Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Bab 146 EndVer2 MBYDL : 01


Mohon baca BAB 133 bagi yang belum mengerti 🥰


Cerita Arkan dan Rea SUDAH TAMAT, ini ending versi KEDUA untuk Axel dan jelas SUDAH BERBEDA ALUR CERITA.


-


-


-


-


-


 


Luka yang Arkan torehkan di hati Rea masih saja membekas, gadis itu sama sekali belum bisa memaafkan kebohongan suaminya yang pernah melakukan one night stand dengan mantan kekasihnya, dan lagi kepergian Noah yang sangat disayanginya membuat Rea semakin kecewa.


Saat dirinya rapuh, terombang ambing dalam kekalutan batinnya, Rea menawarkan sebuah hal gila ke kakak tirinya, mengajak Axel yang pernah memperkosanya untuk melakukan hubungan istimewa. Bak gayung bersambut Ax yang memang mencintai gadis itu menerimanya begitu saja.


Rea dan Axel terus berhubungan secara diam-diam, apalagi Arkan yang tengah sibuk dengan urusan pekerjaannya sebagai CEO di perusahaan yang baru dirintisnya, seoalah memberi ruang kepada istrinya dan Ax untuk selalu bersama. Seperti hari itu Arkan kembali harus pergi, dan kali ini ke luar negeri selama satu minggu untuk mengikuti seminar dengan narasumber para pemilik startup yang sudah berlabel unicorn.


Memeluk Rea seolah enggan pergi, Arkan menggenggam erat tangan istrinya. "Apa kamu akan merindukanku? kita akan berpisah selama satu minggu."


Rea menepuk dada suaminya lembut, seolah tengah membersihan kotoran dari baju Arkan "Aku sudah terbiasa, bukankah dulu kita juga pernah berpisah lama?" menatap suaminya dengan mimik wajah datar, gadis itu kemudian tersenyum lebar, "Waktu kamu kuliah di Inggris, apa kamu lupa?"


Arkan hanya mengangguk, tangannya meraih tubuh Rea, memeluknya erat. "Aku mencintaimu, baik-baik selama aku pergi, segera kabari aku jika terjadi sesuatu."


"Oh ya kemarin aku tidak jadi berkonsultasi dengan Kinanti, jadi mungkin hari ini aku akan menemuinya." Meminta izin, tapi meskipun Arkan akan berkata tidak, Rea tetap ingin menemui Ken untuk bertanya perihal penggunaan alat pencegah kehamilan."


"Hem, sampaikan salamku ke kinanti, apa dia belum izin cuti? bukankah pernikahnnya sebentar lagi?"


"Mungkin nanti," jawab Rea singkat.


***


"Sampai kapan kamu akan terus menatapku Ax?"


Terlihat fokus dengan laporan dari manager Sky hotel, ternyata Rea memperhatikan laki-laki di depannya yang sedari tadi sibuk mengamati wajahnya.


"Arkan pergi ke Singapore seminggu kan? Apa kamu mau pergi liburan bersama?" Menawarkan pada Rea, Axel menarik lembaran kertas dari tangan gadis itu agar mau melihat ke arahnya.


Rea mencebikkan bibirnya kesal, ia memandang heran ke Axel yang tersenyum manis kepadanya.


"Ayo kita ke Bali!" ajaknya.


"Bukannya tidak ingin pergi, aku hanya takut jika ada yang mengenali kita berdua." Mencoba memberi alasan, Rea mencoba merampas kertas laporan dari tangan Axel.


"Memang kenapa jika ada yang mengenali kita? jujur saja kalau kita memang pergi liburan berdua," sanggah Ax.


"Bagaimana jika ada yang curiga?"


"Hem...sepertinya aku lupa, aku hanya laki-laki kedua untukmu."


Merajuk, Ax melempar kertas yang diminta Rea ke atas meja, Ia berdiri dari kursinya lalu berjalan mematung menatap keluar jendela ruang kerjanya.


Melihat laki-laki itu seperti sedang dirundung kecewa, Rea mendekat mencoba untuk menenangkan.


"Bagaimana kalau aku temani saja dirimu bermain tennis seperti yang pernah aku lakukan dulu?"


Memeluk pinggang Axel dari belakang, Rea memilih menyandarkan kepalanya ke punggung kekasih gelapnya itu.


Diam, Ax tak menjawab ucapan Rea. Laki-laki itu seolah kesal dan tengah terbelenggu dengan perasaannya sendiri.


Ax tersenyum bahagia, laki-laki itu lantas membalikkan badannya, menatap dalam ke manik kecoklatan milik Rea, membelai pipi gadis itu penuh kasih," Ayo kita pergi malam ini!"


"Apa?" Mata Rea membelalak lebar.


***


Saling menautkan jemari tangan, Axel membawa pergi Rea dengan pesawat pribadi agar apa yang gadis itu khawatirkan tidak terjadi. Menikmati perjalanan di malam hari, Ax memeluk Rea dalam dekapannya, sambil melihat Embun dan Bening yang terlelap tidur.


"Re, setelah pernikahan Elang dan Ken, apa kamu serius akan meninggalkan Arkan? sepertinya hubungan kalian sedikit membaik." bisik Ax.


Membenamkan kepalanya di dada Axel, Rea memilih diam, Ia mempererat pelukan tangannya yang masih melingkar di pinggang laki-laki itu.


"Kalau aku tidak bisa meninggalkan mas Arkan, apa kamu akan mencari wanita lain?"


Axel menggeleng, membuat Rea langsung melepaskan pelukannya untuk memandang wajah ayah dari salah satu anaknya itu.


"Ax, kadang aku masih tidak yakin apa aku benar mencintai mas Arkan atau hanya sekedar rasa nyaman karena seumur hidupku dialah satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkanku, aku bingung."


"Bingung kenapa?"


"Aku tidak bisa meninggalkannya, tapi aku juga tidak ingin berpisah denganmu." Rea membelai lembut pipi Axel, Ia sadar ucapannya pasti telah mengacaukan pikiran dan hati laki-laki itu.


"Aku sadar sulit untuk kita bisa bersama, aku yakin semua orang pasti akan membenciku jika tahu hubungan kita." Memandangi wajah pujaan hatinya, Ax menggunakan ibu jarinya untuk mengusap bibir Rea.


Gadis itu memejamkan mata, membuka sedikit katupan bibirnya saat bagian tubuh tak bertulang milik Ax hangat mulai menyentuh bagian yang sama.


Lembut, Ax menyesap bagian atas dan bawah bibir Rea, penuh cinta. Ciuman itu berubah menjadi panas saat Ax mendorong lidahnya masuk, tak ada penolakan. Rea membiarkan lidah laki-laki itu menggelitik rongga mulutnya.


Keduanya berhenti saat hampir kehabisan napas, dahi mereka menempel satu sama lain, deru napas mereka terdengar saling bersahutan.


"Aku laki-laki Re, aku menginginkan sesuatu yang lebih dari wanitaku," bisik Ax sambil terus mengatur napasnya.


"Ayo kita lakukan setelah sampai villa," jawab Rea dengan napas yang masih memburu, ia tahu jelas apa yang laki-laki itu maksud.


"Apa kamu tidak akan menyesal?" Dalam Ax memandang mata kekasihnya itu, Ia masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.


Menggeleng, Rea sedikit menunduk sambil memajamkan matanya, memgambil keputusan di dalam hatinya yang mungkin akan Ia sesali. Merangkum wajah Ax, Ia memulai mencium bibir laki-laki itu kembali.


Ax menarik badan Rea untuk naik ke atas pangkuannya, bibir mereka terus bertautan, mengecap gejolak cinta yang membara.


Meskipun terlihat salah di mata orang lain. Namun, bagi keduanya api asmara yang tengah berkobar di dada mereka tak bisa begitu saja dengan mudah dipadamkan.


Aku bukan manusia yang sempurna, bahkan mas Arkan yang begitu sempurna di mataku juga bisa melakukan perbuatan itu, berselingkuh. Aku merasa Ax sama sepertiku, kesepian, menyimpan kesakitan dan trauma hidupnya selama ini seorang diri. Ya, mungkin mas Arkan menghujaniku dengan memberi banyak cinta dan kasih sayang, tapi kenapa sekarang rasanya hanya seperti sebuah perasaan cinta biasa untukku, seperti cinta Elang ke diriku, seperti cinta ayah ke aku. Dengan Ax entah kenapa aku merasakan cinta yang berkobar, penuh nafsu. Aku ingin memilikinya.


Meskipun akhirnya aku harus terluka seorang diri, aku tidak akan pernah menyesali semua ini karena aku sangat mencintai Rea. Aku hanya kurang beruntung karena terlambat bertemu dengannya, tapi sekarang aku berjanji tidak akan melepaskannya lagi. Maaf Ar, aku memang brengsek. Aku mencintai istrimu dan aku tidak akan melepaskannya lagi dengan mudah.


-


-


-


-


-


-


-


Udah Na bilang yes, yang udah puas sama versi pertama ga usah baca 🤭