Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 127


Bening dan Embun terlihat begitu menikmati pure pisang yang dibuatkan Rea sebagai MPASI pertama mereka, dua bayi manis itu dengan semangat membuka mulut, bahkan Bening terlihat sangat tidak sabar sampai menjerit saat sang papa masih sibuk menyendok makanan dari mangkoknya.


Merasa kepayahan, Arkan memilih mundur. Ia memberikan mangkok pure Bening ke sang pengasuh, laki-laki itu lantas menyambar ponselnya untuk mengambil beberapa foto Bening dan Embun, mengirimkan foto momen makan pertama sang anak ke orang-orang terdekatnya.


Selesai menyuapi puterinya Rea meminta ijin Arkan untuk keluar sebentar, bertemu dengan Mia untuk membicarakan masalah bisnisnya menjadi alasan yang gadis itu pilih. Tentu saja sang suami sempat menawarkan untuk mengantarnya tapi jelas Rea tolak karena tujuan sebenarnya bukan untuk bertemu dengan Mia.


Dengan memacu mobilnya sedikit kencang Rea bergegas ke rumah sakit untuk melihat kondisi Axel, bahkan ia sedikit berlari saat berada di koridor, seolah merasa waktu yang ada untuk bertemu laki-laki itu sungguh berharga.


Kaget, Rea berpapasan dengan seorang laki-laki saat akan masuk ke dalam kamar rawat inap Axel. Johan laki-laki itu sedikit menunduk memberi salam kepadanya, tanpa menaruh curiga gadis itu membalas dengan sebuah senyuman, setelah agak jauh berjalan dari kamar atasannya Johan berbalik menatap Rea yang masuk dan buru-buru menutup pintu.


"Apa kamu sudah baik-baik saja?" cemas, Rea melemparkan tasnya begitu saja ke sofa, mendekat ke arah Axel yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang pasiennya.


Laki-laki itu tersenyum meskipun masih sedikit pucat Ax berkata dirinya baik-baik saja.


"Apa Embun menghabiskan makanan pertamanya?"


"Darimana kamu tahu?"


"Arkan mengirim fotonya kepadaku."


Mengehela napas, Rea menatap sarapan Axel yang masih utuh di atas meja.


"Kenapa belum makan?"


Rea sudah hampir berjalan mengambil makanan untuk kekasihnya, tetapi laki-laki itu tiba-tiba mencekal tangannya.


"Ada apa?" tanya Rea heran, "Ax aku hanya punya waktu tiga jam, Mas Arkan hari ini tidak berangkat kerja jadi aku tidak bisa lama-lama keluar rumah."


"Jawab aku Re! apa kamu mencintaiku?" tatapan Axel benar-benar tajam menusuk ke dalam mata gadis itu.


Diam, lama-kelamaan Ax memilih melepaskan tangannya dari gadis itu, rasa kecewa jelas nampak dari wajahnya, tapi meski demikian bibirnya masih saja bisa menerbitkan senyum meskipun jelas terpaksa.


"Re, aku...,"


Terbungkam, dengan kedua tangannya Rea meraup pipi Axel mencium bibir laki-laki itu bahkan **********.


"Aku mencintaimu, tapi aku juga mencintai Mas Arkan," lirihnya.


Rea menjauhkan wajahnya dari kekasih gelapnya itu, tapi hanya dalam hitungan detik Ax sudah menahan kepala Rea dengan sebelah tangannya yang tidak terpasang selang infus, mencium bibir gadis itu sambil memejamkan matanya.


"Aku akan membuatmu menjadi milikku Re, menjadi milikku," bisik Ax dalam hati.


***


Sementara Rea sibuk memberi perhatiannya ke Axel, Arkan kebingungan karena kedua kaki Bening tiba-tiba mengeluarkan banyak bintik-bintik merah seperti gigitan nyamuk. Teramat khawatir laki-laki itu langsung membawa anaknya ke rumah sakit dimana sang dokter anak Bening sedang bertugas.


"Aku tidak bisa lama-lama menemanimu, mungkin besok aku bisa lebih pagi kesini, apa kamu benar tidak ingin mama dan papa tahu kondisimu? apa tidak apa-apa aku tinggal pulang lagi?"


Ax tersenyum mendapati gadis yang dicintainya itu begitu mengkhawtirkan keadaannya." Tenang saja, kata dokter jika luka bekas operasinya tidak ada masalah dua hari lagi aku sudah boleh pulang."


"Jaga diri baik-baik, oke! telpon atau kabari aku kalau butuh sesuatu, meskipun aku tidak bisa berjanji akan segera lari kesini saat kamu memintanya," ucap Rea.


Kekasihnya itu tersenyum, meskipun dengan berat hati, lama-kelamaan Axel melepaskan tangannya yang dari tadi ia gunakan untuk menggenggam erat tangan Rea.


Saat menuju bagian lobby rumah sakit Rea terkejut melihat sang suami yang sedang berdiri di meja kasir rumah sakit. Panik, Rea menghambur tanpa berpikir apakah sang suami akan menanyakan alasan keberadaan dirinya disana.


"Sayang, ada apa?"


"Hei, kenapa ada disini?" Arkan terkejut mendapati istrinya disana dan menyapa dirinya.


"Aku menengok seorang teman yang sakit," dusta Rea.


"Bukannya kamu pergi bertemu Mia?"


"Aku panik karena tiba-tiba kaki Bening muncul bintik-bintik merah," ucap Arkan yang ternyata sudah berada di samping sang istri.


Rea meraih kaki anaknya, melihat kedua betis Bening yang memang penuh bintik merah. "Lalu apa yang dokter katakan?"


"Dokter bilang tidak apa-apa asal Bening tidak demam, mungkin imun tubuhnya tadi merespon makanan yang masuk ke tubuhnya sebagai sesuatu yang asing."


Rea merasa lega, mendekap erat Bening ke dalam pelukannya, menciumi kening bayinya bertubi-tubi.


***


Farhan terdiam, membiarkan calon menantunya membawa anaknya dengan Selomita pergi bermain di luar rumah, sementara di depannya Elang sudah sangat terlihat kesal. Ayahnya itu menolak memberi penjelasan setelah datang dari perjalanan bisnisnya dan baru sekarang berniat memberitahu kebenarannya ke sang anak.


"Apa perlu Rea juga mendengar penjelasan ayah?" kesal, Elang sampai sedikit ketus berbicara pada sang ayah.


Farhan terdiam, ia sedikit takut juga melihat sang anak yang sedang dalam kondisi tidak baik itu, "Tidak perlu, kamu bisa menceritakannya ke adikmu nanti."


"Kalau begitu aku menunggu penjelasan dari ayah." bersedekap, Elang terlihat menajamkan matanya menatap Farhan.


"Ayah dan Selomita sudah menjalin hubungan sejak sepuluh tahun yang lalu, tapi ayah memang menyembunyikan wanita itu demi karirnya yang tengah naik sebagai seorang artis."


Elang membelalak kaget, "Sepuluh tahun yang lalu? artinya saat ayah belum bercerai dengan tante Lidia?"


Farhan mengganggukkan kepalanya, "Benar, semenjak Selo berumur dua puluh tahun."


"Ya Tuhan, berarti ayah berselingkuh dari tante Lidia?"


"Kamu tahu sendiri kan saat itu ayah sudah tidak memiliki hubungan layaknya suami Istri dengan Lidia? malah jauh sebelum itu, jadi meskipun belum bercerai ayah memang sudah tidak menganggap Lidia istri," bantah Farhan.


"Lantas kenapa tiba-tiba wanita itu marah dan meninggalkan anaknya begitu saja?"


"Karena dia mendapati Ayah berselingkuh dengan wanita lain, dan dia memaksa ayah untuk menikahinya secara resmi."


"Ayah selingkuh lagi? astaga ayah, aku tidak habis pikir." Elang memegangi kepalanya karena tiba-tiba merasa pusing.


"Tenang saja ayah akan membereskan urusan ayah dengan Selo, untuk Gema ayah akan mencarikan dia seorang pengasuh." Farhan berdiri dari kursinya, meninggalkan anak sulungnya yang terlihat syok mendengar penjelasan ayahnya.


Elang hanya bisa terdiam, masih mencoba mencerna penjelasan yang baru saja sang ayah berikan.


-


-


-


-


-


Q : Tanya


A : jawab


Q : " Oh gue tau Na, si Rea keturunan bapaknya tukang selingkuh."


A : " Hem....mungkin."


Q : "Eh kapan loe bakal buat Rea sadar? di bab ini dia nyosor aja ke Axel, Astaga ga ada ahklak!"


A : " Sabar ya, Next part panas hihihihihi dan maaf jika terpotek hati kalian yang dukung babang A."


Terima kasih ya guys jangan lupa tetep dukung Na dengan Like , Komen dan Vote 😍