
Sebelum pulang, Maya mengambil sampel minuman yang berikan Violet tadi untuk diperiksa dokter takutnya mengandung racun. Jika benar begitu maka dia bisa menuntut Violet. Tak hanya itu Maya juga memberitahu Sella (Pelayan pribadi Erland) supaya lebih waspada dan memperhatikan gerak-gerik, Violet yang menurutnya mencurigakan. Setidaknya, dengan hal ini mereka bisa mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.
******
Keesokan harinya......
Katerina membantu Bi Asri dan para pelayan lainnya menyiapkan sarapan. Walaupun mendapat tolakan tapi dia tetap kekeuh. Katerina beralasan dia hanya membantu menyiapkan makanan di meja makan tanpa perlu memasak. Makanya Bi Asri tak bisa menolaknya.
Setelah semua makanan nya siap, Katerina berniat memanggil suaminya untuk sarapan tapi Zyano malah turun lebih dulu sebelum sempat memanggil nya. Dia sudah rapi dengan pakaian kantor nya. Pagi ini dia ada rapat penting dengan dewan direksi.
"Morning hubby." Katerina tersenyum manis menyapa suaminya sambil menarikan kursi untuk Zyano.
"Morning sayang." Zyano membalas sapaan istrinya dengan mengecup bibir nya singkat. Para pelayan yang melihatnya terkejut. Sedangkan Katerina sangat malu. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Bisa-bisanya Zyano melakukan itu didepan banyak orang? Rasanya Katerina ingin menyembunyikan wajahnya karena saking malunya.
"Hubby." Dia menegur suaminya dengan mencubit pinggang nya.
Zyano hanya terkekeh. "Duduklah, sayang."
"Tapi ini kan kursi hubby."
"Tidak apa, duduk saja. Kau tidak boleh berdiri terlalu lama."
"Huh, baiklah." Katerina tersenyum dan kemudian duduk. Kadang perhatian kecil seperti ini membuat Katerina terharu. Ia merasa beruntung bisa menikah dengan pria sebaik Zyano.
Setelah itu keduanya menikmati sarapan bersama sambil berbincang-bincang.
"Sayang, kau harus banyak makan sayuran supaya anak kita sehat." ujar Zyano menambahkan beberapa sayuran ke piring makan Katerina.
"Astaga, tapi ini terlalu banyak hubby. Kau ingin membuat ku jadi gendut hm?" protes Katerina mendengus sebal.
"Memangnya kenapa? Bukankah itu artinya kau lebih sehat? Itu justru bagus untukmu dan juga kandungan mu." ujar Zyano.
"Bagus darimana nya? Yang ada aku akan terlihat aneh dan juga tidak cantik lagi." ucap Katerina mencebikkan bibirnya badmood.
Zyano terkekeh geli. "Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting sayang. Di mataku kau selalu terlihat cantik."
Seketika wajah Katerina memblush malu. "Ish, hubby gombal"
"Aku serius, Kate. Bagiku hanya istriku yang paling cantik dan tidak ada wanita manapun yang bisa mengalahkan kecantikan mu." ujar Zyano membuat Katerina tersipu malu.
"Baiklah, terserah hubby saja." ucap Katerina membuang muka karena bahagia mendengar pujian suaminya.
Sementara Zyano tersenyum dan kemudian melanjutkan sarapannya.
"Oh iya sayang, kau ingin pergi kemana? Kenapa pakaianmu rapi sekali?" tanya Zyano heran.
"Loh, apa hubby lupa kalau pagi ini aku ada jadwal pemeriksaan kandungan?"
Zyano pun tersadar. "Astaga, aku baru ingat kalau jadwal pemeriksaan mu juga pagi ini, sayang." ujarnya menepuk jidatnya.
"Juga? Apa maksudnya hubby juga ada jadwal pagi ini?"
Zyano mengangguk. "Iya sayang. Pagi ini aku ada rapat penting dengan dewan direksi yang kemarin sempat tertunda."
"Ohhh begitu. Hm, ya sudah, hubby pergi ke kantor saja." putus Katerina tak ingin menganggu jadwal suaminya.
"Tapi bagaimana denganmu?"
"Hubby tenang saja aku bisa pergi sendiri. Lagipula ini hanya sekedar pemeriksaan biasa. Jadi, tidak begitu penting." ujar Katerina.
"Justru itu sangat penting untukku sayang!"
"Tapi kan hubby tidak bisa. Aku tidak ingin hubby membatalkan rapat seperti waktu itu!"
Zyano terlihat frustasi. Ia mengusap wajahnya gusar. "Hm, bagaimana kalau jadwal pemeriksaannya di undur nanti siang saja? Jadi, aku bisa menemani mu."
"Mana bisa begitu hubby."
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena jadwal kita sudah lama di tetapkan dan waktu itu hubby juga setuju. Jadi, mana bisa di undur sesuka hati. Lagipula dokternya tidak hanya memeriksa aku saja tapi ada banyak ibu hamil lainnya yang harus diperiksa. Jadi, tidak bisa di undur lagi."
"Tapi itu bukan hal yang sulit untukku, sayang. Aku hanya perlu menghubungi dokter nya maka urusan selesai."
"Ya ampun, hubby tidak perlu melakukan itu. Aku bisa pergi sendiri. Apa hubby tidak mempercayai ku?" tanya Katerina dengan raut wajah sedih.
Katerina menghela nafas berat. Ia meraih tangan suaminya dan menggenggam nya erat sambil menatapnya serius.
"Aku bisa mengerti kekhawatiran yang hubby rasakan tapi aku baik-baik saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula aku pergi bersama Budi. Dia pasti akan menjagaku seperti yang hubby tugaskan padanya." ujar Katerina mencoba menyakinkan suaminya.
"Aku tahu sayang tapi tetap saja aku khawatir."
"Zyan, ku mohon kali ini saja."
Zyano menghembus nafas panjang. Jika Katerina sudah memanggil namanya maka itu artinya dia tak suka di bantah.
"Huh, baiklah, kalau itu yang kau inginkan aku tidak akan memaksa, tapi ingat kalau terjadi sesuatu langsung hubungi aku! Kau mengerti sayang?"
"Iya hubby, aku mengerti."
"Hm."
"Makasih suamiku." Katerina mengecup pipi kiri Zyano sebagai tanda terima kasih.
Zyano hanya tersenyum. Tiba-tiba seorang pelayan datang dan berkata.
"Maaf mengganggu waktunya tuan, nyonya. Saya hanya ingin memberitahu kalau tuan, Dave sudah menunggu di depan." ujar pelayan itu.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita ke depan." ajak Katerina bersemangat.
"Hm, ayo." Kedua pasutri itu pun keluar dari mansion dengan bergandengan tangan.
"Selamat pagi, tuan, nyonya." ujar Dave dan Budi menyapa keduanya dengan hangat.
"Pagi, Dave, Budi." balas Katerina tapi tidak dengan Zyano. Dia langsung menatap kearah Budi.
"Budi, hari ini istriku akan melakukan pemeriksaan kandungan di rumah sakit tapi sayangnya aku tidak bisa menemani nya karena aku ada rapat penting. Jadi, tugasmu adalah mengantarkan nya sampai rumah sakit dengan selamat. Kau harus menjaganya dengan baik. Jangan sampai kejadian lalu terulang. Kau mengerti maksudku bukan?"
"Baik, saya mengerti tuan. Anda tidak perlu khawatir. Saya pasti akan menjaga nyonya dengan baik."
"Hm, baguslah. Jangan sampai mengecewakan kepercayaan ku, Budi!"
"Iya tuan."
Tatapan Zyano beralih kepada istrinya. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu sayang. Jaga dirimu baik-baik. Kalau terjadi sesuatu langsung hubungi aku secepatnya!"
"Iya hubby, aku tahu. Harus berapa kali hubby mengatakan itu hah?! Aku sampai bosan mendengarnya." ujar Katerina mengeluh.
"Aku serius, Kate."
"Iya-iya, Zyan. Kau benar-benar suami posesif."
"Tapi kau menyukainya kan?"
"Hm, lumayan."
Zyano terkekeh dan kemudian mengecup kening istrinya. "Aku pergi dulu, by sayang."
"Dah, hubby. Hati-hati ya." Katerina melambaikan tangannya menatap kepergian suaminya dan setelahnya dia masuk kedalam untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit.
*******
Kring - kring
"Astaga, aku kesiangan." pekik Maya terkejut saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 08:30.
"Tunggu dulu, lebih baik aku izin saja hari ini. Aku harus segera bertemu, Katerina." gumamnya.
"Yah, ini tidak bisa di tunda lagi. Hari ini juga aku akan mengatakan semuanya kepada, Katerina."
"Tapi, bagaimana kalau dia marah?" ujarnya takut. Ia mengusap wajahnya gusar. Maya merasa frustasi tapi dia tak punya pilihan lain. Apapun yang terjadi dia harus memberitahu Katerina tentang jati dirinya yang sebenarnya.
Bersambung 😎
______________________________________________
Jangan lupa Like dan Vote nya ya guys ❤️🥰❤️❤️❤️🥰❤️
^^^Coretan Senja ✍️^^^