Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 81


Seorang laki-laki berbaju hitam terlihat membuntuti Arkan sejak dari Bandara, mengikuti dirinya sampai dikota tujuannya. Bahkan saat memasuki sebuah hotel laki-laki itu meminta kamar yang bersebelahan dengan kamar Arkan.


Rea mengikuti kelas memasaknya siang itu dengan setengah hati, pikirannya melayang mencari alasan yang masuk akal untuk apa Arkan berbohong kepadanya pergi keluar kota. Rea memilih undur diri lebih dulu dari kelasnya, mengambil tasnya di locker kemudian mengecek ponselnya, ia sedikit cemas melihat sebuah pesan dari orang yang dia bayar untuk mengikuti suaminya.


"Suami anda bertemu dengan seorang wanita."


Pesan yang Rea baca membuat tangannya gemetar. Apalagi melihat foto Arkan yang sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita yang terlihat masih muda.


Langkahnya gontai menuju mobilnya di parkiran, ia tidak tahu harus berbuat apa. Rea mencoba menelpon Arkan tapi suaminya itu sama sekali tidak mengangkat telponnya.


Gadis itu memutuskan pergi kerumah sang mertua, Laras tau bahwa anaknya sedang pergi keluar kota, berpikir itulah alasan kenapa menantunya menemui dirinya. Mereka sedang duduk diruang makan sambil menikmati buah yang Rea bawa.


"Apa kamu mau menginap disini malam ini?" tanya Laras.


Rea hanya menggerakkan kepalanya "Tidak ma, aku mau menginap di tempat papa Jordan, sudah beberapa hari aku tidak bertemu Ale."


"Wajahmu kenapa pucat? Apa perutmu masih sakit?" Laras terlihat cemas.


"Rea baik-baik aja, oh ya Ma, apa mobil Mas Arkan disini?"


Rea menanyakan mobil sport yang dia berikan sebagai hadiah ulang tahun untuk Arkan sebelum menjadi suaminya.


"Bukannya sudah Arkan bawa pulang kerumah kalian?"


Rea terdiam mendengar jawaban sang mertua, ia masih mencoba berpikir positif tapi sekarang pikirannya menjadi benar-benar negatif, karena mobil itu tidak berada dirumahnya juga.


"Kenapa Re? Apa ada masalah, kalau ada apa-apa kamu bisa cerita ke mama," ucap Laras melihat wajah menantunya yang nampak berbeda.


Rea memilih tersenyum untuk menutupi apa yang sebenarnya sedang dia rasakan "Ini belum satu hari, tapi aku sudah rindu mas Arkan," ucapnya.


Laras tertawa sambil menyodorkan sepiring apel yang sudah ia potong ke menantunya "Dasar pengantin baru," selorohnya.


❤❤❤❤❤


Malam harinya Rea pergi kerumah Jordan, ia menekan bel pintu dan hanya sang pembantu yang menyambutnya.


"Kok sepi bi? pada kemana?"


"Mba Rea apa tidak telpon Bu Lidia dulu pas mau kesini? pak Jordan, bu Lidia sama mas Ale sedang ke luar negeri, kata bu Lidia urusan pekerjaan tapi sekalian ingin liburan," cerita sang pembantu.


Rea menggelengkan kepala karena mamanya memang tidak cerita, lagipula dia sudah terbiasa datang kesana tanpa pemberitahuan.


"Tapi syukurlah Mba Rea kesini,apa saya bisa minta tolong?" tanya wanita paruh baya itu.


"Tolong apa Bi?"


"Suami saya sedang sakit mba, anak saya bilang suami saya harus diopname, tapi Mas Axel lupa bawa kunci, apa bisa saya minta tolong mba Rea untuk menunggu sampai Mas Axel pulang? Paling sebentar lagi pulang," pinta pembantu Lidia.


Rea yang merasa iba mengiyakan permintaan wanita itu, setelah melihat pembantu mamanya pergi ia lalu mengunci pintu rumah.


Rea masuk kedalam menonton TV diruang keluarga melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam tapi Axel belum juga pulang, karena merasa tidak nyaman dengan baju yang ia kenakan Rea memilih berganti dengan piyama miliknya yang memang dia tinggal disana.


Gadis itu duduk diujung ranjang untuk menelpon Axel, dia ingin segera pulang kerumahnya karena tidak mungkin lagi untuknya menginap tanpa orang lain disana. Rea mencoba berkali-kali tapi kakak tirinya itu tidak mengangkat, akhirnya Axel menjawab setelah Rea mencoba lima kali menelponnya.


Suara parau laki-laki itu membuat Rea menerka bahwa Axel tengah mabuk. Rea meminta kakaknya itu untuk segera pulang kerumah.


"Apa mau aku bantu?" tanya Rea yang hampir meraih tangan laki-laki itu, tapi Axel dengan kasar menepisnya.


Rea hanya terdiam, mengikuti Axel yang menaiki anak tangga dari belakang. Gadis itu kemudian beranjak masuk kekamarnya untuk berganti baju dan segera pulang. Namun, saat akan membuka pintu tangannya dicekal, Axel menaikkan sebelah tangan Rea tepat disamping kepalanya. Ia terkejut, jantungnya berdetak tak karuan, nalurinya berkata sesuatu yang buruk akan terjadi.


Benar saja, Axel menariknya kedalam dengan kasar.


"Aku masih tidak bisa untuk tidak mencintaimu, aku masih tidak bisa merelakanmu untuk laki-laki lain," racaunya.


"Lepas Ax! kamu mabuk, keluar dari kamarku!"


Rea mendorong tubuh Axel, tapi tubuh kekar itu tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat mencintamu Re, aku sudah berusaha melupakanmu tapi tetap tidak bisa." Axel mencengkeram pundak Rea lalu menggoncangnya.


Rea berontak, ingin melepaskan dirinya dari tangan Axel, tapi laki-laki itu malah mendorongnya kekasur, Rea terkejut mencoba berdiri tapi tangan Axel menahan kedua bahunya.


"Axel, hentikan kamu mabuk, apa yang ingin kamu lakukan?" rontanya.


Rea melihat air mata menggenang dikedua mata laki-laki itu. Ada sedikit rasa iba dihatinya, tapi Rea juga sadar dirinya sedang dalam bahaya berada dikamar dengan Axel yang berkata mencintainya dan dalam kondisi mabuk.


Axel menahan kedua lengan Rea, sekarang gadis itu berada dibawah kungkungan badannya, Rea mencoba melepaskan tangannya, sementara kakinya berusaha berontak untuk melepaskan diri, ia sadar laki-laki diatasnya bisa saja melakukan hal-hal diluar nalar.


Benar saja, Axel mulai mencium bibirnya, Rea memalingkan wajahnya sambil masih mengeluarkan kata-kata berusaha mencoba menyadarkan pria itu.


"Axel lepaskan aku, demi Tuhan apa yang kamu lakukan," teriaknya.


Laki-laki itu menggila, membenamkan kepalanya ke ceruk leher adik tirinya, menciuminya dan membuat bekas merah dengan paksa disana.


"Axel aku mohon lepaskan!"


Rea sudah menangis tapi laki-laki itu tidak perduli sama sekali.


"Ax aku sudah menikah, jangan lakukan ini!" ucap Rea saat merasa kakak tirinya itu akan melakukan sesuatu yang melebihi batasnya.


Axel kembali mencium bibir Rea, tangan kekarnya membuat tangan gadis itu tidak bisa bergerak, terkunci. Rea masih mencoba menendang-nendang Axel dengan kakinya, tapi sayang dia kalah tenaga.


Rea menjerit saat Axel dengan kasar menarik piyama tidurnya secara paksa, membuat piyama itu robek, gadis itu mencoba menggeser badannya kebelakang saat Axel melepaskan tangannya untuk melucuti satu persatu kain yang menutupi badannya sendiri.


Rea berusaha kabur sambil memegang piyama tidurnya yang sudah tidak berbentuk lagi, tapi seketika Axel mendekapnya dari belakang, gadis menangis sambil meronta-ronta.


"Axel lepasin aku! tolong jangan lakukan ini!"


Laki-laki itu manarik tubuh adik tirinya dengan kasar, membanting tubuh ramping itu ke atas kasur, menciumi bibir dan tubuh Rea penuh nafsu, dan dengan paksa Axel menyatukan tubuh mereka.


Rea menjerit sambil masih meronta menahan rasa sakit yang ia rasakan dihati dan juga di bagian inti tubuhnya, ia berteriak memohon agar laki-laki itu mau melepaskannya.


Namun, setan sudah merasuki tubuh Axel, dia berkata mencintai Rea, tapi malah menyakiti gadis itu sedemikian rupa hanya untuk memenangkan egonya.


Rea hanya bisa menangis, ia sudah tidak kuat meronta lagi. Tubuhnya lemas, air matanya terus mengalir, tangan laki-laki itu berlahan melepaskan lengan tangannya, Axel mengerang panjang setelah mendapat kepuasan dari hasil menyakiti adik tirinya.


Mata mereka saling bersitatap sebelum Axel merebahkan diri disamping Rea yang masih beruraian air mata. Gadis itu berlari mengambil bajunya kemudian pergi dari sana, meninggalkan Axel yang tertidur setelah puas menikmati tubuh indahnya.