Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 61


Disisi lain Selena bahagia karena sebentar lagi keinginannya untuk menjadikan Arkan miliknya akan terwujud, gadis itu terlihat bahagia tersenyum memandangi dirinya didepan cermin sambil mencoba beberapa gaun yang akan dia kenakan, sementara Karmila yang menjadi pelayannya hanya bisa melihat tingkah nona mudanya itu sambil terheran-heran.


"Jika ada penghargaan untuk wanita terlicik, mungkin Selena lah yang akan menjadi pemenang," pikir Karmila.


Pagi itu keluarga Arkan datang ke rumah gubernur untuk membicarakan pernikahan putra putri mereka, Selena yang duduk dikursi roda terlihat jelas sangat bahagia, sementara Arkan hanya memasang muka datar dari awal hingga akhir pembicaraan antar keluarga itu dilakukan.


Sebelum pulang Selena berbincang di taman rumahnya bersama Arkan.


"Apa kamu tidak ingin pergi mencari baju pernikahan untuk kita berdua?"


"Urus saja, terserah kamu," jawab Arkan yang terlihat sangat tidak tertarik dengan apa yang ditanyakan Selena.


"Apa kamu benar-benar tidak ingin mencarinya bersama?" ulangnya lagi.


"Aku sibuk."


"Kenapa? Meskipun terpaksa apa tidak bisa kamu berpura-pura baik didepanku?" gadis itu terlihat marah.


"Aku heran, kamu tau aku tidak punya perasaan apa-apa ke kamu, tapi kamu tetap memaksa ingin menikah denganku, apa kamu pikir kamu akan bahagia?"


Akhirnya pertanyaan yang Arkan pendam meluncur keluar, Ia menatap Selena dengan pandangan sedikit mengiba.


"Asal memilikimu tidak masalah, aku yakin lama kelamaan kamu bisa mencintaiku."


Arkan tersenyum getir mendengar jawaban dari gadis itu.


“Terserah, tapi jangan terlalu banyak berharap aku akan benar-benar bisa menerimamu sebagai istri,” ucap Arkan sinis.


Sementara itu Karmila memandangi nonanya yang sedang berbicara berdua dengan Arkan dari jauh, mukanya nampak sedikit cemas dan ragu, tangannya memegang sebuah benda kecil yang kemudian Ia masukkan kedalam saku bajunya.


❤❤❤❤❤


Sore hari Rea datang kerumah Jordan dengan perasaan bersalah, gadis itu sadar kalau kemarin pasti sudah membuat mamanya sangat kuatir, benar saja Lidia terlihat cemas dan langsung memeluk anak gadisnya, Rea membalas pelukan mamanya, berlahan melepaskan pelukan kemudian mengusap perut mamanya.


“Sepi ma, belum pada pulang kerja ya?”


Lidia hanya mengangguk sambil membelai rambut Rea.


"Re, mau nemenin mama ke dokter kandungan ga? Mama pengen tau jenis kelamin adik kamu," ucap Lidia.


"Apa mama tidak ingin pergi bersama papa?"


Lidia menggelengkan kepala "Mama pengen kita berdua dulu yang tau."


Mereka berdua lalu pergi ke rumah sakit dimana dokter kandungan Lidia praktik diantar oleh seorang sopir, sesampainya disana mereka mulai mengantri, Rea duduk dikursi sambil menunggu mamanya yang sedang menimbang berat badan dan mengukur tekanan darah.


Setelah satu jam menunggu giliran Lidia masuk untuk melakukan pemeriksaan, wanita itu berbaring kemudian perawat meminta ijin membuka bajunya untuk mengoleskan cairan diperutnya. Dokter kandungan menempelkan alat USG ke perut Lidia kemudian menunjukkan keadaan bayinya.


"Jadi bayinya cowok apa cewek dok?" tanya Rea penasaran.


"Itu monasnya keliatan,"jawab sang dokter.


Rea mengernyitkan dahinya nampak bingung. Orang yang ada diruangan itu tertawa melihat ekspresi wajah gadis itu.


"Bayinya cowok mba," ucap sang perawat sambil tersenyum.


Mendengar perkataan perawat Rea terlihat sangat senang, matanya berbinar menatap bahagia ke arah sang mama.


Setelah pemeriksaan dan mendengar nasihat dari dokter mereka berjalan keluar menuju parkiran.


“Mama mau jalan-jalan ga? Beli perlengkapan adik bayi yuk?” ajak Rea sesaat setelah mobil yang mereka tumpangi keluar dari halaman rumah sakit.


Lidia mengiyakan ajakan anaknya kemudian mereka pergi ke sebuah Mall. Disana ibu dan anak itu keluar masuk baby shop, memilih beberapa perlengkapan untuk bayi laki-laki, Rea terlihat senang sesekali bercanda dengan mamanya, melihat pernak pernik dan berjumpa dengan beberapa bayi disana membuat gadis itu sejenak melupakan lara hatinya.


Setelah puas berbelanja mereka merasa lapar kemudian memutuskan pergi ke Food court mall untuk mengisi perut, saat berjalan tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Selena yang didorong Karmila menggunakan kursi roda.


Rea ingin berpura-pura tidak melihat gadis yang sangat dia benci itu, tapi tidak mungkin baginya karena mereka sudah saling menatap satu sama lain dan Selena menyapanya terlebih dulu.


Lidia terlihat kaget tapi kemudian Rea menatap mamanya mengisyaratkan dia baik-baik saja, gadis itu meminta sang mama untuk duduk sambil menunggu dirinya yang akan berbincang sebentar dengan Selena.


Selena baru saja mengambil undangan pernikahannya, Ia meminta satu undangan kemudian meminta karmila meninggalkan dirinya untuk bisa bicara berdua dengan Rea.


“Datang ya , Arkan berkata aku harus menyampaikan undangan ini langsung ke kamu,” ucap Selena penuh dusta.


Rea menerima undangan itu, bibirnya terlihat tersenyum menutupi perih dihatinya “Aku pasti datang dan akan memberi kalian kado terbaik."


“Kado apa?” tanya Selena penasaran


“Surprise."


“Kalau aku boleh minta , kado terbaik buatku dan Arkan adalah kamu bisa hilang dari muka bumi ini,” ucap Selena sadis.


“Tenang saja, permintaanmu itu sangat mudah untuk aku kabulkan,” balas Rea tak kalah sinis.


Selena menoleh ke arah Karmila memberi tanda bahwa dirinya sudah selesai berbicara dengan Rea. Karmila mendekat memegang dorongan kursi roda Selena.


“Jika kamu butuh pekerjaan lain aku bisa membantumu, apa kamu tidak lelah menjadi pelayan gadis cacat ini?” Rea melirik ke arah Selena yang melotot ke arahnya mendengar apa yang dia katakan.


“Jangan melotot seperti itu, biji matamu bisa meloncat keluar, apa lumpuh tidak membuatmu jera? apa kamu ingin buta juga?” cibir Rea sambil berlalu meninggalkan gadis itu yang terlihat sangat kesal sampai meremas roknya.


Rea tersenyum menghampiri mamanya.


“Apa semua baik-baik saja?”Tanya Lidia.


“Tentu,” Rea tersenyum kemudian bergelayut manja menggandeng mamanya untuk berjalan menuju food court.


“Apa pelayan Selena tadi temanmu?”


“Iya ma, dia kakak kelas ku saat di SMA, aku tidak tau kenapa dia bisa bernasip seperti itu.”


“Tadi dia meminta nomor Elang ke mama.”


“Untuk apa?” tanya Rea penasaran.


“Katanya ada yang ingin dia sampaikan ke Elang.”


“Apa mama memberinya?”


“Hem…iya”


❤❤❤❤❤


Beberapa waktu sebelumnya


Karmila meninggalkan selena yang sedang berbincang dengan Rea memilih duduk disamping Lidia.


“Nyoya, apa anda punya nomor HP Elang?”


Sontak lidia kaget karena pelayan Selena kenal dengan bekas anak tirinya itu


“Kami dulu teman SMA, ada yang perlu saya sampaikan ke Elang.”


Lidia kemudian memberikan nomor HP Elang ke Karmila tanpa bertanya untuk apa, karena melihat wajah karmila yang terlihat seperti orang baik.


❤❤❤❤❤


Pukul 10.00 malam


Karmila menelpon Elang, meminta untuk bertemu dengan laki-laki itu disebuah kafe, Elang sempat ragu untuk apa teman SMA nya itu meminta bertemu malam-malam. Karmila berkata ada hal penting yang harus segera dia sampaikan.


Mereka duduk berhadapan, Karmila menyodorkan sebuah benda ke Elang, laki-laki itu menatap benda yang diberikan wanita didepannya, wajahnya terlihat bingung.


“Aku ingin mengakui bahwa aku pernah membuat kesalahan yang hampir membuat seseorang kehilangan nyawanya.”


Elang mnegernyitkan dahi, semakin bingung dengan kalimat yang diucapkan Karmila.


“Dulu waktu SMA, saat Rea pingsan sampai dibawa kerumah sakit, sebenarnya yang memasukkan susu strawberry ke dalam susu vanilla miliknya adalah aku.”


Elang membelalakkan matanya tidak percaya mengingat kejadian saat mereka sama-sama masih duduk dibangku sekolah menengah atas.


“Aku benar-benar menyesal, tapi aku takut mengakuinya saat itu, jadi biarkan aku menebusnya sekarang,” ucap Karmila sambil menunduk.


Elang masih terdiam, tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan wanita didepannya.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Yang udah baca MENCARI LANGIT BIRU Jawabannya disini ya sayang 😁😁😁😁