dari Arkan begitu sangat ia harapkan sekarang.
Rea memilih berbalik masuk ke dalam untuk pergi dari sana, di saat punggungnya hampir tak terlihat, Arkan nampak keluar berdiri di balkon kantornya, sekilas mata laki-laki itu menangkap sosok wanita yang terlihat seperti istrinya dari belakang.
Sebenarnya Ia juga sangat merindukan Rea, ia juga sudah ingin membawa gadis itu ke dalam rengkuh cintanya lagi, tapi Arkan masih ingin memastikan apakah hati seorang Andreadina Bumi Pradipta masih benar-benar menjadi miliknya, hanya miliknya. Ia tak ingin berbagi cinta Rea dengan lelaki manapun.
***
Sementara itu Elang yang sebentar lagi menikah dibuat gusar oleh sang calon istri, butuh waktu seminggu bagi dirinya untuk meyakinkan Kinanti bahwa tidak akan ada yang berubah meskipun Sunny menjadi istri siri ayahnya.
"Aku malu Lang, aku malu kepadamu, aku malu kepada keluargamu." Menangis terisak, Ken benar-benar merasa pernikahannya dengan Elang tidak akan pernah terjadi.
Dengan penuh kasih Elang memeluk erat calon istrinya itu, "Untuk apa malu, biarkan saja! aku akan tetap menikah denganmu seperti yang sudah kita rencanakan, dan setelahnya aku tidak akan pernah membiarkan satu orangpun menyakiti ataupun membuat malu dirimu," bisik Elang.
Setelah melihat gedung bersama Mia tadi, Rea memilih bertemu dengan Sunny. Menatap penampilan Sunny yang berbeda dari sebelumnya jelas gadis itu mendapat limpahan harta dari Farhan.
Ide dikepalanya sudah Ia susun matang-matang, sejurus kemudian Rea mulai melancarkan aksi menakut-nakuti Sunny agar gadis itu pergi meninggalkan ayahnya jika memang harta yang menjadi alasannya berhubungan dengan Farhan.
"Kamu tahu apa saja aset yang dimiliki ayahku?" Rea mulai menjelaskan harta kekayaan sang ayah ke gadis di depannya, jelas ekspresi wajah terkejut ditunjukkan Sunny saat Rea mengabsen deretan kekayaan Farhan.
"Apa kamu tahu bahwa semua aset itu telah di atas namakan aku dan Elang? Ayahku sudah tidak punya apa-apa lagi, bahkan seandainya Elang adalah anak yang durhaka sudah pasti ayah ditendang dari rumah yang ia tempati sekarang, karena apa? Karena rumah itu sudah menjadi milik Elang."
"Aku tidak percaya," jawab Sunny gemetar.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang penting aku sudah memberitahu fakta yang sebenarnya, kamu pasti berpikir aku berbohong, untuk apa ayah melakukan itu, membagikan hartanya ke aku dan Elang padahal beliau masih sehat, tapi sepertinya kamu tidak tahu bahwa ginjal ditubuh ayahku cuma tinggal satu."
Sunny melotot, gadis yang umurnya baru akan menginjak dua puluh empat tahun itu terlihat kebingungan.
"Apa orang yang punya satu ginjal bisa mati kapanpun?" pertanyaan polos Sunny hampir saja membuat Rea tertawa terbahak-bahak. Namun, seketika Ia sembunyikan ekspresi gelinya itu dari hadapan Sunny.
"Tanyakan saja ke dokter." Ambigu, jawaban Rea semakin membuat Sunny terlihat kebingungan.
Rea meninggalkan Sunny sendirian di kafe tempat mereka bertemu, ia berharap gadis itu dengan sendirinya mutuskan hubungan dengan Farhan, karena Rea tahu betul ayahnya yang butuh kenikmatan itu akan semakin dibutakan oleh Sunny yang matrealistis jika hubungan mereka semakin dalam, dan jika sampai itu terjadi jelas hubungan Elang dan Kinanti akan menjadi taruhannya.
***
Gadis itu tengah sibuk di ruang pribadinya yang telah disulap menjadi sebuah ruang kerja, hampir satu bulan ia sendirian di kamarnya tanpa Arkan, sepertinya Rea sudah terbiasa, ia merasa kembali seperti saat belum menikah dan masih tinggal di apartemen, dan sekarang dia tengah disibukkan dengan lembaran-lembaran kertas gambar berisi design perhiasan yang dia buat sendiri.
Seperti self healing, kesibukannya setiap malam membuatnya sedikit melupakan beban dan masalah yang sedang dia alami, Ia juga tidak perlu mengkonsumsi obat tidur lagi, Rea sekarang malah sering mendapati dirinya tertidur di kursi meja kerjanya masih dengan memegang pensil di tangannya.
Lelah, Rea meregangkan punggungnya, menyambar ponselnya lalu berjalan ke arah ranjang, ia merebahkan diri sambil terus menatap layar ponselnya, bibirnya tersenyum melihat deretan foto Bening dan Embun yang dikirim Arkan dan Axel kepadanya.
Rindu sekaligus Penasaran, Rea mencoba menelpon sang suami, meskipun jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Apa ada masalah?" Suara Arkan meredakan sedikit kerinduan Rea.
Masalahnya aku sangat merindukanmu. "tidak" Jawabnya.
"Kalau begitu untuk apa menelpon malam-malam?"
Sebenarnya aku hanya ingin mendengar suaramu. "Aku ingin menanyakan keadaan Bening," dusta Rea.
"Bening baik-baik saja, bukankah aku sudah mengirim foto-fotonya."
Bodoh, kenapa tak ada satupun fotonya bersamamu. "Iya, tapi aku ingin mendengarnya langsung darimu."
"Seperti katamu, benar Bening sudah bisa mengucapkan kata papa, hari ini dia memanggilku papa berkali-kali."
"Pasti kamu sangat bahagia?" Lalu kapan kamu akan memanggilku sayang lagi.
"Hem, aku sangat bahagia," lirih Arkan. Apalagi kalau kita bisa kembali berkumpul bersama.
Diam, keduanya seolah bingung dan canggung untuk sekedar bertanya, bercerita atau mengungkapkan isi hati satu sama lain.
"Sampai bertemu di pernikahan Elang dan Ken dua minggu lagi," ucap Rea untuk mengakhiri panggilannnya dengan Arkan.
"Hem, tidurlah ini sudah malam!"
Arkan memilih mematikan ponselnya. Dari dalam mobil di luar pagar rumah matanya masih terus memandang ke arah kaca jendela kamarnya yang berada di lantai dua, sebenarnya sudah hampir setengah jam Arkan berada di sana.
Laki-laki itu lantas menunggu sampai lampu kamar dipadamkan oleh istrinya, Ia ingin memastikan bahwa gadis yang dicintainya itu memang benar-benar menuruti ucapannya untuk pergi tidur.
"Selamat malam, sayang!" lirihnya.
Namun, saat Arkan baru akan membawa mobilnya pergi dari sana, lampu kamar Rea tiba-tiba menyala kembali, dengan tergesa-gesa gadis itu terlihat mengunci pintu rumah. Rea membawa keluar mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi, membuat Arkan terheran-heran, ia mematikan mesin mobilnya kemudian menunduk bersembunyi, setelah mobil sang istri melewatinya Arkan bergegas membuntuti Rea dari belakang.