Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 11


Rea berangkat kerja seperti biasa, dia berpesan agar Arkan tidak menjemputnya hari ini karena dia mau membawa pulang mobilnya.


Pagi itu hotel kedatangan salah satu keluarga pengusaha yang akan mengadakan pesta pernikahan anak mereka disana. Rea sudah berdoa jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi, sepertinya doanya kali ini akan dikabulkan Tuhan, karena ternyata calon pengantinnya sendirilah yang datang melihat ruangan yang akan dipakai untuk acara mereka.


"Apa ini ruangan yang sama dengan yang digunakan anak Gubernur kemarin?" tanya seorang gadis yang sepertinya mempelai wanita.


"Apa kamu tuli? aku sedang bertanya," bentaknya kepada Dewi staff hotel yang saat itu menemaninya


"Maaf, iya Nona."


"Sayang ayo kita pakai hotel ini saja," bujuk wanita itu ke orang yang sedari tadi dia peluk pinggangnya.


"Aku ingin booking ruangan ini," kata pria itu


Dewi kemudain meminta kedua orang itu untuk duduk disofa yang dia tunjukan, Dewi berlari untuk menemui managernya, dia terlihat menangis.


"Pak Reza mana?," tanya Dewi ke salah seorang temannya yang juga pegawai disana, Dewi sadar Rea sedang berdiri menandatangani sesuatu disampingnya, kemudian menundukkan kepala.


"Kamu kenapa?,"tanya Rea


Dewi kemudian menceritakan kalau dia baru saja dibentak tamu yang akan membooking ruangan.


"Sudah biar aku saja, dimana mereka?"


Rea menghampiri dua orang yang sedang duduk bersebelahan itu sembari tersenyum kepada mereka, si wanita sudah terlihat cemberut, benar saja sekarang gantian Rea yang kena semprot.


"Lama sekali, apa begini pelayanan hotel bintang lima?"


"Maaf nona" Rea mencoba tenang karena tidak mungkin dia berbicara kasar kepada calon klien nya.


"Jadi kapan tanggal yang ada inginkan?" tanya Rea


"15 Agustus"


"Baik, berarti kurang lebih 2 bulan lagi, saya cek dulu" Rea kemudian melihat catatan ditablet nya.


"Maaf sayang sekali untuk ruangan yang anda maksud ditanggal itu sudah terbooking"


"Hah apa? bisa-bisanya , batalkan saja mereka, dan masukkan namaku ke dalam daftar itu"


"Maaf Nona, hotel kami tidak bisa membatalkan pesanan orang sembarangan"


"Kenapa tidak, sayang bicaralah" wanita itu merajuk ke lelaki disebelahnya yang merupakan calon suaminya.


"Kami akan bayar dua kali liat," ucap laki-laki itu menuruti perintah wanita nya.


"Maaf tuan bahkan tiga kali lipatpun tidak akan kami terima, karena orang yang memesan sudah menandatangani kontrak resmi dengan kami"


"Byurrrrrr"


Tiba-tiba wanita itu menyiramkan segelas air kemuka Rea.


"Beraninya pegawai rendahan sepertimu"


Si laki-laki langsung berdiri, wajahnya terlihat cemas, beberapa staff yang melihat kemudian mendekat ke arah Rea, yang lain sudah berlari untuk mengambilkan handuk. Rea mengusap mukanya yang basah.


"Apa dengan menyiram air kemuka saya anda puas? anda tetap sama sekali tidak akan mendapat yang anda inginkan, tanggal 15 Agustus ballroom kami sudah dipesan untuk acara kepresidenan, jika anda menginginkannya silahkan anda menemui staff presiden dan utarakan maksud anda, semoga berhasil"


Rea menundukkan kepalanya tetap menghormati dua tamunya itu, kemudian pergi dari sana, seorang staff mendekat kemudian menyerahkan handuk kepada Rea.


"Terima kasih, kembalilah bekerja," ucap gadis itu berusaha menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.


"Kena kau," ucap Rea sambil tersenyum sadis


Rea kelaur ruang control CCTV kemudian menelpon teman kuliahnya dulu yang dia tau bekerja sebagai seorang hacker.


"Aku butuh informasi, tolong carikan informasi tentang seorang wanita, aku cuma punya plat nomor mobilnya"


Tidak sampai satu jam Rea mendapat informasi detail tentang wanita yang menyiramkan air ke mukanya tadi, gadis itu sebenarnya baik tapi memang tipikal pendendam yang akan membalas perbuatan orang yang berbuat seenaknya, apalagi berbuat jahat ke dia.


Tepat jam lima sore ia langsung tancap gas pulang membawa mobilnya ke apartemen, masuk ke kamar membuka lemari bajunya , memilih baju yang paling mahal dan cantik diantara yang lain, memilih tas termahal yang dia punya untuk dia pakai.


Info dari temannya wanita itu akan pergi ke sebuah butik dan lanjut kongkow dengan temannya di kafe sebuah mall. Rea berencana membuat wanita itu kesal.


Gadis itu sudah sampai dibutik membawa segelas minuman boba ditangannya, wanita itu sudah terlihat berada disana, terlihat akan membeli sebuah gaun dengan harga hampir 80 juta, saat menyerahkan kartu kreditnya ke kasir, Rea dengan sengaja menumpahkan minumannya ke baju yang belum dibungkus oleh pelayan butik.


"Aaaa..... teriak wanita itu, apa kau sudah gila?" sambil mendekati Rea yang masih berdiri didepan gaun itu.


"Oh maaf, aku tidak sengaja"


"Kamu...bukannya kamu?" wanita itu mengingat wajah Rea.


"Halo., ternyata kamu ingat aku, maaf aku tidak sengaja" kemudian berjalan meninggalkan wanita itu menuju kasir butik, mengeluarkan kartu berwarna hitam, yang pasti tidak sembarang orang memilikinya, menatap ke arah wanita itu.


"Aku bayar gaun itu, kalau dia mau biar dia bawa pulang, kalau tidak anggap saja ganti rugi."


Kemudian Rea keluar dari butik itu, menyeringai sambil membuang cup bekas minumannya ke tempat sampah dengan gerakan tangan menghina, dia tau wanita itu masih menatapnya, wanita itu menggertakkan giginya melihat Rea pergi, lalu berpaling memandangi gaunnya dengan tatapan kesal dan marah.


Selanjutnya Rea pergi ke mall yang sudah diinformasikan temannya, memilih tempat duduk yang dekat dengan wanita itu. Ia tau pasti wanita itu ingin melabraknya setelah kejadian dibutik tadi, apalagi sekarang didepan teman-temanya, pasti lebih bersemangat ingin menunjukkan seberapa hebat dirinya, tapi sayang tebakan Rea meleset, wanita itu melihat dirinya tapi pura-pura tidak peduli.


Rea sudah hampir pergi karena tidak ada gunanya juga dia masih disana, membuat wanita itu kesal dengan gaun tadi sudah cukup menurutnya, dia berdiri hampir keluar kafe tiba-tiba suara wanita itu terdengar lagi, memekik ke arah pelayan restoran.


"Apa kamu bodoh?" wanita itu terlihat memaki seorang pelayan, hampir menampar pelayan itu karena menumpahkan sedikit jus dimeja yang bahkan tidak mengenai bajunya.


"Rea kemudian berbalik, menahan tangan wanita itu, menurunkannya dengan paksa."


"Kamu lagi" wanita itu langsung  menyiramkan jusnya ke arah Rea tapi dihadang oleh pelayan tadi, Rea kaget karena pelayan tadi rela jadi tamengnya.


Gantian Rea mengambil jus dimeja milik teman wanita itu, menyiramkan ke arah wanita itu.


Wanita itu tidak terima sontak menjambak rambut Rea, suasana menjadi kacau, apalagi disebuah mall yang ramai pengunjung, tiba-tiba seorang pria mendekat, satu tangannya memegang tangan kiri wanita itu dan tangan yang lainnya memegang tangan kanan Rea, sepintas Rea pikir Arkan, tapi saat dia melihat betapa terkejutnya dia.


"Anda?"


"Apa kamu mengenalku?"tanya pria itu kaget


Kemudian melepas kedua tangan wanita yang dipegangnya, terlihat beberapa orang mengenakan jas berdiri dibelakang pria itu. Rea masih tertegun melihat pria didepannya, wanita tadi sudah meraih rambut Rea, menjambaknya lagi, sontak Rea membalas.


"Panggil Security!" teriak pria tersebut kesal


Rea dan Wanita itu akhirnya dibawa ke pos keamanan mall.


Pria itu berjalan meninggalkan tempat itu diikuti beberapa orang dibelakangnya.


"Aku sepertinya pernah melihat gadis tadi, tapi dimana?" Pria itu mulai berfikir.


"Hah..gadis di club malam, yang aku pikir menarik untuk didekati tapi sepertinya sudah memliki kekasih" pria itu tersenyum


"Kenapa tuan?" tanya orang yang ada dibelakangnya.


"Tidak apa-apa, ayo lanjut berkeliling" jawab pria itu.