Menikahi Budak Tak Berguna

Menikahi Budak Tak Berguna
Identitas Thalia Terungkap


KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


💐 HAPPY READING 💐


Setelah keadaan mulai tenang, Valda terlihat datang dengan banyak membawa polisi yang sedang melakukkan olah tkp dan meminta kesaksian dari Ren dan juga Thalia.


Dan hal inu sempat menjadi sebuah perdebatan yang terjadi di antara mereka. Karena Ren mengatakan jika mereka di serang oleh sekelompok orang mau mau menculik istrinya. Tetapi Thalia menolak pernyataan itu dan berkata jika hal ini murni perampokan.


Kini Thalia sedang menemani Ren yang di larikan ke rumah sakit, untuk menjahit luka tembakan yang ada di perutnya dan untuk perawtan intensif.


“Thalia! Sekarang jelaskan sama kita! Siapa kamu sebenarnya!” Tegas Ren, menatap ke arah Thalia yang sedang duduk tidak jauh dari ranjangnya. Begitupun juga di sana ada Valda yang akan menjadi saksi setiap kalimat yang keluar dari mulut Thalia.


Thalia terdiam sejenak, dia tidak tahu harus memulai ceritanya dari mana. Untuk menjelaskan siapa identitas dirinya yang sebenarnya.


“Aku adalah Maria Otoriana, seorang pembunuh Bayaran Unggulan dari Black Rose, yang merupakan kelompok Mafia nomor satu Di Negara ini.” Jawabnya dengan jujur, dan sontak itu membuat Ren membuka mulutnya tidak percaya dengan apa yang barusan di katakan oleh Thalia.


“Ta - tha - Thalia, apa kamu serius?” Tanya Valda, sedikit ragu dengan jawaban istri tuannya ini.


Thalia menghela nafasnya, lalu dia mengangkat pandangannya menatap Valda dan Ren secara bergantian. “Pria yang menahan kamu semalam, dia adalah ketuanya, Darius.” Thalia, mengingatkan Ren tentang kejadian semalam.


***


FlashBack On.


“Maria! Lepaskan senjatamu Maria! Kamu kenal siapa aku! Dan aku tidak akan bermain - main dengan kalimatku!”


Flashback off


Ren menatap Thalia dengan lekat, “lalu, bagaimana bisa kamu di tahan dan sampai di jual di pelelangan itu?” Tanya Ren lagi, meminta kejelasan yang pasti dari Thalia.


“Maaf Ren, tetapi semua masa laluku tidak akan berhubungan kembali denganmu.” Thalia menolak untuk menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh Ren kepadanya.


“Tapi kamu sudah melibatkan aku di dalam hal ini Thalia!” Sentak Ren, merasa marah karena Thalia kembali menutup masalah yang jelas - jelas sudah nyaris terbongkar.


“Maaf Ren, maksud aku -“


“Maafmu tidak berguna Thalia! Bagaimana caranya sekarang kamu menyelesaikan masalah ini?!” Tanyanya lagi, dan membuat Thalia menatapnya bingung.


“Aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri,” jawabnya, lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Ren dan Valda yang masih di dalam ruangan itu.


Thalia berjalan keluar, dia menangis tidak tahu harus berkata apa. Hingga dia memilih untuk pulang ke rumah Ren terlebih dahulu untuk mengambil barang - barangnya.


Sedangkan Valda, yang melihat Thalia pergi, kini mendekati Ren untuk menanyakan tentang kelanjutannya. “Apakah Anda akan menceraikannya Tuan?” Tanya Valda, membuat Ren langsung menoleh dan menatapnya dengan lekat.


“Apakah kamu tidak punya otak Valda?! Dalam situasi seperti ini, kamu mempertanyakan apakah aku akan menceraikannya atau tidak?!” Makinya, membuat Valda kembali terdiam dan tidak menanyakan masalah apapun lagi.


“Siapkan rumah di jalan Rrr, aku akan tinggal di sana besok!” Perintahnya pada Valda, karena rumah yang saat ini dia tempati. Masih di tahan dengan polisi untuk menjadi bukti kematian 6 orang semalam.


“Baik Tuan.” Sahut Valda, dan langsung pergi mengerjakan perintah dari Tuannya.


Ren menatap kosong ke arah langit langit plafon. Niatnya menikahi Thalia, karena ingin melindungi harta Mendiang Erika. Namun, siapa sangka jika dirinya harus terjebak dengan permainan kematian ini.


Di saat dia melamun, terlihat seseorang mengetuk pintu ruangannya. “Selamat pagi Tuan Ren.” Sapa Sandi, yang ternyata datang untuk menepati janjinya.


“Saya sudah melihat beritanya Tuan, saya ikut prihatin akan apa yang terjadi semalam,” ucap Sandi, mengungkapkan rasa haru dan prihatinnya atas tragedi semalam.


“Tetapi, untungnya Tuan dan Istri selamat.” Timpalnya lagi, dan itu hanya membuat Ren tersenyum kecut menanggapinya.


“Sandi, aku rasa tidak perlu banyak bicara! Serahkan surat itu! Dan aku akan menandatanginya!” Pintanya, tidak ingin berbasa basi mengingatkan kejadian semalam, yang membuat ya merasa ingin sekali muntah jika mengingat lagi bagaimana caranya Thalia membunuh mereka.


“Maaf Tuan, di sini tertulis jika Anda harus menanda tanganinya bersama dengan Istri Anda, jika hanya ada salah satu di antara kalian, maka kita harus menunggu yang lainnya lagi.” Ucap Sandi, yang membuat Ren tertawa mendengarnya.


“Apa - apaan ini? Kemarin di suruh menikah! Aku sudah menikah! Lalu sekarang tinggal tanda tangan saja, masih ada juga peraturannya?” Serunya, mulai memperlihatkan emosinya pada Sandi yang sepertinya hanya ingin mempermainkannya.


Ren bangkit dari tidurnya, dan bahkan dia berusaha berdiri dan berjalan mendekat ke arah Sandi. “Katakan! Kamu sudah memberikan harta mamahku pada Si pria bajingan itukan! Ha!” Makinya, menarik kerah Sandi dan ingin mencekik pria yang masih berstatus sebagai pengacara mamahnya itu.


“Tuan,” suara Valda terdengar, dan langsung masuk memisahkan bosnya dari Sandi.


“Uhhhukkk, uhukkk.” Sandi terbatuk karena akhirnya dia bisa lepas dari jeratan Ren.


“Katakan dengan jelas! Kalau memang hal itu benar, kamu -“


“Pak Sandi, sepertinya lebih baik Anda pulang saja terlebih dahulu, kondisi Tuan Ren sedang tidak baik - baik saja saat ini.” Pintanya pada Sandi dan kawannya itu.


Sandi menghela nafasnya, dan menganggukan pelanya menurut pada Valda. “Saya akan pulang terlebih dahulu Tuan Valda, dan saya harap Anda bisa mengurus untuk kehadiran Nona Thalia dan Tuan Ren secara bersamaan untuk menerima Warisan ini.”


“Jujur saja, saya tidak ada niat buruk apa lagi bekerja sama dengan Pak Lanzwi, saya dan keluarga saya sangat berhutang budi pada Mendiang Nyonya Erika, jadi kami tidak mungkin melakukkan hal sekotor itu Tuan.” Jelasny, sebelum dia pamit pergi meninggalkan Ren dan Valda berdua di dalam kamar rawatnya.


“Argggghhhhh.” Emosi Ren kembali memuncak, bahkan dia sampai membalikkan meja kecil yang ada di ruang tamu dalam ruang rawatnya.


“Tuan, selang infus Anda berdarah.” Tegur Valda, mengkhawatirkan kondisi Ren karena banyak gerak tadi membuat selang itu kini mampet sampai harus mengeluarkan darah dan alarmnya seperti itu.


Namun Ren sama sekali tidak perduli, dia bahkan hanya melihat selang dan jarum infus yang ada di tangannya, dan bahkan langsung melepasnya dari tangannya.


“Tuan, biar saya panggilkan perawat Tuan.” Seru Valda, dan ingin pergi keluar untuk me memanggil perawat.


“Tidak perlu Valda! Sekarang aku mau pulang!” Tegasnya tanpa ingin di bantah.


“Tuan, tapi kondisi Anda -“


“Valda! Kamu itu hanya bawahan aku yah! Apapun yang aku katakan sama kamu itu adalah hal mutlak yang harus kamu jalani! Aku tidak menyuruhmu untuk membantah setiap perintahku.” Sentaknya, membuat Valda tidak bisa berkata apa - apa lagi selain hanya diam dan menuruti semua perintah tuannya Ren yang memiliki tempramental saat ini.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*