
Mohon baca BAB 133 bagi yang belum mengerti 🥰
Cerita Arkan dan Rea SUDAH TAMAT, ini ending versi KEDUA untuk Axel dan jelas SUDAH BERBEDA ALUR CERITA.
_
_
_
_
_
Bagai seorang buronan, Rea merasa hidupnya tidak bisa tenang. Ya, begitulah jika seseorang melakukan kesalahan, rasa berdosa dan bersalah membuntuti kemana saja bak bayangan.
Jika boleh memilih, Rea ingin kembali dimana dirinya masih hidup tenang meskipun rasa sakit hati yang ditorehkan Arkan membuat dadanya selalu nyeri, tapi setidaknya dia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya.
Sekarang, Ia merasa sendiri. Bukan karena tidak memiliki seseorang di dekatnya, jelas keluarga Pak Rahmat sangat mengasihinya melebihi orang asing, mereka selalu ada disamping Rea untuk memberi dukungan.
Seperti pagi itu, Rea yang kaget mendapati bercak di pakaian dalamnya panik, membuat Anisa langsung mengantarnya ke Bidan. Berkali-kali Anisa membujuknya untuk memeriksakan diri ke rumah sakit, tapi gadis itu takut. Ia takut orang-orang dari masa lalunya akan menemukannya.
Rea merasa lega karena masih belum ada yang datang menemukannya sejak pertemuannya dengan Maya dan Bumi, gadis itu sengaja hanya menyalakan ponselnya di malam hari untuk membalas pesan dari Arkan dan Lidia yang rutin mengirimkan foto Bening dan Embun. Rea tidak pernah menjawab satupun pertanyaan mereka, yang Rea tulis untuk membalas pesan mereka hanya ucapan terima kasih.
Memandangi kedua anak Anisa yang bermain congklak di joglo home stay, Rea sesekali tertawa dan berkomentar. Mengelus perutnya yang sedikit membuncit Ia tak sadar sudah hampir lima bulan mengasingkan diri.
Disisi lain, Ax terus saja dipaksa Jordan dan Lidia untuk menikahi Mia. Terdiam, amarah laki-laki itu meledak tatkala Jordan berencana mengajaknya melamar Mia akhir minggu ini.
"Papa silahkan mencoret namaku dari daftar keluarga, aku akan dengan senang hati membuang semuanya, aku akan pergi mencari Rea ke Perancis, meskipun sampai ke ujung dunia aku akan mencarinya."
"Ax, kenapa kamu keras kepala seperti itu?" Bentak Jordan.
"Karena aku mencintainya, aku mencintai gadis itu." Teriakan Ax tak kalah lantang dari bentakan sang Papa.
Meninggalkan ruang kerja Jordan, Ax pergi keluar rumah, membawa mobilnya seperti seorang pembalap, di tempat yang sepi Ax mengehentikan mobilnya secara tiba-tiba, membuat bunyi decitan yang nyaring saat ban mobilnya bergesekan dengan aspal.
Napas Ax memburu, Ia memukul-mukul kemudi mobilnya berkali-kali, membenturkan keningnya frustrasi.
"Pasti saat ini kamu sedang menangis seorang diri, gadis jahat!" lirih Ax.
Laki-laki itu masih terdiam, sampai panggilan telpon yang masuk ke ponselnya membuat Axel sedikit tenang dan seolah mendapatkan harapan lagi.
***
Rea mengusap kedua lengannya sambil menatap embun yang membasahi dedaunan dan rumput di halaman home stay, ia lantas mengalihkan pandangan untuk melihat jalanan dari luar pagar, kendaraan sudah mulai berlalu lalang di depan rumah singgah itu, meskipun udara masih dingin karena jam menunjukkan baru pukul setengah enam pagi
Berniat untuk masuk ke dalam, mata Rea tertuju pada sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti tepat di depan pagar.
Masih terpaku menatap keluar, Rea tak percaya dengan sosok laki-laki yang turun dari dalam mobil dan berjalan membuka pagar home stay yang terbuat dari kayu.
Saat sudah saling berhadapan mata laki-laki itu tertuju pada perut Rea yang tertutupi oleh sweater bermodel ponco yang Ia kenakan.
Bibir Rea bergetar menyebut nama panggilan laki-laki itu.
"Ax.... "
Hampir menangis, Axel merengkuh tubuh Rea, meletakkan satu tangannya untuk memeluk pinggang gadis itu, sementara tangan yang satunya ia gunakan untuk mengusap bagian belakang kepala gadis yang sangat dicintainya itu.
"Jangan pergi lagi Re, jangan tinggalkan aku, jangan lari dariku!" ucapnya sambil menahan rasa sesak bercampur lega yang menjadi satu di dadanya.
"Ax darimana ka....,"
Tak sempat meneruskan pertanyaannya, Axel memotong ucapan Rea. Menggelengkan kepalanya yang tepat berada di atas kepala gadis itu.
"Jangan tanya apapun dulu kepadaku! biarkan aku seperti ini, aku sangat merindukanmu."
Bukan membenarkan sebuah perselingkuhan tapi mereka hanya mencoba untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Yang buruk adalah hubungan terlarang keduanya, bukan pribadi atau sikap mereka. Axel dan Rea hanya salah dalam melangkah, terseok dalam kubangan hubungan terlarang dalam menemukan cinta.
"Istirahatlah Ax! kamu pasti lelah menyetir semalaman kesini," ucap Rea.
Axel yang masih berdiri hanya terdiam, Ia tak percaya melihat kamar yang ditempati Rea, yang menurutnya sangat jauh dari kata layak.
"Apa kamu berbulan-bulan tidur di ranjang itu?"
"Hem, memang kenapa?" menatap Ax, Rea sadar bahwa laki-laki itu pasti sedang bingung.
"Meskipun terlihat tua, tapi ranjang itu nyaman, jika tidak ingin tidur kamu bisa mandi dulu!"
Menatap Rea dengan pandangan iba, Ax tengah berpikir apakah gadis itu sudah nyaman dengan hidup sederhana.
"Re, apa kamu tidak ingin pulang?" tanya Ax ragu.
"Aku berniat kembali setelah melahirkan anak ini." Mengusap perutnya, Rea tersenyum menatap laki-laki yang merupakan ayah dari bayi yang ia kandung.
Axel berjalan mendekat ke arah Rea yang sedang berdiri di dekat ranjang, Ia lantas berlutut memegang perut gadis itu dengan sebelah tangannya.
"Apa benar ini anakku? anak kita?" tanya Ax.
Mengangguk, Rea meneteskan air matanya, entah mengapa Ia merasa bahagia Ax mendatanginya di tempat persembunyiannya.
Menciumi perut Rea, laki-laki itu meneteskan air matanya. Berbisik lirih seolah bayi di dalam perut Rea bisa mendengar suaranya.
"Hai, ini papi, apa kamu baik-baik disana? love you little angel, tetap sehat di perut mama oke!" ucapnya.
Mendongak, Axel menatap ibu dari anaknya yang tengah berlinangan air mata. "Aku mencintaimu Re, ayo kita menikah setelah anak kita lahir!"
Terdiam, Rea bingung untuk menjawab pertanyaan Axel yang tiba-tiba seperti itu.
***
Elang tersenyum lega, memeluk Kinanti di balik selimut yang membungkus tubuh polos mereka.
"Apa mungkin Axel sudah sampai Jogja?" tanyanya ke sang istri.
"Jika setelah kamu memberitahunya kemarin dia langsung berangkat tentu saja sudah sampai!"
Meringsek memeluk Elang, Ken lega karena suaminya memilih memberi tahu keberadaan sang adik ipar ke Axel.
Butuh berminggu-minggu bagi Elang untuk menemukan keberadaan Rea agar gadis itu tak curiga dan kabur lagi.
"Apa kamu akan setuju jika Rea berniat menikah dengan Axel?" tanya Kinanti penasaran.
"Untuk apa aku tidak setuju dan melarang, Rea yang menjalani, semua menjadi pilihannya, yang pasti aku ingin dia bahagia."
Tersenyum, Ken tahu bahwa sejatinya suaminya itu memang benar-benar sangat menyayangi sang adik.
_
_
_
_
_
_
LIKE LIKE LIKE 😂