
"Aku pikir kamu sudah pergi," ucap Rea salah tingkah.
"Aku sudah bicara pada Axel soal Embun, aku memperbolehkan kalian bertemu lagi setiap saat, tapi jelas hanya demi kepentingan Embun." Arkan beranjak untuk pergi dari sana.
"Ar...," panggil Rea sedikit gemetar.
Arkan berbalik menatap istrinya "Iya, ada apa?"
"Aku akan menunggui Embun sampai dia sembuh disini, jadi aku mungkin tidak bisa menjaga Bening." Meminta izin, Rea sedikit khawatir.
"Tentu saja, aku akan menjaga Bening, tidak usah khawatir dan karena sudah ada Ax yang akan menemanimu aku akan pulang."
Mengangguk, Rea tidak tahu harus berbicara apa lagi ke Arkan, akhirnya mau tak mau ia membiarkan suaminya pergi.
"Sampai jumpa di pernikahan Elang dan Ken," ucap Arkan sebelum benar-benar pergi dan meninggalkan Rea sendirian.
***
Keadaan Embun semakin membaik, selama dua hari Axel dan Rea bergantian menjaga anak mereka, meskipun sedikit canggung keduanya masih terlihat seperti biasa. Bahkan Rea memberikan contoh dengan cara menyuapi Axel agar Embun juga mau makan.
Semua hasil test Embun normal, tidak ada yang perlu dicemaskan, keterangan dokter membuat hati keduanya lega. Meski terlihat baik tetap saja Rea dan Ax merasa khawatir untuk membawa anak mereka pulang sebelum Embun diperiksa secara menyeluruh.
Ax mengantar Rea dan anaknya pulang ke rumah, jika sekilas melihat sudah tentu orang akan berpikir Axel dan Rea adalah pasangan muda yang bahagia, keduanya nampak sangat serasi, padahal mereka memiliki ikatan yang sangat rumit.
Sepanjang perjalanan mereka bernyanyi dan bercanda, bahkan Embun yang berada di pangkuan Rea terlihat tertawa-tawa ketika sang papi menggodanya.
Tak langsung pergi, Ax memilih menemani Embun sampai bayi itu tertidur, setelah melihat malaikat kecilnya terlelap Ax baru berpamitan untuk pulang, ia mengusap pipi Embun, mengecup kening bayi yang memiliki mata indah sama seperti dirinya itu berkali-kali.
"Hei Bu, papi love you, jangan sampai sakit lagi oke!" bisiknya sambil menahan sesak yang ia rasakan di dalam dadanya.
Saling diam, Rea mengekor Axel yang berlahan menuruni anak tangga, sesampainya di ruang keluarga Ax menghentikkan langkah kakinya, laki-laki itu berbalik memandang wajah ibu dari anaknya.
"Re, bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kali?" lirih Ax, hatinya benar-benar pilu tapi ia sadar dirinya adalah seorang laki-laki, ia berjanji tidak akan meneteskan air matanya di depan gadis yang sangat dicintainya itu.
"Ax, aku...." berusaha menolak permintaan papi Embun, Rea tidak bisa menghindar saat Axel langsung merengkuhnya. Laki-laki itu menggunakan tangan kirinya untuk memeluk erat tubuh Rea, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap rambut adik tirinya itu.
"Maaf dan terima kasih, maaf karena aku pernah menyakitimu bahkan sampai sekarang sepertinya aku masih terus saja menyakitimu, terima kasih Re sudah mau melahirkan anakku bahkan kamu sangat menyayanginya, aku tidak akan pernah menyesal telah mencintaimu, berjanjilah! setelah ini kamu harus hidup bahagia, jangan terluka lagi, jangan pernah menangis lagi."
Ucapan Axel malah membuat butiran air mata jatuh membanjir pipi Rea, gadis itu membalas pelukan laki-laki itu dengan melingkarkan lengannya di pinggang Ax.
Pada akhirnya Ax harus merelakan Rea, merelakan gadis yang memang dari awal ditakdirkan bukan menjadi miliknya.
Axel masuk ke dalam mobil, melambaikan tangan dan masih terus memasang wajah bahagia di hadapan Rea, padahal hatinya benar-benar sedang porak poranda, baru beberapa meter keluar dari komplek perumahan Rea, Ax memilih menepikan kuda besinya, tangannya mencengkeram erat kemudi mobil, ia menunduk mencoba menahan rasa sesak yang menghujam dadanya, laki-laki itu menangis sendirian meratapi kisah cintanya yang berujung lara.
***
Rea tersenyum bahagia, melihat Elang bersanding dengan Kinanti yang hari itu menjadi raja dan ratu semalam. Rahasia hidup memang tak ada yang tahu, dulu Ia dan Elang pernah saling mencintai, tapi pada akhirnya Elang menikah dengan Kinanti dan dirinya menikahi Arkan sahabatnya sendiri. Ya, sahabatnya yang saat ini tengah menatapnya dari sudut yang berlainan. Arkan duduk di kursi jamuan khusus keluarga, sementara Rea tengah berdiri mematung di depan pelaminan Ken dan Elang.
Gadis itu tersadar dari lamunannya, kebingungan saat para tamu perempuan berkerumun di dekatnya, ternyata sebentar lagi Ken akan melempar bucket bunga miliknya. Rea tersenyum dan memilih mundur menjauh dari kerumunan. Saat hitungan ketiga lolos dari bibir MC acara, gadis itu tiba-tiba saja berbalik, Rea menatap bucket bunga pernikahan berwarna putih yang di lempar Kinanti melayang ke arahnya. Entah apa yang menggerakkannya, Rea menangkap bucket itu dengan kedua tangannya.
Semua orang terkejut, begitu juga Rea yang tengah menggenggam bucket, Arkan yang melihatpun nampak kaget, laki-laki itu tersenyum kemudian terkekeh melihat raut muka Rea yang kebingungan.
Gadis itu lantas berjalan ke arah pelaminan, meminta Ken untuk mengulanginya lagi dan kali ini ia memilih untuk menjauh dan kembali ke tempat duduknya di dekat Arkan.
"Aku dengar RM jewelry akan membuka kantor, dimana lokasinya?" tanya Arkan sedikit penasaran.
Kaget, Rea malu jika harus jujur jika alamat kantornya bersebelahan dengan kantor Arkan. "Belum tahu," jawabnya singkat.
"Aku dengar dirimu masuk nominasi penghargaan dari Kementrian Ekonomi kategori pengusaha muda terkreatif, aku doakan semoga kamu menang." Rea berharap Arkan mau mengajaknya ke acara itu, tapi sepertinya laki-laki itu tidak berniat membawanya serta.
"Terima kasih," jawab Arkan singkat.
Mengumpulkan keberanian, Rea akhirnya berani bertanya ke laki-laki yang sangat dicintainya itu, "Lalu kapan kamu akan memberi kejelasan soal hubungan kita, dari saat kamu bilang ingin mengantarku kembali ke ayahku aku sudah datang bulan dua kali, jika sampai sekali lagi bukankah itu artinya...." tak ingin melanjutkan kalimatnya, Rea hanya memandangi wajah Arkan dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
Laki-laki itu mencoba menyembunyikan rasa gelinya, "Tunggulah setelah acara penghargaan itu, tapi aku tidak yakin apa kamu benar-benar masih mencintaiku," goda Arkan. "Apa kamu bisa menjamin tidak akan menduakan hatiku lagi?" sindirnya.
"Sudahlah, terserah!" Kesal, Rea memilih meninggalkan Arkan untuk menghampiri Sunny yang terlihat sedang mengambil makanan.
"Halo mama tiri," sapa Rea.
Sunny terlihat memalingkan badannya, tersenyum ke arah Rea. Gadis itu masih memilih berhubungan dengan Farhan, ternyata usaha Rea untuk menakut-nakuti Sunny gagal.
"Kamu boleh saja masih terus berhubungan dengan ayah, tapi jangan sampai kamu coba-coba berebut warisan denganku atau Elang, karena apa? karena aku akan... " Dengan menggunakan jari telunjuknya, Rea membuat garis dari kiri lehernya ke kanan lalu menunjuk muka Sunny.
Gadis itu terlihat ketakutan, sementara Rea berpaling sambil menutup mulutnya dengan keempat jari tangannya yang dia rapatkan, menahan suara tawanya agar tak lolos dari bibirnya.