Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
58. NIAT JAHAT


"Olivia, katakan dengan jujur! Apa anak yang ada di kandungan mu itu anakku?" tanya Rei menatap Olivia serius.


"T-tentu saja dia anakmu!" jawab Olivia sedikit gugup.


"Jangan membohongi ku, Olivia!" bentak Rei.


Olivia tersentak. "A-aku tidak membohongi mu, Rei. Anak ini memang anakmu!" tegas Olivia sambil mengelus perutnya.


Rei mendecih. "Heh, aku sudah cukup bersabar dengan segala tingkah mu, Olivia. Tapi aku tidak akan bisa memaafkan mu kalau kau membohongi ku!"


"Apa maksudmu, Rei?"


"Kau bilang anak yang ada di kandungan mu itu anakku tapi ternyata bukan!" ungkap Rei.


Deg!


Jantung Olivia berdegup kencang. Ia terkejut mendengar perkataan Rei. Darimana pria itu tau kalau itu bukan anaknya? pikir Olivia.


"Kenapa diam, Olivia? JAWAB PERTANYAAN KU!" Bentak Rei marah.


Olivia berusaha memasang ekspresi setenang mungkin. "Apa yang kau katakan, Rei? Anak ini memang anakmu! Jangan bicara yang aneh deh."


Rei tertawa sarkas. "Kenapa kau sangat yakin, Olivia?"


"Karena dia memang anakmu, Rei!"


"Anakku atau anak Bryant Astrope?!"


"Anakmu, Tunggu! Kau bilang Bryant Astrope? Kau mengenalnya?" tanya Olivia terkejut.


"Ya, kemarin aku tidak sengaja bertemu dengannya dan apa kau tau, apa yang dia katakan padaku?"


"A-apa?"


Rei memajukan wajahnya dan berbisik di telinga Olivia "Dia bilang anak yang ada di kandungan mu itu bukan anakku!"


Deg


Jantung Olivia bergemuruh hebat . Ia menelan saliva susah. Ia tidak menduga kalau Bryan akan menemui Rei.


"Melihat reaksi mu yang seperti ini membuat ku jadi semakin yakin kalau anak itu memang bukan anakku!" ujar Rei tersenyum kecut.


"TIDAK REI! Anak ini anakmu! Kau jangan percaya dengannya. Dia hanya bicara omong kosong!" ucap Olivia membantah tegas.


"Tapi bagaimana kalau aku justru percaya dengannya? Terlebih lagi dia juga mantan pacarmu. Ohh, atau mungkin jangan-jangan anak itu justru anaknya?!" tuduh Rei curiga.


"TIDAK! INI BUKAN ANAKNYA!" Bentak Olivia berteriak.


Olivia menggenggam tangan Rei. "Ku mohon, percayalah padaku, Rei. Aku tidak mungkin membohongi mu." ujar Olivia pura-pura memasang raut wajah sedih. Ia harus bisa berakting sebagus mungkin supaya Rei percaya dengannya.


"Lepas!" Rei menghempaskan tangan Olivia dengan kasar.


Prok prok prok


"Wow, akting mu luar biasa, Olivia." sahut seseorang yang tidak lain adalah Bryan. Ia berjalan menghampiri keduanya sambil bertepuk tangan.


"Bryan?" lirih Olivia terkejut saat melihat kedatangan Bryan.


"Hai, sayang. Lama tidak bertemu." sapa Bryan tersenyum penuh arti.


"Apa-apaan kau hah?! Jangan memanggilku seperti itu. Aku tidak ingin, Rei salah paham. Hubungan kita sudah lama berakhir, Bryan!" tegas Olivia tidak suka.


"Ah, maaf, Olivia. Karena aku sering memanggil mu seperti itu akhirnya jadi kebiasaan." ujar Bryan sengaja. Olivia bisa melihat senyum licik dari bibirnya.


"Wah, sepertinya hubungan kalian dulu sangat baik ya?" tanya Rei tersenyum sinis.


"Tentu saja bahkan kami sering em...ya aku tidak bisa mengatakan nya langsung tapi kau pasti mengerti kan apa maksudku, Rei?" ujar Bryan sengaja memancing perdebatan.


"Kau bicara apa hah?! Jangan mengatakan hal yang tidak perlu!" bentak Olivia marah. Ia tidak ingin membuat Rei salah paham dengan ucapan ambigu Bryan.


"Kenapa, Olivia? Aku hanya mengatakan hal sebenarnya. Bukankah dulu kita sering melak...." belum sempat Bryan melanjutkan perkataannya sudah lebih dulu di potong Olivia.


"DIAM! Aku tidak ingin mendengar nya!" bentak Olivia tersulut emosi. Bryan benar-benar membuatnya marah. Bisa-bisanya pria itu mengatakan hal frontal seperti itu didepan Rei. Kalau dibiarkan terus bisa bahaya.


"Kenapa, Olivia? Apa kau takut kalau aku mengetahui kalian pernah melakukan hubungan seperti sepasang suami istri?" sahut Rei menyeringai tipis.


Deg!


"T-tidak begitu, sayang. Aku hanya tidak ingin kau mendengar hal yang tidak penting. Lagipula semua ucapannya tidak bisa dipercaya. Dia itu hanya ingin membuat hubungan kita renggang." ujar Olivia berusaha menutupi kebenaran.


"Tapi aku justru ingin mendengar semua darinya! Kalau kau tidak mau jujur padaku tidak masalah. Aku bisa mencari kebenarannya sendiri, Olivia!"


"Kebenaran apa yang kau cari?!"


Rei berbisik. "Kebenaran tentang ayah biologis dari bayi yang kau kandung!"


Deg


Olivia terdiam. Ia mengigit bibir bawahnya takut. Olivia khawatir Bryan akan mengatakan tentang hubungan gelapnya dulu.


"Tidak! Aku tidak boleh membiarkan, Rei tahu semua tentang masa laluku. Dia tidak boleh tau kebenarannya." batin Olivia.


Hahahaha


Olivia dan Rei saling pandang heran karena Bryan tiba-tiba tertawa renyah. Pria itu berjalan mendekati, Rei. Lalu menepuk pundaknya.


"Aku kasian padamu, Rei. Kau sebentar lagi akan bertunangan dengan, Olivia tapi kau sama sekali tidak tahu apapun tentangnya? Sungguh, disayangkan." ujar Bryan merasa iba dengan Rei yang sudah terjebak dalam skenario Olivia.


"Apa maksudmu?" tanya Rei.


"Apa kau sama sekali tidak tahu bagaimana kehidupan, Olivia dulu saat menjadi model?" bukannya menjawab Bryan malah mengajukan pertanyaan.


"Heh, sudah ku duga. Ternyata Olivia benar-benar pandai menyimpan rahasianya ya."


Rei mengernyit. "Rahasia apa?"


"Rahasia kalau...."


"SUDAH CUKUP!" sentak Olivia menghentikan ucapan Bryan.


"Rei, lebih baik kita pergi dari sini. Tidak ada gunanya mendengar ucapannya. Ayo kita pergi, sayang." ujar Olivia berusaha membawa Rei pergi dari sana. Ia tidak ingin Rei mengetahui tentang masa lalunya.


"Lepas, Olivia! Sudah ku bilang bukan?! Aku akan mencari tahu kebenarannya! Jangan coba-coba menutupi apapun dariku!"


"Aku tidak menutupi apapun darimu, Rei!"


"Lalu, kenapa kau menghalangi ku untuk tau kebenarannya hah?!"


"Itu..." Olivia bingung harus mengatakan apa. Ia kehabisan kata-kata.


"Hohoho, sungguh menarik. Segitunya kau tidak ingin, Rei tau kebenarannya?" tanya Bryan.


"TUTUP MULUTMU, BRYAN!" teriak Olivia tidak bisa menahan amarahnya lagi.


Bryan terkekeh pelan. "Sebaik apapun kau menyimpan bangkai, cepat atau lambat itu akan tercium, Olivia!"


"Diam kau!"


"Hentikan! Aku tidak ingin melihat perdebatan kalian!" ujar Rei melerai.


Ia menatap Bryan serius. "Cepat katakan! Rahasia apa yang kau maksud?"


Bryan memegang pundak Rei. " Rahasia kalau, Olivia sudah tidak perawan sebelum aku berhubungan dengannya!"


Duarrrr


Rei terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka bahwa Olivia sangat murahan sampai berhubungan dengan lelaki manapun.


"Jadi, maksudmu anak itu juga bukan anakmu?"


"Iya, tapi aku tidak tahu pasti karena, Olivia banyak berhubungan dengan laki-laki lain. Jadi, untuk sekarang aku tidak bisa memastikannya. Kecuali, sampai bayi itu lahir." ujar Bryan.


Rei mengepalkan tangannya erat. Ia menatap Olivia marah. "Berani-beraninya, kau menipuku ku selama ini! Aku tidak menyangka kau sangat murahan, Olivia. Bagaimana bisa aku akan menikah dengan wanita sepertimu. Aku sangat bodoh karena sudah tergoda oleh tubuh murahan mu!"


"Tidak! Rei, dia bohong. Semua ucapannya itu tidak benar! Ku mohon, percayalah padaku. Anak ini anakmu, Rei!" ujar Olivia menahan tangan Rei yang hendak pergi.


"Lepas! Aku tidak sudi disentuh ****** sepertimu!" sarkas Rei menepis tangan Olivia.


"Aku harus memberitahu papa soal ini. Aku tidak sudi menikah dengan wanita sepertimu. Entah berapa banyak Pria yang sudah menyentuhmu. Membayangkan saja aku merasa jijik." ucap Rei tidak menyangka.


"Tidak! Ku, mohon jangan lakukan itu, Rei."


"Maaf, Olivia. Kurasa pertunangan kita harus dibatalkan! Keluarga ku tidak bisa menerima wanita sepertimu!" ujar Rei.


"TIDAKKKKKKKKKK."


Olivia terbangun dari mimpi buruknya. Nafasnya menderu turun naik. Jantungnya berdegup lebih kencang. Keringat dingin membasahi pelepisnya. Olivia menatap sekitarnya. Ruangannya bercat putih yang tidak lain adalah kamarnya sendiri.


"Ternyata itu hanya mimpi." gumam Olivia bernafas lega. Ia memijit keningnya.


"Tapi kenapa itu terasa nyata? Apa jangan-jangan hal itu akan terjadi?"


Olivia menggeleng. "Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Rei tidak boleh tau tentang masa laluku."


"Pertunangannya juga tidak akan batal! Sampai kapanpun, Rei akan tetap jadi milikku!"


"Tapi apa yang harus kulakukan? Cepat atau lambat, Bryan pasti akan memberitahukan semuanya dengan, Rei." tanya Olivia berpikir keras.


"Ah, aku tau." Olivia tiba-tiba terpikirkan ide yang bagus.


"Satu-satunya cara agar, Rei tidak tahu tentang masa laluku adalah dengan menyingkirkan Bryan. Kalau dia mati dia tidak akan bisa memberitahu, Rei." ujarnya tersenyum licik.


"Ah, rencana yang bagus, Olivia."


Olivia mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Ia menekan tombol telpon hingga akhirnya terhubung dengan seseorang.


"Hallo?"


"Hallo, Samuel." sapa Olivia.


"Tumben kau menelpon ku, Olivia. Sepertinya kau membutuhkan bantuan ku."


"Tepat sekali. Aku ada tugas khusus untukmu."


"Katakan!"


"Aku ingin kau membunuh seseorang!"


"Siapa?"


"Bryant Astrope!"


Bersambung 😎


______________________________________________


Gila ya nih si Olivia main bunuh orang aja😤


Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys :)


^^^Coretan Senja ✍️^^^