
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Saat ini, Ren baru saja terlihat selesai mandi, dan turun ke bawah untuk mengambil sebuah air minum.
“Apakah kamu punya waktu?” Tanya Thalia dengan tiba - tiba, ketika dia melihat Ren yang sedang berdiri di dapur.
Ren menghela nafasnya, lalu menatap Thalia dengan teliti. “Kalau tidak penting aku -“
“Mari akhiri semua ini.” Ucapnya langsung, dengan wajahnya yang serius.
Ren tersenyum tipis menanggapi perkataan dari Thalia. “Apa maksud kamu? Apa yang mau di akhiri?” Tanya Ren, mulai menganggap kalimat Thalia begitu menarik untuk di dengarkan.
Thalia mengambil kertas Cek itu dari kantongnya, dan memberikannya pada Ren. “Di cek ini sudah tertulis 2 Miliyar, aku akan menganti uangmu sekaligus ucapan terima kasihku karena kamu sudah menyelamatkanku hari itu.” Tegasnya. Tanpa ada keraguan sedikitpun yang terlihat di wajahnya.
“Di mana kamu maling uang ini?” Tanya Ren, seperti menganggap remeh semua tentang Thalia.
“Apa?” Tanya Thalia balik, ingin mendengar ulang kalimat yang dituduhkan Ren kepadanya.
Ren tersenyum, lalu melangkahkan kakinya, berjalan pelan melewati tubuh Thalia. “Kamu yang di jual oleh mereka dengan harga 1 Miliyar, terus sekarang tiba - tiba kamu malah mengembalikan uangku dengan 2M, siapa yang percaya jika kamu tidak maling, atau Cek ini adalah palsu.” Jawabnya, dengan menatap remeh pada Thalia.
Membuat Thalia tersenyum, dan ikut mendekati Ren. “Banyak yang kamu tidak ketahui tentang aku, jadi kalau memang kamu mau uang Chas, aku juga bisa memberikannya padamu.” Balas Thalia, yang sepertinya tidak terhasut sama sekali dengan kalimat Ren yang mungkin dapat menyakiti hatinya.
Ren terdiam mendengar kalimat Thalia itu, tidak, lebih tepatnya Ren terdiam karena mulai berpikir tentang jati diri Thalia yang sebenarnya.
Sedangkan Thalia yang mendapatkan Ren terdiam seperti itu, menganggap jika Ren memang menginginkan uang berupa Tunai. “Baiklah, besok pagi uangnya akan ada di meja kerja kamu.” Tungkasnya, lalu ingin melangkahkan kakinya pergi untuk balik ke kamar.
Namun, baru satu langkah, Ren langsung menarik tangannya dan tidak membiarkan Thalia untuk mencairkan uang itu. “Aku tidak bilang kalau aku menerima uangmu.” Thalia menoleh ke arah Ren, ketika mendengar kalimat pria itu.
“Kenapa tidak? Sekarang yang di permasalahkan adalah uang, dan aku sudah memberikan uangmu kembali berserta bunganya.” Ren menghela nafasnya, lalu dia menatap Thalia dengan lekat.
“Aku tidak membelimu untuk menolong kamu, ataupun membiarkan kamu lepas dari jeratan mereka, tetapi aku membelimu karena aku butuh kamu menjadi istriku, sampai aku berhasil mendapatkan harta Mamahku.” Tegasnya, mencengkram tangan Thalia dengan kuat, bahkan sangat kuat sembari menampilkan kemarahannya.
Namun, lagi - lagi Thalia tidak memperlihatkan reaksi apapun. “Ambil uang itu! Dan aku akan tetap menolongmu sebagai istrimu selama 3 hari -“
“Tidak bisa tiga hari, karena aku belum tentu mendapatkannya selama tiga hari,”
“Kamu harus mendapataknnya, karena aku tidak bisa menjamin kehidupanmu lebih dari itu!” Tegas Thalia, membuat Ren tertawa mendengarnya.
“Yang menjamin kehidupanku, ya aku sendiri, bukan kamu, bukan siapapun!” Sahut Ren dengan penuh tekanan.
Thalia menatap wajah Ren dengan lekat. “Itu dulu sebelum kamu berurusan denganku!” Tandasnya, lalu pergi meninggalkan Ren seorang diri dengan pikirannya.
Dari awal, kalimat - kalimat Thalia sangat membuatnya pusing. Dan tidak tahu harus berpikir seperti apa. Siapa dia? Di mana keluarganya? Dan bagaimana masa lalunya? Ren butuh tahu semuanya. Tetapi dia masih belum bisa mendapatakan jawabannya.
Ren mendatangi kamar Thalia, dan langsung membuka pintunya. “Aku lapar, masakan aku sesuatu!” Perintah Ren pada Thalia. Yang membuat Thalia bingung menatapnya.
“Aku tidak bisa masak, kamu tahu itu!” Sahut Thalia, menolak perintah Ren yang satu ini.
Thalia menggelengkan kepalanya pusing, dan mau tidak mau dia bangkit dari duduknya untuk menuju dapur.
**
Thalia sedang sibuk melihat apa yang bisa dia masak, sedangkan Ren terlihat duduk di meja makan dengan memainkan ponselnya.
Thalia sedikit melirik ke arah Ren, dan dia harus menghela nafasnya berulang kali. “Bagaimana caranya membuat Beras ini menjadi nasi?” Tanyanya pada diri sendiri. Dia juga tidak memegang ponsel yang bisa membantunya melihat turtorial.
Dan karena tidak mau membuang waktu, Thalia mengambil beras itu dan di taruh di dalam sebuah penggorengan. Namun tak lupa dia mencuci terlebih dahulu.
Setelah itu barulah dia menyalakan kompor. Sembari menunggu beras itu harum. Thalia mengambil telur dan langsung memasukannya ke dalam penggorengan bersamaan dengan beras itu. Dia juga memasukan sosis yang masih beku dan bahkan tidak membuka plastiknya.
Terasa semua bahan sudah lengkap, Thalia terus mengaduk - aduk berasa dan teman - temannya itu berharap akan menjadi sebuah nasi.
“Sepertinya ini sudah matang.” Ucapnya, karena sudah 20 menit dirinya mengaduk - aduk beras itu.
Langsung saja Thalia mengambil sebuah piring dan meletakan makanan itu di dalamnya.
“Aku tidak tahu rasanya, tapi sebaiknya kamu coba dulu.” Ujarnya, memberikan piring berisikan makanan itu kepada Ren.
“Apa ini?” Tanya Ren bingung.
“Makanan, nasi goreng.” Jawabnya dengan santai. Membuat Ren harus menghela nafasnya berulang - ulang.
“Apanya nasi goreng, bahkan berasnya pun belum menjadi nasi, dan ini, kenapa telur ini masih ada cangkangnya? Tidak tahukah kamu kalau masak telur harus di pecahkan terlebih dahulu?” Ren mendadak sakit kepala melihat masakan Thalia yang satu ini. Entah apa yang di bisa wanita ini.
Bikin Coffe tidak bisa, masak tidak bisa, bahkan pecahkan telur juga tidak bisa. Lalu apa yang dia bisa?
“Aku sudah bilang aku tidak bisa masak, tetapi kamu memaksaku.” Thalia merasa ini bukan salahnya. Karena dia sudah memperingatkan Ren sejak tadi.
Ren tidak mau mempermasalahkan hal itu untuk saat ini. Dia khawatir jika terlalu menuntut banyak dari Thalia. Wanita itu malah akan meninggalkannya dan malah mengacaukan semua rencananya.
“Ikut aku!” Ajak Ren, yang terlihat beranjak dari duduknya dan masuk ke dapur bersama dengan Thalia.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*