
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Melihat Thalia yang perlu bersusah payah untuk melangkah, Ren akhirnya berinisiatif untuk membantunya.
“Kalau butuh bantuan itu, harusnya bilang, gak usah gengsi.” Gumamnya pelan, namun masih terdengar oleh Thalia.
Ren langsung menggendong Thalia, dan Valda juga berinisiatif untuk mendorong tiang infusnya. “Harusnya Tuan juga kalau mau bantu, tidak usah gengsi, langsung bantu saja.” Batin Valda, namun tidak berani mengungkapkannya pada Tuannya.
Thalia hanya diam saja ketika Ren mengendongnya dan meletakannya di atas ranjang. “Untuk apa kamu ke sini?” Tanya Thalia, mengulang pertanyaannya tadi karena belum mendapatkan jawaban yang pas dari Ren.
“Kita masih suami istri, dan tidak ada salahnya kalau aku datang untuk melihat keadaan istriku.” Jawabnya dengan begitu santai.
Thalia sedikit bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Ren. Lalu dia melirik sedikit ke arah Valda. “Apakah kalian tadi kecelakaan? Tanya Thalia, namun pertanyaan itu di tujukan untuk Valda, yang sedang berdiri di belakang tubuh Ren.
“Tidak Nyonya.” Jawab Valda dengan pelan, karena dia sebenarnya juga bingung dengan pertanyaan yang di berikan Thalia.
“Lalu kenapa bosmu ini tiba - tiba bersikap Sweet? Seakan - akan dia sedang amnesia?”
“Siapa amnesia?” Tanya Ren, langsung memotong kalimat tanya dari Thalia.
“Tentu saja kamu.” Jawab Thalia, menatap Ren dengan sedikit membulatkan matanya besar.
“Aku sudah memberimu uang bahkan 3x lipat dari harga yang kamu berikan untuk membeliku, lalu sekarang?”
Thalia kembali mempertanyakan status mereka, karena Thalia mengira jika mereka sudah bercerai. Dan sistem jual beli di antara merekapun sudah selesai.
“Aku akan menceraikanmu, kalau aku sudah berhasil mendapatkan harta warisan mendiang mamahku, itu kesepakatannya.” Tungkasnya, mengingatkan Ren tentang kesepakatan yang mereka buat.
“Itu maumu, bukan kesepakatannya.” Sahut Thalia dengan kesal.
Melihat sepasang suami istri itu sedang bertengkar, Valda memilih untuk perlahan berjalan keluar. Karena dia berencana ingin mencari breakfast sekaligus membelikan untuk Tuannya itu.
“Jadi kapan hari itu tiba?” Tanya Thalia, kembali mempertanyakan tentang waktu yang harus dia jalani sebagai istri Ren.
“Ya ampun, tidak akan lama, kamu ini kenapa? Harusnya kamu bangga karena punya suami seorang Ren.” Jawab Ren, membanggakan dirinya sendiri di depan Thalia yang malah menatapnya dengan tatapan jijik.
“Apa yang bisa di banggakan dari kamu?” Tanya Thalia telak, merasa jika Ren bukan apa - apa untuknya.
Tentu saja, ketika Ren mendengar pertanyaan Thalia yang ini membuat Ren langsung membekukan wajahnya.
Hatinya tiba - tiba saja bergejolak, dan otaknya kembali berpikir.
Biar dia bisa membanggakan laki - laki, tanpa harus di pertanyakan apa yang bisa dia banggakan.
“Aku tampan, aku kaya, aku berprestasi, aku berwawasan dan tentu saja aku sangat profesional.” Jawab Ren, akhirnya menjawab pertanyaan Thalia, tentang apa yang bisa di banggakan dari dirinya.
“Kamu tidak tampan, kamu masih standar, kamu juga tidak kaya, karena kekayaanmu itu milik Mamah kamu, sampai kamu harus berperang untuk mendapatkan harta warisan.” Balas Thalia, langsung menulti jawaban Ren barusan.
Membuat Ren langsung terdiam, karena semua kalimat yang di ucapkan oleh Thalia itu benar semua.
Ren bahkan langsung menampilkan wajah cemberutnya, seakan dia tidak terima dengan kalimat Thalia yang ini.
“Akan aku buat kamu bertekuk lutut dan memohon cintaku Thalia.” Batinnya, menatap penuh dendam pada Thalia.
Dia meyakinkan hatinya, kalau dia akan bisa membuat Thalia jatuh cinta karena pesonanya.
Sedangkan Thalia, terlihat menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya pelan. Dia kembali berbaring karena merasa kepalanya masih sedikit pusing.
Apa lagi, luka - lukanya yang habis di jahit sepertinya sudah kehabisan obat bius, hingga dia mulai merasa nyeri dan sakit di bagian - bagian lukanya.
“Kemana Valda?” Tanya Ren, ketika dia baru menyadari jika Asistennya itu tidak ada di ruangannya.
“Tadi di keluar, masa kamu tidak melihatnya?” Jawab Thalia, kembali merasa jika Ren benar - benar payah.
“Ya tidak lah, aku kan tadi melihat ke arahmu, bagaimana aku tahu kalau dia keluar.” Protesnya, bertanya tentang kalimat Thalia yang benar - benar sangat meremehakannya.
“Aku juga tadi melihat ke arahmu, tapi aku tetap bisa melihatnya.” Balas Thalia lagi, lalu berpura - pura untuk tidur.
“Kamu -“ kalimat Ren berhenti, karena dia sadar jika dia pasti akan tetap kalah aduh mekanik dengan Thalia.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*