
"Apa maksud perkataan kau, Sera?!" tanya Andi.
"Bacalah surat ini, mas." ujar Sera menyodorkan surat yang berisikan pernyataan kalau Andi akan memberikan hak sepenuhnya perusahaan Cristopher kepada Katerina.
"Apa-apaan ini hah?!" sentak Andi menggebrak meja dengan marah.
"Tenang dulu mas."
"Bagaimana aku bisa tenang hah?! Jadi, ini rencana mu? Kau ingin aku memberikan perusahaan ku kepada Katerina?! Itu tidak akan pernah terjadi, Sera!" tegas Andi menolak keras dan tidak setuju.
"Mas, dengarkan perkataan ku dulu. Aku belum selesai menjelaskan semuanya padamu!" ujar Sera mencoba menenangkan suaminya yang sedang marah itu.
"Apa lagi yang ingin kau jelaskan hah?! Sampai kapanpun aku tidak rela memberikan perusahaan ku kepada anak tidak tau diri itu! Meskipun aku harus mendekam di penjara satu bulan lagi."
"Kata siapa kau akan keluar dari sini dalam waktu satu bulan lagi mas?"
"Ya, kan memang begitu tuntutan nya? Aku hanya perlu bersabar sampai masa tahanan ku berakhir."
Sera tertawa sarkas. "Kau terlalu meremehkan, Katerina mas."
"Apa maksudmu, Sera?"
"Kau tidak akan bisa keluar dari sini karena semua bukti kejahatan mu ada di tangan, Katerina!"
"Hah?" dahi Andi mengerut penuh tanda tanya.
"Lihatlah semua ini."
Kedua mata Andi langsung melebar saat membaca semua surat yang berisikan bukti kejahatan nya. Dari penggelapan dana sampai bukti transfer ke rekening nya secara ilegal bahkan tak hanya itu saja. Ada juga beberapa bukti kalau Andi pernah menyuap para petinggi lainnya untuk mencapai tujuannya.
KREK
Andi langsung merobek semua bukti itu hingga hancur.
"D-dari mana kau mendapatkan semua ini?" tanya Andi tajam.
Sera tersenyum tipis. "Dari mana lagi kalau bukan dari putrimu sendiri!"
Andi menggeleng. "Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa, Katerina mendapatkan semua bukti ini? Padahal aku sudah melakukannya dengan rapi tanpa diketahui siapapun."
"Mas, apa kau sudah lupa? Katerina memiliki seorang suami? Aku yakin semua bukti ini dia yang mendapatkan nya!" ujar Sera.
Andi mengepalkan tangannya erat. "Jadi, ini semua perbuatannya?"
"Yah, siapa lagi yang bisa melakukan itu kalau bukan suami, Katerina? Aku dan juga Olivia sudah berusaha menyelidiki tentang nya tapi kami tidak bisa menemukan kelemahan nya. Dia terlalu bersih. Tidak ada bukti kejahatan apapun!"
"Arghhhhhhhhhhhhhhh, sial." geram Andi meremas rambutnya frustasi.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan, Sera?" tanya Andi.
"Satu-satunya cara hanya mengikuti semua permintaan, Katerina Mas. Kau harus menyerahkan perusahaan Cristopher sepenuhnya kepadanya!"
"Tidak! Aku tidak Sudi!" bantah Andi menolak keras.
"Mas, kau tidak punya pilihan lain. Kalau kau tidak mau menandatangani penyerahan kekuasaan itu maka Katerina akan menyerahkan semua bukti kejahatan mu ke kantor polisi dan kau akan mendekam lebih lama lagi di penjara! Apa mas mau hal itu terjadi hah?!"
"DIAM SERA!" bentak Andi marah.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya mas. Tolong sadarlah! Kalau mas tidak keluar dari penjara, lalu bagaimana nasib Olivia nanti? Dia tidak akan bisa menikah dengan Rei kalau mas masih di penjara!"
"Aku tahu, Sera tapi aku tidak bisa memberikan perusahaan ku kepada Katerina! Aku tidak rela!" sarkas Andi.
"Mas, apa kau sudah lupa? Aku dan Olivia masih punya saham di perusahaan Cristopher. Itu artinya aku juga memiliki hak di sana walaupun tidak sebanyak saham Katerina tapi setidaknya kita masih bisa melawannya."
"Tapi, Sera.,..."
"Mas, tolonglah. Kita masih bisa menyusun rencana lain untuk merebut kembali perusahaan Cristopher tapi yang terpenting saat ini adalah mas bisa keluar dari penjara!"
"Tidak! Aku tidak bisa, Sera!" tolak Andi keras kepala.
"Kenapa tidak bisa mas?!"
"Intinya aku tetap tidak setuju! Kau jangan memaksa ku, Sera!"
"Arghhhhhhhhhhhhhhh ini membuatku pusing." geram Andi.
Ceklek
"Maaf, waktu kunjungan sudah habis." ujar polisi yang berjaga itu.
"Baik, tunggu sebentar."
Sera meraih tangan Andi dan menggenggam nya. "Mas, ku mohon pikirkan dulu semua ini. Besok, aku akan datang lagi saat mas sudah lebih tenang."
Andi hanya diam. Tatapan matanya kosong penuh kehampaan.
"Aku pergi dulu mas." pamit Sera.
"Arghhhhhhhhhhhhhhh, menjengkelkan." teriak Andi putus asa. Ia terduduk lemas.
*****
Cekrek cekrek
"Oke, good pemotretan hari ini selesai. Terima kasih atas kerjasamanya." ujar Fotografer.
Olivia bernafas lega dan kembali ke ruangan nya. Namun, tiba-tiba saja ada artis lain yang menghampirinya.
Prok prok prok
"Wow, hebat ya, Olivia. Kau masih bisa mengikuti pemotretan di saat ayahmu sedang di penjara. Apa kau tidak tahu malu?" ejeknya bertepuk tangan.
"Malu? Kenapa aku harus malu? Aku hanya melakukan pekerjaan ku sebagai model. Apakah itu salah?"
"Tidak hanya saja aku merasa kasihan dengan ayahmu. Anaknya bersenang-senang di luar sedangkan ayahnya malah mendekam di penjara hahahaha kasian sekali."
"DIAM KAU, CELINE!" Bentak Olivia tersulut emosi.
Yah, wanita itu bernama Celine. Dia juga seorang model tapi dia sering bertengkar dengan Olivia. Atau bisa dikatakan mereka musuh bebuyutan di dunia model.
"Loh, kenapa kau marah? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya bukan? Seharusnya kau itu malu, Olivia! Ayahmu di penjara karena mencoba membunuh kakak mu tapi kau malah melakukan pemotretan? Astaga, apa kau tidak takut di hujat netizen?"
"Memangnya kenapa? Itu bukan urusanmu! Kau tidak perlu ikut campur dalam permasalahan keluarga kami! Kau tidak tahu apa-apa, Celine!"
"Apanya yang tidak ku ketahui, Olivia?" Celina menatap remeh. "Aku saja tahu kalau kau merebut kekasih kakakmu sendiri. Kau merayu, Rei hingga dia terjebak denganmu kan? Apa kau pikir aku tidak tahu hal itu hah?!"
"CUKUP! AKU TIDAK INGIN MENDENGAR OCEHAN MU!"
Celine memutar bola matanya malas. "Adik macam apa yang merebut kekasih kakaknya sendiri. Kau sungguh jahat, Olivia!"
"DIAM KAU CELINE!"
"Hohoho, jangan marah, Olivia. Itulah faktanya bukan?"
"Fakta apa yang kau maksud hah?! Itu sama sekali tidak benar! Aku dan Rei saling mencintai. Dan sebentar lagi kami akan menikah. Jadi, jaga ucapan mu!" bantah Olivia tegas.
Celine tersenyum kecut. "Benarkah? Kalau begitu mengapa sampai saat ini tidak ada berita apapun tentang pertunangan kalian? Apa yang terjadi?"
"Eee itu kami belum memberitakan hal ini kepada media. Jadi, ini masih direncanakan tapi secepatnya akan kami umumkan tanggal pernikahan kami."
"Oh ya? Kalau begitu aku tunggu undangan pernikahan nya ya? Itupun kalau memang terjadi hahahaha."
Setelah mengatakan itu Celine langsung pergi meninggalkan Olivia. Wanita itu mengepalkan tangannya kuat. Olivia benar-benar tersinggung atas ucapan Celine.
Olivia menggertak giginya marah. "Sial, beraninya dia mengejek ku seperti itu. Liat saja nanti, aku pasti akan menikah dengan Rei. Dan akan ku kembalikan kata-kata mu Celine!"
"Aku harus membicarakan ini dengan ibu!" ujar Olivia berlalu pergi.
Bersambung 😎
______________________________________________
Jangan lupa, Like, Vote, Komen dan Share ya guys biar otorr tambah semangat update nya 🥰👍🥰🥰
^^^Coretan Senja ✍️^^^