Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
65. DIAMBANG KEMATIAN


Reza, salah satu dokter keluarga Brawitama sedang memeriksa kondisi Katerina. Semua orang tampak khawatir tapi tidak dengan Zahra yang terus senyum-senyum sendiri. Entah mengapa Zahra merasa Katerina hamil.


Reza meletakkan kembali alat-alat kedokteran miliknya setelah selesai memeriksa Katerina. Ia menatap semua keluarga Brawitama yang menunggu hasil pemeriksaan.


"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Zyano.


"Reza, apa Katerina hamil?" tanya Zahra antusias.


"Hamil?" gumam Zyano dan Katerina saling pandang heran.


"Tidak, nyonya Zahra. Sepertinya nyonya salah sangka. Nyonya Katerina tidak hamil. Beliau hanya masuk angin."


"Hah?" Zahra terperangah sambil mengerjapkan mata.


"T-tapi dia kan muntah-muntah. Bukankah itu gejala wanita hamil?"


"Muntah-muntah tidak selalu menggambarkan gejala kehamilan nyonya. Muntah-muntah bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Salah satunya bisa karena masuk angin atau perut kembung." ujar Reza menjelaskan.


"Jadi, Katerina tidak hamil?" tanya Zahra sedikit kecewa.


"Tidak, nyonya." Raut wajah Zahra seketika berubah lesu. Ia pikir Katerina hamil ternyata hanya masuk angin.


"Astaga, apa aku terlalu berharap?" gumam Zahra dalam hatinya.


"Ah iya, ini obat untuk meredakan sakit perutnya agar tidak muntah lagi. Tolong diminum secara teratur ya, nyonya Katerina." ucap Reza.


"Iya, dok. Terima kasih." ujar Katerina.


"Sama-sama. Nah, karena nyonya Katerina sedang sakit. Jadi, sebaiknya kita semua keluar supaya nyonya bisa beristirahat."


"Iya, Reza benar. Ayo kita keluar sayang." ujar Zeano memapah Zahra keluar dari kamar.


Zahra keluar dari kamar tanpa berucap satu patah katapun. Ia masih kecewa setelah mendengar kalau Katerina tidak hamil. Padahal Zahra sudah sangat berharap. Tapi kenyataannya malah tidak sesuai harapan.


Setelah semuanya keluar dari kamar yang tertinggal hanyalah pasutri itu. Zyano berjalan dan kemudian merebahkan dirinya di samping sang istri. Ia bersandar di kepala headboard sambil mengelus kepala Katerina dengan lembut.


"Sayang, apa perutmu masih sakit?"


"Tidak, Zyan. Aku sudah baik-baik saja."


"Syukurlah, kalau begitu." Zyano lega mendengarnya. Ia tadi sangat panik saat melihat Katerina yang terus muntah-muntah.


Katerina tersenyum. "Iya, kau tidak perlu khawatir, Zyan."


"Ya sudah, sekarang tidurlah, sayang. Kau harus istirahat." ucap Zyano menarik Katerina dalam dekapannya.


Beberapa saat keheningan menyelimuti mereka. Zyano memejamkan matanya karena mengantuk. Sedangkan Katerina sama sekali tidak bisa tidur. Hatinya gelisah setelah melihat wajah kekecewaan Zahra tadi.


"Zyan.."


"Hm?"


"Apa, mom marah karena aku tidak hamil?" tanya Katerina pelan.


Kedua mata Zyano langsung terbuka lebar. Ia sangat terkejut mendengar pertanyaan sang istri. Zyano melepaskan pelukan dan menatap Katerina serius.


"Apa yang kau katakan sayang?" tanya Zyano tidak suka mendengar ucapan Katerina tadi.


Katerina menunduk, tidak berani menatap mata Zyano. Ia mengigit bibirnya bawahnya. Melihat reaksi Zyano yang marah seperti ini, membuatnya ragu untuk mengatakannya.


"Hei, sayang tatap mataku. Apa maksud ucapan mu tadi?" tanya Zyano mengangkat dagu Katerina hingga membuatnya mendongak.


"Aku....aku hanya takut kalau mom marah karena aku tidak hamil." ucap Katerina pelan.


"Kenapa kau berpikir begitu, Kate?"


"Tadi aku liat mom kecewa karena aku tidak hamil, Zyan. Wajah mom langsung sedih. Mom pasti marah karena aku masih belum hamil. Padahal mom sudah berharap lebih tapi nyatanya malah...."


Cup


Mata Katerina membulat karena Zyano tiba-tiba langsung menciumnya. Setelah dirasa kehabisan nafas Zyano pun menyudahi ciuman itu. Ia menatap Katerina dalam.


"Jangan mengatakan apapun sayang! Aku tidak suka mendengarnya!" tegas Zyano.


"Tapi...."


"Shut! Dengarkan aku sayang. Ini bukan salahmu. Lagipula kita baru saja menikah. Aku juga masih ingin menikmati masa-masa kita saat ini. Soal mom yang ingin punya cucu kau tidak perlu memikirkannya. Kita kan masih punya banyak waktu. Jadi, untuk sekarang kau hanya perlu memikirkan aku saja."


"Itu mau mu." ucap Katerina sambil mencubit pinggang Zyano hingga sang empu mengaduh kesakitan.


Zyano terkekeh pelan, tangan kekarnya menarik Katerina dalam pelukannya. "Sudahlah, sayang. Jangan terlalu dipikirkan. Aku juga tidak ingin punya anak sekarang."


"Kenapa?" tanya Katerina mendongak.


"Kalau punya anak sekarang kau pasti akan mengabaikan ku dan lebih fokus ke anak kita. Aku tidak mau itu terjadi! Jadi, untuk sekarang aku ingin semua perhatian mu tertuju padaku saja." ujar Zyano manja.


"Astaga, kau cemburu dengan anakmu sendiri? Kau sangat kekanak-kanakan, Zyan." ejek Katerina tak habis pikir.


"Baiklah, suamiku ternyata sangat manja."


"Aku manja hanya denganmu sayang." ujar Zyano semakin mengeratkan pelukannya.


"Iya, aku percaya, Zyan." ucap Katerina membalas pelukan Zyano. Ia merebahkan kepalanya ke dada bidang Zyano. Samar-samar Katerina dapat mendengar detak jantung Zyano. Hatinya pun menghangat.


"Tidurlah, sayang."


"Aku harus bicara dengan mom." batin Zyano dalam hatinya.


*****


Setelah selesai berbincang dengan Maya. Kenzie memutuskan untuk pulang karena hari sudah malam. Ia harus pulang sebelum ibu angkatnya mencarinya. Maya mengantarkan Kenzie sampai parkiran.


"Aku pulang duluan ya kak, Maya." pamit Kenzie.


"Iya, hati-hati di jalan ya, Ken."


"Iya, sampai jumpa kak."


Maya melambaikan tangannya saat mobil Kenzie meninggalkan restoran. Ia mengembuskan nafas panjang. Maya senang karena Kenzie mau membantunya.


"Aku harus pulang sekarang." gumam Maya hendak pergi tapi tiba-tiba saja ada yang menahan tangannya.


"Mau kemana, Maya sayang?" ucap seorang laki-laki berdiri dihadapannya maya sambil tersenyum.


"Darren?" lirih Maya terkejut.


"Iya, ini aku sayang. Kau masih ingat denganku bukan?"


"Lepaskan tanganku!" ucap Maya menghempaskan tangan Darren.


"Wow, kasar sekali."


Maya menelan saliva susah. Mengapa dia harus bertemu dengan Darren lagi? Padahal Maya berusaha mati-matian untuk tidak bertemu dengan pria gila seperti Darren. Tapi takdir tidak berpihak padanya.


"Tidak ku sangka kita bertemu lagi. Aku pikir kau sudah mati. Tapi ternyata kau punya banyak nyawa ya?" tanya Darren dengan senyum yang sulit diartikan.


"Kenapa? Apa kau terkejut karena melihatku masih hidup, Darren Hansel?"


"Ya, tapi aku senang bisa melihat mu lagi. Btw kau tambah cantik, Maya sayang." ucap Darren membelai wajah Maya.


Krek


"Jangan menyentuhku, brengsek!" ujar Maya memelintir tangan Darren hingga terdengar retakan di jarinya.


Darren menjerit kesakitan. Ia merasa tangannya mati rasa. Tapi senyum devil menghiasi wajahnya. "Aughhh, kau makin berani, Maya!"


"Aku bukan, Maya dulu yang bisa kau rendahkan. Dan aku juga tidak takut denganmu. Kalau kau berani menyentuhku sekali lagi maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!"


Darren menyeringai tipis. "Benarkah?"


"Tentu saja."


"Kau terlalu percaya diri, Maya sayang."


"Aaaaaaaa."


Tanpa terduga Darren membalikkan tubuh Maya sehingga sekarang posisinya berbalik. Darren juga mengangkat tubuh Maya dan menekannya ke dinding. Sementara kedua tangan Maya di cengkeram nya kuat diatas kepalanya sehingga membuat wanita itu kesusahan untuk bergerak.


"Lihatlah, menurutmu sekarang siapa yang bisa membunuh? Kau atau aku?" tanya Darren menyeringai licik.


"Aughhh, lepaskan aku, Darren!" Maya benar-benar tidak berkutik. Ia tidak bisa bergerak sama sekali.


"Kau bilang ingin membunuhku? Tapi sepertinya aku yang lebih dulu membunuhmu." ucap Darren. Satu tangannya mencekik leher Maya hingga membuat wanita itu kesusahan bernafas.


"L-lepaskan A-aku." ujar Maya terbata-bata. Wajahnya membiru karena Darren mencekiknya terlalu keras.


"Tidak semudah itu, sayang."


"K-kenapa kau ingin membunuhku, Darren? A-apa salahku?" tanya Maya terbata-bata.


"Kau terlalu banyak mengetahui rahasia ku, Maya. Aku tidak bisa membiarkan mu hidup. Seharusnya kau sudah mati sejak dulu. Tapi kita malah bertemu lagi."


Tanpa sadar air mata Maya menetes "Apa aku akan mati untuk kedua kalinya di tangan psikopat ini?" gumam Maya dalam hatinya. Sebelum kesadarannya sirna Maya dapat mendengar suara seseorang.


"Hei, apa yang kau lakukan?!" teriak seseorang.


Bersambung 😎


______________________________________________


Jangan lupa Like, Vote Komen dan Share ya guys :)


^^^Coretan Senja ✍️^^^