
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Valda benar - benar lelah saat ini, padahal jam masih menunjukkan angka 10 pagi. Tetapi karena dari semalam dia belum ada istirahat dia harung mengurus party semalam, mengurus kasus pembantaian semalam, mengurus Tuannya di Rumah sakit, mengurus rumah baru Ren dan sekarang mengurus administrasinya.
Belum lagi dia harus menerima kalimat - kalimat kasar dari Ren. Menghadapi kemarahan pria itu. Membuat tubuh dan otaknya dua kali lebih lelah saat ini.
Setelah mengurus administrasi selama satu jam lamanya, kini Valda dan Ren telah berada di dalam mobil untuk menuju rumah baru Ren.
“Hallo.” Ucap Valda, ketika dia mendapatkan telpon dari sekertaris Ren di Kantor.
“Uang?” Tanya Valda.
“Sekarang dia kemana?”
“Baiklah. Aku akan mengurusnya nanti!” Valda mematikan ponselnya. Lalu menatap ke arah Ren yang juga sedang menatapnya saat ini.
“Ada apa?” Tanya Ren, langsung to The point tidak mau membuang waktunyanya menunggu sampai Valda yang memberitahunya.
“Thalia tadi datang ke kantor Tuan, dan meletakan 3 tas yang masing - masing tas berisikan uang 1 Miliyar, yang berarti jumlahnya ada 3 Miliyar Tuan.” Jawabnya, melaporkan hal yang tadi di beri tahu oleh Sekertaris yang ada di kantor.
Ren yang khawatir, langsung mengambil ponselnya dan membuka aplikasi yang terhubung langsung dengan CCTV yang berada di ruangannya.
Dari rekaman itu, terlihat Thalia yang masuk dengan mengenakan Hoddie hitam, kaca mata, dan juga celana panjang, dia meletakan 3 tas yang katanya berisikan uang tunai.
Setelah meletakan uang itu, Thalia terlihat diam sejenak. Dan menatap ke arah CCTV. Dia menuliskan sesuatu di kertas yang dia ambil dari meja Ren.
“URUSAN KITA SUDAH SELESAI! JAGA DIRI DAN PERKETAT PENJAGAAN TERMASUK UNTUK GLO YANG SEDANG ADA DI LUAR NEGARA! AKU SUDAH MEMBAYAR GANTI RUGI SEBESAR 3 MILIYAR, TERIMA KASIH ATAS BANTUNYA DAN MAAF KARENA MASA LALUKU KAMU HARUS TERLIBAT. AKU PERGI!” Tulisnya pada 4 Kertas yang tertulis dengan huruf besar, agar lebih mudah di baca.
“Apa ? Apa ini? Dia mau meninggalkanku begitu saja?” Tanya Ren pada Valda yang hanya diam saja karena dia juga tidak tahu jawaban dari pertanyaan yang diberikan Ren kepadanya.
“Valda, cari dia! Cari dia sampai ketemu!” Perintahnya lagi, dan mau tidak mau Valda harus menghubungi semua kantor polisi, anak buahny dan beberapa orang bayaran yang bisa mencari keberadaan Thalia untuknya.
***
“Aarrrgggghhhhhh!!! Sial!!! Sialll!!!” Umpatnya tidak berhenti - henti sejak tadi di jalan.
“Aku sudah menolongnya! Tidak bisakah gadis itu tahu artinya berterima kasih?” Tanya Ren lagi pada Valda.
“Saya tidak tahu Tuan, tapi kami akan berusaha untuk mencarinya.” Jawab Valda tidak mempunyai jawaban lain atas pertanyaan dari Tuannya.
“Aahhhhhh dasar tidak berguna! Kamu dan semua anggotamu mencari satu wanita saja kalian tidak becus!” Umpatnya lagi, kini menyalahkan Valda dan seluruh anggotanya yang katanya berkerja tidak becus.
“Nona Thalia, kenapa kamu menempatkan aku dalam situasi ini Nona.” Batin Valda, yang juga ikut kesal karena kepergian Thalia secara tiba - tiba dalam keadan genting seperti ini.
”ini laki - laki, tidak ingatkah kalau istrinya adalah mantan pembunuh bayaran unggulan? Kalau kelompok Mafia itu saja membutuhkan waktu lama untuk menemukannya, apa lagi saya yang bukan siapa - siapa?” Tambahnya lagi, hanya bisa berbicara dalam hatinya.
Ren merasa pusing sekali menghadapi semua masalah ini. Sampai - sampai dia tidak bisa berpikir untuk sementara waktu.
“Valda, siapkan aku tiket pesawa ke Amsterdam, aku akan bersama dengan Glo untuk beberapa hari ke depan, sampai pikiran aku tenang, atau bahkan seminggu, aku akan kembali lagi.” Pintanya lagi, namun kali ini dengan suaranya yang mulai menurun dan tidak berteriak - teriak seperti tadi.
“Baikah Tuan, akan saya siapkan,” sahut Valda, yang tahu dan paham jika liburan ini memanglah sangat perlu untuk Tuannya.
Mengingat semalam terjadi tragedi pembunuhan pas di depan matanya. Pasti saat ini Ren juga merasa sangat trauma.
Kali ini dia tidak protes karena menurutnya dia memang butuh dengan yang namanya Pisikolog agar dia tidak memiliki trauma atas kejadian yang saat ini sedang menimpa dirinya.
****
Di sisi lain, terlihat Mimi dan beberapa anak buah Darius yang mendatangi markas Bunchi. “Untuk apa kalian ke sini?” Tanya Bunchi, dengan sikapnya yang tenang, dan bahkan masih sempat - sempatnya menyeduh coffenya.
“Dia mana gadis itu?” Tanya Mimi langsung to the point.
Bunchi meletakan coffenya, dan menatap Mimi dengan lekat. “Dia tidak ada di sini, dan memang tidak pernah ada di sini.” Jawab Bunchi, memberikan jawabannya membuat Mimi menatap remeh ke arahnya.
“Jangan lupakan tentang perjanjianku bersama Kaleb! Yang tidak boleh saling menyentuh jika tidak mau darah bertumpah kembali.” Tambahnya, membuat Mimi berdiri dan memperhatikan setiap gerak gerik Bunchi yang tidak ada sama sekali memperlihatkan kecurigaan.
“Peraturannya hanya tidak boleh menyentuhmu bukan! Tapi aku bisa menyentuh anak buahmu.” Sahut Mimi, lalu mengeluarkan pistolnya, meletakannya di atas meja, dan menantang anak buah Bunchi untuk duel bersamanya satu lawab satu.
“Komoro!” Panggil Bunchi, pada salah satu anak buah terbaiknya untuk melawan Mimi.
Komoro maju dan mulai merenggangkan semua ototnya. “Aku tidak akan segan meskipun kamu wanita.” Ucap Komoro pada Mimi.
“Silahkan.” Sahut Mimi, tidak keberatan jika Komoro akan memukulnya dengan keras.
Bugjhhhh,,bugghhh, Mimi terlihat memulia pukulannya lebih dulu dan di tangkis oleh Komor.
Bugh, Brakkkkk, Komoro membanting tubuh Mimi hingga membuat satu meja kayu itu patah.
Mimi segera bangkit dan kembali melawan Komoro, hingga terlihat perkelahianpun seimbang.
Brakkkkkk, bughhhh, banyak barang yang hancur karena duel ini, namun bagi Bunchi itu sama sekali bukan masalah karena dia bisa membeli lagi nantinya.
Braaaakkkkk, bantingan terakhri memperlihatkan kemenangan Mimi, dan itu membuat Komoro terluka parah.
“Aku menang.” Tungkasnya, berbicara pada Bunchi.
“Jika kamu sampai ketahuan menyembunyikan gadis ini, maka aku tidak segan mematahkan semua tulangmu.” Tambahnya lagi, dan kembali mengambil pistol yang tadi dia letakan di atas meja. Dan mulai meninggalkan markas Bunchi karena dia tidak mendapatkan apa - apa di sana.
Mendapatkan sebuah kekalahan dari seorang wanit. Tentu saja membuat Bunchi merasa kesal. “Cepat bawa Komoro ke rumah sakit!” Perintahnya pada anak buahnya yang lain. Yang hanya berdiri diam saja tanpa berinisiatif untuk membantu Komoro agar tidak mati.
“Baik bos.” Jawab mereka dan langsung bergerak menolong Komoro yang sepertinya menderita patah tulang karena duel tadi.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*