Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 24


Senin Pagi


Rea berjalan keluar apartemen menuju mobilnya di basement, berniat menemui mamanya, mengingat pesan Arkan sebelum pulang tadi pagi.


"Temui tante Lidia, kalau kemarin kamu mengatakan kalimat yang melukai hatinya segeralah minta maaf, aku yakin mama mu juga merasa bersalah"


Rea melirik jam tangannya, masih pukul sembilan pagi, gadis itu berpikir pasti mamanya belum pergi ke studio, dia memutuskan membawa mobilnya ke rumah mamanya.


Sampai disana Rea hanya disambut seorang pembantu rumah tangga. Dia bertanya dimana mamanya, wanita paruh baya itu berkata kalau mama lnya masih dikamar dengan alasan kurang enak badan.


Rea pun naik ke kamar mamanya dilantai atas, mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban, dia memilih membuka pintu itu kemudian melihat mamanya yang sedang bersandar diranjang, terlihat wanita itu masih menggunakan piyama tidur dan memakai selimut, tangannya sedang memegang ponsel miliknya.


"Mama sakit?" tanya Rea setelah menutup pintu kamar.


Lidia terkejut karena anaknya tidak biasanya datang menemuinya kecuali saat weekend.


"Rea, apa kamu ga kerja?"


Rea mendekat duduk diujung kasur mamanya, kepalanya menggeleng.


"Aku dipecat"


"Hah dipecat, kenapa bisa?" Lidia menegakkan punggung nya menatap penuh tanya ke arah anaknya.


Rea hanya menggerakkan pundaknya, dia juga tidak tau alasannya.


"Aku tanya apa mama sakit? kenapa tidak dijawab"


"Mama hanya kurang enak badan"


"Mama sudah mengandung berapa bulan?" tanya Rea yang membuat perubahan mimik pada wajah Lidia


Lidia menyerahkan ponselnya, ternyata saat dia masuk tadi mamanya sedang melihat sebuah aplikasi kehamilan, Rea menatap layar ponsel mamanya melihat tulisan diaplikasi itu "hey Lidia you are 77 days of pregnancy on first trimester "


"Mama sudah hamil 2 bulan?" tanya Rea


"Iya" Jawab mamanya lirih


Kemudian mendekat ke arah Rea menggenggam tangan anaknya.


"Maafin mama Re, mama semalaman memikirkannya pasti kamu malu punya adik diusiamu yang ke 26 tahun"


Gadis itu tersenyum "bukannya adikku besok yang malu, karena mungkin punya keponakan yang usianya ga jauh dari dia"


"Kamu berencana langsung punya anak setelah menikah?" tanya Lidia penasaran


"Iya lah ma, kenapa musti ditunda?"


"Apa kamu sudah membicarakan soal anak sama Arkan?"


"Memang harus dibicarakan?"


"Ya siapa tau dia ingin menunda dulu, perihal anak kalau sudah menikah harus kalian bicarakan, karena menjadi orang tua itu pekerjaan seumur hidup, butuh kesiapan kedua belah pihak, tidak bisa kalau hanya kamu yang mau, atau Arkan yang mau"


Rea terdiam mencerna kalimat mamanya.


"Baik kapan-kapan kalau pas ada momen nya Rea ngomong sama Mas Arkan"


"Apa mama sedang mengalami morning sickness ?" tanya Rea ke Lidia


"Sepertinya Iya, tapi sepertinya tidak separah waktu mama hamil kamu"


"Memang mama pas hamil aku kayak gimana?"


"Mama ga bisa sama sekali makan, yang mama bisa makan cuma buah, tapi tau apa yang paling berat?"


Rea menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada perhatian dari suami, itu hal yang paling berat, dan sangat menyakitkan Re"


Entah kenapa mata Rea tiba-tiba berkaca-kaca, meringsek mendekati mamanya kemudian memeluknya.


"Maafin Rea ya ma, dari belum lahir udah nyusahin mama"


Lidia mengusap rambut anaknya menepuk-nepuk nya pelan.


"Mama juga berhak bahagia, lakukan apa yang mama inginkan, aku pasti dukung mama"


Lidia melepaskan pelukan anaknya, merapikan rambut Rea yang sedikit berantakan.


"Terimakasih" matanya juga sudah terlihat menggenang.


"Kalau om Jordan ga bisa nemenin mama ke dokter bilang aja, nanti Rea temenin"


"Terus kalau mama mau belanja kebutuhan adik bayi, mama juga bisa ajak Rea, pokoknya mama ga boleh pergi sendirian tanpa ada yang nemenin," ucap Rea antusias.


Lidia tertawa bahagia mendengar ucapan anaknya.


"Em...mama tiba-tiba pengen makan udon di mall, terus mama juga pengen nonton film horror nih Re, mau ga nemenin mama?"


Rea terbengong mendengar permintaan mamanya "Aneh-aneh aja deh masa ngidam pengen nonton film horor"


Lidia hanya meringis.


"Yawdah mama siap-siap, Rea tunggu dibawah," ucap Rea yang sudah berdiri dari posisi duduk dikasur Lidia.


Lidia tersenyum senang karena hubungannya dengan Rea amat sangat sudah membaik, anak gadisnya itu sudah dewasa, dan bahkan sebentar lagi akan menikah. Lidia belum bergerak masih menatap bahagia punggung anaknya yang sedang berjalan  keluar pintu kamarnya.


Rea duduk disofa, membuka HPnya, memencet sebuah kontak, Arkan yang baru saja keluar dari lift tersenyum melihat siapa yang pagi-pagi sudah menelpon.


Arkan meminta sekertarisnya berhenti mengikutinya, dia berbelok menuju ruang rapat, ada sebuah pintu yang menuju balkon didalam ruang rapat, dia berdiri bersandar pada pembatas balkon, tersenyum memasukkan satu tangganya kedalam kantong celananya.


Arkan : "belum ada 5 jam, apa kamu sudah kangen?


(Rea tertawa)


Rea : "apa kamu sibuk?"


Arkan : "aku ada rapat 15 menit lagi, kenapa?"


Rea : "setelah menikah nanti apa kamu ingin menunda punya anak atau kamu ingin langsung kita punya anak?"


Sontak Arkan tertawa geli mendengar pertanyaan Rea, apalagi di pagi hari seperti ini, gadis itu amat penasaran sampai lupa dengan kalimatnya sendiri untuk bertanya pada Arkan saat momennya pas.


Rea :" kenapa malah tertawa? Aku serius bertanya"


Arkan :"Sayang ini masih pagi dan kamu bertanya soal anak, apa tidak bisa menunggu sampai malam?"


Rea :"ishhh kamu ya, jangan aneh-aneh, malam pun juga mau apa, kita belum


resmi menikah"


(Arkan tertawa)


Arkan :"lalu untuk apa bertanya soal anak?"


Rea :"aku hanya penasaran, cepat jawab"


Arkan:" nanti aku jawab, sekarang aku mau membenarkan sesuatu dulu"


Rea :"ahhhhh sayaaangg jawab"


Suara manja gadis itu membuat Arkan menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


Arkan : "jangan berbicara dengan nada seperti itu sayang, kamu membuat adik ku terbangun"


Rea :"hah...apa kamu mengajak Aryan ke kantor?"


Arkan :" em.. bukan itu"


Rea :"Aaahhhh... ayo jawab"


Arkan memilih mematikan HPnya, menggaruk kepalanya yang benar-benar terasa gatal sekarang, tidak tahan dengan suara manja kekasihnya.


"Sial aku mau rapat," umpatnya


Rea memanyunkan bibirnya sebal karena calon suaminya itu tidak menjawab malah mematikan telpon secara sepihak.


"Lagian ngapain juga Aryan tidur di kantor dia, apa ga sekolah tu anak," gerutunya


Setelah melihat mamanya siap Rea kemudian bangun memasukkan ponsel kedalam tas dan mengambil kunci mobilnya.


"Apa mama tidak takut naik turun anak tangga? tidak berniat pindah ke kamar bawah? atau mama mau aku pindah kesini untuk sementara waktu"


Rea benar-benar perduli dengan keadaan mamanya, karena dia tau hamil diusia mamanya sangat beresiko.


"Mama senang sekali kalau kamu mau tinggal disini bersama mama"


"Mama akan hati-hati jangan terlalu kawatir," lanjutnya


Rea dan Lidia menikmati acara jalan-jalan mereka, makan udon, berbelanja, sampai nonton film horor yang wanita itu idamkan.