Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 114


"Kenapa dia ada disini, untuk apa?"


"Darimana kamu tau aku memberi uang untuk Sam?"


Rea menghempaskan tangan Arkan, ia tersenyum pahit mendengar bukan jawaban melainkan pertanyaan lain lah yang keluar dari mulut suaminya itu.


"Apa kamu meminta orang mengikuti aku lagi? Apa kamu tidak percaya padaku?"


"Kamu yang membuatku tidak percaya padamu Ar, kamu tidak pernah jujur."


Marah, Rea bahkan sampai memakai nama panggilan sang suami.


"Sam adalah ibu kandung Noah bagaimanapun juga dia harus tau keadaan anaknya, selain aku papanya, Sam juga berhak memutuskan keberlangsungan hidup Noah."


Rea memundurkan badannya mendengar ucapan sang suami.


"Lalu kamu anggap aku apa? Ha? kamu anggap apa?" teriaknya.


"Noah anak kandungku dan Sam, Re!"


Rea terdiam, memandangi wajah Arkan tak percaya.


"Tolong hentikan! sudah cukup Re, cukup kamu memaksakan egomu!"


"Ego? Ego apa yang kamu maksud?" Rea berteriak seolah lupa bahwa dirinya tengah berada di rumah sakit.


"Aku tau kamu tidak ingin aku melakukan test DNA karena kamu takut jika ternyata Noah adalah anak kandungku, kamu takut akan membenci anak itu, aku tau isi hatimu Re, kamu tidak akan rela merawat Noah jika tahu bahwa dia adalah anak kandungku,"


"Kamu gila, benar-benar gila! ternyata selama ini kamu memang tidak begitu mengenal baik siapa aku, asal kamu tahu aku sudah sadar Noah anak kandungmu jauh sebelum orang lain di keluarga kita tahu."


"Anak itu juga tidak bisa makan udang sama seperti dirimu, dia punya tanda lahir yang letaknya sama persis sepertimu, itu sudah cukup menjadi bukti untukku kalau dia sebenarnya adalah anak kandungmu," pekik Rea.


Arkan terlihat terkejut mendengar ucapan gadis yang matanya sudah kembali basah dengan tetesan krystal bening itu.


"Tidak rela merawat Noah jika tahu adalah anak kandungmu kamu bilang tadi? Itu bukan isi hatiku Ar melainkan isi hatimu sendiri, kamu yang sebenarnya tidak bisa menerima Embun lalu menyamakan diriku sepertimu, iya kan?"


Menuduh kembali, suatu kebiasaan saat seseorang begitu emosi jika dipojokkan dan merasa disalahkan.


"Aku juga tahu Papa Andi diam-diam melakukan test DNA ke Noah, keluarga kalian memang tidak pernah jujur, " lanjut Rea.


Arkan hanya bisa terdiam, ia terkejut dengan satu per satu pernyataan yang istrinya sampaikan.


"Waktu itu aku curiga karena tidak menemukan sikat gigi Noah yang biasa dia pakai, dan aku tanpa sengaja mendengar omonganmu, papa dan mama Laras saat membahas hasil test DNA Noah."


Laki- laki itu masih terdiam, Rea menyandarkan badannya ke tembok, memegangi samping kepalanya.


"Aku sempat lega karena tahu kamu memberikan uang ke Samantha untuk tidak mengganggu hidup kita kedepannya, tapi apa? kamu malah membawanya kesini."


"Bagaimanapun dia ibu kandungnya Re, kamu juga ibu, pikirkanlah baik-baik bagaimana perasaan Sam."


"Jika dia ibu yang baik, dia tidak akan meninggalkan anaknya begitu saja! dia sudah membuang Noah." pekik Rea.


Arkan mendekat, memegangi kedua bahu istrinya "Aku papanya Re, aku mohon padamu! biarkan Noah pergi dengan tenang, jika terus seperti ini kamu juga akan jatuh sakit, kamu tidak bisa terus seperti ini."


"Ternyata kamu memang tidak pernah menganggapku Ar."


Arkan melonggarkan pegangannya, dan dengan sebelah tangannya secara kasar Rea menghempaskan tangan sang suami.


Rea berlalu sambil menendang pundak sang suami dengan pundaknya. Gadis itu pergi dari rumah sakit, bahkan tak menyapa Elang dan Kinanti yang sedang duduk menunggunya.


***


Arkan dan Samantha sudah memutuskan akan melepaskan semua maksimal support yang menyokong kehidupan Noah satu bulan ini. Rea memilih mendiamkan semua orang baik suaminya, Andi bahkan Laras.


Hari itu semua orang sudah sepakat pergi ke rumah sakit untuk melepaskan kepergian Noah, Rea yang diajak hanya terdiam, dingin, tanpa air mata lagi yang menetes di pipinya, Ia duduk di kamar Bening dan Embun sendirian, melamun.


[ Ax, apa kamu bisa menjemputku, Bening dan Embun sekarang? ]


Axel yang membaca pesan Rea terlihat ragu, dia tahu bahwa hari ini adalah hari yang diputuskan Arkan dan Sam untuk melepaskan Noah.


[ Aku mohon Ax! ]


Pesan kedua dari Rea membuat laki-laki itu tak tega, Ia langsung pergi di tengah-tengah rapat yang sedang dia pimpin.


Rea duduk di ayunan sangkar yang berada di samping kolam renang milik Jordan, melipat lututnya dan meringkuk seperti seorang pesakitan. Gadis itu meninggalkan ponselnya di kamar.


Arkan mencoba menghubungi sang istri dari rumah sakit, bagaimanapun dia ingin memastikan apakah Rea ingin melihat Noah untuk terakhir kalinya.


Andi menepuk bahu sang anak "sudah waktunya Ar," lirihnya.


Mereka kemudian masuk ke dalam, menyaksikan perawat melepaskan satu persatu maksimal support dari tubuh Noah, tak selang beberapa lama anak itu benar-benar pergi untuk selama-lamanya.


Dengan lunglai Rea berjalan untuk kembali ke kamarnya. Ia berpapasan dengan Axel yang berdiri dengan pandangan iba.


"Re, aku baru menerima pesan dari mama, Noah sudah tidak ada."


Gadis itu langsung lemas dan terduduk bersimpuh dilantai, matanya menatap kosong ke bawah, Axel yang melihat langsung berlutut dan memeluk Rea erat-erat.


Lambat isak tangis mulai terdengar dari bibir Rea dan lama kelamaan menjadi sebuah raungan yang memilukan hati, Axel hanya bisa mendekap erat tubuh gadis itu, matanya juga terlihat mengalirkan buliran bening yang begitu deras.


"Jenazah Noah sudah dibawa ke rumah om Andi, apa kamu mau kesana?"


Axel mencoba bertanya saat melihat Rea sudah cukup tenang, namun gadis itu hanya terdiam, tatapan matanya masih sama, kosong.


"Ax, apa kamu tau? dulu aku anggap kedatangan Noah bagaikan mimpi buruk dan sekarang kepergiannya juga seolah menjadi mimpi buruk untukku, tapi aku sadar aku masih punya kenangan indah bersama anak itu, aku tidak ingin merusak kenangan itu dengan melihat tubuhnya dimasukkan ke dalam liang lahat dan ditimbun dengan tanah dingin." Rea kembali terisak.


"Re____"


"Aku sangat menyesal Ax, bagaimana mungkin aku tidak tahu kalau Noah memiliki tumor di otaknya, kenapa harus anak sekecil itu bukan aku saja?"


Axel memberanikan diri meraih sebelah tangan gadis itu lalu menggenggamnya erat dengan kedua telapak tangannya.


"Semua yang terjadi sudah ada yang mengatur Re, kita harus menerimanya dengan lapang dada."


(Yang mengatur otor kejam tak berperasaan ✌)


"Apa kamu bisa mengantarkan aku ke makam Noah setelah semua orang sudah kembali ke rumah?" tanya Rea.


Axel menganggukkan kepalanya sambil mengusap air mata di pipi Rea "Pasti!"


Setelah memastikan Rea tenang Axel memilih pergi ke rumah Andi dan berjanji akan menjemput Rea untuk mengantarnya ke makam Noah.