
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Setelah mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan, Glo mengantar Thalia untuk pergi ke Ibox, tempat khusus menjual ponsel brand terkenal Iphone, yang selalu mereka sekeluarga gunakan.
“Kakak mau ponsel yang seperti apa?” Tanya Glo, menanyakan dulu bagaimana keinginan kakak iparnya.
“Terserah, yang menurut kamu bagus, dan layak di gunakan.” Jawab Thalia. Karena jujur dia sama sekali tidak mengerti soal ini.
Bukan karena dia katro atau apapun, hanya saja sedari kecil dia sudah di latih untuk membunuh dan hidupnya fokus untuk menjalankan misi. Dia tidak mempunyai waktu seperti orang lain yang seperti biasa memainkan ponsel dan berselfi ria.
Selama ini untuk berkomunikasi, dia hanya melewati Darius, karena posisinya tidak akan pernah jauh dari Darius. Dan lagi pula kesibukan mereka terlalu padat, jadi tidak mempunyai waktu untuk bermain ponsel.
Glo menganggukan kepalanya pelan, sebenarnya dia tidak tahu berapa uang yang di miliki oleh kakak iparnya, hanya saja dia langsung meminta Iphone 14 pro Max yang terbaru untuk di keluarkan.
“Kakak mau warna apa?” Tanya Glo lagi.
“Gold kayanya bagus.” Jawab Thalia, lalu memberikan kartu miliknya untuk membayar.
Namun Glo lebih dulu melarangnya. “Kali ini aku yang belikan kakak, jadi simpan saja kartunya kakak.” Tungkasnya, lalu mengeluarkan kartunya sendiri.
“Tapi Glo, aku tidak enak, biarkan aku saja yang membayarnya.” Thalia tidak mau sampai harus berhutang dengan Glo, namun Glo terus saja menolak kartunya dan malah menyodorkan kartunya untuk melakukkan pembayaran.
“Terima kasih ya Glo, sudah di belikan.” Ucap Thalia, ketika kertas dari mesin debit itu sudah keluar.
“Sama - sama kak,” balas Glo tak kalah ramah.
“Oh ya, ponselnya butuh di restar dan di daftarkan dulu, kayanya kita keliling saja dulu deh.” Ajak Glo, ingin membawa Thalia berkeliling di mall itu.
Tetapi sebelum itu, dia meminta untuk ponsel itu di stel Connection dengan ponsel kakaknya. Sehingga siapapun yang menelpon kakaknya akan masuk dalam ponsel Thalia, dan begitupun sebaliknya.
“Memangnya kita mau kemana?” Tanya Thalia dengan bingung, ketika tanganya di bawa saja oleh Glo pergi masuk ke sebuah salon kecantikan.
Thalia melihat sekelilingnya, banyak sekali wanita cantik dan berpenampilan mahal, sedangkan dia hanya menggunakan celana Levis, baju T-shirt serta rambut yanh di gerai begitu saja.
Bahkan banyak orang yang melihat ke arahnya, mungkin menganggap penampilannya sangat aneh dan seperti gembel.
“Kakak ipar.” Tegur Glo, setelah sesaat dia mengobrol dengan sang pemilik salon.
Thalia tersenyum ketika Glo datang bersama dengan seorang wanita cantik. “Hemm, kak Yeni, dia adalah kakak ipar aku.” Glo memperkenalkan Thalia pada sang pemilik salon.
“Heyy, saya Yeni.” Sapa wanita itu.
“Thalia.” Balasnya dengan senyumnya. Sebenarnya dia merasa aneh berkenalan dengan orang baru, hanya saja dia menghargai Glo yang sudah dengan baik memperkenalkan mereka.
Glo terlihat bahagia sekali, ketika melihat kakak iparnya mau berintraksi dengan orang lain. “so, aku mau, tangan ajaib kak Yeni ini, membuat rambut dan kuku kakak ipar aku ini terlihat sangat cantik, dan oh ya, eyelashnya jangan lupa.” Ucapnya, memberitahukan Yeni, apa yang harus dia lakukkan pada wajah kakak iparnya.
“Baiklah, kalau itu saja siap.” Sahut Yeni, lalu menarik tangan Thalia untui ikut dengannya.
“Loh, Glo?” Thalia merasa bingung ketika tangannya di tarik tanpa sebuah aba - aba, dan dia di suruh duduk di kursi yang sudah di sediakan.
Thalia bingung, apa yang mau mereka lakukkan padanya, rambutnya sudah pendek, dan lalu apa lagi yang mau mereka lakukkan.
Karena tidak mau hanya diam menunggu saja, akhirnya Glo ikut duduk di sebelah Thalia, karena dia juga ingin mengangti warna rambut dan juga gaya rambutnya.
Cukup diam, dan rasakan kenikmatan treatment- treatment mereka, yang memotong, memwarnai, dan memijat dengan telaten.
***
Sedangkan di sisi lain, Ren yang baru saja mendapatkan laporan dari adiknya tentang kepergian mereka untuk mencari ponsel. Membuat Ren langsung mengirimkan uang ke rekening adiknya untuk membayarkan ponsel yang Thalia beli.
Setelah itu dia juga mendapatkan sebuah undangan pesta pernikahaan dari kolega bisnisnya, membuatnya harus membawa istrinya untuk berkenalan dengan orang lain.
Awalnya Ren hanya meminta pendapat adiknya saja, tetapi tidak di sangka adiknya langsung memberikan ide untuk membawa Thalia ke salon, untuk di make up secantik mungkin serta rambutnya di buat se fresh mungkin.
Ren duduk dengan senyum di wajahnya, dan tidak lama kemudian terlihat Valda yang masuk ke dalam ruangannya.
“Tuan.” Tegur Valda, merasa aneh ketika bosnya duduk dengan senyum - senyum sendiri seperti itu.
“Tuan.” Tegurnya sekali lagi, dan itu sontak membuat Ren terkejut mendengarnya.
“Valda! Kalau masuk itu bisa ketuk pintu dulu tidak!” Makinya, merasa jantungnya akan lepas dari tempatnya, karena panggilan Valda yang tiba - tiba seperti itu.
Valda menyeritkan keningnya bingung ketika dirinya mendapat makian seperti itu dari tuannya.
“Tetapi saya sudah mengetuk pintu berulang kali tadi Tuan, dan Anda malah melamun dan bahkan tersenyum- senyum sendiri.” Balas Valda, berusaha membela dirinya agar tidak selalu di salahkan dengan bosnya.
Mendengar kalimat Valda itu, tentu saja Ren merasa malu sendiri, apa lagi dia sudah ke tangkapan melamun sambil tersenyum sendiri, pasti Valda mengira jika dirinya adalah orang gila.
Ren memperbaiki posisi duduknya, dan memperbaiki suaranya. “Katakan! Ada apa kamu datang ke sini?” Tanya Ren, langsung mengganti topik di antara mereka.
“Sahabat Anda, Tuan Marvel, ingin konfirmasi apakah Tuan datang ke acara pernikahaan kakaknya, atau tidak?” Jawab Valda, menyampaikan pesan dari sahabat bosnya.
“Tentu saja datang.” Balas Ren dengan penuh antusias.
Sangking antusiasnya itu Valda Kembali menyeritkan keningnya bingung dengan perubahan sikap bosnya hari ini. Biasanya untuk pergi ke sebuah pesta pernikahaan, dia butuh bertanya berulang - ulang bahkan membujuk bosnya untuk datang.
Tapi kali ini, bahkan dengan suka rela dia menjawab jika dia akan datang.
“Valda, katakan pada Marvel! Jika aku akan datang.” Ren mengulang lagi kalimatnya, memastikan jika Valda mendengar jawaban darinya.
“Ba- baik Tuan, akan saya sampaikan sekarang.” Balas Valda, lalu izin pamit untuk keluar dari ruangan bosnya dnegan membawa seribu tanda tanya di otaknya, ada apakah gerangan dengan bosnya hari ini?
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*