Menikahi Budak Tak Berguna

Menikahi Budak Tak Berguna
Tanda Tangan Kontrak


KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


💐 HAPPY READING 💐


Ke esokan harinya, Ren terbangun sangat awal. Padahal jam masih menunjukkan angka 5 pagi. Tapi dia merasa tiba - tiba ingin saja turun ke bawah untuk melihat keadaan Thalia.


Dia khawatir wanita itu akan kabur, karena kurang ketatnya pengawasan.


Cklekkkk, Ren membuka pintu kamar Thalia, tetapi dia tidak mendapatkan gadis itu di sana.


“Thalia, Thalia,” panggilnya, sambil mengecek seluruh ruangan yang ada di dalam kamar itu, bahkan sampai ke kamar mandi, tetapi dia tidak menemukan wanita itu.


“Kemana dia?” Tanya Ren, pada angin yang berhembus.


Dengan perasaan marah, Ren keluar dari kamar itu, dan ingin melangkahkan kakinya keluar mencari Thalia.


“Apa yang sedang kamu lakukkan?” Tegur Thalia, ketika dia melihat Ren baru saja keluar dari kamarnya. Membuat langkah Ren langsung berdiri ketika menyadari Thalia ada di belakangnya.


Ren membalikkan badannya, menatap Thalia yang sedang memegang sebuah gelas berisikan air. “Dari mana saja kamu pagi - pagi seperti ini?” Tanya Ren penuh curiga.


“Aku sedang mengambil air di dapur.” Jawab Thalia singkat.


“Dengar! Aku sudah membeli kamu dengan harga mahal, jika kamu sampai kabur, maka nyawamu akan habis di tanganku!” Tegas Ren, penuh dengan penekanan serta ancaman di setiap kalimatnya.


“Oke.” Balas Thalia, tanpa ada protes atau apapun.


“Oke?” Tanya Ren bingung, sebab Thalia tidak ada perlawanan sama sekali, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


Namun Thalia hanya diam saja, dan terlihat seperti enggan menjawab pertanyaan dari Ren itu.


“Ikut saya!” Perintah Ren, menyuruh Thalia untuk ikut bersama dengan dia. dan lagi - lagi dengan patuh Thalia mengikuti Ren, tanpa ada bertanya apapun.


Sampai mereka tiba di ruang kerja milik Ren, Thalia masih setia mengikuti pria itu. “Duduk!” Perintah Ren lagi, menyuruh Thalia untuk duduk di sofa. Sedangkan dia kembali melangkah mengambil kertas yang sudah dia buat semalam.


“Baca dan tanda tangan ini!” Ren menyerahkan kertas dan pulpen pada Thalia.


Thalia menerima Kertas itu dan mulai membaca isi di dalamnya. “Tapi kamu hanya membeliku hanya untuk menjadi budak, bukan istri.” Protesnya, membuat Ren tersenyum tipis menatapnya. Lalu mengambul posisi duduk di depan Thalia.


“Aku membelimu, itu menjadi hak aku atas dirimu!” Tekannya lagi, membuat Thalia tersenyum menanggapinya.


“Aku akan mengembalikan uangmu!” Balas Thalia, terlihat dengan sorot matanya yang menatap Ren penuh keseriusan.


Mendengar kalimat Thalia yang ingin mengembalikan uangnya, membuat Ren tersenyum bahkan sampai tertawa. “Hahahahhahaah kamu mau mengembalikan uangku?” Tanyanya, sangat terhibur dengan kalimat wanita di hadapannya ini.


“Kamu saja di jual kepadaku, itu berarti keluargamu atau kamu sendiri mempunyai banyak hutang, sampai - sampai kamu di jual dan di siksa seperti itu, dasar sampah!” Makinya, membuat Thalia menatap Ren dengan tatapan tajam.


“Lagian kamu seharusnya bersyukur, karena aku masih mau menikahimu, walaupun hanya sebagai pajangan dan budak. Di luar sana bahkan banyak yang mau menjilati sepatuku, hanya untuk bisa menginjakan kaki di rumah ini.” Tambahnya lagi, benar - benar memperlihatkan sikapnya yang sangat aroghant.


Thalia mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Baiklah, aku akan menandatangi surat ini.” Ucap Thalia, walaupun dia terlihat sedikit ragu.


“Tenang, kita memang akan menikah, tetapi tugasmu di rumah ini tidak lebih dari sekedar seorang pembantu saja, kita hanya akan menjadi suami istri di depan pengacaraku saja. Mengerti?!” Jelasnya lagi, dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Thalia.


“Bagus.”


“Kalau begitu, kamu kembali ke kamarmu! Karena pagi ini akan ada berkas - berkas yang kamu juga akan tanda tangani untuk mendapatkan buku nikah.” Ujarnya lagi, dan mau tidak mau Thalia kembali menyetujui semua perkataan Pria tukang suruh itu.


**


Kembalinya di kamar, Thalia langsung cepat - cepat masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Thalia tidak menyangka, jika kehidupan barunya akan di mulai dengan situasi serumit ini. Dia juga tidak pernah membayangkan jika dia harus menikah dengan pria yang belum dia kenal sebelumnya.


Thalia terlihat memejamkan matanya, dan mengingat tragedi malam yang merenggut nyawa kekasihnya.


Lalu Thalia membuka matanya dan kembali menatap cermin. “Aku memang harus menemukan kehidupanku yang baru.” Gumamnya, lalu melihat sebuah gunting yang ada di sana.


Thalia menghela nafasnya berulang kali, sampai dia merasa yakin dan menggunting rambutnya sendiri untuk memotong pendek.


Konon katanya, ketika seorang wanita sudah memotong rambutnya. Berarti akan ada masa lalu yang akan dia lupakan.


Setelah memotong rambutnya, Thalia memilih untuk menyalakan Shower dan lagi - lagi membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya di pagi hari ini. Dan tentu saja air itu masih terasa sangat dingin sekali.


“Arrrggghhhhh,arrgghhhh.” Teriak Thalia, dengan gerakan memukul - mukul dinding kamar mandi.


Dia marah, karena dia tidak bisa melupakan masa lalunya. Hingga membuat dia ingin berteriak sekeras mungkin.


Dua puluh menit waktu yang dia gunakan untuk mandi. Thalia keluar dari kamar mandi dengan tatapan yang kosong. Dia berjalan dengan lemah dan terduduk di atas tempat tidurnya. “Aku pastikan, aku akan membunuhmu!” Lirihnya pelan, dengan sorotan matanya yang berapi - api tetapi juga mengeluarkan air mata.


Walaupun dia sudah memulai untuk terbiasa dengan kehidupan yang baru. Tetapi, Thalia tidak akan melupakan kejadian kemarin.


Thalia yang sudah tidak tahan lagi, dia langsung bersiap ingin pergi. Dia ingin pergi ke suatu tempat rahasia. Yang mungkin akan menjadi tempat markasnya.


Thalia melihat situasi terlebih dahulu, setelah dia rasa aman. Lalu Thalia perlahan berjalan keluar.


“Rapthalia.” Panggil seorang wanita, menghentikan langkah Thalia, dan sontak membuat Thalia merasa kikuk karena sudah kepergok oleh seseorang.


Dengan perlahan, Thalia membalikkan tubuhnya, dan melihat Glo yang turun dengan membawa sebuah gaun dengan sebuah Box yang tidak dia tahu apa isinya.


“Kamu mau kemana?” Tanya Glo, ketika melihat gadis yang di bawa kakaknya pulang itu, pagi - pagi sudah menggunakan celana panjang serta hoddie dan kaca mata.


“Ehmm, aku ingin berolahraga di sekitar sini saja.” Jawab Thalia bohong.


“Mau olahraga saja kenapa pakai Hoddie?”


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*