Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 113


Sudah seminggu Noah dirawat di rumah sakit bahkan sekarang masuk ke ruang ICU, dan selama itu juga tak ada sedikitpun tanda-tanda kondisi anak itu berangsur membaik.


Rea setiap hari harus mondar-mandir dari rumah sakit ke rumah sang mertua untuk mengurus Noah, Bening dan Embun, meskipun sudah ada Laras dan Lidia yang secara bergantian membantunya menjaga Noah, gadis itu seolah tak ingin melewatkan satu hari pun untuk tidak melihat kondisi sang anak laki-laki.


Gurat kelelahan nampak jelas di wajah Rea, berat badannya turun drastis karena memikirkan kondisi Noah, bahkan karena stress produksi ASInya pun menurun,namun dia tetap bertekad memberikan kedua bayinya Asi sampai dua tahun.


"Hei, apa sudah makan?"


Axel berjongkong didepan Rea, memandang wajah gadis yang terlihat menunduk dan sangat lelah itu.


"Kapan kamu datang Ax?"


"Baru saja, aku tadi ke rumah om Andi untuk melihat Embun dan Bening, pengasuh Embun berkata kalau kamu sudah berangkat ke rumah sakit pagi-pagi."


"Maaf Ax, bukan maksudku mengabaikan Embun atau ___,"


"Stttttt, aku ga mikir kayak gitu Re, aku tau kondisi kamu, Embun baik-baik saja aku lihat dia semakin gembul." Axel tertawa mencoba mengajak gadis itu bercanda.


"Dia memang lebih montok dari Bening." Rea mengulas senyum di bibirnya.


Arkan yang baru saja kembali dari ruang dokter terlihat lemas, Rea sudah bisa menebak apa yang membuat suaminya seperti itu, pasti permintaan mereka untuk membawa Noah pindah ke rumah sakit ke luar negeri ditolak oleh dokter.


"Dokter bilang tidak mungkin untuk melakukannya," lirih Arkan yang tentu saja disambut dengan ekspresi kekecewaan dari istrinya.


Axel hanya bisa menepuk pundak laki-laki itu untuk menunjukkan rasa empatinya.


Belum habis rasa kecewa mereka, tiba-tiba Laras keluar dari kamar Noah berteriak memanggil suster sambil menangis, dokter dan perawat pun berhamburan masuk kedalam ruang ICU dan menutup semua korden kamar.


Selang lima belas menit dokter keluar dan terlihat putus asa, membuat semua orang disana bingung dan bertanya-tanya.


"Bapak Ibu, saya mohon maaf untuk sekarang hanya keajaiban Tuhanlah yang bisa membantu kesembuhan Noah, saya bisa berkata bahwa hidup Noah sudah tergantung dari support alat-alat medis yang menempel di tubuhnya, untuk itu saya mohon jika orang tuanya ikhlas, kita bisa melepas semua alat bantu medis dan merelakan Noah pergi dengan tenang."


Bak di sambar petir untuk kesekian kalinya, Rea merasa kepalanya berputar, tubuhnya limbung, hampir saja ia jatuh terduduk di lantai dingin rumah sakit jika saja Axel tidak membantu memegang kedua lengan tangannya.


Laras terlihat menangis sambil memeluk Arkan, sementara Rea hanya terdiam seperti orang yang kehilangan kesadaran.


Sehari setelah pernyataan dokter tentang keadaan Noah, di dalam ruang kerja Andi semua orang terdiam, air mata mereka seolah sudah habis terkuras, apa yang mereka bahas membuat Rea berdiri dari sofa dan ingin pergi dari sana.


Dokter berkata dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam bahwa alat bantu untuk pasien dibagi menjadi tiga dari support minimal, medium dan maksimal, untuk keadaan Noah, anak itu sudah di bantu dengan maksimal support agar terus bertahan.


"Noah masih hidup, kenapa kalian ingin melepaskan semua alatnya?" ucap Rea dengan nada bergetar.


"Sayang, apa kamu tidak dengar penjelasan dokter?"


"Dokter bukan Tuhan, Noah pasti bangun, jika tidak bisa membawa dia untuk berobat ke luar negeri, maka aku akan membawa dokternya kemari."


"Re, Noah pasti sangat sakit, ikhlaskan dia agar anak itu bisa pergi dengan tenang." Andi coba menasihati sang menantu.


Rea yang tak menyangka Andi mengucapkan kalimat seperti itu menatap Laras seolah meminta pembelaan, namun sayang mama mertuanya ternyata lebih mendukung pendapat sang anak dan suami.


"Kalian benar-benar kejam!"


Rea pergi dari ruangan kerja Andi, ia menuju kamar Bening dan Embun hanya untuk melihat kedua bayinya dan meninggalkan pesan kepada sang pengasuh, gadis itu lalu pergi ke rumah sakit untuk menjaga Noah lagi.


"Kamu harus memutuskan Ar, kamu ayah kandungnya," ucap Andi.


***


Sudah tiga minggu berlalu dan keadaan Noah masih tidak ada perubahan, anak itu terbaring seolah tertidur nyenyak.


Mendengar permintaan sang suami Rea langsung bangun dan keluar dari kamar rawat Noah.


"Kamu tega banget ngomong kayak gitu, kamu tau? tiga minggu yang lalu Noah ga kenapa-kenapa, dia masih ceria, dia bahkan bilang menyayangi aku, dia bahkan melompat kegirangan saat aku berkata akan mengantarnya lagi ke sekolah, jangan meminta hal yang tidak masuk akal, merelakannya? siapa ibu yang rela anaknya direnggut paksa?"


Rea yang marah meninggalkan Arkan begitu saja, laki-laki itu hanya bisa terdiam lalu terduduk lemas di kursi tunggu.


Elang yang datang bersama Kinanti melihat Rea yang berjalan pergi dengan muka merah menahan emosi, Elang berusaha mengejar sang adik, sementara Ken memilih mendekat ke arah Arkan.


"Memang berat mengambil keputusan untuk melepaskan alat bantu pasien Ar, sebuah hal yang sangat menyakitkan untuk diputuskan oleh pihak keluarga." Ken menepuk pundak Arkan, mencoba untuk memberi semangat ke laki-laki itu.


"Aku bingung Ken, aku tidak ingin melihat Noah lama-lama seperti itu, tapi aku juga tidak ingin melukai Rea, dia masih sangat berharap anak itu bisa bangun."


Arkan menangis dan Ken hanya bisa menepuk-nepuk pundak calon adik iparnya, sementara Rea juga hanya bisa terus menangis dipelukan Elang, ia membenamkan kepalanya di dada sang kakak, tangisannya sampai membuat kedua pundaknya bergetar bertanda begitu dalam rasa sakit yang sedang dia tahan.


Rea kembali ke kamar Noah, sebuah tanda tanya besar muncul di kepalanya saat melihat sosok wanita asing berdiri di depan kamar ICU anaknya, wanita yang sedang berbicara dengan suaminya itu juga terlihat sangat emosional.


Kinanti yang melihat calon adik iparnya berjalan mendekat terlihat begitu khawatir, gadis itu memberi kode kepada Elang untuk mengajak Rea pergi dari sana, namun sayang kekasihnya itu tidak mengerti dengan kode yang dia buat.


"Siapa dia?"


Pertanyaan Rea yang secara tiba-tiba membuat Arkan kaget.


"Dia ibu kandung Noah." Arkan memandang sang istri dengan ekspresi datar.


Samantha mengusap air matanya lalu mengulurkan tangannya ke Rea, tentu saja bukan sambutan ramah yang diterima oleh wanita itu.


"Mau apa dia ke sini?"


Pertanyaan itu dilontarkan Rea ke sang suami, namun matanya tajam memandang ke arah wanita yang tak sudi ia sambut uluran tangannya.


"Dia yang memilih membawa Noah ke dunia, jadi jika Noah harus pergi dia lah yang paling berhak memutuskan," lirih Arkan.


Tatapan tajam Rea beralih ke sang suami.


"Loe gila!"


Rea menangis lagi sambil memukul dada suaminya berkali-kali penuh emosi, sementara Sam beranjak masuk ke dalam ruang ICU Noah, melihat hal itu Rea langsung menarik lengan tangan Sam untuk mencegahnya masuk.


"What the hell are you doing? Don't you dare to go inside or I will kill you!"


"Apa yang coba kamu lakukan? jangan berani masuk ke dalam atau aku akan membunuhmu!" ancam Rea.


Samantha menggenggam tangan Rea, air mata sudah banjir membasahi kedua pipinya. Ia kemudian merosot bersimpuh di bawah kaki gadis itu.


"Please! I wanna to see my kid, please I beg you!"


"Tolong! aku ingin melihat anakku, tolong!" Sam memohon sampai mengemis ke Rea.


"Didn't my husband give you money? Why did you come now and act like you cared 'bout Noah?"


"Bukankah suamiku sudah memberikan uang kepadamu? untuk apa kamu datang sekarang dan berakting seolah perduli kepada Noah?" jerit Rea.


Arkan yang mendengar ucapan sang istri terlihat begitu terkejut, tak terkecuali Elang dan Kinanti yang hanya bisa terdiam melihat adegan emosional di depan mata mereka.


Rea masih terus menahan Sam masuk ke dalam, membuat Arkan memilih untuk menarik lengan tangan istrinya menjauh dari sana.