
"Mulai hari ini aku akan mengantar jemputmu ke hotel seperti dulu lagi."
Arkan memeluk pinggang istrinya, bergelayut manja di pundak Rea yang duduk membelakanginya di ujung ranjang sambil mengikat rambut. Berpikir, Rea masih terdiam tak menjawab ucapan suaminya.
"Kenapa diam?" Arkan meraih ikat rambut sang istri, membantu Rea merapikan rambutnya, setelah selesai laki-laki itu langsung menyesap leher istrinya, membuat Rea kaget dan langsung berdiri menatap kesal ke arah Arkan.
"Pasti merah kan? dasar! aku harus bertemu klien penting hari ini." Gadis itu marah.
Arkan yang melihat emosi berlebihan dari sang istri terlihat mengerutkan dahinya.
"Bukan masalah kan? Toh semua orang tau kamu sudah menikah."
"Iya, tapi kan malu kalau sampai dilihat klien."
"Kenapa harus malu sih?" Arkan berdiri mencium pipi Rea lalu berlari masuk ke kamar mandi sambil tertawa.
Rea mendekat ke kaca yang berada di kamarnya, melihat tanda merah yang ditinggalkan Arkan barusan.
"Bagaimana kalau dia melihatnya?" lirih Rea.
***
Rea keluar kamar mandi masih mengenakan jubah mandi berwarna putih yang menutupi tubuh polosnya. Mendekat ke arah Arkan yang sedang mengancingkan kemejanya di depan cermin. Rea membalikkan badan suaminya, memakaikan dasi ke leher Arkan.
"Apa?" tanyanya sambil membuat simpul di dasi sahabat jadi cintanya itu.
"Tidak apa-apa, kamu terlihat cantik."
"Aku memang sudah cantik dari dulu," jawab Rea sambil menarik simpul dasi Arkan, mata mereka bertemu, lagi-lagi sebuah perasaan aneh muncul di hati Rea.
"Sayang, katakan atau tanyakan jika masih ada yang mengganjal di hatimu." Arkan masih menatap dalam mata bening itu, seolah mencari tau isi hati si pemilik dari sana.
"Untuk apa? "
"Entah mengapa aku masih melihat ada kemarahan di matamu," lirih Arkan.
"Mungkin kamu merasa sudah melakukan kesalahan besar sampai masih berpikir seperti itu." Menghindar, Rea berjalan ke depan lemari pakaiannya untuk berganti baju.
"Hem...memutuskan merelakan Noah pergi, berbohong tentang one night stands dengan Sam."
Rea terdiam mendengar ucapan sang suami, menutup lemari yang menghalangi pandangannya ke Arkan yang berdiri beberapa meter darinya.
"Tidakkah kita bisa membuka lembaran baru lagi? Aku bersumpah Re, aku merasa bersalah padamu, aku sangat mencintaimu."
"Ar, apakah jika aku berselingkuh dibelakangmu kamu akan menerimanya begitu saja?"
Arkan tidak bisa menjawab pertanyaan sang istri. Melihat suaminya yang mematung gadis itu mendekat dan tertawa, membelai pipi Arkan sambil berlalu menuju meja riasnya.
"Kamu bisa mengantarku besok, hari ini aku harus ke rumah sakit untuk bertemu Ken."
"Untuk apa bertemu Ken?"
"Aku ingin berkonsultasi tentang alat kontrasepsi."
"Bukankah kamu ingin kita punya sepuluh anak?" canda Arkan mendengar pernyataan sang istri.
"Hem itu dulu, sekarang aku sudah berubah pikiran, sepertinya akan merepotkan punya banyak anak," jawab Rea sedikit ketus.
***
Rea mengetuk ruang kerja Axel saat jam makan siang, tangannya terlihat membawa paperbag berisi barang yang baru saja dia ambil di toko kemeja yang dia datangi bersama Arkan kemarin. Gadis itu tahu bahwa Ax sedang ada di dalam ruangannya. Namun, entah kenapa laki-laki itu sejak pagi tidak menyapanya, bahkan mengirim pesan kepadanya pun tidak.
"Bukankah kita harus bersiap untuk menemui klien penting yang akan memakai hotel kita untuk acara mereka?" Rea mendekat meletakkan paperbag berisi dasi di atas meja kerja Axel, menatap punggung laki-laki yang mencintainya itu, Ax terlihat tengah berdiri memandang ke arah luar jendela.
Laki-laki itu berbalik, seulas senyum terbit dari bibir Axel. "Bagaimana kabar Embun?"
Axel seketika terlihat cemas, "Ada apa? apa Embun sakit?"
Rea menggelengkan kepalanya,"Dia baik-baik saja." Mendekat, Rea mengeluarkan dasi yang ia beli untuk Axel.
Perlahan gadis itu menegakkan kerah baju laki-laki di depannya, melepas dasi Axel untuk menggantinya dengan dasi di tangannya. Axel hanya bisa terdiam, memandangi wajah Rea dalam-dalam, berpikir entah kenapa ia tidak bisa berpaling dari gadis itu. Bodoh benar-benar bodoh, siapa gadis yang tidak ingin menjadi kekasih apalagi istri seorang Axel Sky Jordan, tapi kenapa dia merasa tidak pernah bisa lepas dari sosok Rea.
"Selesai!" Rea tersenyum menatap Axel yang masih memandangi wajahnya sedari tadi.
Axel tiba-tiba menyibakkan rambut Rea, sedari tadi matanya ternyata juga menatap ke bekas merah di leher gadis itu.
"Apa kalian sudah berbaikan?" tanya Axel.
Rea langsung menyibakkan rambutnya kembali untuk menutupi bekas kepemilikan yang ditinggalkan Arkan di kulit putihnya.
"Aku masih istrinya, jika dia memintaku untuk melayaninya aku bisa apa?"
"Ceraikan dia!"
Terkejut, Rea menaikkan kedua alis matanya. "tidak semudah itu Ax."
"Re, sampai kapan kita akan terus seperti ini? aku mencintaimu tapi aku juga tidak bisa terus membayangkan wanitaku dijamah oleh laki-laki lain, parahnya dia suamimu lalu aku bisa apa?"
Terdiam, merasa dituntut Rea merasa hal ini memusingkan juga untuk diteruskan apalagi diputuskan.
"Setelah pernikahan Elang dan Kinanti, tunggu sampai saat itu Ax."
"Apa kamu sedang berniat untuk tidak merusak kebahagian orang-orang sebelum itu?"
Menusuk, pertanyaan Axel seolah menampar Rea untuk bangun dari kebodohannya.
"Kamu tahu pasti bahwa semua orang akan kecewa jika tahu kita memiliki hubungan spesial, tapi jika kamu memintaku menunggu, baiklah aku akan menunggu seperti yang kamu bilang. Dua bulan lagi hanya sampai pernikahan Elang dan Ken, setelah itu kamu harus membuat keputusan."
***
Rea membawa mobilnya ke rumah sakit untuk bertemu Kinanti, ia memang memutuskan membawa mobil sendiri saat bertemu kliennya bersama Axel tadi.
Sesampainya di sana ia baru mengecek pesan yang dikirimkan oleh pihak admin rumah sakit bahwa jadwal praktik Ken mundur menjadi jam delapan malam, Rea melihat sudut atas ponselnya masih pukul empat sore, untuk pulangpun dirinya enggan karena pasti akan bolak-balik memakan waktu.
Belum sampai ia meletakkan ponselnya sebuah pesan masuk ke aplikasi chat miliknya, Axel ternyata mengirimkan sebuah alamat apartemen beserta nomor dan password pintu unitnya. Heran, ternyata secepat itu Axel membeli tempat untuk menjadi markas perselingkuhan mereka berdua.
[ Aku akan kesana untuk melihat, Jadwal praktik Ken diundur sampai nanti jam delapan malam ]
Axel yang ternyata tengah berada di apartemen itu terkejut sekaligus merasa senang, tangannya segera mengirimkan pesan balasan untuk Rea.
[ Aku sedang disini, datanglah! aku tunggu ]
Menghela napasnya, Rea memutar mobilnya untuk pergi ke apartemen yang alamatnya dikirim Axel barusan.
Selang dua puluh menit Rea sudah berdiri di depan pintu unit apartemen Axel, ia bimbang, tangannya sudah hampir menyentuh deretan angka di pintu untuk membuka tempat itu. Ragu, tapi ibarat kata sudah terlanjur basah jatuh ke dalam air, Rea malah ingin semakin menenggelamkan dirinya. Gadis itu meremas celananya sendiri, dengan penuh keyakinan menekan satu persatu password unit apartemen itu.
Ya, tenggelam tapi apakah ia bisa naik ke permukaan kembali setelah apa yang akan dilakukannya dengan Axel nanti? mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya. Kata orang cinta itu buta, tapi bagi Rea rasa kecewa dan egonya lah yang membutakan mata dan hatinya.
-
-
-
Terima kasih dari sini Silahkan LOMPAT Baca BAB 133 WAJIB!
🥰🥰