
Di apartemennya Rea terlihat sedang duduk disofa didepan TV setalah ia selesai mandi, menatap ke arah ponsel yang dia pegang, merasa heran sudah dua hari ini Arkan hanya mengirimkan pesan singkat berkata sedang sibuk dengan urusan kantor, tiba-tiba ia merasa rindu sekali dengan calon suaminya, menatap ke arah jam ia berpikir tidak mungkin pukul delapan malam calon suaminya itu masih ada di kantor.
Namun Rea salah, Arkan ternyata masih dikantornya, tapi sudah akan beranjak untuk pulang, wajahnya terlihat begitu lega karena masalah perusahaan selesai setelah melakukan saran sesuai arahan direktur utamanya.
Saat menuju lift dering ponselnya berbunyi, laki-laki itu masuk sambil menerima telpon dari kekasihnya.
Arkan :"Halo"
Laki-laki itu terlihat mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanannya kemudian tersenyum.
Rea :"Sayang, kamu dimana?"
Arkan :"Aku masih dikantor, ini sudah mau pulang, ada apa? apa kamu merindukanku?"
Rea :"Sangat, datanglah ke apartemenku, apa kamu sudah makan, aku akan memesan makanan kita makan bersama, kamu ingin makan apa?"
Arkan :"Aku ingin Nasi goreng."
Rea :"Baik, tidak usah mampir membeli baju, baju mu yang disini sudah di cuci bersih."
Arkan tersenyum kemudian memasukkan ponselnya ke saku.
Rea sibuk menyiapkan piring setelah nasi goreng pesanannya diantarkan kurir, ia juga membuat jus jambu kesukaan Arkan yang sudah dia pelajari dari Laras.
Pintu apartemennya terbuka melihat calon suaminya masuk gadis itu segera menghampiri.
"Mandi dulu ya, baju gantimu sudah aku letakkan diatas kasur," ucap Rea.
Laki-laki itu tidak langsung beranjak ke kamar mandi tapi memilih mendekat ke arah kekasihnya yang sedang menuangkan jus dari mesin juicer kedalam gelas, memeluk pinggang gadis itu dari belakang.
"Rasanya seperti aku sudah memiliki istri, disambut pulang, disiapkan makanan dan baju ganti," ucapnya ke telinga Rea.
"Anggap aja simulasi," jawab Rea sambil tertawa.
Setalah mandi dan menikmati makan malam bersama, mereka duduk didepan menonton acara berita Internasional dari saluran TV kabel, tidak ada drama favorite Rea yang tayang malam itu. Mereka duduk dikarpet bersandar pada sofa.
"Sayang, apa kamu tau kalau kakakmu menjadi CEO ditempat aku bekerja?" tanya Arkan.
Gadis itu menoleh, berharap kalau calon suaminya itu tidak sedang terbebani dengan status Elang yang sekarang menjadi atasannya.
"Aku tau, apa dia membuatmu sulit?"
"Tidak, tapi kenapa kamu ga cerita?"
"Aku merasa itu tidak penting untukmu, karena aku tau kamu bukan tipe orang yang memandang serius hal-hal seperti itu," Rea mencoba memberi penjelasan.
Laki-laki itu terlihat tersenyum, mengetahui bahwa kekasihnya benar-benar sangat mengerti dirinya.
"Aku berencana mendirikan sebuah perusahaan sendiri," ucap Arkan.
"Apa karena hal tadi? Apa kamu sudah tidak nyaman bekerja disana?"
"Bukan, bukan itu, aku sudah dari lama berencana ingin mendirikan sebuah perusahaan e-commerce," jawab Arkan.
"Bukankah lebih baik untukmu memiliki suami yang punya perusahaan sendiri, aku tidak ingin kamu sampai malu didepan teman-temanmu karena aku tau rata-rata temanmu bersuamikan seorang CEO," lanjut laki-laki itu sambil membelai pipi kekasihnya.
Rea memegang tangan calon suaminya itu, menatap dalam-dalam dua bola mata hitam kecoklatan milik Arkan.
" Aku sama sekali tidak pernah memikirkan hal seperti itu, jangan terlalu terbebani dengan hal yang aku sendiri tidak pernah memusingkannya," jawab Rea sedikit tegas.
Arkan membaringkan badannya, meletakkan kepalanya ke paha kekasihnya.
"Ntah kenapa tiba-tiba aku merasa minder," ucap Arkan.
Rea mencium pipi laki-laki itu, mengusapnya lembut "Buat apa? kamu sempurna dimataku."
Arkan tersenyum meluruskan badannya, mendongak menatap ke arah gadis yang baru saja mengatakan bahwa dirinya sempurna, ia tersenyum meletakkan jari telunjuknya sambil mengetuk-ngetuk bibirnya, Rea tau apa yang laki-laki itu maksud kemudian membungkuk mencium bibir kekasihnya.
*******
Hari berikutnya...,
Hari yang ditunggu Lidia tiba, malam ini dia akan melakukan akad nikah dengan Jordan di kediamannya. Mereka langsung menggelar acara resepsi pernikahan sederhana yang hanya mengundang keluarga, orang terdekat dan kolega saja.
Rea memandangi mamanya yang cantik menggunakan kebaya berwarna putih, rambutnya disanggul sederhana dengan hiasan kecil diatasnya. Gadis itu meneteskan air mata saat melihat mamanya mencium punggung tangan Jordan, yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya.
Arkan terlihat melingkarkan tangannya memegang bahu kekasihnya, menenangkan gadis itu, tangannya menyentuh pipi Rea menghapus buliran air mata bahagia yang jatuh disana, menciumi pundak Rea berkali-kali.
Setelah pasangan pengantin itu berdiri semua orang memberi selamat, Rea memeluk mamanya sambil terisak, kemudian beralih memeluk papa barunya, tidak lupa dia menyalami Axel yang sudah resmi menjadi kakak tirinya dan kakak pertama Axel yang menyempatkan pulang untuk ikut memberi restu ke papanya.
Setelah mengganti kebaya dengan sebuah gaun, Lidia berdiri diantara tamu-tamu undangan bersama Jordan.
Rea juga sudah mengganti kebaya yang dia pakai dengan sebuah gaun, berdiri memandangi mamanya yang nampak bahagia, sesekali mamanya terlihat memegangi perutnya sambil tersenyum ke arah tamu yang mengajaknya berbicara, sepertinya untuk Lidia jujur dari awal kalau ternyata sudah hamil adalah pilihan terbaik dari pada mendapat cibiran dan bahan gosip dibelakang.
Mata gadis itu lalu tertuju ke laki-laki yang menggunakan setelan jas berwarna coklat tua yang tengah berjalan mendekat kemudian menyalami Lidia dan Jordan, laki-laki itu memalingkan muka melihat sekitar, pandangan mereka bertemu, pria itu melempar senyum ke arah Rea.
Sebuah tangan melingkar dipinggang gadis itu, kekasihnya terlihat sangat tampan memakai setelan jas berwarna biru tua, yang sangat serasi dengan gaun biru muda selutut yang sedang ia kenakan.
Mereka lalu berjalan mendekat ke arah Lidia dan Jordan, Rea menyapa laki-laki berjas coklat tua yang melempar senyum kedirinya tadi.
"Apa ayah tidak bisa datang?" tanya Rea ke kakaknya.
"Iya, ayah tadi pagi pergi ke Singapore katanya ada urusan," jawab Elang.
Rea hanya tersenyum kemudian memilih meninggalkan Arkan dan Elang untuk mengambil minum.
"Apa pria itu kakakmu?," tanyanya.
Rea menenggak minumannya sambil menganggukkan kepala.
"Aku melihat sorot matanya saat menatapmu, bukan tatapan kakak ke adiknya," ucap Axel.
Gadis itu sedikit terkejut dengan apa yang Axel ucapkan, tapi ia hanya memilih diam.
Rea melihat teman-teman yang dia undang ke acara mamanya datang, Kanaya, Mia, Celine dan suaminya. Mereka menyapa satu sama lain kemudian memberi selamat ke Lidia dan Jordan, suami Celine ternyata rekan bisnis
papa tiri Rea.
Mereka berdiri sambil mengobrol dan bercanda, Kanaya mengolok-olok Celine soal malam pertamanya bersama Bara, suaminya. Sementara Rea hanya tertawa menahan malu, bagaimana mungkin cerita vulgar seperti itu dengan santainya diceritakan padahal disana juga ada Arkan, Elang dan Axel.
Gadis-gadis itu pergi mengambil minuman, meninggalkan Rea yang sedang berdiri diantara tiga orang laki-laki yang dari tadi juga ikut menahan malu.
"Wah.. Teman-teman mu benar-benar," ucap Axel tidak percaya.
"Jangan sekali-sekali menonton film biru seperti yang temanmu lakukan," perintah Arkan.
Rea hanya bisa tersenyum menahan malu akibat ulah ketiga gadis tadi. Elang mengusap rambut adiknya lembut, membuat Axel dan Arkan memelototkan matanya.
"Apa? Dia adikku," ucap Elang.
Ditengah obrolan mereka, seorang MC bertanya apakah ada yang ingin menyumbangkan sebuah lagu sebagai hadiah untuk kedua pasangan yang tengah berbahagia, Jordan tiba-tiba meneriakkan nama anaknya.
"Axel ayo menyanyi untuk papa!"
Terang saja Axel langsung menjadi pusat perhatian tamu.
"Sial!" umpatnya.
Rea tertawa melihat Axel yang berusaha menahan malu, tapi kemudian dia meminta Elang dan Arkan juga ikut menyumbangkan sebuah lagu.
"Kalian bertiga saja, Axel vokalis, Elang gitar dan Arkan bisa main drum," ucapnya.
Ketiga laki-laki itu saling pandang, sedikit berdiskusi kemudian mereka satu persatu naik keatas panggung, membuat orang-orang bertepuk tangan.
Suara Axel benar-benar sangat bagus, membuat semua orang larut dengan lagu yang dia bawakan, sementara semua orang larut menikmati penampilan tiga orang laki-laki tampan diatas panggung. Sesosok pria dengan pakaian pelayan catering mendekat ke arah Rea.
Tangan kirinya terlihat membawa nampan sementara tangan kanannya terlihat merapatkan suatu benda kesamping badannya agar tidak bisa dilihat orang lain.
"Kalau ingin membuat seseorang menderita, jangan melukai orang itu, tapi lukai orang yang sangat berharga untuknya, maka kamu sudah membuatnya mati tanpa membunuhnya, dan itu lebih menyakitkan."
Pelayan itu berjalan mendekati Rea sambil memikirkan omongan seseorang kepadanya.
Ketika pelayan itu mendekat Rea terkejut karena tiba-tiba seorang laki-laki berdiri menghadap kearahnya, memberi ruang diantara dirinya dan pelayan tadi.
Terdengar suara tusukan, membuat gadis itu membelalakkan matanya, laki-laki itu memeluk dirinya, tusukan itu membuat pria dengan setelan jas itu terdorong hingga badan Rea ikut sedikit limbung kebelakang menahan tubuh yang tengah berusaha melindunginya.
Terdengar rintihan laki-laki itu ditelinga Rea, gadis itu tercekat, tangannya memegang pinggang laki-laki itu, dia merasakan cairan hangat membasahi tangannya.
Orang-orang terlihat terkejut, beberapa pria mencoba menangkap pelayan yang langsung berlari setelah menikamkan sebilah pisau ketubuh laki-laki tadi.
Laki-laki itu roboh berlutut bersimbah darah, sementara Rea masih syok dengan apa yang terjadi, dia berdiri gemetaran melihat tangan kanannya yang bersimbah darah milik laki-laki yang merelakan tubuhnya ditusuk demi melindungi dirinya.
"Tidak.... Tidak..," ucapnya berkali-kali sambil memandangi tangannya yang gemetaran, mencoba menolak apa yang baru saja terjadi.
Gadis itu melihat laki-laki yang berlutut didepannya dengan air mata yang sudah mengalir deras, kemudian Rea ikut berlutut, ia memeluk laki-laki didepannya sambil menangis dan berteriak histeris.
"Aaarrgggggg.....kenapa.. kenapa?" ucapnya.
"Tidak mungkin.. Tidak mungkin!" ucap Rea berkali-kali saat melihat mata laki-laki itu mulai sedikit terpejam.
"Jangan... Jangan, aku Mohon!"
Kemudian laki-laki itu benar-benar memajamkan mata dipelukannya. Gadis itu mendekap kepala laki-laki itu didadanya sambil terus menangis meraung-raung.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung...
Hey reader terima kasih sudah mampir jangan lupa berikan LIKE KOMEN dan jadiin FAVORITE cerita ini ya 💕💕💕
Terima kasih