
Mohon baca BAB 133 bagi yang belum mengerti 🥰
Cerita Arkan dan Rea SUDAH TAMAT, ini ending versi KEDUA untuk Axel dan jelas SUDAH BERBEDA ALUR CERITA.
_
_
_
_
_
Duduk berhadapan dengan Mia, Rea meminta maaf. Sangat jelas terlihat guratan kesedihan di wajah Mia mendapati kenyataan bahwa laki-laki yang disukainya ternyata mencintai teman sekaligus rekan bisnisnya.
Masih mencoba menyunggingkan senyum, Mia berkata bahwa dirinya baik-baik saja, meskipun Ia langsung beranjak pergi dan meninggalkan Rea duduk seorang diri di restauran tempat mereka bertemu.
Bagaimanapun Rea sadar, hubungannya dan Axel telah menyakiti banyak orang, tapi Ia sudah berjanji tidak akan mungkin berpisah dengan laki-laki itu. Laki-laki yang tengah tersenyum kepadanya dari samping mobil di luar restauran tempatnya bertemu dengan Mia.
"Dia bilang tidak marah Ax, tapi jelas dia begitu kecewa dan pergi begitu saja," Ucap Rea.
Meraih tangan kekasihnya, Ax menepuk lembut punggung tangan gadis itu, "Mulai sekarang Hiduplah untuk kebahagianmu sendiri dan jangan memikirkan kebahagiaan orang lain."
Mengangguk, Rea dan Ax saling pandang, bibir mereka tersenyum penuh dengan harapan untuk meniti masa depan.
***
Satu Tahun kemudian
Hembusan angin fajar pagi itu tak bisa menembus jendela kamar dua mahkluk yang sedang berpelukan dibawah selimut, tangan mereka bertautan, sepasang cincin berwarna silver terlihat melingkar di jari manis keduanya.
Sebuah foto pernikahan dengan bingkai chrome terlihat menempel pada dinding kamar itu, menampilkan senyuman manis sang mempelai wanita yang terlihat cantik dengan gaun berwarna putih dan tatanan rambut sederhana, serta senyuman bahagia sang mempelai pria yang tampan menggunakan setelan jas berwarna hitam.
Menatap wajah lelap orang yang sangat dicintainya, Ax membelai pipi Rea. Gadis yang delapan bulan ini selalu berada di sampingnya saat dirinya membuka dan memejamkan mata.
Mengerjapkan matanya yang masih berat untuk dibuka, Rea menggeser tubuhnya, membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya. Menciumi rambut istrinya, Ax berbisik ke telinga gadis itu.
"Ayo siap-siap kalau tidak kita akan terlambat."
Menggelengkan kepalanya, Rea menjawab dengan suara parau yang menandakan dirinya belum sepenuhnya ingin bangun.
"Apa setelah selesai akad kita jadi berangkat berlibur bersama dengan Be dan Bu?"
"Hem, papa mereka pasti tidak ingin diganggu, siapa yang mau bulan madunya diganggu dengan dua anak berumur dua setengah tahun yang sedang aktif-aktifnya bertanya ini dan itu."
Rea tertawa, mengangkat wajahnya untuk memandang wajah Ax, meraih tengkuk suaminya Rea mendaratkan sebuah ciuman selamat pagi ke laki-laki yang sangat dicintainya itu.
"Aku punya kado spesial untukmu," bisik Rea.
"Kado apa? ulang tahunku masih dua bulan lagi."
"Rahasia!" Mencium kembali bibir Ax, Rea melompat pergi ke kamar mandi untuk bersiap menghadiri pernikahan Arkan.
Hari itu semua orang terlihat bahagia, bahkan Rea merasa lega akhirnya sang mantan suami bisa menemukan pendamping hidupnya kembali. Tersenyum lebar sambil menggenggam tangan Axel, Ia ikut bahagia melihat Arkan yang juga terlihat bahagia.
"Kenapa menangis?" Ax menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya.
"Aku hanya merasa bahagia." Menyandarkan kepalanya di lengan Ax, Rea menggenggam erat tangan suaminya itu.
Semua keluarga berkumpul, menikmati pesta dan saling bercengkerama. Membahas sang pengantin baru, Ax bercanda bahwa dirinya sebenarnya juga ingin pergi berbulan madu dengan Rea karena selama menikah mereka belum pernah pergi liburan berdua.
"Pergilah! tapi cukup tiga hari saja, kami akan membantu kalian menjaga Be dan Bu."
Ucapan Kinanti bak angin segar di telinga Axel. Memandang ke arah Rea, laki-laki itu seolah meminta persetujuan ke sang istri.
"Apa tidak akan merepotkan?" Rea sedikit cemas karena melihat polah kedua anaknya yang mulai ada-ada saja.
"Tenang, kan ada paman Elang," seloroh Kinanti sambil tertawa.
Pandangan mereka lalu tertuju kepada Elang yang tangah menggandeng dua keponakannya, laki-laki itu terlihat gemas karena Be dan Bu menanyakan hal yang sama berulang-ulang.
Tak ingin melewatkan kesempatan yang belum tentu datang dua kali, Ax langsung memesan dua tiket pesawat ke Bali, Villa milik Rea yang berada di sana adalah tujuan mereka.
***
Axel melingkarkan lengannya di pinggang dan memeluk Rea dari belakang, menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu, mereka terlihat begitu menikmati pemandangan pantai yang tepat berada di belakang villa.
"Ax, ada satu hal yang sangat ingin aku minta darimu," ucap Rea.
"Apa?"
"Jangan tertawa, karena pasti akan terdengar konyol!"
"Katakan saja, kita sudah berjanji tidak akan menyembunyikan sesuatu." Ax mengusap pipi Rea.
"Aku ingin kamu menggendongku di belakang punggungmu." tertawa, Rea merasa geli dengan permintaannya sendiri.
"Tak masalah." Ax langsung membalikkan badan dan berjongkok di depan istrinya. "Naiklah!"
Tanpa menunggu lama, Rea melompat ke punggung suaminya yang langsung membawanya berlari ke dalam Villa, bak anak kecil gadis itu terbahak.
"Ternyata kamu berat juga!" gerutu Ax sambil menurunkan Rea di sofa ruang tengah villa itu lalu duduk di bawah.
Mereka tertawa bahagia kemudian terdiam menatap ke dalam manik mata masing-masing, seolah bisa membaca pikiran satu sama lain akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Perlahan Ax mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya ke bibir Rea, mencium lembut tapi lama kelamaan mulai menjadi liar dan panas.
"Kamar?" bisiknya.
Mengangguk, Rea hanya bisa tertawa saat Ax mengangkat tubuhnya menuju kamar. Mengulangi ciuman panas mereka, Ax yang akan membuka bajunya sendiri dihalangi oleh sang istri.
"Bairkan aku yang membukanya!"
Tersenyum, laki-laki itu pasrah menuruti apapun keinginan Rea. Ax mulai menciumi setiap inci tubuh gadis yang berada di hadapannya, Rea sampai memejamkan mata saat sapuan lidah Ax memainkan dua aset berbentuk bukit miliknya.
Membaringkan Rea, Ax menciumi ceruk leher gadis itu, menghembuskan napas hangat ditelinga yang membuat Rea menggeliat geli. Saat suaminya masih bermain dengan lehernya, Rea berbisik pelan ke telinga Axel.
"Hati-hati!"
Masih terus mengekplor setiap inci tubuh Rea, sapuan lidah Ax mulai turun kebawah, "Kenapa?" tanyanya manja sambil menciumi perut gadis itu.
"Ada little Axel disana."
Menghentikan aktifitasnya, Ax menatap wajah Rea terheran-heran. "Apa maksudmu?"
Rea hanya tersenyum melihat suaminya yang kebingungan, Ia lantas mengusap perutnya sendiri sambil menganggukkan kepala.
"Tidak mungkin." Ax tertawa, raut kebahagiaan dan keterkejutan nampak jelas di wajahnya. "Apa kamu hamil?"
"Iya," jawab Rea.
Tak percaya Ax memilih berdiri, mengusap wajahnya seolah-olah masih menganggap semuanya hanya mimpi. Rea mencebik kesal, Ia bangun dari posisinya untuk menyambar tas miliknya di sofa kamar, mengambil alat test kehamilan digital yang baru saja Ia gunakan kemarin untuk ditunjukkan ke suaminya.
"Kamu akan jadi papi lagi."
Berteriak kegirangan, Ax menciumi kening Rea bertubi-tubi lalu memeluk tubuh gadis itu.
"Terima kasih Re, aku sangat mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu."
Lelehan air mata kebahagiaan menetes di pipi Ax, Ia semakin mempererat pelukannya ke sang istri, sejenak keduanya melupakan kegiatan intim mereka yang berhenti di tengah jalan. Ax dan Rea lebih memilih saling berpelukan di atas ranjang sambil merencanakan masa depan.
_
_
_
_
_
_
_
And like another love story they life happily ever after 🥰
TAMAT