Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 42


Hari itu di sebuah ruang meeting beberapa orang terlihat menunduk tak terkecuali Arkan, dia tau kalau Elang akan mengambil alih salah satu perusahaan Farhan, tapi ia tidak menyangka kalau calon kakak Iparnya itu memilih perusahaan tempatnya bekerja, dan sekarang menjadi direktur utama disana, dan lagi laki-laki itu sedang marah melihat kondisi perusahaan, sial bagi Arkan dia masuk kesana tanpa mempelajari dulu kondisi perusahaan yang ternyata sedang dalam kondisi yang tidak baik, mungkin ini salah satu kekurangannya dibanding Elang, dia kurang teliti dan cermat.


Namun bukankan harus disadari oleh Arkan semua pekerjaan pasti memiliki tanggung jawab sesuai dengan porsi gaji yang diterima setiap bulan. Seorang staff biasa dengan gaji 10 juta perbulan tidak mungkin bisa dibandingkan dengan gaji general manager yang hampir menembus angka 100juta tiap bulan, jadi Arkan tau apapun yang akan dikatakan atau diminta kakak iparnya sebagai CEO dia harus melakukannya, profesionalisme dalam pekerjaan harus diutamakan.


"Buat janji dengan orang pemerintah daerah, akomodasi apa yang mereka mau!" perintah Elang.


"Tapi pak, mengakomodasi permintaan mereka tidak akan menyelesaikan masalah," ucap Arkan.


"Apa kamu sudah mencoba?" sontak pertanyaan Elang membuat Arkan terdiam.


"Segera selesaikan sebelum awal bulan!" perintahnya lagi sebelum beranjak pergi dari ruangan.


Semua orang hanya terdiam, bahkan awal bulan tinggal empat hari lagi.


Arkan mengehela napas dan menyandarkan punggungnya dikursi, untuk beberapa hari dia pasti akan sibuk.


Sementara disebuah Rumah sakit seorang dokter muda tengah berlari menuju kamar pasien VVIP yang hendak melahirkan, wanita itu berteriak ke arah dokter.


"Dokter Ken, anda berbohong katanya tidak akan sakit, tapi rasanya sakit sekali," ucap wanita itu.


Kinanti hanya tersenyum kemudian mendekat ke arah pasiennya sambil memberi usapan lembut dipinggang dan pinggul wanita itu.


"Dimana birthing ball anda? bukannya saya sudah bilang benda itu wajib anda bawa saat terjadi kontraksi, agar anda bisa duduk disana sambil mengatur napas dan rileks," ucapnya sambil menyuruh seorang perawat mengambilkan birthing ball yang ada dirumah sakit.


"Saya tidak kepikiran membawanya dok, sepertinya saya tidak sanggup lagi, tolong minta suami saya menandatangani ijin untuk tindakan operasi sesar," pinta wanita itu.


Ken melihat kearah suami wanita itu, pria itu terlihat menganggukkan kepalanya.


"Baik, saya akan meminta perawat menyiapkan berkasnya," Ken tersenyum kemudian meninggalkan wanita itu.


Kinanti, gadis cantik itu sekarang sudah menjadi dokter spesialis kandungan disebuah rumah sakit ternama bahkan sudah menyandang gelar K dibelakang namanya, dokter muda itu terkenal diantara pasangan suami istri yang ingin segara memiliki momongan, karena saran dan diagnosanya kepada pasien selalu tepat.


Ken bersiap melakukan tindakan operasi sesar ke wanita tadi yang merupakan istri dari seorang anggota dewan, dia sempatkan menuju ruangannya dan menghampiri beberapa pasiennya yang sedang duduk menunggu mengantri urutan cek up ataupun konsultasi kehamilan, meminta maaf mungkin satu sampai dua jam jawdal praktinya dirumah sakit itu mundur, pasiennya terlihat sedikit kecewa karena harus menunggu beberapa jam lagi, sementara untuk pulang dan mengganti di hari lain mereka tau akan lebih susah, karena untuk bisa periksa atau konsultasi dengan seorang dokter Kinanti, SpOG (K) mereka harus rela mendaftar satu bulan sebelum hari praktik sang dokter.


Kinanti menghela napasnya panjang setelah melakukan operasi sesar dan menyelesaikan pemeriksaan dan konsultasi 20 Pasiennya hari ini, gadis itu memandang foto masa kecilnya yang tengah diapit kedua orang tua angkatnya, ibu yang mengadopsinya meninggal satu tahun setelah mengangkat dirinya menjadi anak karena penyakit kanker rahim yang ia derita, semenjak mengetahui kebenaran itu Kinanti memutuskan ingin menjadi seorang dokter spesialis kandungan.


Pintu ruangannya diketuk, seorang laki-laki tampan berkulit putih dengan jas snelli seperti yang Kinanti gunakan masuk kedalam ruangan itu.


"Dok saya beberapa hari ini rasanya mual, kepala saya juga pusing, saya tidak mungkin hamil kan? Karena saya seorang laki-laki, lalu saya sadar kalau ternyata saya sudah tiga hari tidak ketemu dokter," ucap dokter Ranu.


Gadis itu hanya tersenyum manis ke dokter bedah didepannya, laki-laki yang tergila-gila kepadanya sejak pertama kali dia datang ke rumah sakit ini empat bulan lalu, tapi hubungan mereka masih sebatas teman, Kinanti belum memberikan jawaban atas perasaan Ranu kepadanya.


"Mending kita keluar makan aja yuk, aku lapar banget," ucap Kinanti sambil melepas jas putih miliknya.


Laki-laki itu tersenyum kemudian keluar dari ruangan Kinanti, mengedipkan sebelah matanya ke arah perawat didepan yang tadi memberitahunya kalau dokter Ken sudah selesai praktik.


Mereka makan disebuah warung kaki lima didepan rumah sakit, Ranu heran melihat Ken yang seorang dokter mau makan ditempat seperti ini, bukankah tidak higienis pikirnya.


"Soto disini enak," ucap Ken seolah tau apa yang ada dipikiran laki-laki itu.


Ranu hanya tersenyum kemudian ikut makan seperti yang Ken lakukan.


"Lagi pula aku ingin berhemat, aku ingin membeli sebuah mobil tanpa mencicil," ceritanya lagi.


"Lagian kenapa sih kamu seneng banget berangkat pulang kerja naik ojek," tanya Ranu heran "kan aku bisa antar jemput kamu" lanjutnya.


"Biar bisa ngasih abang ojeknya rejeki," jawab Ken sambil mengunyah makanannya.


"Lagian kontrakanku kan dekat," lanjutnya.


"Kalau dekat kenapa malah ingin beli mobil, harusnya kan beli rumah aja," tanya laki-laki itu penasaran.


"Makanya aku ingin membeli mobil tanpa mencicil, karena aku sudah punya cicilan rumah, jadi saat punya mobil aku akan pindah kerumah itu," cerita Ken.


"Wah... hebat sekali dokter Ken memang luar biasa, makanya aku suka banget sama kamu, kalau kamu jadi istriku aku tidak perlu pusing membelikan rumah untukmu," canda Ranu.


Kinanti melirik ke arah Ranu sambil tersenyum, merasa cowok disampingnya sangat baik, ia ingin segera menerima perasaan laki-laki itu, tapi ia masih takut karena ibunda Ranu terkenal suka pilih-pilih calon menantu, dan gadis yang dekat dengan anaknya harus lolos screaning kriteria ibundanya, mungkin karena itu diusinya yang menginjak 32 tahun laki-laki itu belum juga menikah, Ken tau dia bisa membanggakan dirinya didepan ibunda Ranu dengan statusnya yang juga seorang dokter, tapi dia tidak yakin akan mendapat restu jika wanita itu tau kalau dia hanyalah anak adopsi dari panti asuhan.


Ditempat lain Selena terdiam didepan pelayannya, Karmila mendapat pekerjaan untuk menjaga gadis itu karena orang tuanya merasa anaknya butuh pengawasan ekstra, dimana dia beberapa kali mencoba melakukan hal-hal diluar nalar manusia pada umumnya, setelah meminum obat tidur dalam jumlah yang banyak, dia kembali ingin mengakhiri hidupnya dengan menyayat pergelangan tangannya sendiri, dan pada akhirnya sang papa menuruti apa permintaan anak gadisnya yaitu membuat Rea dipecat dari pekerjaannya.


Namun sepertinya gadis itu belum puas jika belum mendapatkan apa yang dia mau, yang ia inginkan adalah laki-laki yang sangat mencintai Rea, siapa lagi kalau bukan Arkan, saat mengetahui pelayannya kenal dengan orang yang sangat dia benci, Selena mencoba menggali informasi dari Karmila, tapi gadis itu hanya terdiam tidak menjawab detail pertanyaan yang nonanya ajukan, dia hanya berkata mengenal Rea karena dulu adik kelasnya tidak lebih dari itu.


Akhirnya Selena meminta Karmila keluar dari ruangannya, gadis itu mulai memikirkan lagi cara untuk memisahkan Rea dan Arkan.