
Tiga hari dirawat, Ax sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, papi Embun itu benar-benar tidak ingin satu orangpun tahu tentang kondisinya, sehingga hanya Rea yang menemani dan merawatnya di masa pemulihan pasca operasi yang dia jalani.
Pagi itu tak seperti biasa, Rea merasa seseorang membuntutinya sedari tadi, buru-buru Ia masuk ke unit apartemen Ax, wajahnya yang ketakutan menjadi bertambah pucat saat Axel mengagetkan dirinya. Laki-laki itu tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya saat ia membalikkan badan.
"Ada apa?"
"Entahlah, aku merasa ada yang membuntutiku." Rea masih berusaha mengatur emosinya.
Bagaimanapun akan selalu ada rasa tidak tenang dalam hal ketidakjujuran, Rea sudah berpikir dan sadar dirinya sedang melakukan sesuatu hal yang salah, gadis itu berniat mengakhiri ini semua, tapi menatap Ax ada rasa aneh di dalam dadanya. Bingung, apa sebenarnya rasa yang tertanam di hatinya untuk laki-laki itu? apa hanya rasa simpati dan bukan rasa cinta seperti yang dia klaim selama ini.
Rea melamun, bahkan sama sekali tidak mendengarkan apa yang sedang Ax ucapkan saat berbicara kepadanya, gadis itu benar-benar gelisah, entah mengapa tiba-tiba ia ingin berlari mendatangi Arkan saat itu juga.
Rea mengingat pertemuannya beberapa jam yang lalu dengan seseorang saat ia mampir ke toko buah untuk dibawa ke apartemen Axel. Jawaban orang itu membuat dirinya ingin segera menghambur ke pelukan sang suami.
Pada akhirnya Rea memilih berpamitan pergi dari apartemen Ax setelah memastikan laki-laki itu meminum obatnya dan beristirahat.
***
Sementara di tempat kerjanya Arkan mendapat seorang tamu yang tak diundang.
"Maaf, apa kita saling kenal?" Tanya Arkan ke laki-laki yang memperkenalkan dirinya dengan nama Adam itu.
"Anda mungkin tidak kenal saya karena itu tidak penting, saya hanya ingin menyampaikan informasi ke anda." Laki-laki itu menyodorkan sebuah flash disk ke Arkan.
"Silahkan anda lihat sendiri, ini mengenai Istri anda dan kakak ipar anda," Lanjutnya.
Arkan mengerutkan dahi, mentap punggung orang bernama Adam itu pergi dari ruangannya.
Saat akan masuk ke lift, Adam berpasan dengan Rea yang sedang berjalan keluar, laki-laki itu terlihat tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya, Rea pun membalas senyuman laki-laki itu tanpa berpikiran negatif sama sekali.
Arkan memasukkan flash disk yang diberikan Adam ke port USB laptopnya, belum sampai file itu dia buka, sang istri terlebih dulu masuk ke dalam ruangannya.
Kaget bercampur senang, Arkan langsung berpaling dari laptopnya begitu saja melihat gadis yang dicintainya untuk pertama kali mendatanginya di tempat kerjanya.
"Apa sedang sibuk?" tanya Rea yang masih berdiri di dekat pintu.
"Hei, kenapa tidak bilang mau datang kesini?" Arkan berdiri mendekat ke arah Rea, menutup rapat pintu yang belum ditutup sempurna oleh sang istri, ia mengurung Rea dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pintu sambil memandangi wajah gadis itu lekat.
"Apa aku harus ijin untuk menemui suamiku sendiri?"
"Tentu tidak, kamu bebas keluar masuk kesini." Arkan mencium pipi kanan gadis itu gemas.
Rea tersenyum tangannya menekan handle pintu ruangan kerja sang suami hingga terkunci, ia melingkarkan tangan ke leher Arkan membuat seringai nakal muncul di bibir laki-laki itu.
Arkan melepaskan tumpuan tangannya dari pintu dan seketika itu juga Rea melompat ke dalam pelukannya, melingkarkan kaki ke pinggang suaminya.
"Aku tidak tahu kenapa tapi aku sangat merindukanmu hari ini." Hangat, Rea mencium bibir Arkan sambil merangkum wajah laki-laki itu.
Naluri manusia dewasa mereka bergelora, Arkan menggendong tubuh gadisnya sambil masih terus saling mengecapi manis bibir satu sama lain, ia mendudukkan badan Rea ke meja kerjanya. Panas, tangannya meraih remote pendingin ruangan untuk menurunkan suhu.
"Kita belum pernah melakukannya?"
"Apa?" tanya Rea, matanya menyipit heran.
Rea tersenyum lantas melonggarkan dasi laki-laki dihadapannya, sementara Arkan sibuk melepaskan kancing baju gadisnya satu persatu, tangan mereka masing-masing sibuk bergerilya, Rea menggoda milik sang suami dengan jemarinya, bibir mereka masih berpagutan saling membalas serangan, Arkan mulai bermain dengan aset Rea yang sudah kembali menjadi miliknya yang sebelumnya menjadi milik Bening dan Embun. Mereka berbalas memberi kenyamanan untuk membawa satu sama lain mendekat menuju gerbang kenikmatan.
Keduanya berpangkuan dengan bagian bawah tubuh yang sudah tak berpenutup, hanya bagian atas tubuh mereka saja yang masih berbalut baju meskipun sudah terbuka lebar, Rea dan Arkan mengecap kenikmatan surga dunia di sofa tamu ruang kerja itu, merasakan sensasi menahan desahan dan racauan yang tak bebas meluncur dari mulut mereka seperti biasanya karena sadar tengah bercinta di tempat kerja.
Dengan tubuh yang terhentak-hentak Rea seolah ingin memakan habis wajah suaminya, bibir, leher, dan pipi laki-laki itu seolah sudah tidak ada bagian yang belum dia jelajahi, bahkan telinga Arkan yang memiliki tanda lahir seperti Noah sudah tidak membuat gadis itu teringat akan lara hatinya, Rea menggigit cuping Arkan, memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya saat hentakan Arkan membawanya terbang menembus batas surga duniawi, ia mendekap kepala laki-laki itu dan menjambak rambutnya saat seluruh badannya bergetar mencapai titik kenikmatan.
Selasai? Tidak, Arkan membalik tubuh gadis itu, memasukkan miliknya dari belakang, menghentak dengan cepat sampai tanpa sadar erangan panjang keluar dari mulutnya, tentu saja dengan volume suara yang dia kecilkan.
Manis dan lemas, mereka duduk berpelukan di sofa ruangan itu, tertawa melihat pakaian mereka berserakan di lantai. Arkan menciumi kening istrinya bertubi-tubi, sedangkan Rea memeluk pinggang laki-laki di sampingnya erat.
"Aku mencintaimu," lirih Rea.
"Aku tahu," goda Arkan sambil mencium bibir istrinya, "Aku juga sangat mencintaimu."
Mereka saling pandang, ciuman manis dari sang suami di bibirnya membuat Rea benar-benar yakin bahwa cintanya hanya untuk Arkan seorang, gadis itu membelai pipi suaminya, memandang sepasang manik mata yang selalu menatapnya dengan penuh cinta dan memuja.
***
Sementara itu Axel keluar dari apartemennya bermaksud ingin membeli sesuatu di mini market, laki-laki itu tiba-tiba merasa seseorang juga membuntutinya. Secepat kilat ia berjalan dan bersembunyi di balik tembok ruangan panel listrik di apartemen itu.
Saat laki-laki yang membuntutinya berbalik untuk berjalan pergi, Ax tiba-tiba muncul dan mengagetkan orang itu dengan mengalungkan lengannya ke leher nyaris mencekiknya.
"Untuk apa kamu membuntutiku Han?"
Johan yang kaget masih tidak percaya bahwa akhirnya dia kepergok oleh bosnya sendiri. Ax menyeret laki-laki itu masuk ke apartemennya.
Marah, Ax menampar dan memberikan bogem mentah ke muka Johan berkali-kali, memaksa dengan kekerasan agar laki-laki itu jujur kepadanya, siapa yang menyuruh untuk membuntuti dirinya.
Johan yang meringis kesakitan hanya bisa berlutut dibawah kaki Ax, dia tak mungkin melawan laki-laki yang memiliki badan kekar itu. Laki-laki yang Ia tahu bisa melakukan hal yang sangat mengerikan saat marah. Akhirnya Johan bercerita bahwa Adam berencana menghancurkan dirinya dan orang-orang terdekatnya, bahkan Adam sudah mendatangi Arkan untuk memberikan bukti-bukti perselingkuhannya dengan Rea.
"Jadi kamu membuntuti Rea juga?" tanyanya murka.
Johan hanya bisa mengangguk pasrah, menahan rasa sakit di badan dan wajahnya. laki-laki itu meceritakan semua siasat dan rencana Adam ke Axel.
Bukannya takut Axel malah tertawa, Ia menepuk pundak Johan yang masih gemetaran, "Bagus, aku akan berterima kasih sekali kepada si brengsek Adam jika dia bisa membuat Arkan menceraikan Rea, lanjutkan apa yang dia perintahkan tapi pastikan laporkan semuanya kepadaku, jika kamu berkhianat lagi akan aku pastikan tak hanya menghabisimu, tapi juga keluargamu."
Berbalut rasa egois, laki-laki itu menatap tajam Johan yang kesakitan keluar dari apartemennya. Berbisik lirih dalam hatinya bahwa dia akan merebut Rea dari pelukan Arkan bagaimanapun caranya.
_
_
_
_
_
NB. Guys pebinornya beraksi, siapkan hati kalian 😎😎
Jangan lupita Like Komen dan Vote ya , Ada di ranking ratusan aja Na sudah bahagia.