Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Bab 134 MBYDL : EndVer 1 bag.1


Sepanjang perjalanan menuju hotel bintang lima dimana acara peluncuran aplikasi digital milik teman Arkan diselenggarakan, Rea membisu menatap keluar jendela mobil, Ia terdiam tanpa ingin berbicara sepatah katapun kepada sang suami, dirinya tengah diliputi rasa bimbang yang sangat besar, rasa takut akan kehancuran rumah tangganya mengingat pertanyaan Arkan tadi siang kepadanya. Sudah jelas bahwa Ia sama sekali tidak ingin berpisah dengan sang suami. Namun, entah mengapa Arkan bersikeras memberinya waktu untuk berpikir.


Hotel tempat acara peluncuran aplikasi pendidikan itu terlihat ramai, jelas banyak kalangan pengusaha menjadi tamu undangannya, beberapa bahkan mengenal baik Arkan dan Rea. Mereka saling berjabat tangan kemudian berbincang-bincang membicarakan masalah bisnis.


"Akan ada penghargaan untuk para pengusaha muda dari kementerian ekonomi beberapa bulan lagi, sepertinya dirimu akan masuk nominasi melihat market place yang kamu bangun mengalami pertumbuhan yang sangat pesat," ucap salah satu teman Arkan.


Arkan menjawab ucapan sang teman dengan senyuman, melingkarkan tangannya ke pinggang sang istri, mendapat perlakuan seperti itu Rea lantas membalas melingkarkan tangannya ke pinggang Arkan, membuat suaminya itu menatap ke arahnya.


"Acaranya akan diadakan si Sky Hotel, aku heran kenapa hotel itu selalu menjadi pilihan untuk menyelenggarakan acara milik pemerintah."


"Istriku menjadi general manager di sana, hotel itu memang bagus dan fasilitasnya sangat mengagumkan, iya kan sayang?" tanya Arkan ke sang istri yang hanya memberi balasan dengan seulas senyum di bibirnya, gadis itu lantas mohon diri untuk pergi ke kamar kecil.


Rea terdiam menatap pantulan wajahnya dari depan cermin kamar mandi, ia menghembuskan napasnya lemah sambil mencuci kedua tangannya, bagaimanapun dirinya sadar bahwa Arkan masih dalam kondisi marah, awalnya Rea sudah bersiap jika suaminya bersikap dingin kepadanya, tetapi mendengar ucapan Arkan barusan soal hotel tempatnya bekerja Rea merasa gundah, apakah suaminya sedang bersandiwara atau benar-benar tulus memuji Sky Hotel di depan temannya.


Saat keluar dari kamar mandi Rea terkejut karena Axel sudah berdiri bersandar pada tembok tak jauh dari sana. Rea sadar tentu saja Ax pasti mendapat undangan, lingkaran pertemanan para pengusaha memang hanya itu-itu saja. Tak acuh, Rea bersikap seolah-olah tidak melihat Ax, tapi sayang laki-laki itu langsung mencekal tangannya, menarik paksa dan membawanya naik ke rooftop hotel. Arkan yang melihat dari jauh Axel menggandeng istrinya memilih untuk mengikuti naik menggunakan lift yang lain, Ia mencoba menebak kemana Axel membawa sang istri.


"Bukannya kamu masih sakit? kenapa kamu ada di sini?" tanya Rea sedikit khawatir, gadis itu mencoba melepaskan genggaman tangan Axel yang sedari tadi memegangnya erat.


"Apa kamu tahu bahwa Arkan tadi pagi menemuiku?"


Rea mengangguk," Aku tahu, Mas Arkan juga sudah mengetahui bahwa kita menjalin hubungan di belakangnya."


"Lalu apa yang dikatakan Arkan, apa dia berkata akan menceraikanmu?"


"Ax!" bentak Rea.


"Re, tinggalkan Arkan, ayo kita pergi dari negara ini, ayo kita bawa juga Embun dan Bening." Axel memegang kedua pundak Rea, mengguncangnya sedikit kasar.


Rea hanya terdiam, buliran air mata kembali membasahi pipinya," Maaf Ax," lirihnya. "Aku salah, kamu boleh membenciku, kamu boleh memukul bahkan menamparku, tapi aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini denganmu," isak Rea.


"Untuk apa aku harus melakukan itu?" Axel merangkum pipi Rea, membuat wajah gadis itu mendongak ke arahnya.


"Aku tidak bisa meninggalkan mas Arkan, aku sangat mencintainya, aku bisa mati jika harus berpisah darinya."


Axel mematung menatap wajah gadis di hadapannya, memandang ke dalam mata Rea yang jelas sama sekali tidak ada bekas cinta yang tertinggal untuknya.


"Jika Arkan begitu mencintaimu, aku juga sangat mencintaimu Re, katakan! apa yang tidak bisa dia berikan, aku pasti akan memberikannya kepadamu."


Tanpa Rea sadari, sang suami sudah berdiri di belakangnya, bagaikan sebuah keuntungan untuk Axel, tak perlu menunggu kesempatan itu hilang, Ax langsung menarik pinggang Rea mencium bibir gadis itu di hadapan Arkan.


Murka, Arkan langsung berjalan mendekati Ax dan istrinya, menarik lengan Rea yang tanpa Ia sadari tengah berusaha menjauhkan diri dengan mendorong tubuh Axel menjauh darinya.


Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Axel, Rea yang terkejut dan ketakutan hanya bisa menangkup kedua tangan di depan wajahnya mencoba untuk tidak berteriak ataupun meneteskan air matanya.


"Cukup Ax, mulai detik ini jangan pernah temui Istriku lagi! dan kamu...," Arkan menatap Rea dengan mimik wajah serius. "Ayo, aku antar dirimu pulang ke rumah ayahmu!"


Air mata Rea menetes mendengar ucapan sang suami, Arkan langsung menariknya turun dan meninggalkan hotel tanpa berpamitan kepada sang tuan rumah acara. Pilu, Rea menangis sambil memohon maaf ke sang suami sepanjang jalan.


"Bukankah ucapanmu itu sebuah talak?" Tanya Rea terbata-bata.


"Apa kamu juga sudah belajar tentang itu?" sinis Arkan. "Aku berniat menjauh darimu untuk sementara waktu, aku masih suamimu jadi aku melarangmu bertemu dengan Axel, tapi jika kamu tetap melakukannya semua terserah padamu."


Arkan mendadak menginjak rem mobilnya, membuat suara decitan nyaring, hampir saja Rea terhempas membentur dashboard mobil jika saja Ia tidak mengenakan sabuk pengaman dengan benar.


"Tanyakan itu pada dirimu sendiri, apa kamu memikirkan mereka saat kamu memilih berselingkuh dengan Axel? mulai besok biarkan Embun diasuh oleh Ax, aku tidak ingin Embun dijadikan alasan untuk bertemu denganmu."


Mereka berdebat sepanjang perjalanan, dan Arkan ternyata memilih mengantar Rea pulang ke rumah mereka sendiri.


"Kenapa kesini? kenapa bukan ke rumah mama? apa kamu berniat memisahkan aku dan Bening juga?"


"Bukankah kamu tidak ingin pulang ke rumah ayahmu? Aku akan membawa Bening besok pagi, Ini rumahmu jadi tinggal lah disini, aku akan mencari sebuah tempat untuk aku tinggali sendiri."


"Apa kamu ingin kita pisah ranjang?"


"Terserah kamu ingin menyebutnya apa, aku ingin kita sama-sama berpikir tentang kelanjutan mahligai pernikahan kita, berpikirlah tentang kesalahanmu yang sudah membiarkan laki-laki lain mencium bibirmu." Emosi, jelas Arkan tengah dibakar api cemburu.


"Apa kamu ingin kita berpisah? aku sudah jujur padamu, aku sudah minta maaf berkali-kali, haruskah kamu menghukumku sampai seperti ini?" Tanya Rea tak kalah emosi.


"Harus, kamu harus menerima dan menjalani hukuman ini jika memang ingin kita kembali bersama, turuti semua ucapanku jika memang kamu masih menganggap aku suamimu."


"Ar...,"


Arkan bergeming, laki-laki itu sama sekali tidak mau menatap wajah sang istri. Rea memilih turun dari mobil lalu berjalan ke arah pintu rumahnya, gadis itu masih berharap akan ada sebuah keajaiban dimana Arkan berdiri untuk memeluknya atau sekedar meraih tangannya.


Namun, sayang harapannya pupus saat mendapati Arkan memutar mobilnya dan tancap gas pergi dari halaman rumah mereka. Akhirnya Rea sendirian di rumah itu, Ia hanya bisa menangis antara menyesal atau meratapi kebodohannya sendiri, sebuah ketakutan merayapi hatinya, Rea takut diceraikan oleh suami yang masih benar-benar ia cintai.


***


Arkan mendapati orang tuanya sudah berada di rumah saat dirinya sampai, merasa tidak bisa menutupi masalah rumah tangganya lagi, Arkan terpaksa bercerita ke Andi dan Laras, apalagi orang tuanya itu mendapati dirinya pulang tanpa sang istri.


"Jadi kamu mentalak istrimu?" Tanya Andi tak percaya.


"Aku masih menalak satu Rea, aku hanya berkata ingin mengantarnya pulang ke rumah ayahnya, aku hanya ingin memberi pelajaran ke dia."


"Arkan, jangan main-main dengan talak!" amuk Laras.


"Pa, Ma. Aku sangat mencintai Rea, aku sama sekali tidak ingin dan tidak ada niatan berpisah darinya, aku hanya ingin memberikan pelajaran ke gadis nakal itu dan aku juga ingin tahu seberapa besar cintanya ke aku."


Arkan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih terkejut dengan fakta yang baru saja ia ceritakan.


-


-


-


-


Na Double Up 😎