
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Setelah selesai mandi, Thalia terlihat mulai mengeringkan rambutnya. Dan lalu dia melihat ke arah Ren yang sedang sibuk dengan ponselnya.
“Apakah kamu sudah selesai?” Tanya Ren, ketika menyadari jika Thalia sudah keluar dari kamar mandi.
Thalia menganggukan kepalanya pelan, lalu dia kembali mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
“Kamu tidak menggunakan Hairdryer?” tanya Ren, ketika dia melihat Thalia begitu santainya mengeringkan rambut seperti itu.
“Ribet, lebih baik seperti ini saja.” Jawab Thalia, yang lalu mengambil posisi duduk di sebelah Ren.
Tak lama kemudian, Thalia menatap Ren dengan serius. Membuat Ren yang tadinya fokus pada ponselnya kini langsung melihat ke arah Thalia.
“Jadi, apa yang kamu ingin bicarakan?” Tanya Ren, sambil meletakan ponselnya di atas meja.
Thalia terlihat mengerecutkan bibirnya sejenak, sambil berpiki apakah dia akan mengatakan hal ini atau tidak.
“Ini sudah dua minggu dari hari pernikahaan kita, kapan pengacara kamu akan datang?” Tanyanya, sontak membuat Ren tertegun mendengarnya.
Sedangkan Thalia masih mencoba untuk tersenyum, agar suasananya tidak terlalu tegang. “Itu -“
“Ren, kita tidak akan selamanya berhubungan seperti inikan?” Tanyanya lagi.
“Maksud aku, tadi kamu sudah membawa perempuan itu, dan aku pikir dia adalah calon istrimu, seperti yang tadi dia katakan. Jadi, aku pikir hubungan kita akan segera berakhir. Tapi kapan?” Semua pertanyaan serta kalimat yang keluar dari mulut Thalia. Membuat Ren sedikit merenung sejenak.
Niatnya membawa Hazal, hanya ingin membuat Thalia cemburu atau setidaknya merasa seperti memusuhi, marah atau apapun.
Tapi kenapa? Kenapa malah Thalia lebih dulu mempertanyakan perpisahan mereka?
Lalu? Kenapa tiba - tiba Ren merasakan rasa yang kurang nyaman. Ketika mendengar Thalia ingin meminta pisah darinya.
“Itu, kata pengacarku, dia akan datang seminggu lagi. Jadi kamu sabar dulu ya.” Jawab Ren, lalu memilih untuk menarik selimutnya dan berpura - pura akan tertidur.
Thalia kembali menghela nafasnya. Mengapa harus seminggu lagi? Dia sudah sangat lelah dalam kondisi ini.
Melihat Ren yang sepertinya sudah tertidur, Thalia memilih untuk keluar dari kamar.
Dia ingin melihat - lihat apa yang bisa dia lakukan. “Apakah besok aku membeli ponsel saja ya? Rasanya sulit sekali jika tidak mempunyai Ponsel.” Gumamnya, sambil terus melangkahkan kakinya turun ke bawah.
Tetapi, ketika dia sudah di bawah, dia melihat Hazal yang sudah lebih dulu duduk di sofa. “Dari mana kamu mendapatkan makanan itu?” Tanya Thalia dengan lembut dan ramah.
Namun, Hazal tidak menjawabnya sama sekali, dia malah berpura - pura tuli, karena merasa malas untuk menjawab pertanyaan wanita asing menurutnya.
Thalia menghela nafasnya lalu menggelengkan kepalanya, melihat sikap Hazal yang terlalu sombong.
“Permisi, Bi, bisa tolong buatkan saya minuman hangat tidak ya?” Pintanya dengan lembut.
“Baik Nyonya, bisa.” Jawab bi Nining. Lalu langsung bersiap untuk segera membuatkan Thalia meninuman hangat seperti yang dia minta.
“Terima kasih Bi.” Ucap Thalia lagi, berterima kasih dengan memperlihatkan senyuman manisnya.
Setelah itu dia kembali melangkah untuk duduk di ruang keluarga. Niatnya ingin mencari hiburan menonton Televisi atau apapun.
“Enak banget ya, jadi Nyonya, tinggal minta sama pembantu terus duduk menikmati.” Singgung Hazal, yang rupanya sejak tadi mulai memantaunya.
Kini berbalik, Thalia mengabaikannya, tidak ingin menanggapi ocehan wanita itu.
Hazal yang tidak suka di abaikan langsung berdiri dan melangkah mendekat ke arah Thalia. “Kamu itu bisa tahu diri tidak?! Aku calon istri dari Ren, sedangkan kamu hanyalah seorang budak yang dia beli.” Sentaknya tiba - tiba, membuat Thalia menatap bingung ke arahnya.
“Kamu sehat?” Tanya Thalia, masih dengan suaranya yang datar.
Bagaikan menyiram bensin pada bara yang sedang memerah. Thalia sepertinya membuat api itu langsung hidup dan berkorban.
“Heh! Wanita murah han! Harga dirimu itu saja tidak lebih dari harga sepatuku! Jangan terlalu sombong di depanku! Aku bahkan bisa sekali berbicara dengan Ren, kamu langsung di ceraikan dan di usir dari rumah ini!” Makinya, tidak terima ketika Thalia menanyakan apakah dirinya sehat atau tidak. Karena itu seperti sama saja Thalia menanyakan apakah dia gila atau tidak.
Thalia menghela nafasnya, lalu dia bangkit dari duduknya dan menatap wajah Hazal. “Apa sudah selesai bicaranya?” tanya Thalia lagi. Kali ini suaranya tedengar sangat dingin. Bahkan tatapannya sangat tajam seperti siap menusuk lawannya kapan saja.
Dan tanpa aba - aba, Thalia menarik tangan Hazal untuk ikut dengannya. “Kamu mau bawa aku kemana! Lepasakan aku!” Perintah Hazal, dengan memaksa menarik tanganya berusaha lepas dari jeratan Thalia.
Tetapi Thalia tidak melepaskannya, dia malah semakin kuat mencengkram tangan Hazal, sampai tepat di depan pintu kamar Ren, Thalia langsung membuka pintu itu dan mendorong tubuh Hazal masuk. Hingga membuat Ren terkejut.
“Apa - apaan ini?!” Sentak Ren dengan marah. Karena Thalia dan Hazal benar - benar sangat mengejutakannya.
“Tadi kamu bilang apa? Kamu bilang kalau kamu bicara dengan Ren, dia bisa langsung menceraikanku, bukankah begitu?” Tanya Thalia, mengulang pernyataan yang di berikan oleh Hazal tadi waktu di bawah.
Ren melihat wajah Thalia yang tidak biasa, entah apa yang sudah di buat oleh Hazal sampai membuat Thalia semarah itu.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*