
Hari pertama menjadi pengangguran, Rea keluar dari kamar menuju balkon apartemen nya, entah kapan terakhir kali dia berdiri dibalkon itu, karena selama ini setiap hari rutinitasnya selalu sama, pergi bekerja, pulang, tidur, pergi bekerja lagi, hari Sabtu atau Minggu pun terkadang dia pergi menemui mamanya untuk mengajak jalan-jalan atau berolah raga ke gym, mobilitasnya di apartemen itu hanya sekitar kamar, dapur dan ruang televisi.
Baru setelah Arkan pulang dia punya rutinitas lain saat weekend, apalagi kalau bukan berkencan dengan calon suaminya itu.
Rea masuk kedalam karena udara masih terasa dingin, melirik ke arah Arkan yang masih tertidur dikarpet depan TV, ia duduk disamping laki-laki itu kemudian menarik selimut yang dia pakaikan ke tubuh kekasihnya semalam sebelum dia pindah tidur ke kamar, Rea membaringkan badannya persis disamping laki-laki yang masih lelap tertidur itu, mengagumi ukiran yang diciptakan Tuhan menjadi milik seorang Arkan.
"Ternyata dia sangat tampan pantas Selena tergila-gila" gumam Rea sambil menelusuri setiap lekukan wajah kekasihnya
"Bagaimana bisa akhirnya aku akan menikah dengan dia?" gumam Rea sambil memainkan bibir bawah laki-laki itu dengan jarinya dan tersenyum sendiri, Arkan yang merasa sebuah tangan sedang bermain di bibirnya menggeliat, membuatnya Rea sedikit meresa bersalah sudah mengganggu ketenangan laki-laki itu.
Arkan menarik tubuh Rea masuk kedalam selimut untuk memeluknya.
"Jam berapa ini?" tanyanya dengan suara yang terdengar sedikit serak menandakan dia masih dalam keadaan mengantuk.
"Jam lima kurang," Jawab Rea
"Bangunkan aku satu jam lagi" Arkan makin mempererat pelukannya, Rea hanya bisa menganggukkan kepala didalam pelukan calon suaminya.
******
Rea menatap kearah jam didapur, Arkan sudah pulang dua jam yang lalu, dia berfikir apa yang akan dia kerjakan hari ini, baru mau beranjak untuk mandi, bel pintu apartemen berbunyi.
Agni sudah berdiri disana membawa bucket kiriman dari Axel yang sengaja Rea tinggal diruangannya.
Brukkkk
Agni menyerahkan bucket besar itu ke Rea, sambil masuk kedalam.
"Bisa-bisanya pergi tanpa bilang-bilang" ucap Agni sambil berkacak pinggang
Rea meletakkan bucket itu dimeja ruang tamu "aku bukan resign mba, aku dipecat, jadi bukan mauku untuk pergi"
Rea berjalan ke dapur "mba mau minum teh atau kopi?" menawari atasannya itu minum
Agni mendekat kemudian duduk dikursi meja makan "tumben kamu punya teh sama kopi"
"He'em Arkan yang beli" Jawab Rea sambil menyiapkan cangkir dan sendok "jadi mba mau minum apa?"
"Teh aja, aku udah ngopi tadi" Jawab Agni
"Jadi kamu dan Arkan sudah sering tidur bersama? "
"Iya" Jawab Rea enteng sambil meletakkan teh yang dia buat didepan Agni
Terang saja Jawabannya membuat Agni mendelik, Rea melihat perubahan raut wajah atasannya itu kemudian menjelaskan sambil tersenyum.
"Dia tidur di depan TV aku di kamar, bukankah itu tidur berdua juga namanya mba"
"Kamu tu memang polos atau sok polos sih? ga mungkin kamu ga ngerti maksudku"
Rea menarik kursi duduk didepan Agni, gadis itu hanya tersenyum "Arkan bukan tipe laki-laki seperti itu, bahkan kalau akupun yang memintanya duluan paling dia juga menolak"
"Habis kamu nanti setelah resmi jadi istrinya" Agni menyeruput tehnya "pasti dia berusaha keras menahan nafsunya selama ini"
Rea hanya tertawa sambil membetulkan ikatan rambutnya.
"Aku sudah kirim email resmi ke kantor pusat, menanyakan perihal pemecatan kamu, aku ga mau ada yang ganti'in posisi kamu sebelum dapat jawaban atau alasan yang bisa diterima dengan logika"
"Aku ngerasa aneh kamu dipecat tiba-tiba, bahkan tanpa surat peringatan dan pemberitahuan ke aku, fishy banget ga sih Re?"
"Tapi Kalau mba Agni ga cepat dapat pengganti aku, nanti tugas posisi aku bisa keteteran"
"Kan ada Reza, mengkaryakan dia lah" Agni tertawa sambil meminum tehnya lagi
"Kamu ga ada masalah kan sama orang-orang pusat?"
Tanya Agni yang sudah berdiri didepan pintu unit Rea, bersiap pergi dari apartemen itu untuk bekerja.
"Sama orang pusat aja aku ga begitu kenal mba, gimana mau ada masalah?"
"Terus kamu mau ngapain? Jangan coba-coba nyari kerjaan dulu," ancam wanita itu
"Kalau ga nyari kerja aku makan apa mba?"
Agni hampir saja mengetok kepala Rea dengan kunci mobil yang dia pegang.
"Duitmu kan banyak, tuh.., pretelin tu kembang buat makan" Agni menujuk bucket bunga dari uang diatas meja.
Rea terbahak, setelah Agni masuk lift untuk turun gadis itu beranjak ke kamar memilih baju ganti untuk dipake setelah mandi.
"Baiklah hari ini aku mau pergi shopping aja buat beli beberapa perlengkapan rumah, terus gimana kalau ke sekolah model mama? siapa tau pas aku datang pas sama jam latihan mas-mas model ganteng, syukur-syukur nemu berondong," Rea berbicara sendiri didepan lemari bajunya seperti orang gila.
Setelah mendapat baju yang dia rasa cocok, dia melemparnya ke ranjang kemudian pergi mandi.
*****
And
now I will start living today, today, today
I got this new beginning and I will fly
I'll fly like a cannonball
Like a cannonball, like a cannonball
I'll fly, I'll fly, I'll fly like a cannonball
I let go of fear and the peace came quickly
I was in the dark and then it hit me
I chose suffering and pain and the falling rain
I know I got to get out into the world again
Rea membawa Mobilnya sambil mendengarkan lagu Lea Michele yang lirik nya benar-benar menggambarkan keadaannya sekarang.
Dia sadar harus tetap hidup meskipun kehilangan pekerjaannya, memulai rutinitas baru dari pada berkutat dengan perasaan sakit dipecat tanpa alasan.
Rea memarkirkan mobilnya di basement mall kemudian naik mencari toko electronic, dia berencana membeli televisi, pendingin ruangan, kulkas dan microwave, tentu dia tidak memikirkan membeli kompor karena ia tidak bisa masak.
Seorang pegawai toko menemani dia mencari barang yang dia butuhkan mengikuti langkah Rea dari belakang yang sedang memilih sebuah lemari pendingin , seorang laki-laki menepuk pundak pegawai toko sambil meletakkan jari telunjuk didepan bibirnya, menyuruh pegawai toko itu pergi, sekarang dia yang mengikuti langkah Rea dari belakang.
"Mas, yang ini ada ga yang warna dark grey atau silver yang agak gelap gitu?" tanya Rea sambil menunjuk sebuah kulkas dua pintu, tidak ada jawaban dari sang pelayan toko Rea berbalik, melihat laki-laki yang bukan pelayan toko melainkan sang pemilik mall berdiri didekatnya dengan senyum menggoda.
"Mas saya nanya kok ga dijawab, gini ya kelakuan Mas sama pembeli?"
Bukan nya terkejut Rea malah memperlakukan Axel layaknya pelayan toko.
Axel hanya tersenyum dia senang meskipun diperlakukan seperti pelayan toko setidaknya gadis itu mau berbicara padanya.
"Ada kak, silahkah ikuti saya!," Axel mempersilahkan Rea tapi gadis itu cuma berkacak pinggang ditempatnya sambil mengehentak-hentakkan sebelah kakinya.
"Katanya mau liat kulkas"
"Kamu ga ada kerjaan ya? sampai buntutin orang kayak gini?"
Axel tidak menjawab pertanyaan Rea, tapi malah menanyakan hal yang lain "apa kamu suka dengan bunga yang aku kirim?"
Axel meminta seorang pelayan mendekat, sambil masih membuntuti Rea.
"Carikan warna grey atau stone!" perintah Axel sambil menunjuk kulkas yang Rea mau.
"Bungamu itu pembawa sial, tidak ada sejam bunga itu aku terima, aku dipecat"
"Apa dipecat? karena bunga yang aku kirim?" tanya Axel terkejut
Rea hanya menggelengkan kepala "sepertinya bukan, aku sendiri juga tidak tau alasannya"
Tanpa sadar seseorang dengan sengaja beberapa kali mengambil foto mereka berdua.
Rea melanjutkan mencari barang yang lain, dia merasa orang-orang disana sedang memandangnya,kemudian menghentikan langkahnya, menyuruh Axel pergi.
"Kamu ngapain sih masih disini sana pergi, bukankah kita terlihat seperti pasangan kalau kayak gini?"
"Kenapa? aku ga masalah," Jawab Axel
"Aku sudah punya kekasih, sebentar lagi aku mau menikah, bagaimana kalau ada yang liat dan berpikir yang tidak-tidak?"
Axel sedikit terkejut dengan kata-kata Rea, ada raut kecewa di wajahnya, bukannya dia tidak tau kalau gadis didepannya sudah punya kekasih, awal dia melihat Rea pun saat itu di club, dan dia melihat Rea berciuman mesra dengan seorang laki-laki, dia pasti tau kalau gadis didepannya sudah punya pacar, tapi pacar lebih mudah putus dan direbut pikir nya, tapi kalau sudah sampai mau menikah beda lagi urusannya.
Akhirnya Axel meninggalkan Rea, gadis itu tidak sadar sudah memukul mundur laki-laki itu, masih melanjutkan memilih barang yang dia cari.
Sementara Axel berjalan keluar untuk kembali bekerja, langkahnya terhenti saat melihat seorang gadis berdiri didepannya, membuat dia merasa semakin kesal.
"Papa sudah melakukan apa yang kamu minta, jadi temui Axel dan minta maaflah, kalau perlu berlutut di kakinya"
Kata-kata itu terngiang ditelinga Selena.
"Minggir!" Axel menyuruh Selena minggir saat gadis itu terdiam memikirkan ucapan papanya.
Axel berlalu begitu saja diikuti beberapa orang yang dari tadi berdiri seperti pengawalnya. Selena masih terdiam,tangannya meremas pinggiran rok yang dia kenakan, berlari mengejar Axel.
"Ayo kita bicara!" ucapnya yang tiba-tiba berhenti tepat didepan Axel, memotong langkah kakinya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan!"
Axel sudah ingin pergi tapi Selena menggenggam lengan tangannya.
"Aku ingin minta maaf," ucap Selena ragu
Axel menghempaskan tangan Selena meninggalkannya begitu saja.
Selena hanya bisa terdiam kesal, banyak mata yang melihat kejadian barusan, membuat gadis itu malu kemudian memilih berlalu untuk pergi meninggalkan mall.