
Keesokan harinya......
Matahari pagi mulai menampakkan sinarnya. Tubuh Katerina menggeliat ke samping kiri. Ia merentangkan tangannya hingga tanpa sadar memeluk tubuh kekar Zyano. Kepalanya dia sadarkan ke dada bidang suaminya itu. Nyaman dan hangat itulah yang Katerina rasakan. Kedua matanya masih terpejam erat seolah tidak mau membuka nya.
Zyano hanya tersenyum membiarkan sang istri memeluknya sesuka hati. Ia bahkan tak bergeming dari posisinya supaya Katerina tetap merasa nyaman. Zyano juga tidak pernah bosan memandangi wajah cantik Katerina yang sedang tertidur. Terlihat damai dan menenangkan.
"Sayang, bangunlah. Ini sudah pagi!" ujar Zyano berbisik pelan di telinga Katerina.
"Em......" Katerina menggeram pelan. Kedua matanya perlahan terbuka. Ia meringis pelan sambil memegangi kepalanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan Zyano yang sangat dekat.
"Morning, sayang." sapa Zyano mengecup singkat bibir Katerina.
Katerina terkejut. "Zyan." gumamnya refleks menjauh tapi Zyano langsung menariknya kembali ke dalam pelukannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Katerina dalam hatinya bingung. Mengapa Zyano tiba-tiba memperlakukan nya dengan baik? Bukankah kemarin dia sangat marah? pikir Katerina heran.
Zyano terkekeh pelan. "Apa yang kau pikirkan sampai kening mu mengerut seperti ini sayang?" tanya Zyano sambil menyentil keningnya Katerina dengan pelan.
"Zyan, apa kau sudah tidak marah lagi?" tanya Katerina hati-hati, takut menyinggung Zyano.
"Aku tidak pernah marah." jawabnya santai.
"Hah, tapi bukankah kemarin kau?" Katerina tidak melanjutkan ucapannya karena takut salah.
"Itu bukan marah sayang!" bantah Zyano.
"T-tapi kau kelihatan marah, Zyan." ujar Katerina.
"Aku hanya tidak suka dengan rencana mu tapi bukan berarti aku marah. Kenapa juga aku harus marah denganmu? Kau kan tidak salah apapun!" tukas Zyano. Ia tidak pernah marah dengan Katerina hanya saja Zyano tidak menyukai rencana istrinya itu. Tapi Katerina menyimpulkan hal lain rupanya.
"M-maaf, ku pikir kau marah makanya kau mengabaikan ku." ucapnya.
Zyano terhenyak. "Jadi, itu yang dia pikirkan tentang ku? Karena aku bersikap dingin padanya, lalu dia pikir aku marah dan akhirnya dia meminum obat itu?" batin Zyano. "Kalau memang seperti itu berarti akulah pemicu depresi nya muncul. Astaga apa yang sudah aku lakukan?" batin Zyano meruntuki kebodohannya kemarin.
"Zyan." panggil Katerina.
Zyano tersentak. "Tidak sayang. Aku tidak marah." ucap Zyano memeluk Katerina erat. Ia jadi merasa bersalah karena sudah membuat istrinya menderita.
Katerina mengernyit bingung. "Zyan, kau ini kenapa? Apa yang terjadi padamu?"
"Aku baik-baik saja sayang. Aku hanya ingin memelukmu saja." ucapnya manja. Ia bahkan mempererat pelukannya.
"Hah?" Katerina makin tidak mengerti. Sikap Zyano berubah drastis hanya dalam waktu semalam. Ini aneh pikirnya.
"Zyan, lepaskan. Aku masih bau karena belum mandi." pinta Katerina memberontak. Tapi bukannya melepaskan Zyano justru makin mempererat pelukannya. Ia bahkan menciumi leher jenjang Katerina sambil menghirup aroma tubuhnya.
"Kata siapa? Kau malah sangat harum sayang. Aku suka aroma tubuhmu." ujarnya mengecup leher Katerina berkali-kali hingga membuat sang empu merasa geli.
Katerina yang mendengarnya jadi tersipu malu. "Zyan, sudah cukup!" bentaknya.
Zyano terkekeh lucu. "Baiklah." Ia pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah merona istrinya. Terlihat lucu dan menggemaskan.
Tangan kanan Katerina terangkat membelai rahang kokoh suaminya. "Zyan, hari ini kau sangat aneh. Tidak seperti dirimu yang biasanya." ujar Katerina.
"Aneh bagaimana, hm?" ucap Zyano balik bertanya. Ia menyisipkan helaian rambut Katerina ke daun telinganya.
"Kemarin kau bersikap acuh padaku tapi sekarang kau malah sangat manja. Apa yang terjadi padamu? Tidak mungkin kan seseorang bisa berubah hanya dalam waktu semalam?" tanya Katerina.
"Memangnya suami tidak boleh bersikap manja dengan istrinya?" bukannya menjawab Zyano malah mengajukan pertanyaan lainnya.
Katerina memalingkan muka karena malu. "B-bukan begitu maksudku, Zyan."
"Lalu, apa hm?"
"Em tidak apa-apa." Katerina benar-benar merasa malu. Ia bahkan tidak berani bertatapan dengan mata Zyano. Jantungnya berdetak lebih kencang. Pipinya juga terasa panas.
"Jangan memalingkan wajahmu, sayang. Kau sangat lucu saat malu, Kate." ejek Zyano terkekeh kecil.
"Zyan, jangan menggodaku!" tegur Katerina mencubit pinggang suaminya hingga sang empu meringis pelan.
"Aughhh, Maaf sayang." ujar Zyano.
Katerina langsung tersadar. "Astaga sudah jam delapan pagi?! Berapa lama aku tertidur?" gumamnya dalam hati shock.
Ukhhh
Katerina meringis memegangi kepalanya yang berdenyut pusing. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Namun, Katerina tidak bisa mengingat apapun. Kecuali, saat dia makan kue bersama Zahra dan setelah itu dia tidak ingat lagi.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Zyano panik.
"Apa yang terjadi kemarin? Mengapa aku sama sekali tidak ingat?" batin Katerina. Meskipun dia berusaha mengingat apa yang terjadi kemarin kepalanya justru semakin sakit.
"Kate, kau kenapa? Katakan padaku mana yang sakit?!" tanya Zyano cemas melihat Katerina yang menahan sakit.
"A-aku tidak papa, Zyan." jawabnya lemah.
"Tapi wajahmu pucat sayang."
"Aku tidak apa-apa, Zyan. Kepala ku hanya sedikit pusing." ujar Katerina tidak ingin membuat suaminya khawatir.
"Tidak bisa. Aku akan memanggil, Reza. Kau tunggu di sini sayang!" perintah Zyano. Namun, saat dia ingin pergi Katerina justru menahan tangannya.
"Jangan, Zyan. Ku mohon jangan pergi. Aku baik-baik saja." pinta Katerina menggeleng lemah. Ia tidak ingin di periksa dokter. Katerina hanya takut mereka akan tahu soal depresi dirinya.
"Tapi....."
"Please."
Zyano hanya bisa menghela nafas panjang. "Baiklah, aku tidak akan kemana-mana." Ia pun duduk kembali.
Katerina tersenyum lega. "Makasih, Zyan." ucap Katerina memeluk Zyano.
Katerina membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya. Ia merasa damai dalam pelukan Zyano. Sementara Zyano mengelus punggung belakang Katerina dengan lembut agar istrinya merasa nyaman. Sesaat keheningan menyelimuti keduanya. Tidak ada pembicaraan apapun.
"Kate."
"Hm?"
"Hari ini kita akan pulang ke mansion lama." ujar Zyano mengejutkan.
"Apa? Pulang?" Katerina terkejut mendengarnya. Ia melonggarkan pelukannya seraya menatap wajah suaminya yang serius.
"Iya, kita sudah terlalu lama menginap di sini. Lagipula aku juga harus kembali bekerja. Aku sudah terlalu lama cuti. Kasian Dave kewalahan sendiri mengurus masalah kantor." ujar Zyano.
"Yah, kau benar, Zyan. Tapi apa kau sudah membicarakan hal ini dengan mom?" tanya Katerina.
"Sudah sayang. Mom juga tidak masalah kalau kita pulang hari ini."
"Hm, baiklah. Kalau begitu kita harus bersiap sekarang, Zyan." ujar Katerina.
"Iyaa kau benar. Ayoo."
"Aaaaaaaaa." Katerina refleks memekik saat tubuhnya terangkat karena Zyano tiba-tiba menggendong nya. Ia pun mengalungkan tangannya ke leher Zyano takut jatuh.
"Zyan, apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!" pinta Katerina.
"Kita akan mandi bersama supaya lebih cepat, sayang." ujar Zyano tersenyum jahil.
"Apa?" Katerina tercengang dibuatnya.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan memakan mu hari ini." bisiknya menggoda.
Bersambung 😎
______________________________________________
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰👍🥰👍🥰🥰
^^^Coretan Senja ✍️^^^