Menikah Dengan Mafia Arrogant

Menikah Dengan Mafia Arrogant
36. TAMU TERHORMAT


*****


"Kaka." panggil Olivia kala melihat Katerina datang bersama seorang pria yang tentunya dia adalah Zyano.


Mendengar namanya dipanggil sontak saja Katerina menoleh kesamping. Ia sedikit terkejut melihat Olivia bersama Sera yang tengah berjalan menghampirinya.


"Hai Ka, apa kaka datang ke sini untuk bertemu dengan ayah?" tanya Olivia menampilkan senyum manisnya, mencoba menarik perhatian Zyano dengan berkata lemah lembut. Namun, Zyano sama sekali tidak memandangnya. Jangankan memandang melirik saja dia tidak mau.


"Ya tentu saja, menurutmu aku ke sini untuk apa lagi selain bertemu dengannya." jawab Katerina memutar bola matanya malas. Dia benar-benar tidak suka dengan sikap Olivia yang sok baik.


"Ka, aku tahu kau marah pada ayah tapi apa kau tidak kasihan melihat ayah harus tidur dipenjara yang gelap seperti ini? Ayah juga sudah tua harusnya dia menikmati masa tuanya di rumah bukan dipenjara!"


"Ku mohon, bebaskan ayah ka. Aku yakin ayah tidak bermaksud untuk menyakitimu." pinta Olivia sendu. Ia meraih tangan Katerina dan menggenggam nya erat, memohon agar Katerina mau membebaskan Andi.


Katerina menghempaskan kasar tangan Olivia. "Jangan meminta belas kasihan padaku! Aku tidak sebaik itu. Apa kalian semua sudah lupa? kalau dia mengusirku dan membuang ku bagai sampah tak berguna. Lantas, kenapa aku harus mengasihaninya?" sarkas Katerina menohok.


"Aku tahu ka, tapi dia ayahmu. Orang yang sudah merawat mu dari kecil dan membesarkan mu sampai seperti ini. Apa kau mau jadi anak durhaka yang memenjarakan ayahnya sendiri?"


"Ka, aku tahu hatimu baik. Tolong bebaskan ayah dari sini." pinta Olivia memohon penuh, dengan mata sayu.


"Adikmu benar Kate. Ibu mohon bebaskan ayahmu dari sini. Tempat ini tidak pantas untuknya." sahut Sera mendekati Katerina. Pura-pura bersikap baik.


"Bagaimana jika aku menolaknya? bagiku dia pantas berada di sini. Ya, setidaknya dia bisa merasakan dinginnya lantai penjara dan tidur ditemani oleh tikus-tikus kecil. Seperti yang dulu kalian lakukan padaku!" ujar Katerina penuh penekanan diakhir kalimat. Seolah mempertegas dulunya mereka pernah menyiksanya.


"Kau.... dasar anak tidak tahu diri! Dia ayahmu sendiri dan kau tega membiarkannya tidur ditempat seperti ini. Putri macam apa kau hah?!" sungut Sera naik pitam. Menujuk Katerina dan mengumpat kasar.


"Lalu, kau ibu macam apa yang setiap harinya selalu menyiksaku dan membiarkan aku tidur di gudang tanpa alas sampai aku kedinginan? Apa pantas kau dikatakan sebagai seorang ibu hah?! Tidak, kau lebih pantas dikatakan sebagai iblis tak berhati!" bentak Katerina meninggikan suaranya. Tangannya terkepal kuat menahan amarah yang selama ini tertahan dalam hatinya.


Sera mengangkat tangannya ingin melayangkan tamparan ke wajah Katerina tapi sebelum terjadi tangannya lebih dulu ditahan oleh Zyano.


"Jangan coba-coba menyakiti istriku atau kau juga akan mendekam di penjara bersama dengan suamimu!" kecam Zyano dengan tatapan tajam, tangannya masih mencengkeram tangan Sera dengan kuatnya. Menggambarkan betapa marahnya Zyano saat ini.


Sera merintih kesakitan "Akhh, lepaskan."


Zyano menghempas kasar tangan Sera. Cengkraman tangan Zyano sangat kuat hingga meninggalkan bekas merah dan terasa perih.


"Ibu, apa kau baik-baik saja?" tanya Olivia khawatir, melihat ibunya yang merintih kesakitan memegangi tangannya yang memerah.


"Ibu tidak apa sayang." jawab Sera menatap sinis kearah Katerina.


"Ada apa ini? jangan membuat keributan di sini." ucap salah satu polisi menghampiri mereka.


"Mereka yang mulai dulu pak, lihatlah tangan saya luka karena pria ini." adu Sera memperlihatkan kepada polisi itu tangannya yang memerah.


Pak polisi tadi langsung melihat ke arah Zyano yang memasang wajah datarnya.


"T-tuan Zyano." lirih polisi tadi terbata-bata saat melihat Zyano.


Olivia, Sera dan Katerina mengerutkan keningnya melihat sikap tegas polisi tadi langsung berubah drastis saat melihat Zyano. Ada apa sebenarnya? pikir mereka.


"Selamat pagi." sapa Zyano tak berekspresi.


"Pagi tuan, ada perlu apa datang kemari?" tanya Polisi itu dengan sopan.


"Aku datang kemari untuk memenuhi panggilan pak Irwan terkait tuntutan ku dengan Andi Cristopher. Tapi sayang saat datang kemari aku malah disambut dengan cara tidak mengenakan." jawab Zyano menyindir.


"Maaf tuan atas ketidaknyamanannya." balas pak polisi tadi meminta maaf tidak enak hati.


Tatapan polisi tadi berdalih "Kalian berdua mengapa belum pulang juga? bukankah sudah saya bilang, waktu kunjungan sudah habis!" tukas polisi tadi memarahi Olivia dan Sera.


"Kenapa bapak malah memarahi kami berdua hah! Pria itu sudah menyakiti tangan saya sampai merah seperti ini. Harusnya dia diusir dari sini." sarkas Sera mencebikan bibirnya.


"Tuan Zyano ini tamu terhormat kami. Jadi jaga sikap kalian padanya!" sambung Polisi tadi dengan tegasnya.


"Iya, karena tuan Zyano sering membantu kami menangkap penjahat kelas kakap yang sering melarikan diri. Tanpa bantuannya mungkin kami semua tidak akan bisa menangkap mereka." jawab polisi itu menjelaskan tentang kebaikan Zyano.


Zyano memang dihormati dan disegani oleh kepolisian karena jasanya yang membantu mereka menangkap para tikus mafia yang berusaha melarikan diri di pelabuhan. Ia sengaja melakukan itu agar namanya bersih sehingga kepolisian tidak akan menaruh kecurigaan padanya, meskipun Zyano sendiri juga seorang penjahat kelas kakap. Namun, bedanya Zyano mafia yang tidak suka mencari keributan, kecuali jika ada yang mengusiknya maka dia akan bertindak.


"Anda terlalu memuji saya pak polisi." sahut Zyano tersenyum tipis.


"Tidak tuan, saya mengatakan apa adanya." sambung polisi.


"Baiklah, mari tuan. Saya antarkan ke ruang pak Irwan. Beliau pasti sudah menunggu anda." ucap polisi tadi mempersilahkan.


"Ayo sayang." ajak Zyano meraih pinggang istrinya dan berjalan mengikuti polisi tadi menuju ruangan pak Irwan.


"Ish, kenapa kaka selalu mendapatkan pria yang lebih hebat dari ku." geram Olivia menggertak giginya jengkel. Tangannya terkepal kuat tidak suka.


"Kau benar sayang. Entah Dewi keberuntungan apa yang memihak Katerina sampai akhirnya bisa mendapatkan pria hebat seperti itu. Padahal kita sudah membuangnya tapi tidak disangka malah ada orang yang mau memungut nya." balas Sera berdecak.


"Tapi kau tenang saja sayang. Bukankah Rei juga pria hebat? dia ahli waris keluarga Alberto, tidak kalah hebatnya dengan pria tadi." ujar Sera, mengingatkan tentang Rei.


"Aku tahu ibu, tapi aku rasa suami kaka bukan pria sembarangan. Lihatlah bahkan polisi saja sangat segan padannya. Aku akan menyelidiki siapa suami kaka sebenarnya." seru Olivia tersenyum licik, entah rencana licik apa yang dia pikirkan.


"Ya aku juga merasa seperti itu. Ya sudah sebaiknya kita pergi dari sini takutnya ada wartawan yang melihat kita dipenjara." ajak Sera bergegas pergi.


"Ayo bu."


********


Sementara ditempat lain Rei berusaha keras untuk membuat janji temu dengan pimpinan Brawitama company. Namun, usahanya selalu berakhir sia-sia karena Angga sang asistennya tidak bisa melakukan itu.


BRAK!


Suara berkas dilempar kasar ke meja menandakan Rei sedang marah. Angga berkali-kali menghubungi Dave namun tidak satupun panggilan darinya diterima.


"Sial, sombong sekali mereka tidak mau mengangkat panggilan darimu." sungut Rei, geram.


"Saya juga tidak tahu tuan tapi memang untuk bertemu dengan pimpinan Brawitama company tidak semudah itu. Semua rumor tentang CEO mereka yang sangat arrogant itu benar adanya tuan." ujar Angga.


"Cih, baru jadi CEO saja dia sudah sangat sombong, lalu bagaimana jika menjadi presiden? Mungkin semua rakyat akan sengsara ditangannya." balas Rei berdecih, tersenyum ejek.


"Jika memang dia tidak mau bertemu secara baik-baik maka jangan salahkan aku jika bertemu dengan cara kasar." gumam Rei menyeringai.


"Angga siapkan mobil, kita ke perusahaan Brawitama sekarang. Aku tidak mau tahu, kita harus bertemu dengannya walau dengan cara tidak baik sekalipun!" perintah Rei tak terbantahkan.


"Tapi tuan.."


"Jangan menolak perintah ku! Disini aku bos nya." tegas Rei.


"Baik tuan." lirih Angga hanya menunduk patuh menjalankan tugas gila dari Rei.


"Sebentar lagi kita akan bertemu." gumam Rei menyeringai licik.


******


Bersambung 😎


______________________________________________


Dih, si Rei ngebet bgt pengen ketemu, entar jantungan loh pas ketemu taunya sama Zyano🤣


Jangan lupa Like, Vote, Komen dan Share ya guys :)


^^^Coretan Senja ✍️^^^