Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 26


Dua minggu sebelum acara Lamaran


Rea datang kekantor Arkan, ingin mengajaknya untuk makan siang bersama, didalam lift Rea bertemu dengan seseorang wanita yang dia tau adalah staff Arkan sebelum menjadi general manager, perempuan itu menunduk, Rea menggerakkan kepalanya berusaha melihat wajah wanita itu.


“Benar ini anda kan?” ucap Rea


Wajah wanita itu terlihat pucat, tangannya dia gunakan untuk memegangi perutnya. Pintu lift terbuka wanita itu buru-buru keluar meninggalkan Rea yang harus naik dua lantai lagi, tanpa menjawab pertanyaan yang gadis itu lontarkan.


“Dia kenapa? aku kan cuma bertanya”


Lift terbuka, Rea menuju ke meja sekretaris sambil tersenyum “ aku mau bertemu Pak Arkan”


“Anda sudah ditunggu,” ucap Clara yang dulu staff sekarang menjadi sekretaris Arkan.


Rea membuka pintu melihat calon suaminya sedang sibuk membolak-balik dokumen.


“Duduk dulu ya, sebentar lagi,” ucapnya


Rea hanya tersenyum, duduk disofa, memandangi laki-laki yang entah sejak kapan terlihat begitu seksi menurutnya, meskipun tumbuh besar dan melalui masa remaja bersama gadis itu tidak pernah sadar kalau ternyata Arkan memang tampan dan benar-benar tipe laki-laki idaman wanita.


"pantas Selena tergila-gila sampai berkata mencintainya, ah.. bagimana kabar gadis itu? Ih bodoh untuk apa memikirkan dia, harusnya aku bersyukur sekarang dia tidak lagi mengganggu hubunganku dan Arkan" gumam Rea dalam hati


Arkan selesai dengan dokumennya, berdiri dan duduk disamping gadis yang sudah menunggunya dari tadi. Rea tersadar dari pikirannya.


“Maaf membuat kamu menunggu,” ucap Arkan sambil menggenggam tangan gadis yang tersenyum manis kepadanya itu.


“Jadi mau makan apa kita?” tanya Arkan


“Aku tiba-tiba ingin Barbeque,” ucap Rea


“Pasti habis nonton drama,” ucap Arkan yang sudah berdiri mengambil kunci mobilnya, lagi-lagi gadis itu tersenyum manis.


"Hem.. tau aja sih," ucapnya sambil berdiri merapikan bajunya.


Mereka keluar ruang kerja Arkan, pergi setelah berpamitan pada Clara, sambil berdiri menunggu lift terbuka, Rea menggenggam tangan Arkan, laki-laki itu tersenyum melihat genggaman tangan Rea, kemudian mengayun-ayunkannya seperti anak kecil.


“Sayang, kamu kenal Celine?”


“Celine? Selena?” tanya Arkan ragu, memang penyebutan dua nama itu terdengar agak mirip.


Rea mencebikkan bibirnya “Celine bukan Selena, Celine gadis yang bertengkar dengan aku dimall”


Lift terbuka mereka berdua masuk kedalam


“Oh.. gadis itu, kenapa?”


“Aku sekarang menjadi temannya, malah kami sekarang berteman baik, beberapa kali aku pergi hang out bersama dia, makan, ke butik, belanja,” cerita Rea.


“Baguslah kalau begitu.”


Rea memandang wajah Arkan “dia mau mengadakan sejenis pesta bujang, bridal shower gitu di kota XX,” ucap Rea ragu menyebutkan nama kota yang memang penuh dengan kenangan masa lalu mereka.


“Dia mengundangku, semua tiket dan akomodasi dia yang tanggung,”lanjut Rea


“Lalu?”tanya Arkan


Lift terbuka mereka keluar masih dengan bergandengan tangan , saat sudah tidak berada didepan pintu Lift, Rea memegang lengan Arkan menahannya untuk berhenti berjalan.


“Aku ingin datang, cuma tiga hari, boleh ga?” tatapnya memelas “aku bosan mengganggur sayang, aku kan sudah bilang setelah acara lamaran baru mau mulai mencari pekerjaan lagi, selama aku masih bebas boleh ya?,” pintanya merayu.


“Sudahlah tidak usah bekerja lagi sampai kita menikah, jadi ibu rumah tangga saja, urus aku dan anak-anak kita,” ucap Arkan


"Kalau tidak bekerja aku makan sama beli skincare pake duit apa? Sebelum menjadi istrimu tidak mungkin kan aku meminta nafkah darimu."


"Berarti selama ini kamu tidak pernah memakai kartu yang aku berikan? Padahal semua gajiku ditransfer kesana"


"Hah serius?" gadis itu melebarkan matanya "Lalu selama ini kamu dapat uang dari mana sayang untuk kebutuhan pribadimu?" tanyanya lagi.


"Bukankah sama seperti kamu sayangku, kamu juga udah sebulan lebih menganggur, dapat uang dari mana coba kamu?" Arkan yang gemas mencubit hidung kekasihnya.


Rea lupa kalau pasti Arkan juga sama seperti dirinya, memiliki saham di beberapa perusahaan, yang selalu memberikan keuntungan tiap bulan.


Gadis itu tersenyum dan mengulangi pertanyaannya lagi “Jadi boleh aku pergi?”


“Hem.. iya bawel” Arkan mengacak-acak rambut kekasihnya gemas.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan minta tolong dan orang-orang berlari membuat kerumunan, Arkan dan Rea ikut berlari mendekat, wajah Rea menunjukkan raut keterkejutan melihat wanita yang baru saja dia temui dilift tadi tergeletak dilantai.


“Panggil perawat jaga dan suruh bawa ambulance klinik kemari cepat!”perintah Arkan.


Seseorang berlari mendekat “ ambulance dan perawat sedang dipakai ke rumah sakit pak, ada karyawan yang mengalami kecelakaan kerja dibagian produksi tadi”


“Lalu bagaimana ini?” Rea ikut kawatir


“Cepat bawa ke mobilku!” perintah Arkan kepada beberapa pria yang berdiri disana.


Arkan mulai membawa mobilnya menuju rumah sakit, Rea duduk dibelakang menopang kepala perempuan itu bersama salah seorang karyawan. Wika terlihat begitu pucat, melihat darah Rea sontak bertanya kepada karyawan yang ikut didalam mobil.


"Apa dia sedang hamil?"


"Saya ga tau mba, tapi melihat ini sepertinya  dia mengalami pendarahan"


"Apa di keguguran?" ucap Rea panik “atau cidera perut?”


Karyawan itu hanya terdiam.


"Dia hanya sempat bercerita kalau suaminya pernah selingkuh," ucap karyawan itu yang sudah pasti dia kenal dekat dengan Wika, kalau tidak, tidak mungkin dia mau menemani pergi ke rumah sakit seperti ini.


Sontak Arkan dan Rea kaget. Rea memandangi wajah Wika lekat.


"Benar kan ini dia?"


"Siapa? apa kamu pernah bertemu Wika sebelumnya?" tanya Arkan penasaran.


Karyawan wanita disampingnya juga menatap penasaran.


"Dia wanita yang membuat tanganku terluka dengan pecahan gelas yang dia lempar"


"Apa?"


"Dia wanita yang aku ceritakan mabuk dan marah-marah di hotel saat memergoki suaminya berselingkuh sayang," Rea memberi penjelasan


"Brengsek banget suaminya, aku juga sempat melihat beberapa kali memar di wajah Wika, ga bisa dibiarin laki-laki kayak gitu," ucap Arkan kesal


Karyawan yang ikut duduk disana juga terkejut mendengar apa yang Rea dan Arkan katakan.


Wika sedikit tersadar memegangi perutnya sendiri "bayiku" ucapnya lirih dengan wajah yang masih begitu pucat.


"Sayang lebih cepat sepertinya dia benar hamil," ucap Rea panik.


Arkan mempercepat laju mobilnya, sampai di Rumah sakit Wika langsung dibawa ke UGD. Karyawan wanita itu dan Rea duduk didepan UGD karena bagaimanapun kejadian barusan benar-benar membuat mereka menjadi gemetaran, sementara Arkan terlihat menjauh dan menelpon seseorang.


"Apa kamu bisa menunggu sampai keluarganya datang?" tanya Arkan ke karyawan yang duduk disamping Rea.


"Bisa pak," jawabnya


"Kamu tidak apa-apa kan menunggu disini sendiri sampai keluarga Wika datang?"


"Iya pak tidak apa-apa, teman saya juga sedang menyusul kesini"


Akhirnya Arkan dan Rea disana sampai memastikan ada yang menemani karyawan wanita itu baru mereka pergi meninggalkan rumah sakit.


Saat masuk ke mobil, Arkan terlihat melonggarkan dasinya, terlihat seperti orang kepanasan, tapi Rea tau sebenarnya laki-laki itu sedang memendam amarah.


"Untung dia tidak memakai jas nya" gumam Rea melihat peluh dipelipis Arkan


Gadis itu mengambil tisu kemudian menyeka peluh dipelipis Arkan, laki-laki itu menoleh menatap Rea yang duduk disampingnya. Mata mereka bertemu. Rea merasakan jantungnya berdebar-debar.


"Apa kita jadi makan?" tanya Arkan


"Sial, kenapa dadaku mendesir tak karuan melihat wajahnya berpeluh seperti ini, kenapa dia bisa terlihat begitu seksi" Rea tenggelam dalam pikirannya sendiri


"Sayang apa kita jadi makan?" Arkan mengulangi perkataan nya lagi membuat Rea tersadar


"Hah..."


Arkan sudah membawa mobilnya keluar rumah sakit.


"Aku sudah tidak bernafsu untuk makan itu, kita makan yang lain saja," pinta Rea.


"Bagaimana mau bernafsu setelah melihat kejadian tadi"


Akhirnya mereka memilih makan burger di restoran cepat saji.