
Rea membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, ia sesekali tersenyum karena senang akan pergi fitting gaun pengantin bersama calon suaminya.
"BRAKKK"
Tiba-tiba seseorang wanita seperti sengaja menyebrang jalan tepat didepan mobilnya, gadis itu menginjak rem tapi terlambat tubuh wanita itu sudah tertabrak, dia kaget setengah mati tangannya terlihat gemetaran memegang kemudi, dia melepas sit belt nya untuk keluar mobil mencoba melihat kondisi wanita yang dia tabrak tadi.
Baru saja tangan Rea akan membuka pintu mobilnya sebuah mobil pick up mendekat ke arahnya dan dengan sengaja menabrak bagian depan mobilnya, gadis yang sudah syok itu semakin terkejut, akibat tabrakan itu badannya terbentur dan tergoncang didalam mobil membuatnya tidak sadarkan diri.
Rea bangun didalam sebuah ruangan, merasa pusing dan sedikit sakit dilengan tangannya, Rea melihat sang mama duduk didekatnya.
"Aku udah tidur berapa lama ma?" tanyanya sambil mencoba bangun dari posisinya.
Lidia sedikit kaget kemudian meminta anaknya untuk berbaring kembali, tapi gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Hampir tiga jam," jawab Lidia.
"Ya Tuhan ma, aku tadi sepertinya menabrak seseorang, tapi saat akan turun untuk melihat kondisi orang yang aku tabrak tiba-tiba mobilku ditabrak dari depan," ceritanya.
Lidia menggigit bibir bawahnya, wanita itu ingin mengatakan sesuatu ke anak gadisnya tetapi pintu kamar terbuka , Arkan terlihat berlari lalu memeluk calon istrinya.
"Kamu ga kenapa-napa kan sayang?" tanyanya cemas.
"Hem.. gapapa cuma masih sedikit pusing,"
Rea melepas pelukannya dari Arkan.
"Sayang sepertinya aku tadi menabrak seorang wanita."
Gadis itu menatap mamanya dan Arkan bergantian dengan mimik wajah bingung, sementara Lidia dan Arkan hanya saling melempar pandang.
❤❤❤❤❤
Diruangan lain seorang gadis menangis meraung-raung karena dia berkata kakinya lemas dan tidak bisa digerakkan sama sekali, terlihat beberapa dokter dan mamanya mencoba menenangkan dirinya.
"Aku lumpuh, aku ga bisa berdiri bahkan aku tidak bisa merasakan kakiku sendiri." racaunya.
Dokter dan perawat terlihat bingung karena dari hasil pemeriksaan MRI gadis itu tidak mengalami cidera ditulang belakang atau saraf sama sekali.
"Tenanglah nona, coba anda tenang!" perintah dokter.
"Mama, aku ingin orang yang menabrakku dijebloskan ke dalam penjara, aku tidak bisa menerima akibat dari perbuatannya ini," teriak gadis itu sambil memukul-mukul ranjang pasiennya.
"Iya Selin, tenang mama akan mengurus semuanya," ucap wanita itu sambil memanggil ajudannya.
"Laporkan peristiwa yang menimpa nona Selena ke polisi, dan aku ingin orang yang menabraknya masuk penjara malam ini juga," ucap wanita itu.
Sang ajudan berlari keluar ruangan setelah mendengar perintah dari majikannya, senyum licik terlihat dari bibir Selena.
Rea menggigit ujung kukunya cemas, bagaimana mungkin Selena adalah wanita yang dia tabrak.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rea ke Arkan.
Laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak ingin membesuk Selena meskipun tau dimana gadis itu dirawat.
Tiba-tiba Axel masuk kedalam kamar Rea, tetapi tangannya seperti sedang menahan seseorang untuk masuk, terlihat beberapa orang berbadan tegap memakai jaket hitam masuk kedalam.
"Andreadina Bumi Pradipta anda harus ikut kami kekantor polisi karena anda diduga menjadi tersangka kasus kecelakaan yang menyebabkan korban sampai mengalami cidera permanen," ucap laki-laki yang kemudian mereka ketahui adalah seorang polisi.
"Apa? apa maksud anda pak? saya mengemudikan mobil dengan pelan, bagaimana mungkin saya sampai membuat orang cidera permanen?"ucap Rea tidak percaya.
"Bapak seharusnya mencari mobil pick up yang dengan sengaja menabrak mobil saya," lanjutnya.
Polisi itu bergeming , dua orang mendekat dan meraih tangan gadis itu, sontak Axel dan Arkan berusaha mencegahnya.
"Anda berdua juga bisa kami tangkap karena berusaha menghalangi proses penyelidikan," ucap polisi itu.
Lidia yang dari tadi melihat adegan didepannya sudah lemas dan terduduk disofa. Akhirnya mereka merelakan gadis itu digelandang ke kantor polisi.
"Sepertinya semua ini jebakan dan sudah direncanakan," ucap Axel.
Arkan menggenggam tangannya geram, dadanya terasa sesak menahan amarahnya.
"Tolong temani Rea disini, ada orang yang harus aku temui,"pintanya ke Axel.
Arkan pergi meninggalkan kantor polisi, kembali kerumah sakit dan menemui Selena dikamar inapnya.
"Apa kamu menjebak Rea?" tanya laki-laki itu dengan nada marah.
"Maksudmu apa? lihat siapa yang sekarang paling menderita? aku bahkan tidak bisa jalan, gadis itu masih banyak laki-laki yang mau menikahinya tapi aku siapa yang mau menikahi gadis yang tidak bisa berjalan sepertiku," Selena menangis terisak.
"Kamu bahkan tidak terlihat terluka parah, bagaimana mungkin sampai kamu tidak bisa jalan."
"Teganya kamu bicara seperti itu," ucap ibunda selena marah kemudian berdiri didepan Arkan, memaki laki-laki itu.
"Pacarmu itu sudah menghancurkan masa depan anakku, aku akan pastikan dia menderita dipenjara," ancamnya.
"Apa anda juga bersekongkol dengan anak anda untuk melakukan perbuatan ini ke calon istri saya?" tanya Arkan dengan nada yang mulai meninggi.
"Apa maksudmu? aku tidak mengerti sama sekali dengan ucapanmu, anak kesayanganku sudah seperti ini masih kamu tuduh yang tidak-tidak, keluar dari sini!" teriak bu Gubernur.
Wanita itu kemudian memanggil ajudannya untuk mengusir Arkan keluar dari ruang perawatan anaknya.
Sementara Axel yang berusaha bernegosiasi dengan pihak polisi gagal, malam itu juga adik tirinya dimasukkan ke sel sementara yang berisi beberapa tahanan wanita juga. Rea sedikit takut kemudian meringsek duduk disudut ruangan sel itu.
Seseorang datang memanggil wanita yang juga berada didalam sel itu, membisikkan sesuatu ketelinganya, entah apa yang Ia katakan yang pasti setelah orang itu pergi tahanan wanita itu mulai mencoba membuli Rea.
"Eh orang baru, loe masuk penjara karena nyoba bunuh anak orang ya?"
Rea bergeming.
"Loe bisu ya? kenapa ga mau jawab?"
Rea memalingkan wajahnya tiba-tiba sebuah tamparan mendarat dipipi mulusnya, matanya terbelalak merasa kesal. Wanita itu tidak sadar kalau gadis didepannya bukan gadis biasa, Rea membalas menampar wajah wanita itu, sontak wanita itu kaget dan tak terima, akhirnya mereka saling pukul dan cakar didalam sel, membuat petugas sampai harus turun tangan melerai mereka, Axel ikut bingung apalagi melihat luka didahi dan diujung bibir adik tirinya.
Arkan datang kembali kekantor polisi melihat kekasihnya penuh luka di wajahnya, hati laki-laki itu merasa teriris, dan memohon kepada polisi untuk memisah sel gadis yang dicintainya itu dengan tahanan lain.
"Aku pengen keluar dari sini sayang, aku takut." ucap Rea.
Arkan hanya bisa menggenggam tangan gadis itu erat.
"Aku akan segera mengeluarkan kamu dari sini, aku janji besok pagi kamu akan sudah bisa bebas dari sini," janji Arkan ke Rea.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Jangan Lupa LIKE 👍 KOMEN 💋 dan VOTE 😘