
Arkan yang sudah duduk menatap tajam ke arah pintu restauran, melihat istrinya yang begitu anggun datang dan berjalan di belakang Axel. Keduanya lantas duduk di depan Arkan bersisian, Rea menatap wajah suaminya, jelas ada rindu yang mendalam dari sorot matanya untuk sang papa Bening. Namun, suaminya itu masih terus bersikap tak acuh ke dirinya.
Hening, diam. Untuk bernapaspun seolah Rea tak berani, gadis itu hanya menunduk memandangi makanan yang ia pesan diatas meja tanpa ada nafsu untuk sekedar mencicipinya.
"Aku tidak ingin berbasa-basi ataupun menawarkan solusi kepada kalian berdua, aku meminta kalian kesini hanya untuk mendengar keputusanku soal Embun."
Rea mengangkat kepalanya, menatap wajah suaminya heran begitu juga Axel.
"Aku akan membiarkan kalian bertemu dan melakukan hal apapun jika itu menyangkut Embun, hanya demi kepentingan Embun." Tajam Arkan menatap istrinya," Diluar itu aku jelas melarangnya, apa kamu mengerti?"
Rea menunduk, meremas bagian dress yang berada di pahanya, sementara Axel hanya terdiam mencoba merangkai kata untuk membalas ucapan Arkan yang seolah sedang melakukan sidang terhadapnya.
"Ar, aku tidak ingin melibatkan anak ke masalah kita, jadi...."
"Karena aku tidak ingin melibatkan anak, maka aku mengizinkan kalian untuk tetap bertemu, jika aku tidak memikirkan Embun sudah tentu aku akan menutup semua aksesmu untuk menemui anak itu," potong Arkan.
"Tapi dia juga butuh dekat dengan saudaranya, aku tidak ingin mengatakan ini karena pasti kamu akan berpikir aku mengada-ada, tapi Embun terlihat kurang ceria satu minggu ini karena jauh dari Bening dan mamanya." Ax menoleh ke arah Rea, gadis itu juga memalingkan wajahnya, membuat mereka saling menatap satu sama lain. Wajah Rea jelas terlihat sangat cemas.
"Apa kamu benar-benar mencintai Axel?"
Kaget, Rea langsung memalingkan wajahnya, ia tersadar apa yang ia lakukan barusan sudah membuat Arkan kesal. Bagaimana tidak? ia menatap wajah laki-laki lain yang merupakan selingkuhannya secara langsung di hadapan suaminya.
Rea meraih tangan Arkan yang berada di atas meja, beruntung tak ada penolakan dari sang empunya, "Percayalah! aku hanya mencemaskan keadaan Embun."
"Jawab pertanyaanku di depannya, apa kamu mencintai Axel? apa kamu mencintai laki-laki ini?" sedikit membentak, mata Rea terlihat berkaca-kaca.
Axel tiba-tiba berdiri dan menyambar tangan gadis itu, membuat Arkan juga langsung berdiri dari kursinya, "Lepaskan tanganmu dari istriku!" ucapnya sambil memegang pergelangan tangan Ax yang menggenggam tangan istrinya.
"Jangan membentaknya!"
Kedua laki-laki itu terlihat sama-sama mengeraskan rahang serta menajamkan mata menatap air muka satu sama lain penuh emosi.
"Bisakah kalian berdua berhenti? aku ibunya jadi biarkan aku merawat Embun." Rea menatap wajah suaminya, sedikit mengiba. "Jika kalian ingin bertemu Bening atau Embun kalian tidak perlu mendatangiku, aku yang akan membawa mereka ke kalian."
Dengan sorot mata yang penuh rasa bersalah Rea berujar kembali," Ax maaf, aku tahu aku jahat tapi aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita."
"Dan kamu...," Rea mengusap pipinya yang telah basah. "jika memang tidak bisa memaafkanku lebih baik segera akhiri, tidak perlu memberikan harapan palsu kepadaku." Ia berdiri dari kursinya meninggalkan dua orang laki-laki yang masih saling bersitegang.
Axel menghempaskan tangan Arkan, jelas dia merasa kecewa dengan ucapan gadis yang sangat dicintainya itu.
"Rea sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan seperti yang dia bilang sebaiknya segera akhiri hubungan kalian."
"Jangan coba memerintah atau mengaturku! aku tahu bagaimana cara yang baik untuk mendidik istriku, sebaiknya mulai detik ini menjauhlah dari Rea karena jelas dia masih mencintai aku, suaminya," ucap Arkan penuh percaya diri, ia kemudian pergi meninggalkan Ax yang terdiam mematung sendirian di restauran itu.
***
Satu minggu kemudian
Arkan membanting tubuhnya di sofa ruang kerjanya, kepalanya menengadah ke atas, salah satu lengannya nampak ia pakai untuk menutup kedua matanya, sejurus kemudian laki-laki itu menegakkan badannya menoleh ke arah meja kerjanya dimana sebuah amplop berwarna cokelat berukuran folio tergeletak di atasnya.
Namun, entah mengapa dirinya curiga akan niat Adam yang sebenarnya, Arkan lalu menggali informasi lebih dalam, ia mendapatkan informasi yang sangat mengejutkan. Laki-laki itu ternyata dipecat secara tidak hormat oleh Ax, bahkan Axel membuatnya sampai tidak bisa diterima bekerja dimanapun, dan alasan yang membuat Ax berbuat seperti itu adalah Rea.
Adam berlahan bangkit dan mendirikan sebuah usaha, tapi usaha yang dilakukan laki-laki itu juga tidak begitu jelas di bidang apa, belum hilang rasa terkejutnya Arkan mendapat informasi lagi bahwa anak buah Adam adalah orang kepercayaan Axel, dan mau tidak mau dirinya harus berurusan dan bertemu dengan laki-laki yang sangat ia benci.
"Aku akan pura-pura tidak tahu tentang kecurangan yang hotelmu lakukan dengan pemerintah asal kamu terus seperti ini, menjauh dari Rea." sedikit mengancam, Arkan berusaha membuat nyali Ax menciut.
"Ax, aku tidak tahu apa kamu sadar akan hal ini tapi anak buahmu yang bernama Johan tidak dapat dipercaya, dia bekerja dengan orang yang sangat membencimu," beber Arkan.
"Adam maksudmu? Aku tahu."
Arkan terkejut mendapati Axel tidak merasa kaget sama sekali. "Apa kamu juga tahu bahwa laki-laki itu adalah dalang dibalik tertusuknya Elang di pesta pernikahan papamu? dan yang ia incar sebenarnya adalah Rea."
"Apa?" mata Ax membulat sempurna, ia terkejut dengan fakta yang baru saja ia dengar.
"Dia ingin menghancurkanmu tapi kamu malah memelihara anjingnya," sinis Arkan.
"Tanyakan pada anak buahmu yang bernama Johan, apa rencana Adam selanjutnya untuk menghancurkanmu, dia ingin memperalatku, tapi aku bukan orang bodoh, jika harus menghancurkanmu aku akan memakai caraku sendiri." Arkan berdiri lalu meninggalkan laki-laki di hadapannya yang terlihat kebingungan.
Setelah pertemuannya dengan Arkan, Axel meminta Johan menghadap, mencecar laki-laki itu dengan puluhan pertanyaan.
"Kamu benar-benar tidak bisa dipercaya, ternyata kamu masih bekerja dengan si brengsek Adam." Ax mencengkeram leher Johan, membuat napas laki-laki itu tersengal-sengal.
"Maaf Pak," jawab Johan terbata-bata.
Axel mendorong tubuh Johan sampai jatuh ke lantai, "Kenapa dia begitu membenciku hanya karena aku pecat? Apa kamu tahu?"
"Karena keluarganya hancur berantakan setelah dia dipecat, istrinya pergi meninggalkannya karena dia tidak bisa menafkahinya lagi," jawab Johan yang terlihat menunduk ketakutan.
"Anaknya menjadi depresi lalu menggunakan narkoba dan mati overdosis," lanjut Johan.
"Apa?" Axel terlihat terkejut, tak menyangka perbuatannya memecat Adam berdampak sedemikian parahnya ke kehidupan laki-laki itu.
"Lalu sekarang katakan padaku apa rencana Adam selanjutnya?"
"Setelah rencana menghancurkan dengan mengungkap fakta tentang kehidupan pribadi anda gagal, sekarang Pak Adam ingin...." Ragu untuk melanjutkan, Johan terlihat menunduk lagi.
"Kehidupan pribadi? Apa maksudmu?"
"Dalang penyebar video dan foto anda dan ibu Rea ke semua orang saat di pesta Farhan Pradipta adalah saya, dan Itu semua atas perintah pak Adam."
Axel menggertakkan giginya, "Jadi apa rencana Adam sekarang? Jawab!"
"Membunuh Anda dan membuat istri ibu Rea menjadi tersangkanya."
Axel terkejut dengan ucapan Johan, laki-laki itu masih tidak percaya dengan apa yang anak buahnya sampaikan.