
Samar-samar Zyano mendengar suara adiknya . Perlahan Zyano membuka kedua kelopak matanya. Begitu terbuka sempurna dia dapat melihat kalau dirinya dan Ziva sedang terikat.
"Akhirnya kakak sadar." ucap Ziva menangis terharu. Ia pikir kakaknya tidak akan membuka matanya lagi makanya Ziva sangat ketakutan.
"Ini dimana?" tanya Zyano menyesuaikan pandangan sekitar. Ia merasa asing.
"Aku juga tidak tahu ka. Saat sadar aku sudah ada di sini." jawab Ziva.
Zyano menatap sekelilingnya. Ia tidak yakin ini tempat apa tapi terlihat seperti sebuah gudang terbengkalai. Mereka di kurung dengan kedua kaki dan tangan yang terikat. Tempat itu sangat luas dan banyak drum-drum besi yang entah apa isinya.
"Kaka kita harus bagaimana? Aku takut." ucap Ziva merengek ketakutan.
"Tenanglah, Ziva. Jangan menangis terus kaka jadi pusing mendengarnya." decak Zyano tak bisa berpikir jernih kalau adiknya itu terus merengek.
"Tapi aku takut ka. Bagaimana kalau mereka membunuh kita. Aaaaaaa aku tidak mau." rengeknya makin kencang.
"Astaga diamlah, Ziva!" bentak Zyano kesal.
"K-kenapa kaka membentak aku." Ziva makin menangis karena dibentak kakaknya itu.
"Ziva, dengarkan Kaka." ucap Zyano menatap adiknya serius. "Kaka tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, Ziva. Mereka tidak akan bisa membunuh mu karena sebelum hal itu terjadi kaka akan lebih dulu melindungi mu. Jadi, jangan menangis lagi ya." pinta Zyano menenangkan adiknya.
"I-iya kaka. Aku juga pasti akan melindungi Kaka." ucap Ziva mengangguk paham.
Zyano terkekeh pelan. "Baiklah, kita sama-sama saling melindungi saja."
Prok prok prok
"Hohoho pemandangan apa yang sedang ku lihat? Seorang kaka ingin melindungi adiknya dan begitupun sebaliknya? Apa kalian pikir kalian bisa keluar dari sini hidup-hidup hah?!" bentak orang tadi tiba-tiba muncul sambil bertepuk tangan.
"Hei pak tua, aku dan kakakku pasti bisa keluar dari sini karena kakakku pasti akan mengalahkan kalian semua!" ucap Ziva penuh keyakinan.
Cletak
Orang itu menjitak kepala Ziva. "Hei, bocah jangan terlalu banyak berkhayal. Memangnya apa yang bisa kakakmu lakukan dengan tangan terikat seperti itu hah? Untuk membebaskan diri saja dia tidak bisa, lalu bagaimana caranya dia bisa mengalahkan kami semua hah?!" tanya orang itu meremehkan.
"Cih, dasar kau bapak-bapak tua jelek! Mulutmu sangat bau seperti tidak sikat gigi satu bulan." ejek Ziva meludah.
"Sialan kau bocah!" umpat pria itu marah dan menjambak rambut Ziva hingga dia menjerit kesakitan. Tak hanya itu bahkan dia juga mencengkeram dagu Ziva hingga meninggalkan bekas merah.
"Aaaaaaaaa sakit! Lepaskan aku!" jerit Ziva mengaduh kesakitan.
"Jaga mulutmu bocah atau kau mau lidahmu itu ku potong hah?!" bentak pria itu mengancam.
"Aaaaaaaa tidak mau!" teriak Ziva menangis sejadi-jadinya.
"Diamlah bocah! kau sangat berisik!"
"Kau jahat! Aku tidak mau mati ditangan pria jelek seperti mu!"
"Diam atau ku potong lidahmu sekarang juga!"
Seketika Ziva terdiam. Ia menutup mulutnya rapat-rapat, sebab takut kalau lidahnya benar-benar akan di potong.
"Akan ku bunuh kau jika berani melukai adikku!" ucap Zyano menggeram dengan sorot mata tajam.
"Hohoho apa kau bilang? Membunuhku? Cih, dalam mimpimu sana. Sebelum kau membunuhku aku yang akan lebih dulu membunuhmu bocah sialan!" teriak pria itu menjambak rambut Zyano hingga membuatnya lehernya sakit.
"Erghhhhhhh...." Zyano menggeram menahan sakit. Cengkraman pria itu sangat kuat. Lehernya bisa patah kalau dibiarkan terus.
"Kakaaaaaaa." teriak Ziva tidak tega melihat kakaknya di perlakukan kasar oleh pria itu.
"Hei pak tua jelek! jangan sakiti kakakku!"
"Diam kau bocah!" bentak pria itu membuat Ziva takut. Ia tidak pernah dibentak seperti itu.
"Adik dan kaka sama-sama merepotkan! Memangnya apa yang bisa kalian lakukan hah?! Bocah kok banyak omong. Ingin membunuhku? Kalian berdua yang akan mati lebih dulu!" tukas pria itu masih kesal.
"Sudahlah, Radit jangan terlalu meladeni ucapan anak kecil. Kau kekanak-kanakan tau." ejek seorang pria tiba-tiba masuk dan menghambat mereka.
"Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan bocah sialan ini!" tegas pria yang bernama Radit itu.
"Hei, jaga bicaramu! Jangan lupa posisi mu disini hanyalah bawahan ku!" ujar pria itu tak suka dengan sikap sombong bawahnya.
Pria itu berdecih." Cih," Ia menggertak kan giginya geram.
"Cepat lepaskan bocah itu! Jangan sampai dia lecet sedikitpun nanti bos besar bisa marah!"
"Yayaya berisik!"
Dering ponsel milik pria tadi mengalihkan perhatian mereka. Saat dilihatnya ternyata ada panggilan masuk dari bos besar. Pria itupun menjauhkan diri dari mereka untuk mengangkat panggilan. Sementara Radit masih sangat kesal. Kalau bukan karena bos besar sudah dari lama dia membunuh kedua bocah dihadapannya ini.
"Tunggu saja bocah kalau aku mendapatkan perintah untuk membunuh kalian maka akulah yang pertama akan melakukan itu." ujar Radit mengancam.
"Tidak............Jangan bunuh kami!" teriak Ziva.
"Diamlah bocah atau kau mau lidahmu lebih dulu aku potong hah?!"
Ziva menggeleng dan lekas menutup mulutnya rapat-rapat. Tubuhnya bergetar ketakutan. Ziva tak ingin lidahnya di potong. Sementara Zyano hanya diam dengan sorot mata tajam. Tanpa mereka ketahui Zyano sedang berusaha melepaskan ikatan tali itu dengan pisau lipat miliknya. Tidak sia-sia ayahnya memberikan hal itu padanya. Ternyata sangat berguna disaat terdesak seperti ini.
Setelah selesai berbincang dengan bos besar di telpon. Pria tadi kembali menghampiri Radit.
"Kita mendapatkan perintah dari bos. Katanya kita hanya perlu membawa anak laki-laki itu saja kehadapan nya, karena dialah yang akan menjadi pewaris!" ujarnya.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan dengan gadis kecil itu?" tanya Radit.
Pria itu menyungging senyum liciknya. "Kita jual saja dia di tempat pelacuran."
"Apa? Bukankah itu terlalu berbahaya? Menurutku lebih baik di bunuh saja agar tidak meninggalkan jejak apapun!"
"Tidak ada untungnya kita membunuhnya. Lagipula kalau kita menjualnya ke tempat pelacuran kita pasti akan mendapatkan untung banyak. Apa kau tidak ingin uang?"
Radit terdiam sejenak. Ia melirik Ziva yang menggeleng-gelengkan kepalanya takut. Mereka berdua bisa mendengar percakapan para penculik itu.
"Yah, kau benar. Aku setuju dengan rencana mu." ucap Radit menyeringai. Meskipun dia tidak bisa membunuh tapi setidaknya dia akan mendapatkan keuntungan dengan menjual Ziva.
"Ya sudah cepat bawa mereka!"
"Baiklah, aku akan membawa gadis kecil itu dan kau bawalah bocah laki-laki itu kehadapan bos besar." ujar Radit.
"Tidak............. Aku tidak mau ikut kalian!" teriak Ziva memberontak.
"Diam kau!" bentak Radit.
"Tidak mau!" teriak Ziva mengigit tangan Radit hingga menjerit kesakitan.
"Aaaaaaaa tanganku. Dasar bocah sialan!" teriak Radit langsung melepaskan pegangan tangannya pada Ziva hingga membuat gadis itu terlempar beberapa meter dan tanpa sengaja kepalanya membentur drum-drum besi yang ada di gudang tersebut.
"Zivaaaaaaaa." Zyano berteriak melihat adiknya yang terkapar lemah di lantai dengan kepala bersimbah darah.
"Berani-beraninya kalian menyakiti adikku!" geram Zyano mengepalkan tangannya erat. Menatap kedua pria itu dengan tatapan membunuh.
"Salahkan adikmu kenapa dia mengigit tanganku sampai meninggalkan bekas seperti ini. Benar-benar gadis sialan!" umpat Radit menyalahkan Ziva.
"DIAM KAU!" bentak Zyano sampai membuat kedua pria itu tersentak kaget. Zyano terlihat sangat marah. Darahnya mendidih tidak terima kalau adiknya disakiti.
"Hei bocah, beraninya kau membentak kami hah?!" sarkas Radit tak terima dan berjalan mendekati Zyano. Ia mencekik leher Zyano sampai kehabisan nafas. Bukannya takut Zyano malah menarik sudut bibirnya menyeringai devil.
Jleb
Pisau lipatnya menusuk perut Radit sampai sedalam-dalamnya. Tak berhenti sampai disitu. Zyano juga menusuk kan pisau lipatnya ke beberapa titik penting ditubuhnya hingga membuat Radit tak bisa bergerak karena mati rasa.
Uhukkkkkkk
Darah pekat keluar dari mulut Radit hingga mengenai wajah Zyano. Bukannya jijik Zyano malah menjilat darah tersebut.
Ia meludah. "Cih, darah busuk!"
Zyano memajukan wajahnya dan berbisik ke telinga Radit. "Kau bilang ingin membunuhku bukan? Cih, terlalu percaya diri! Jangan hanya karena aku masih kecil kau bisa meremehkan darah mafia dalam tubuhku! Aku keturunan Zeano, iblis tak berhati. Dan rasakan kematian mu sendiri!"
Terakhir Zyano menusukkan pisau lipatnya tepat ke jantung Radit. Ia memajukan wajahnya. "Bersiaplah untuk bertemu dengan penjaga neraka." bisik Zyano tersenyum devil.
"S-sialan kau bocah." ucap Radit terbata-bata dan kemudian tersungkur dengan bersimbah darah. Di sekujur tubuhnya terdapat luka tusukan yang dalam. Pria itu mati dengan cara yang mengenaskan hanya karena seorang bocah.
"R-radit." ucap pria itu shock melihat kematian Radit di depan matanya.
Zyano mengalihkan pandangannya ke pria itu. "Selanjutnya kau."
Bersambung 😎
______________________________________________
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰👍🥰🥰🥰
Maaf dua hari kemarin otor gabisa update karena kesibukan di real life. Mohon pengertiannya ya guys 🙏😊
^^^Coretan Senja ✍️^^^