
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
“Tadi kamu bilang apa? Kamu bilang kalau kamu bicara dengan Ren, dia bisa langsung menceraikanku, bukankah begitu?” Tanya Thalia, mengulang pernyataan yang di berikan oleh Hazal tadi waktu di bawah.
Ren melihat wajah Thalia yang tidak biasa, entah apa yang sudah di buat oleh Hazal sampai membuat Thalia semarah itu.
Merasa jika Hazal mungkin sudah membuat Thalia marah. Ren bangkit dari tempat tidurnya lalu mendekati Thalia. “Ada apa? Kenapa kamu semarah itu?” Tanya Ren pada Thalia.
“Wanita ini bilang, kalau dalam sekali bicara, kamu akan langsung menceraikanku, makanya aku tantang dia untuk bicara sekarang sama kamu!” Jawabnya, menceritakan apa yang Hazal katakan tadi.
Ren langsung menatap Hazal dengan tatapannya yang menyala. “Lalu, kenapa baju kamu basah?” Tanya Ren lagi.
“Tanya wanita itu.” Jawab Thalia, lalu memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi. Untuk mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya.
Sedangkan Ren, hanya melihat saja langkah Thalia yang hilang di balik pintu.
Ren menghela nafasnya, dia pikir dengan menggunakan Hazal, Thalia akan sedikit bisa luluh padanya. Tapi ternyata dia salah. Datangnya Hazal malah semakin membuat masalahnya dengan Thalia semakin rumit.
“Keluar dari kamarku!” Perintah Ren, masih dengan suaranya yang tedengar baik - baik saja.
Hazal menggelengkan kepalanya pelan. “Ren, kamu tidak membencikukan, kamu beneran akan ceraikan dia dalam waktu dekatkan untukku kan.” Hazal, menuntut jawaban dari apa ya g sudah di katakan oleh Ren sore tadi kepadanya.
“Keluar dari kamarku! Dan jangan lupa besok pagi aku sudah tidak mau melihatmu ada di rumahku!” Ren tidak menjawab apa yang di inginkan oleh Hazal. Dia malah kembali mengusir gadis itu untuk ke dua kalinya.
“Ren?”
“Keluar!” Perintah Ren, dan kali ini suaranya terdengar naik satu oktaf.
Dia benar - benar merasa pusing saat ini, dan jangan sampai gara - gara Hazal, dia akan kehilangan Thalia lagi.
Hazal tertegun, ketika Ren membentaknya. Membuatnya akhirnya mengalah dan berjalan pelan keluar dari kamar Ren dengan membawa sejuta kemarahannya.
“Sial! Berani - beraninya demi wanita itu, kamu mengusirku dan membentakku.” Umpatnya, ketika dia sudah berada di luar kamar Ren.
Dia merasa sangat kesal dan semakin menaruh dendam pada Thalia.
Sedangkan di dalam kamar, Thalia yang sudah selesai mengganti pakainnya, kembali keluar dari kamar mandi dan melihat Ren yang duduk di sofa, dengan menumpukkan kakinya seperti sedang menunggunya.
“Bagaimana? Apakah dia sudah bicara denganmu?” Tanya Thalia, menanyakan kembali tentang jawaban yang mungkin sudah di minta oleh Hazal.
Ren menghela nafasnya kesal, lalu dia bangkit dari duduknya mendekati Thalia yang hanya menyeritkan keningnya bingung. “Kalau aku mengatakan, jika aku tidak akan menceraikanmu, bagaimana?” Tanya Ren, membalikkan pertanyaan, yang sebenarnya dia sangat paham jika Thalia tidak mau mendengarkan hal itu.
“Kesepakatannya?” Tanya Ren lagi, lalu melangkah melewati tubuh Thalia begitu saja.
Dia juga menampilkan senyumnya, seperti meremehkan kesepakatan yang ada. “Bukankah kesepakatan kita sudah tidak ada, setelah kamu mengembalikan uangku?” Tanyanya lagi. Membuat Thalia semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya di katakan oleh Ren.
“Perjanjian, tetaplah perjanjian, terlepas dari apa yang aku lakukkan atau apapun, tetaplah itu yang kita sepakatin.” Jawab Thalia, menolak apa yang di maksud oleh Ren.
Bahkan dia menatap Ren dengan tatapan penuh tanda tanya. “Entahlah, mungkin aku butuh alasan yang pas agar aku bisa menceraikan kamu.” Balas Ren lagi. Dia benar - benar memancing amarah Thalia.
“Aku tahu jadi tahu, kesalahanku karena aku menerima kembali denganmu.” Ujar Thalia, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Ren dengan dada yang terlihat naik turun menahan rasa marah.
Dia berjalan ke kamar Glo, dan mengetuknya. “Ada apa?” Tanya Glo, ketika dia membuka pintu dan melihat Thalia berdiri di depannya.
Karena dia belum tertidur, jadi dia langsung cepat membuka pintu ketika suara kakak iparnya terdengar. “Apakah kamu bisa bantu aku menghubungi Valda? Aku ingin meminta uangku yang dengan dia.” Jawab Thalia, dengan wajah yang sangat memohon pada Glo. Agar adik iparnya itu mau membantunya.
Glo terdiam sejenak untuk berpikir, lalu dia menoleh masuk ke dalam kamar, dan melihat angka yang ada di dinding. “Ini sudah sangat larut, apakah bisa besok?” Tanya Glo, merasa bahwa di jam segini dia khawatir akan sangat menganggu Valda.
“Berikan saja aku alamatnya, maka aku akan ke sana sendiri.” Pinta Thalia langsung.
“Buat, Buat apa kak?” Tanyanya dengan bingung.
Tidak biasanya Thalia meminta nomor dan bahkan sampai meminta alamat Valda. Thalia enggan menjawab. “Jadi alamat rumahnya juga kamu tidak mau memberinya?” Tanya Thalia lagi. Dan kali ini Glo semakin menyeritkan keningnya bingung.
“Ini kakak ipar kenapa ya? Kok perasaan aku jadi gak enak.” Glo berucap dalam hati. Dan mencoba untuk menarik nafasnya panjang.
Dia harus sabar jika kakak iparnya ini bersikap ketus, karena pasti ada pemicunya. Dan ini pasti berhubungan dengan wanita keong racun itu.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*