Menikahi Budak Tak Berguna

Menikahi Budak Tak Berguna
Persiapan Maria


KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


💐 HAPPY READING 💐


Setelah masalah di markas tadi, kini Bunchi datang untuk menghampiri Thalia yang sedang berada di kamarnya.


“Maria.” Panggilnya, ketika Maria hanya berdiri menatap ke arah jendela.


“Tadi ada anak buah Darius datang ke sini, Koromo jadi korbannya untuk kali ini.” Lapornya pada Maria yang hanya bisa menghela nafasnya.


“Sampaikan maafku pada Komoro, aku tidak berniat melukainya.” Ucap Maria penuh dengan penyesalan.


“Maria, kamu sudah lari dalam masalah ini selama 5 tahun, tidak bisakah kamu segera selesaikan semua ini dan pergi bangun kehidupan yang bahagia, membuat keluarga kecil misalnya.” Bunchi terlihat perihatin pada keadaan Maria saat ini.


“Sejak dulu mereka tidak pernah membiarkan aku untuk berisitirahat sejenak, menenangkan pikiran hanyalah sebuah omong kosong, Apa lagi ketika aku sudah berhasil mendapatkan kehidupannya bersama Nathan dulu, kelompok biadab itu malah membunuh Nathan yang membuat aku semakin terpuruk dengan kegelapan.” Maria menatap ke arah Bunchi untuk mencari jawaban dari semua pertanyaanya.


Bunchi mendekati Maria, biar bagaimanapun dia sudah menganggap Maria seperti anak kandungnya sendiri. Tetapi dia tidak mampu memberikan sebuah pelukan, melainkan dia hanya menepuk bahu Maria agar wanita itu bisa menenangkan jiwanya sedikit.


“Maria, ikut sini!” Ajak Bunchi, pada Maria yang sejak tadi hanya diam saja tanpa berkomentar apa - apa.


Maria menuruti Bunchi, dan mengikuti pria paruh baya itu di belakangnya.


Sampai mereka tiba di sebuah ruangan yang terlihat sangat rahasia.


“Tempat apa ini?” Tanya Maria, yang melihat ke sekelilingnya.


Bunchi hanya diam saja, dan lalu dia membuka sebuah pintu yang di gembok sangat rapat.


Ke dua mata Maria, terbuka lebar ketika dirinya melihat apa yang ada di dalam ruangan itu. Begitu banyak merek senjata yang tersimpan di dalamnya.


“Bunchi, kamu untuk apa menyimpan semua ini?” Tanya Maria dengan menatap ke arah semua senjata itu.


Bunchi menoleh ke arah Maria, dengan senyum manisnya. “Kamu lupa, kalau aku adalah seorang seniper jarak jauh?” Tanyanya balik, membuat Maria hanya diam menganggukan kepalanya.


Dia berjalan masuk ke dalam ruangan itu, dan mulai memperhatikan satu persatu senjata yang ada di sana.


Maria mulai tertarik dengan salah satu senjata itu, dan lalu mencoba untuk mengambilnya.


“Ahhh, itu adalah Barrett M82 - AS, yang dikenal dengan sebutan Angkatan Darat AS M107,” Bunchi memberitahu nama senjata yang sedang di pegang oleh Maria.


“Dia aku dapatkan, dan aku letakan di sini, karena dia adalah salah satu senapan sniper terbaik di pasar. Terutama ditujukan sebagai senjata anti-material - dirancang untuk digunakan melawan peralatan militer, dan M82 dikenal karena kemampuannya menembus batu bata dan beton, dan bahkan pelindung tank pada jarak yang cukup dekat.” Jelas Bunchi, yang hanya di respon dengan anggukan kepala pelan oleh Maria.


Karena penasaran, Maria mulai mencobanya dan mengker ke arah jauh.



“Huffftt, Maria! Jangan coba seniper itu di sini. Karena takut melukai yang lainnya.” Larang Bunchi, langsung mengambil senjata itu dari Maria.


“Baiklah, aku akan mencobanya nanti.” Sahut Maria, lalu tersenyum kecil mulai kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu.


Maria melihat sebuah pisau lipat yang sama dengan yang dulu sering dia gunakan.


“Aku ambil ini.” Ucap Maria, dengan penuh keyakinan.


“Kenapa kamu selalu ingin menggunakan pisau dari pada pistol Maria?” Tanya Bunchi mulai penasaraan dengan pilihan Maria.


“Kalau aku tidak memilih ini, itu berarti bukan aku.” Jawabnya dengan begitu santai.


Bunchi menganggukan kepalanya paham, memang benar itu adalah ciri khas dari Maria.


“Malam ini, aku akan mulai mencari di mana keberadaan Darius.” Jawabnya, dengan ke dua mata yang menyorotkan sebuah kobaran api yang sangat - sangat mengerikan.


Bunchi menganggukan kepalanya pelan, dia yang paling paham, bagaimana perasaan sakit yang di rasakan oleh wanita yang sudah dia anggap sebagai anak ini.


“Aku menunggumu pulang Maria, jangan buat aku sedih.” Ucapnya, dengan menepuk bahu Maria singkat dan dia pergi meninggalkan Maria.


“Bunchi.” Panggilnya, ketika Bunchi belum jauh darinya.


“Aku butuh gaun untuk malam ini.” Pintanya, dan hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Bunchi.


****


Seperti yang di minta oleh Ren pada Valda tadi pagi, Kini sudah waktunya dia berangkat ke Amsterdam.


Dia sama sekali tidak perduli dengan kondisinya yang masih lemah, yang jelasnya dia butuh ketenangan untuk saat ini.


“Apakah tiketku ini Pulang Pergi?” Tanya Ren pada Valda, ketika asistennya itu memberikan sebuah tiket kepadanya.


“Sudah Tuan, Anda akan pulang dalam waktu 5 hari saja,” jawab Valda, menunjukkan tanggal yang tertera pada tiket itu.


Ren menganggukan kepalanya mengerti, “Apakah Thalia sudah ketemu?” Tanya Ren, sedikit khawatir dengan keadaan wanita yang masih berstatus istrinya itu.


Valda terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa yang pas untuk menjawab pertanyaan Tuannya itu untuk saat ini.


“Temukan dia Valda.” Sambungnya, memahmi jika Valda belum menemukan istrinya yang kabur.


“Aku yakin, jika Nyonya Thalia hanya tidak ingin Anda terlibat lebih jauh dalam masalahnya Tuan. Dan itu mengapa dia memilih untuk menjauh dari Anda untuk saat ini.” Ungkapnya, memberitahukan Ren, alasan terbesar Thalia kabur darinya.


“Kamu benar, dia memang sudah memperingatkan aku satu hari sebelumnya, jika dia tidak bisa bersama orang biasa seperti kita.” Balas Ren, memberitahukan Valda, tentang apa yang pernah Thalia katakan kepadanya.


“Sebenanrya, di hari yang sama, di saat saya sedang mengantarkan makan siang untuk Nyonya, saya melihat jika Nyonya sedang berlatih bela diri di Rooftop Tuan.” Valda akhirnya mau mengatakan semua kebenaran yang pernah dia lihat, setiap dia memantau gerak - gerik Thalia.


Ren menaikan salah satu alisnya, menandakan jika dia tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Valda ini. “Dia berlatih bela diri?” Tanya Ren, meminta Valda mengulang kalimatnya tadi.


“Iya Tuan, Saya melihat Nyonya sedang berlatih bela diri.” Jawab Valda dengan sangat yakin.


“Dia juga ada mengatakan, jika nama aslinya adalah Maria Otoriana, tetapi saya tidak bisa mengakses informasi tentangnya Tuan, semuanya di Blok, dan ada yang menggunakan Sandi dari kepolisian.” Valda memberitahukan lagi, jika sebenarnya Thalia sudah memberikan setiap teka teki untuknya, yang sebenarnya bisa dia bongkar lebih cepat, tetapi mungkin memang takdir ingin identitas Thalia terbongkar dengan kejadian ini.


Ren menghela nafasnya, merasa jika satu minggu ini masalah demi masalah sangatlah membuatnya sangat lelah.


“Aku mau kamu cari tahu tentang kelompok mafia Black Rose ini! Dan aku mau, kamu menemukan Thalia secepatnya, sebelum aku pulang!” Perintahnya pada Valda. Karena dia tidak punya banyak waktu untuk membicarakan masalah itu untuk saat ini.


“Baik Tuan, akan saya usahakan.” Sahut Valda, lalu mengantar Ren untuk masuk ke bagian ke Imigrasian untuk mengecap pasportnya.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*