
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Sejak kejadian semalam, kini suasana rumah sedang tidak baik - baik saja. Di tambah lagi, sarapan pagi ini masih ada Hazal, membuat Glo dan Thalia memilih untuk tidak menanggapinya.
“Glo, apakah kamu akan keluar hari ini?” Tanya Thalia pada adik iparnya. Mengabaikan suaminya dan Hazal yang sedang duduk bersebelahan.
Glo terlihat diam untuk sejenak, mengingat apakah dia mempunyai agenda atau tidak.
“Hemm, hari ini sepertinya tidak ada kak, memangnya kenapa?” Jawab Glo, yang kemudian kembali bertanya, ada apa gerangan kakak iparya ini menanyakan tentang jadwalnya.
“Temanin aku pergi ke Mall mau tidak?” Thalia ingin mengajak adik iparnya untuk berjalan - jalan keluar.
“Mau ngapain?” Pertanyaan itu bukan keluar dari mulut Glo, melainkan keluar dari mulut Ren.
Tetapi Thalia tidak menanggapinya, dia hanya menunggu jawaban dari Glo saja.
“Bagaimana bisa tidak?” Tanya Thalia lagi, menunggu jawaban dari adik iparnya.
“Bisa kok kak, jam 10an kita pergi ya.” Jawab Glo dengan begitu antusias.
Merasa tidak di anggap oleh ke dua wanitanya ini, Ren langsung menampilkan sorot matanya yang tajam.
Sedangkan Hazal, yang melihat tatapan Dalam Ren pada Thalia, merasa marah sendiri. “Ren, apakah kamu mau mencoba ini?” Tanyanya, memecahkan keheningan antara dia dengan Ren.
Mencoba melayani Ren, mana tahu akan luluh dengan kelembutannya. “Tidak Hazal! Kamu bisa diam gak!” Jawabnya, membentak wanita yang ada di sebelahnya ini.
Hazal menggunakan kesempatan itu, untuk tertunduk sedih. Dia bertingkah seolah - olah dia sangat tersakiti dengan bentakan Ren barusan.
Thalia dan Glo juga seketika menoleh ke arah mereka berdua, melihat apa yang sedang terjadi.
“Maaf Ren, aku hanya -“
“Aku dari semalam sudah mengatakan sama kamu, untuk tidak pergi ketika pagi sudah datang, tapi kenapa kamu masih ada di sini?!” Tegasnya lagi, lalu memilih untui bangkit dan meninggalkan meja makan.
Dia sudah tidak bernafsu lagi melanjutkan makan paginya, dan berpikir ingin segera berangkat ke kantor saja.
Glo yang melihat kakaknya sudah pergi, lalu tersenyum melihat Hazal yang masih tertunduk malu.
“Hahahah, bagaimana? Apakah kamu masih punya muka untuk duduk di meja makan ini? Sedangkan yang punya rumah saja sudah mengusir kamu.” Seru Glo, membuat Hazal langsung menatap ke arahnya dengan sinis.
“Apa kamu liat - liat?! Mau aku colok matamu?!” Timpalnya lagi, tidak suka ketika Hazal melihatnya seperti itu.
Hazal memilih diam saja, dan enggan untuk menjawabnya. Dia bahkan langsung bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pulang.
Tetapi sebelum itu, sebelum dia melangkah jauh, dia kembali membalikkan tubuhnya, dan melihat ke arah Glo.
“Oh ya, aku cuman mau bilang, mungkin sekarang kamu bisa usir dan mentertawakanku, tapi untuk ke depannya nanti, jangan kaget ya! Jika panggilan kakak ipar itu akan kamu tujukan padaku.” Ucapnya, lalu kembali melangkahkan kakinya pergi.
Glo mengumpat dengan kesal, ketika dia mendengar apa yang baru saja di katakan Hazal kepadanya. “Gila ya ini perempuan! Udah di tolak berulang kali juga masih saja mengejar
Kakakku, wanita punya malu dikit dong, jangan terlalu jual murah.” Glo merespon kalimat Hazal yang penuh dengan kata - kata halu tadi.
Sedangkan Thalia memilih hanya diam saja, toh dia juga tidak mau ikut campur dengan masalah Ren, adiknya dan wanita itu.
Permasalahannya saat ini, hanyalah mencari pengacara keluarga Ren lalu dia akan menandatangi surat pengalihan ahli waris, dan setelah itu barulah mereka akan bercerai.
Tetapi sebelum itu, dia juga ingin bertemu dengan Valda untuk meminta uangnya itu. Dia ingin keluar kota atau kemanapun yang dia mau, dan memulai hidup baru di kota itu.
Tanpa terlibat lagi dengan siapapun, dan kalau dia kembali akan jatuh cinta. Dia juga berharap, jika pria itu adalah pria baik - baik yang mau menerima dirinya, dengan tidak membawa masa lalunya yang buruk.
****
Seperti yang mereka janjikan, kini Thalia dan Glo sedang berada di dalam mobil untuk pergi ke Mall.
“Aku baru tahu, kalau kakak bisa menyetir mobil.” Ucap Glo, ketika tadi Thalia mengatakan jika dia ingin menyetir mobil milik Glo.
Thalia yang sedang fokus menyetir, hanya tersenyum saja dan sedikit menoleh ke arah Glo yang sedang menatapnya. “Aku sudah bisa sejak lama sih, cuman akhir - akhir ini sudah tidak pernah di asah lagi, jadi aku pengen coba lagi.” Balasnya kembali tersenyum.
“Kak, kakak tau gak sih, kita ini sama - sama punya lesum pipit ternyata.” Glo baru memperhatikan senyum kakak iparnya itu yang sama dengan dirinya menampilkan lesum pipit.
“Kamu baru menyadarinya?” Tanya Thalia, karena dia sebenarnya sudah tahu dari saat pertama kali mereka bertemu.
Glo menganggukan kepalanya pelan. “Iya kak, aku baru tahu.” Jawabnya, dengan penuh senyuman.
Sedangkan Thalia, tiba - tiba saja dia kembali terdiam mengingat jika ini pertama kalinya dia tersenyum dengan leluasa setelah kejadian waktu itu.
Waktu di mana dia kehilangan kekasihnya Nathan yang di bunuh oleh Darius.
Tetapi, karena sekarang Darius dan Shagy sudah mati, jadi dia merasa sedikit legah karena dendamnya bisa terbalaskan.
“Hemmm, kak, sebenarnya kita ke Mall mau ngapain sih kak?” Tanya Glo, yang akhirnya bertanya tentang apa tujuan kakak iparnya itu mau ke jalan - jalan ke Mall.
“Aku ingin membeli ponsel, aku tidak mempunyainya, dan itu membuatku susah untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dan kadang kalau aku melihat kamu dan kakak kamu main ponsel di depanku, sedangkan aku hanya diam saja tanpa melakukan apapun, jadi ya aku bosan dan aku pengen beli ponsel.” Thalia menjelaskan keinginan dirinya yang mau mempunyai ponsel.
“Loh, kenapa kakak gak minta aja sama Kak Ren, pasti di kasih kok, dari pada kakak harus beli sendiri, sayang uangnya kak.” Ujar Glo, memberikan solusi pada kakak iparnya agar bisa sedikit hemat.
Thalia menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak akan membebani kakakmu, tujuanku masih meneruskan pernikahaan ini, karena aku sudah berhutang budi denganya karena sudah membebaskanku. Dan uang yang dia gunakan untuk menebus aku juga sudah aku balikin. Jadi berpikir mau menyusahkan dia untuk membeli ponsel, aku rasa tidak perlu lah. Aku masih punya uang kok untuk membiayayi diriku sendiri.” Balas Thalia, menolak ide yang di berikan oleh Glo barusan.
Mungkin memang benar, ketika suaminya kaya raya, harusnya dia memanfaatkan hal itu. Tetapi dia memilih untuk tidak melakukkan hal itu. Karena membebani orang lain, itu bukanlah Type Thalia. Selagi dia bisa melakukkan dan membeli apa yang dia mau, maka dia akan melakukkan sendiri tanpa harus melibatkan orang lain.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*