Menikahi Budak Tak Berguna

Menikahi Budak Tak Berguna
Mencari Makan Malam


KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


💐 HAPPY READING 💐


“Ikut aku!” Ajak Ren, yang terlihat beranjak dari duduknya dan masuk ke dapur bersama dengan Thalia.


Ren terlihat mulai melihat - lihat barang yang ada di dalam kulkasnya.


“Aku akan mengajarkanmu masak,” ucap Ren, membuat Thalia diam dan melihat semua gerakan Ren.


“Kamu tahu ini namanya apa?” Tanya Ren, menunjuk ke arah Megicom.


Thalia menggelengkan kepalanya pelan. “Ini namanya megicom, penanak nasi, kamu bisa taruh beras itu di sini, cuci lalu masukan air jangan banyak, pakai ruas jarimu. Masukan, dan tekan cooking. Maka dia akan masak sendiri nantinya.” Ren menjelaskan cara memasak nasi dengan mudah pada Thalia. Berharap jika istrinya itu akan memasukan penjelasannya tadi ke dalam otaknya.


Thalia menganggukan kepalanya mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Ren.


“Oke, kalau ini namanya Butter, kamu masukan ke dalam penggorengan itu, dan cairkan!” Perintah Ren lagi, memberikan sebuah mentega dan penggorengan pada Thalia.


Awalnya Thalia menerima saja, dan meletakan Butter itu di dalam penggorengan, namun dia merasa butter itu tidak mencair jadi dia menambakan air di dalamnya.


“Ini.” Ucap Thali, memberikan penggorengan itu pada Ren yang sedang membaca sesuatu di ponselnya.


“Astaga Thalia!!” Serunya menepuk keningnya merasa pusing dengan kelakuan Thalia.


“Aku menyuruhmu untuk mencairkannya!” Timpalnya lagi.


“Makanya aku kasih air, tapi gak bisa.” Balas Thaliac membela dirinya.


Ren menggaruk kepalanya pusing, “di cairkan di atas kompor, apinya di nyalakan. Bukan di kasih air!” Ujarnya, memberitahukan Thalia jika itu sudah sangat salah.


Thalia menatap Ren bingung, lalu dia meletakan penggorengan itu di atas kompor dan menyalakannya.


“Sudah tidak bisa Thalia, itu sudah kamu kasih air.” Tegur Ren lagi, membuat Thalia kesal dan langsung meninggalkan dapur.


Melihat Thalia yang meninggalkan dapur, Ren berulang kali menghela nafasnya panjang. “Sepertinya keputusan aku memecat semua pembantu itu salah.” Lirihnya pelan, lalu berjalan keluar untuk menghampiri Thalia.


“Kita makan di luar saja malam ini.” Ajaknya langsung menarik tangan Thalia pergi.


“Aku tidak mood makan malam ini!” Tolak Thalia, memaksa tangannya di lepaskan oleh Ren.


“Thalia, aku hanya mengajak kamu untuk makan malam, dan itu juga kamu tidak bisa lakukkan?” Tanya Ren, menuntut jawaban dari Thalia.


“Oke, aku membelimu sebagai budak, tetapi kamu selalu bertingkah seperti budak yang tidak berguna, kamu selalu tidak bisa mengerjakan apapun yang aku perintahkan sama kamu,”


“Tetapi, aku masih membutuhkanmu sebagai istriku, agar bisa mendapatkan harta mamahku.”


“Bekerja samalah dengan baik.” Ren berkat sudah sangat pelan dengan Thalia. Dia merasa seperti dialah yang menjadi budak dari Thalia, bukan Thalia yang menjadi budak untuknya.


“Dan sekarang aku hanya mengajakmu makan di luar, kamu juga tidak mau untuk menurutinya?” Tanya Ren lagi. Dan itu membuat Thalia cukup berpikir tentang semua kalimat suaminya.


“Baiklah, aku pergi bersamamu.” Jawabnya, dan langsung berjalan lebih dulu masuk ke dalam mobil. Yang di ikuti oleh Ren.


***


Di dalam mobil, Ren merasa jika Thalia adalah gadis yang menyimpan banyak dendam di pundaknya. Entah apa yang membuat gadis ini di tahan dan di culik.


Tetapi, mendengar dia mempunyai uang 2 Miliyar, sepertinya penjualan itu hanyalah sebagai pemainan untuk mengelabui seseorang.


“Thalia, -“ panggil Ren, dan membuat Thalia menoleh ke arahnya.


“Eh, tidak, tidak jadi.” Sambungnya lagi, merasa tidak nyaman mempertanyakan persoalan itu pada Thalia.


Sepanjang perjalanan, ke duanya terlihat sama - sama diam, hingga akhirnya Ren memilih untuk Drive Thru MC donalds saja.


Dan setelah mendapatakn makananya, Ren kembali mengemudi pulang, membuat Thalia kini menatapnya dengan bingung.


“Kalau kamu cuman mau membeli Mc Donalds, kenapa tidak kamu order saja? Kenapa harus membeli keluar?” Protesnya merasa jika Ren sangatlah membuang - buang waktu.


Thalia tidak habis pikir dengan manusia seperti Ren. Bisa - bisanya membuang waktu untuk hal yang tidak berguna.


“Dari mana kamu berasal Thalia?” Tanya Ren, merasa penasaraan, dan akhirnya berani mempertanyakannya.


“Dari sebuah kota.” Jawabnya singkat.


“Orang tua kamu -“


“Aku tidak punya orang tua, sejak aku lahir aku di rawat oleh seseorang.” Jawabnya, seakan tahu apa yang ingin di tanyakan oleh Ren kepadanya.


Mereka ber dua akhirnya memulai acara makan malam mereka dengan diam dan tanpa banyak bicara.


“Thalia, besok akan ada party kecil - kecilan untuk ulang tahunku, dan juga untuk memperkenalkan kamu ke rekan - rekan bisnis perusahaan, agar -“


“Tidak!” Tegas Thalia, lebih dulu menghentikan kalimat Ren yang akan mengajaknya untuk bertemu dengan orang banyak.


“Why? Thalia? Bukankah itu hal yang wajar, kita menikah dan orang lain harus tahu, agar kita tidak di bilang penipuan.” Ujarnya, memberikan penjelasan pada Thalia.


“Tidak bisa Ren, aku tidak bisa kamu perlihatkan pada orang banyak!” Serunya, melarang Ren untuk nembuat pesta dan memperlihatkan dirinya ke orang lain.


“Kenapa? Apa alasannya?” Tanya Ren menuntut jawaban.


“Siapa kamu sebenarnya Thalia?!” Timpalnya lagi, dan langsung membuat Thalia terdiam.


“Aku bukan siapa - siapa Ren.” Jawabnya dengan tenang. Namun masih memperlihatkan perasaan khawatirnya.


Tetapi jawaban Thalia tidak berarti apa - apa untuk Ren. Pria itu tetap saja semakin curiga dengan identitas Thalia yang terlihat terlalu kentara untuk di curigai.


****


Sedangkan di sisi lain, terlihat seorang pria yang sedang duduk dan menunggu laporan dari anak buahnya.


“Tuan, ini foto - foto yang kita dapatkan dari sekitar tadi.” Lapor seorang wanita pada bosnya.


Pria itu mengambil ponsel itu, dan mulai melihatnya satu persatu foto yang sebanyak 70 itu.


Sampai dia menemukan foto seseorang yang tidak asing baginya. “Mimi panggil orang yang mendapatkan hasil - hasik foto ini!” Perintah pria itu pada wanita yang tadi melapor padanya.


“Baik Tuan Darius.” Sahutnya, dan langsung keluar menarik pria yang memberikan foto - foto itu kepadanya.


“Tuan, ini -“


Darius berdiri dengan memperlihatkan kemarahannya. “Di mana kamu dapat foto wanita ini?!” Tanyanya, dengan tegas.


“Foto itu tadi di depan kantor pencatatan, yang bersebelahan dengan kantor Gubernur Tuan.” Jawabnya dengan perasaan takutnya.


“Lalu kemana dia?!” Tanyanya lagi.


“Saya tidak tahu Tuan.” Jawab pria itu.


“Arrggghhhhhhh, siallllll!” Umpatnya begitu marah. Bahkan dia sampai membalikkan meja untuk melampiaskan amarahnya.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*